NovelToon NovelToon
Janda Desa Kesayangan Presdir

Janda Desa Kesayangan Presdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Slice of Life / Romansa pedesaan / CEO
Popularitas:17.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Lastri menjadi janda paling dibicarakan di desa setelah membongkar aib suaminya, seorang Kepala Desa ke internet.

Kejujurannya membuatnya diceraikan dan dikucilkan, namun ia memilih tetap tinggal, mengolah ladang milik orang tuanya dengan kepala tegak.

Kehadiran Malvin, pria pendiam yang sering datang ke desa perlahan mengubah hidup Lastri. Tak banyak yang tahu, Malvin adalah seorang Presiden Direktur perusahaan besar yang sedang menyamar untuk proyek desa.

Di antara hamparan sawah, dan gosip warga, tumbuh perasaan yang pelan tapi dalam. Tentang perempuan yang dilukai, dan pria yang jatuh cinta pada ketegaran sang janda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter⁸ — Tak Ada Panggung Kekuasaan.

Balai desa tak lagi riuh, bisik-bisik yang tadi menyanjung jabatan kini berubah menjadi gumaman canggung. Beberapa warga mulai berdiri lebih tegak, sebagian lain berani menatap Surya tanpa menunduk. Bukan karena mereka tiba-tiba berani, tapi karena arah angin sudah jelas berubah.

Lastri masih diam, wajahnya tenang nyaris tanpa ekspresi. Namun, ketenangan itu justru membuat kehadirannya terasa kuat.

“Proyek ini butuh orang yang bekerja, bukan yang hanya memberi nama. Dan Lastri... memenuhi semua itu.” Ucap Malvin kembali.

Surya membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Untuk pertama kalinya, ia kehabisan kalimat. Jabatan yang selama ini melindunginya tak lagi cukup. Di ruangan itu, ia bukan lagi pusat keputusan—hanya salah satu pihak yang harus menerima.

Dan saat beberapa warga mulai mengangguk pelan ke arah Lastri, keputusan itu pun terkunci. Tanpa suara, tanpa voting. Kekuasaan berpindah, bukan karena dipaksa akan tetapi karena kebenaran akhirnya menemukan tempatnya.

Rapat bubar tanpa seremoni. Tak ada penutupan resmi, tak ada kalimat manis dari kepala desa. Warga keluar satu per satu dengan pikiran masing-masing, sebagian masih menoleh ke arah Lastri, sebagian lain memilih menunduk. Surya pergi lebih dulu, langkahnya cepat, wajahnya keras—seolah ruangan itu tidak pernah berpaling darinya.

Balai desa perlahan lengang.

“Lastri.” Panggil Malvin.

Wanita itu menoleh. “Ya, Pak?”

Malvin mengernyit ringan. “Pak? Kenapa kamu memanggilku seperti itu?”

Lastri menatapnya tenang. “Karena Anda bukan lagi orang asing yang tiba-tiba muncul di sawah, atau sosok yang tak jelas. Anda memiliki peran penting bagi kemajuan desa ini. Saya tidak bermaksud menjilat, ini hanya bentuk rasa hormat. Karena Anda berani membuka mata warga, bahwa yang penting dalam bermasyarakat bukan sekadar jabatan, tapi juga moral.”

Malvin nyaris menyela, ia tak ingin dipanggil demikian oleh Lastri. Namun, niat itu tertahan. Ia sendiri masih dalam penyamaran, menggunakan identitas sebagai Manajer Proyek, bukan dirinya yang sebenarnya—seorang Presdir. Maka ia hanya menghela napas kecil, lalu mengangguk.

“Baiklah, panggil saja sesukamu. Bolehkah kita bicara sebentar?”

Lastri mengangguk, mereka berhadapan dengan jarak aman, dan suasana diantara mereka kembali kaku.

“Saya ingin bicara soal keberlanjutan proyek,” ujar Malvin langsung ke inti. “Kalau investasi ini jadi, desa ini akan berubah. Tapi perubahan itu butuh orang yang paham lapangan, bukan sekadar struktur.”

Lastri mendengarkan, wajahnya tenang. “Desa ini tidak butuh janji besar, Pak. Yang dibutuhkan cuma sistem yang berjalan dan orang-orang yang mau turun tangan langsung.”

Malvin mengangguk kecil. “Itu sebabnya saya ingin kamu terlibat penuh, seperti yang saya katakan tadi... sebagai pendamping utama proyek.”

Lastri terdiam beberapa detik, lalu ia menghela napas pelan. “Pak Malvin, saya ini cuma petani. Sebenarnya, pengalaman saya tidak terlalu banyak.“

“Kamu terlalu meremehkan dirimu sendiri. Mungkin dulu kamu bekerja keras membangun desa ini tanpa dukungan siapa pun. Tapi mulai sekarang, kamu tidak sendirian... ada saya.”

Ia menatap Lastri dengan yakin. “Percayalah pada dirimu sendiri. Jadilah perempuan yang berdiri dengan harga diri, yang tidak mudah diremehkan apalagi diinjak-injak.”

Suara Malvin merendah, namun keyakinannya justru terasa kuat. “Desa ini membutuhkan orang sepertimu, seseorang yang berani dan jujur untuk memimpin. Mungkin… suatu hari nanti, kamu bisa menjadi kepala desa.”

Lastri mengernyit tipis. “Kalau itu, Pak Malvin salah orang. Kalau jadi kepala desa, saya tidak bisa rapat berjam-jam... saya bisa ketiduran.”

Malvin terdiam sepersekian detik… lalu sudut bibirnya bergerak tipis, merasa ucapan Lastri lucu. “Waktu dalam rapat bisa disesuaikan.”

Lastri menambahkan cepat, “Dan saya suka ngomel kalau lihat orang bekerja setengah-setengah.”

“Itu bisa diatur.” Jawab Malvin lagi.

Perempuan itu menatap Malvin lebih serius kali ini. “Kalau saya terima, saya tidak mau jadi pajangan saja. Saya ingin kerja nyata, saya ingin bicara lantang, dan saya tidak ingin tunduk pada jabatan.”

“Itu... luar biasa. Sungguh.” Malvin akhirnya tak bisa lagi menahan senyumnya.

Lastri tersenyum kecil, nyaris tak percaya. “Kalau begitu… saya bersedia menerima. Tapi, ada satu hal lagi.”

“Apa itu?”

“Kalau proyek ini gagal, jangan salahkan petaninya.”

Malvin mengulurkan tangan. “Kalau proyek ini gagal, sepenuhnya... tanggung jawab saya.”

Lastri sempat ragu sebentar, tapi akhirnya dia menjabat tangan Malvin. Genggaman lelaki itu terasa hangat, dan penuh rasa hormat.

Lastri tidak pulang sendiri, Malvin menawarkan naik mobilnya.

“Perkenalkan... ini Denis, wakil saya. Saya mengalami sedikit musibah setelah kemarin kita berpisah.”

Barulah Lastri berkedip, pandangannya turun dan dadanya menegang saat menyadari Malvin duduk di kursi roda. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyusup, karena ia merasa terlambat menyadari. Sejak awal, pandangannya terlalu sibuk pada kata-kata dan sikap Malvin, sampai lupa melihat tubuh laki-laki itu yang kini harus diam di kursi roda.

Seharusnya aku lebih peka, batinnya.

“Saya minta maaf, Pak. Saya baru menyadari Anda terluka, apa yang sebenarnya terjadi?”

Malvin menangkap perubahan Lastri. Tangannya bertumpu di sandaran kursi roda, jari-jarinya menggenggam pelan.

“Tak ada yang perlu dikhawatirkan,” jawab Malvin sambil tersenyum ringan. “Hanya masalah kecil, saya akan segera membereskannya.”

Lastri mengangguk, meski hatinya tak sepenuhnya percaya. Ada firasat tipis yang membuat dadanya gelisah, bahwa di balik ketenangan Malvin, tersimpan urusan yang jauh lebih rumit daripada yang dikatakan.

Lastri tampak ragu sebelum akhirnya bersuara. “Apa… ini ada hubungannya dengan Surya?”

Malvin menyipitkan mata, menatapnya lebih saksama. “Kenapa kamu berpikir begitu?”

Lastri menarik napas panjang, seolah sedang menata ulang keberaniannya sendiri. “Di desa ini terlalu banyak kejadian aneh. Orang-orang yang jujur atau yang berani berbeda pendapat dengan Surya, tiba-tiba menghilang begitu saja.”

Ia terdiam sejenak. “Dulu, saat masih menjadi istrinya, saya pernah mencoba mencari tahu. Tapi kekuasaannya… terlalu besar. Surya mengenal aparat, juga beberapa pejabat penting. Setiap kali saya mendekati kebenaran, seperti ada tembok yang menghalangi.”

Lastri menghela napas. “Warga akhirnya hidup dalam ketakutan, bahkan saya tidak sepenuhnya menyalahkan mereka. Dikucilkan seperti sekarang ini… saya paham alasannya. Tapi saya juga tidak bisa terus diam ketika mereka menyerang saya. Saya ingin mereka tahu, keberanian tetap bisa bertahan bahkan di bawah tekanan.”

Tangan Malvin mengepal pelan. Kini jelas baginya, kekuasaan Surya sebagai kepala desa tak lagi sekadar keburukan, melainkan telah menjelma menjadi kejahatan.

“Saya akan membantu mengusutnya, proyek ini menyangkut hajat hidup seluruh warga.”

Lastri hanya mengangguk kecil. “Terima kasih.”

Mobil itu pun melaju, menyusuri jalan desa yang mulai lengang menjelang siang. Tanah merah di kiri-kanan jalan masih lembap, menyimpan jejak-jejak langkah lama, seolah menjadi saksi bisu dari kebenaran yang perlahan mencari jalan untuk muncul ke permukaan.

“Pak, ini rumah saya."

Rumah Lastri sederhana, dindingnya setengah tembok, setengah papan.

“Saya tidak bisa ikut turun, setelah ini saya harus kembali ke rumah sakit untuk pemeriksaan. Sampaikan saja salam pada orang tuamu.”

“Baik, Pak.” Lastri sempat ragu, lalu memberanikan diri. “Em… boleh saya minta alamat rumah Pak Malvin? Nanti saya ingin menjenguk. Di rumah ada yang memasak? Maksud saya… istri Anda?”

“Istri? Saya masih lajang.”

Lastri mengangguk pelan. “Kalau begitu, ada orang yang menyiapkan makanan? Kalau tidak, nanti saya antarkan. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih saya.”

Malvin terdiam sesaat, jelas terkejut.

Apa dia sedang perhatian padaku? batinnya, nyaris tak percaya.

“Kamu… mau memasakkan untuk saya?” tanyanya, memastikan.

“Jika Anda berkenan,” jawab Lastri singkat.

Sudut bibir Malvin terangkat perlahan. “Tentu saja saya sangat senang, sudah lama saya ingin mencicipi masakan desa ala rumahan. Terus terang, saya sudah jenuh dengan rasa masakan kota.”

“Baik, Pak.”

“Kalau begitu, berikan nomor teleponmu. Nanti saya kirim alamat rumah yang saya tempati sementara.” Ucap Malvin.

Mereka saling menukar nomor. Tak lama kemudian, Malvin berpamitan dan mobilnya melaju pergi, meninggalkan Lastri dengan perasaan yang entah sejak kapan mulai terasa berbeda.

“Cari rumah sekarang juga, yang sederhana saja.“ Pinta Malvin pada Denis.

Asistennya tampak ragu sejenak. “Tuan, kenapa tidak tetap di penginapan saja? Akan lebih efisien untuk pulang-pergi ke kota.”

Pandangan Malvin beralih ke arah desa yang mulai tenggelam dalam cahaya senja, sunyi dan tenang. “Untuk sementara, aku ingin tinggal sebagai orang sini.”

Meski masih menyimpan tanda tanya, Denis akhirnya mengangguk patuh. “Baik, Tuan.”

Malvin menoleh sekali lagi ke arah rumah Lastri, suara tawa kecil terdengar samar dari dalam. Untuk sementara, ia akan tetap menjadi Malvin—Manajer proyek. Bukan saatnya untuk membuka indentitas aslinya, sebagai seorang Presdir.

1
anita
sinta biar di nikahi denis
Tiara Bella
mantap akhirnya ngaku dan langsung ditangkap polisi.....
Tiara Bella
viralin aja Lastri pak hadi biar kapok dia
Fia Ayu
Up lagi kak re,,,, 😁
Rere💫: Eh 🤣🤣🤣
total 1 replies
Juriah Juriah
tambah ga sabar aja aku nunggu kelanjutannya Thor semangat ya nulis 💪🙏
vj'z tri
ow ow ow tanggung jawab Thor cerita nya seruuuu up nya double double hayoooo 🎉🎉🎉🎉
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 Kelen si bapake
Evi Lusiana
lah anak manja msuk desa,justru kau tk sebanding dgn wanita setangguh lastri
Astrid valleria.s.
woww makin seru ya thor...semangat thor..sambil ngopi dulu☕️
panjul man09
lastri tidak boleh tinggal terpisah dgn malvin ,bisa culik sama orang pak hadi dan surya
panjul man09
sejauh ini , ceritanya sangat menarik apalagi di awal2 , ringan tdk banyak konflik. tata bahasanya lumayan , harus sesuai kehidupan di desa ..
panjul man09
thor , suruh pulang kekota itu si fahira , terlalu banyak pemeran bikin pusing saja
juwita
kades sm angota DPR sm" bejat saling menutupi kebohongan mrk.
Tiara Bella
ceritanya bagus aku suka....
Tiara Bella
langsung tangkap aja tuh Hadi sama aja sm Surya kelakuannya....11 12....
Aidil Kenzie Zie
wah-wah ternyata banyak rahasia si Surya
Tiara Bella
sombong sh fahiranya jd disasarin jalannya wkwkwkkw....
Fia Ayu
Kaga usah di jodohin pak,, mereka emang dah jodoh😁
Shee_👚
semangat lastri kamu bisa, jangan jadi wanita lemah yang selalu diem walai di tindas, saat nya kamu buktikan bahwa wanita juga mampu berdiri di kaki sendiri dan bisa maju bersanding dengan laki-laki💪💪💪🥰
Shee_👚
berarti surya hanya jadi tumbal untuk menutupi aib hadi, surya di ancam atau karena balas budi secara hadi suka bantuin dia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!