Tio tidak pernah meminta untuk mati—apalagi tereinkarnasi dan bangun di dunia kultivasi brutal sebagai Ci Lung di Benua Tianlong.
Dengan tekad sederhana untuk hidup tenang di Lembah Sunyi, ia mencoba menjauh dari sekte, perang, dan orang-orang yang bisa membelah gunung hanya dengan bersin. Sayangnya, sebuah sistem misterius muncul, memberinya kekuatan… sekaligus hutang yang terus bertambah.
Lebih sial lagi, dunia mulai salah paham dan menganggapnya sebagai ahli tersembunyi yang menakutkan—padahal tingkat kultivasinya sebenarnya masih pas-pasan.
Di belakangnya berdiri Gu Shentian, guru di puncak Void Realm yang terlalu kuat untuk dijelaskan. Di sampingnya ada Yan Yu, murid kecil yang terlalu percaya bahwa gurunya adalah legenda hidup.
Ci Lung hanya ingin hidup normal.
Masalahnya…
Setiap kali ia mencoba, langit justru retak duluan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebohongan Bersama
Awalnya hanya tiga orang.
Lalu enam.
Lalu dua belas.
Dan akhirnya, tidak ada lagi yang ingat siapa yang pertama kali bicara jujur.
Di sebuah kota kecil di perbatasan benua Tianlong, sebuah kedai teh mendadak penuh. Bukan karena tehnya enak—justru pahit—melainkan karena satu topik yang terus diulang, dibumbui, lalu dilebih-lebihkan.
“Katanya… di lembah itu ada satu eksistensi.”
“Eksistensi apa?”
“Yang bikin leluhur sekte tua milih muter arah.”
Orang yang bicara meneguk teh, suaranya diturunkan.
“Temen sepupuku—murid luar sekte Abu-Abu—lihat langsung.”
Semua condong ke depan.
“Katanya, dia nggak berkultivasi.”
Beberapa orang mengangguk pelan.
Yang lain mengernyit.
“Justru itu yang aneh,” lanjutnya.
“Qi di lembah itu… tak berani mendekat ke dia.”
Cerita itu berhenti di situ.
Besoknya, ceritanya berubah.
Di kota lain, ceritanya jadi begini:
“Penunggu Lembah itu bukan tidak berkultivasi. Dia sudah melewati kebutuhan kultivasi.”
Di kota berikutnya:
“Dia menutup kultivasinya supaya dunia nggak runtuh.”
Dan di kota yang lebih jauh lagi:
“Dia satu napas saja bisa bikin langit retak, makanya dia hidup tenang. Dunia ini terlalu rapuh.”
Tidak ada yang mengecek.
Tidak ada yang berani.
Karena setiap versi rumor selalu diakhiri dengan kalimat yang sama:
“Dan ada satu murid kecil di sisinya.”
Murid kecil itu jadi bahan bakar rumor.
Ada yang bilang bocah itu yatim piatu yang dipungut.
Ada yang bilang reinkarnasi jenius.
Ada juga yang bersumpah bocah itu wadah iblis yang dijinakkan.
“Umurnya sepuluh tahun!”
“Qi Refining layer dua!”
“Tanpa elixir!”
“Tanpa formasi!”
“Tanpa metode!”
Satu orang menepuk meja.
“Kalau itu bukan kehendak Penunggu Lembah, lalu apa?!”
Tidak ada jawaban.
Karena semua jawaban terdengar lebih menakutkan.
Sementara itu, di lembah.
Ci Lung lagi ngitung kail pancing.
“Kenapa sering ilang, sih…”
Muridnya duduk di batu, ngunyah ubi rebus.
“Guru, saya tadi mimpi.”
“Hm?”
“Ada orang sujud ke arah lembah.”
Ci Lung mendengus.
“Kurang tidur.”
“Oh.”
Murid itu lanjut makan.
Tidak ada aura.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada firasat.
Tapi jauh di luar lembah—
peta dunia mulai berubah.
Sekte-sekte kecil mulai memberi tanda hitam di peta mereka.
Zona Hitam: Lembah Sunyi
Keterangan tambahan: Dilarang masuk. Dilarang mengamati. Dilarang menyebut nama.
Ironisnya—
tidak ada yang tahu nama Ci Lung.
Jadi mereka menciptakan sendiri.
Penunggu Lembah
Yang Diam
Penguasa Sunyi
Senior Tanpa Ajaran
Dan yang paling sering disebut, dengan suara gemetar:
“Dia yang Membiarkan Dunia Hidup.”
Satu sekte kecil mencoba membantah.
“Ini pasti dibesar-besarkan.”
Mereka mengirim satu murid.
Murid itu tidak pernah kembali.
Padahal kenyataannya sederhana:
Dia tersesat, melihat tekanan qi lembah, lalu pingsan dan kabur setelah sadar.
Tapi rumor tidak peduli kebenaran.
Yang tersebar justru:
“Dia dihapus.”
Beberapa kultivator tua mulai resah.
Bukan karena takut diserang.
Tapi karena tidak diajak bicara.
“Kalau dia selevel itu…”
“Kenapa dia diam?”
“Kenapa tidak menguasai dunia?”
Satu jawaban mulai muncul, pelan tapi konsisten:
“…Karena dunia tidak layak.”
Dan kalimat itu menyebar lebih cepat daripada api.
Di lembah, sore hari.
Ci Lung menatap langit.
“Aneh. Burung makin jarang.”
Muridnya mengangguk serius.
“Guru… apa saya harus nyapu lebih rapi?”
Ci Lung mikir.
“…Iya.”
Di luar sana, rumor berubah lagi:
Setiap gerakan kecil di lembah adalah keputusan besar.
Dan sejak hari itu—
Tidak ada sekte yang berani mengirim orang lagi.
Bukan karena mereka tahu apa yang ada di dalam lembah.
Tapi karena mereka sepakat untuk takut bersama.
Dan kalo boleh jujur,
Kalau authornya konsisten pakai gaya ini, ini bisa jadi ciri khas yang beda dari pasar murim mainstream, aku bakal lanjut baca.
Inget thor aku bakal jadi salah satu pembaca yang marah kalo Yan yuu kenapa-kenapa😠