Bagaimana jika kita tiba-tiba menjadi ibu dari anak calon suami kita sendiri ,apa yang akan kita lakukan ?Memutuskan hubungan begitu saja ?atau tetap lanjut . Aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk nya ,Rara Aletta Bimantara . Akan ku usahakan semua nya untuk mu ,Terimakasih Sudah mau menjadi istri dan ibu dari anak Ku _Rama Alexandra Gottardo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Sanjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
coklat
Enam bulan setelah keputusan pengadilan yang menguntungkan mereka, kooperatif “Coklat Tradisional Meksiko” telah menjadi nama yang dikenal luas di seluruh negeri. Produk mereka tidak hanya memenuhi permintaan pasar lokal, tetapi juga mulai menarik perhatian pembeli dari luar negeri yang mencari produk dengan cerita dan nilai budaya yang jelas. Namun tantangan baru muncul ketika mereka mulai mempertimbangkan untuk memasuki pasar internasional—bagaimana mereka bisa menjaga integritas tradisi sambil beradaptasi dengan standar global yang berbeda?
Salah satu hari musim panas, Siti menerima surat dari sebuah organisasi komunitas coklat di Ghana, Afrika Barat. Mereka telah melihat dokumenter Rama yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Prancis, dan ingin mengajak kooperatif Meksiko untuk bekerja sama dalam proyek pertukaran pengetahuan internasional. “Kita juga menghadapi masalah yang sama—perusahaan besar yang ingin mengambil alih tradisi kita dan pasar yang penuh dengan produk tiruan,” tulis pemimpin komunitas Ghana, Kofi Mensah. “Kita percaya bahwa dengan bekerja sama, kita bisa lebih kuat dan menunjukkan kepada dunia bahwa coklat tradisional memiliki nilai yang tak ternilai.”
Setelah melakukan rapat panjang dengan seluruh anggota kooperatif, mereka memutuskan untuk menerima undangan tersebut. Carlos, Siti, dan Pedro dipilih untuk mewakili komunitas Chiapas dalam kunjungan dua minggu ke Ghana. Don Alejandro meskipun tidak bisa ikut bepergian, memberikan mereka sebuah kotak kecil berisi biji kakao pilihan dari pohon paling tua di kebunnya. “Berikan ini kepada saudara-saudara kita di sana,” ujarnya dengan lembut. “Ini adalah benih dari tanah kita—semoga bisa menjadi jembatan antara dua budaya yang sama-sama mencintai coklat.”
Perjalanan ke Ghana membawa kejutan besar bagi mereka. Di daerah Ashanti, mereka menemukan kebun kakao yang dikelola secara kolektif oleh ratusan keluarga, dengan metode budidaya yang berbeda namun sama-sama penuh rasa hormat terhadap alam. Kofi dan timnya menunjukkan cara mereka mengolah biji kakao dengan menggunakan teknik yang telah diteruskan selama lebih dari tujuh generasi, termasuk proses fermentasi yang dilakukan dalam wadah tanah yang dibuat secara tradisional.
“Saat pertama kali kita melihat perusahaan besar datang ke sini, kita berpikir itu adalah kesempatan emas,” ujar Kofi saat menunjukkan kebun yang luas dengan mata bersinar. “Tapi mereka ingin kita mengubah semua cara kerja kita—menggunakan pupuk kimia, memotong hutan sekitar, bahkan mengganti jenis kakao yang kita tanam dengan yang lebih cepat tumbuh tapi kurang beraroma. Kita menolak, dan mereka mengatakan kita tidak akan pernah bisa bersaing. Tapi sekarang kita tahu bahwa kita salah—dan mereka juga salah.”
Selama kunjungan tersebut, kedua komunitas berbagi pengetahuan tentang budidaya, pengolahan, dan cara mempromosikan produk tradisional mereka. Pedro belajar teknik baru dalam mengeringkan biji kakao yang membuat rasa coklat menjadi lebih kaya, sementara Carlos melihat bagaimana komunitas Ghana mengelola rantai pasokan secara lokal untuk memastikan semua anggota mendapatkan keuntungan yang adil. Siti bekerja sama dengan ahli hukum lokal untuk membuat kerangka kerja sama internasional yang melindungi hak kedua komunitas.
Ketika mereka kembali ke Meksiko, mereka membawa dengan diri biji kakao pilihan dari Ghana dan ide baru yang membara. Mereka segera mengadakan rapat dengan seluruh anggota kooperatif dan mengusulkan pembentukan “Aliansi Coklat Tradisional Dunia”—jaringan global yang menghubungkan komunitas coklat tradisional dari berbagai negara untuk saling mendukung dan mempromosikan produk mereka.
Namun memasuki pasar internasional tidaklah mudah. Mereka menghadapi tantangan baru seperti standar impor yang ketat, biaya pengiriman yang mahal, dan persaingan dengan perusahaan besar yang memiliki anggaran promosi yang jauh lebih besar. Beberapa pelanggan internasional bahkan ragu dengan produk mereka karena kemasan yang lebih sederhana dan tanggal kedaluwarsa yang lebih pendek dibandingkan coklat buatan pabrik.
“Mereka bilang produk kita tidak cukup ‘modern’,” kata Elena dengan sedikit kesal saat melihat hasil survei pasar yang baru saja tiba. “Mereka tidak mengerti bahwa itulah yang membuat coklat kita istimewa—tidak ada bahan pengawet, tidak ada pewarna buatan, hanya rasa murni dari kakao dan cinta yang kita masukkan ke dalamnya.”
Untuk mengatasi masalah ini, Rama mengembangkan kampanye media sosial baru dengan judul “Coklat yang Bercerita”. Ia merekam dokumenter kedua yang menampilkan perjalanan ke Ghana dan menceritakan cerita dari komunitas tradisional di seluruh dunia. Video-videonya tidak hanya menunjukkan proses pembuatan coklat, tetapi juga memperkenalkan orang-orang di balik produk tersebut—petani, pengolah, dan keluarga yang bergantung pada coklat tradisional untuk hidup mereka.
Kampanye tersebut mendapatkan respons luar biasa. Dalam waktu tiga bulan, pesanan dari luar negeri meningkat lebih dari tiga kali lipat. Restoran mewah di Eropa dan Amerika Serikat mulai menyertakan produk kooperatif dalam menu mereka, sementara toko khusus makanan organik berlomba-lomba untuk menjadi mitra resmi mereka. Bahkan sebuah universitas di Jerman menghubungi mereka untuk melakukan penelitian tentang manfaat budidaya coklat tradisional bagi lingkungan dan komunitas lokal.
Pada hari peluncuran resmi Aliansi Coklat Tradisional Dunia di pusat budaya Meksiko City, delegasi dari Ghana, Peru, Indonesia, dan Madagaskar berkumpul bersama dengan anggota kooperatif lokal. Di tengah keramaian yang meriah, Don Alejandro berdiri di atas panggung bersama dengan pemimpin komunitas dari berbagai negara, memegang piringan coklat besar yang dibuat dari campuran biji kakao dari seluruh dunia.
“Coklat berasal dari benih yang sama, tapi setiap tanah memberikan rasa yang berbeda,” ujar Don Alejandro dengan suara yang kuat dan jelas. “Kita dulu berpikir bahwa kita harus bersaing satu sama lain untuk bertahan hidup. Tapi sekarang kita tahu bahwa ketika kita bekerja sama, kita bisa menunjukkan kepada dunia bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang harus ditinggalkan untuk kemajuan—melainkan dasar untuk membangun masa depan yang lebih baik dan lebih adil.”
Rian sedang menyelesaikan bab terakhir dari bukunya yang sekarang akan diterbitkan dalam lima bahasa berbeda, sementara Siti sedang membicarakan kemungkinan membuka pusat pelatihan internasional untuk petani coklat tradisional di Chiapas. Diego—yang kini telah menjadi salah satu pengelola utama kebun keluarga—sedang berbicara dengan anak-anak dari komunitas Ghana melalui video panggilan, berbagi tips tentang cara merawat pohon kakao muda.
Di kebun kakao tua yang telah menjadi saksi sejarah keluarga Mendoza, matahari sore menerangi tandan buah yang subur. Don Alejandro menyentuh kulit kayu pohon yang kasar dengan penuh cinta, menyadari bahwa benih-benih yang mereka tanam tidak hanya tumbuh menjadi pohon-pohon kakao—melainkan menjadi jembatan yang menghubungkan dunia dengan cinta, rasa hormat, dan tradisi yang akan terus hidup selama ada orang yang peduli untuk menjaganya.
Rian menyadari bahwa semua usahanya pasti akan baik' -baik saja .