Dulu aku adalah sampah di Sekte Awan Azure, sampai sistem 'Night Crawler' merobek kemanusiaanku dan menggantinya dengan insting predator. Sekarang, aku bisa bertransformasi menjadi monster dan melahap kultivasi siapa pun yang berani menghalangi jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Cahaya merah yang membumbung di langit itu terlihat seperti luka besar yang menganga. Aku menatapnya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada sesuatu di dalam dadaku yang bergetar hebat, seolah ingin melompat keluar dan berlari menuju sumber cahaya tersebut.
"Apa kau merasakannya, Han?" tanya He Ran sembari merapatkan jubah ungunya.
Aku mengangguk perlahan. "Rasanya seperti ada ribuan suara yang memanggilku."
"Itu adalah tanda bahwa para pemangsa lain sudah mulai bangun," sahut He Ran dengan nada yang terdengar sangat serius.
Wanita itu melangkah menjauh dari jendela yang hancur. Ia menoleh ke arahku, menatap setiap jengkal tubuhku yang kini terasa jauh lebih kokoh dari sebelumnya. Vanguard Asura. Nama itu muncul di penglihatanku seperti sebuah label yang tidak bisa kuhapus.
"Apa itu Vanguard Asura?" tanyaku sembari mengepalkan tangan.
He Ran terdiam sejenak. Ia berjalan menuju sebuah kursi kayu yang masih utuh dan duduk dengan anggun di sana. "Itu adalah gelar untuk mereka yang berada di garis depan evolusi monster. Kau bukan lagi sekadar mangsa yang mencoba bertahan hidup. Kau adalah pemburu yang siap memimpin perburuan."
"Aku tidak ingin memimpin siapa pun," cetusku sembari menatap telapak tanganku yang kini tidak lagi memiliki sisik.
"Dunia ini tidak peduli dengan keinginanmu, Han," timpal He Ran dengan senyum tipis yang terlihat sangat dingin. "Begitu kau melangkah ke turnamen esok hari, semua orang akan melihatmu sebagai ancaman atau sebagai mangsa yang sangat berharga."
Aku menghela napas panjang. Rasa lelah yang tadi sempat hilang kini kembali menyerang kesadaranku. Meskipun sistem menyatakan evolusiku selesai seratus persen, jiwaku tetaplah jiwa manusia yang merasa letih setelah bertarung melawan maut.
"Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?" tanyaku sembari mencari tempat untuk menyandarkan tubuh.
"Beristirahatlah," perintah He Ran sembari memberikan kode kepada beberapa pelayan yang masih tersisa untuk masuk. "Aku akan mengurus sisa kekacauan di kediaman ini. Kau harus memastikan bahwa esensi barumu ini benar-benar menyatu dengan aliran tenaga dalammu."
Baru saja aku hendak melangkah menuju kamar, suara langkah kaki yang sangat teratur terdengar dari arah lorong depan. Itu bukan langkah kaki Gwi yang serampangan atau langkah pelayan yang ringan. Ini adalah langkah kaki seseorang yang memiliki kedisiplinan tinggi.
Sesosok pemuda dengan seragam berwarna putih dan emas muncul di ambang pintu. Ia membawa sebuah gulungan kertas dengan segel resmi Aliansi Murim di bagian tengahnya.
"Maaf mengganggu, Nyonya He Ran," ucap pemuda itu sembari membungkuk dengan sangat hormat.
"Utusan Aliansi? Apa yang membawa kalian ke tempatku di jam sebegini?" tanya He Ran dengan nada bicara yang penuh selidik.
Pemuda itu menegakkan tubuhnya. Matanya yang tajam menyapu seluruh ruangan yang berantakan, lalu berhenti tepat di wajahku. Aku bisa merasakan tatapannya yang seolah ingin menembus kulitku.
"Kami menerima laporan tentang adanya ledakan energi ilegal di kediaman ini," jelas utusan itu sembari menyerahkan gulungan kertas tersebut kepada He Ran. "Aliansi Murim ingin memastikan bahwa tidak ada pihak yang mencoba berbuat curang sebelum turnamen dimulai."
He Ran tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat sinis di telingaku. "Curang? Kalian sendiri yang membiarkan Sekte Awan Azure mengirimkan pasukan penegaknya ke dalam kota untuk membuat keributan."
"Sekte Awan Azure memiliki izin khusus untuk mengejar buronan mereka," kilah pemuda itu dengan suara yang tetap tenang. "Namun, energi yang baru saja meledak di sini... itu bukan energi yang berasal dari teknik bela diri manusia."
Jantungku berdegup kencang. Apakah dia bisa merasakannya? Modul 'Peredam Aura' seharusnya masih aktif, tapi pemuda ini terlihat sangat yakin dengan apa yang ia katakan.
"Lalu, apa yang ingin kau lakukan?" tanyaku sembari melangkah maju satu tindak.
Pemuda itu kembali menatapku. Kali ini, ia menyipitkan matanya sembari memegang gagang pedang di pinggangnya. "Namaku Jin Seo, pengawas turnamen dari Aliansi Murim. Dan aku ingin kau ikut denganku ke kantor pusat aliansi untuk melakukan pemeriksaan fisik."
"Dia adalah tamu pribadiku, Jin Seo," potong He Ran sembari berdiri dari kursinya. "Kau tidak punya wewenang untuk membawanya tanpa bukti yang jelas."
"Bukti?" Jin Seo tersenyum kecil. Ia mengeluarkan sebuah kompas kecil dari balik jubahnya. Jarum kompas itu berputar dengan sangat liar, lalu menunjuk tepat ke arah dadaku. "Kompas Pendeteksi Iblis ini tidak pernah berbohong, Nyonya."
Aku menatap benda kecil itu dengan rasa penasaran yang membuncah. Ternyata dunia murim memiliki alat secanggih itu untuk melacak orang-orang sepertiku.
"Jika dia tidak ikut sekarang, aku terpaksa akan mencoret namanya dari daftar peserta turnamen," ancam Jin Seo sembari menatapku dengan tatapan yang sangat menantang.
Aku menatap He Ran, mencari jawaban di balik matanya yang ungu. Namun, wanita itu justru terlihat sangat tenang, seolah ia sudah mengantisipasi kejadian ini sejak awal.
"Baiklah, aku akan ikut," sahutku akhirnya.
"Pilihan yang bijaksana," puji Jin Seo sembari memberi isyarat agar aku berjalan mendahuluinya.
Saat aku melewati pintu depan, aku bisa melihat pasukan Aliansi Murim sudah mengepung kediaman He Ran. Mereka membawa obor yang sangat terang, membuat malam yang gelap ini berubah menjadi sangat menyilaukan.
Jin Seo berjalan di sampingku dengan langkah yang sangat dekat. Aku bisa merasakan tekanan energi yang keluar dari tubuhnya. Ia berada di Ranah Formasi Inti Tahap Puncak, setingkat dengan Jang Mu-deok, namun dengan energi yang jauh lebih bersih dan teratur.
"Kau punya rahasia yang sangat menarik, Han," bisik Jin Seo tepat di telingaku saat kami berjalan menjauhi kerumunan.
"Semua orang punya rahasia," balasku sembari tetap menatap lurus ke depan.
"Memang benar," timpal Jin Seo sembari terkekeh pelan. "Tapi tidak semua orang bisa tetap berdiri tegak setelah mencerna energi dari tiga orang ahli Formasi Inti sekaligus."
Aku menghentikan langkahku secara tiba-tiba. Bagaimana dia bisa tahu detail pertarunganku di dalam ruangan tadi? Padahal ruangan itu tersegel rapat.
Jin Seo juga berhenti dan menoleh ke arahku dengan senyum yang sangat misterius. Ia kemudian mengeluarkan sebuah lencana kecil dari sakunya. Lencana itu bergambar seekor anjing hitam yang sedang melolong ke arah bulan.
"Kau..." ucapku dengan suara yang mulai bergetar.
"Jangan tegang begitu, Kawan," potong Jin Seo sembari menepuk bahuku dengan sangat akrab. "Sekte Langit Hitam mengirimku bukan untuk menangkapmu, melainkan untuk memastikan bahwa investasiku tidak mati konyol di tangan Aliansi Murim."
Aku tertegun, menatap lencana di tangannya dan wajahnya yang terlihat sangat ramah secara bergantian. Ternyata jaringan He Ran jauh lebih dalam dari yang kubayangkan, atau mungkin, aku baru saja menyadari bahwa aku sedang berada di tengah-tengah konspirasi yang jauh lebih besar.
"Kenapa kau memberitahuku sekarang?" tanyaku sembari menyipitkan mata.
"Karena kita punya masalah baru di depan gerbang aliansi," sahut Jin Seo sembari menunjuk ke arah pusat kota.
Di sana, di depan gedung besar milik Aliansi Murim, berdiri seorang pria besar dengan pakaian compang-camping dan sebuah palu raksasa di pundaknya. Pria itu menatap kami dengan tatapan yang sangat liar, dan di kakinya, terserak beberapa mayat penjaga aliansi yang sudah hancur tak berbentuk.
"Siapa itu?" tanyaku dengan rasa ngeri yang mulai merayap di punggung.
"Itu adalah sang 'Palu Penghancur', salah satu dari mereka yang juga menerima panggilan cahaya merah tadi," jelas Jin Seo sembari mencabut pedangnya.
Pria besar itu tiba-tiba menoleh ke arah kami. Ia menyeringai lebar, lalu menghantamkan palu raksasanya ke tanah hingga menciptakan gempa kecil yang membuatku hampir jatuh tersungkur.
"Daging... berikan aku... daging murni!" teriak pria itu dengan suara yang tidak menyerupai suara manusia sama sekali.
Sistem di kepalaku tiba-tiba berteriak dengan peringatan berwarna ungu yang sangat pekat.
[Peringatan! Subjek terdeteksi sebagai 'Asura Eater'.] [Tingkat ancaman: Ekstrem.] [Rekomendasi: Lari segera atau lakukan transformasi Vanguard penuh.]
Aku mencengkeram tongkat kayuku, merasakan keringat dingin mulai membasahi punggungku. Sepertinya babak penyisihan turnamenku baru saja dimulai lebih awal dari jadwal yang seharusnya.
"Apa kau siap, Han?" tanya Jin Seo sembari bersiap untuk menerjang.
"Aku tidak punya pilihan lain, kan?" balasku sembari mulai merasakan sisik emas kembali muncul di permukaan lenganku secara perlahan.