NovelToon NovelToon
Rebel Hearts

Rebel Hearts

Status: tamat
Genre:Berbaikan / Dikelilingi wanita cantik / Playboy / Anak Genius / Percintaan Konglomerat / Obsesi / Tamat
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Kau tahu apa masalahmu, Salena? Kau terlalu sibuk menjadi sempurna sampai lupa caranya menjadi manusia." — Zane Vance.
"Dan kau tahu apa masalahmu, Vance? Kau pikir dunia ini panggung sirkusmu hanya karena teman-teman bodohku memanggilmu Dewa. Dasar alay." — Salena Ashford

Zane Vance (21) pindah ke Islandia bukan untuk mencari musuh. Tapi saat di hari pertama dia sudah mendebat Salena Ashford—si putri konglomerat kampus yang kaku dan perfeksionis—perang dunia ketiga resmi dimulai.

Semua orang memuja Zane. Mereka memanggilnya "Dewa dari New York" karena pesonanya yang bad boy, dingin, dan Urakan Ganteng (ini kata teman Selena), kecuali Salena.
Namun, semakin keras Salena berusaha menendang Zane dari tahtanya, semakin ia terseret masuk ke dalam rahasia hidup cowok itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma Mint dan Rahasia di Balik Apron

Sinar matahari pagi yang pucat menembus celah gorden penthouse, menyinari debu-debu yang menari di udara. Zane terbangun dengan kepala yang terasa sedikit berat, namun ada rasa hangat yang tidak biasa di lengan kanannya. Ia menoleh dan menemukan Salena masih terlelap, napasnya teratur, namun wajahnya tampak sedikit lelah.

​Zane terdiam sejenak, memandangi wajah gadis yang semalam menjadi tempatnya bersandar. Ia teringat samar-samar tangisannya sendiri, sebuah memori yang biasanya akan membuatnya merasa malu, tapi entah kenapa, dengan Salena, rasa malu itu tidak ada.

​Zane kemudian bangkit pelan-pelan agar tidak membangunkannya. Ia melangkah ke kamar mandi, membiarkan air dingin menyiram sisa-sisa alkohol dan kepedihan dari tubuhnya. Setelah selesai, ia keluar hanya dengan mengenakan celana pendek hitam, membiarkan tubuh bagian atasnya terbuka dan rambutnya masih basah kuyup, meneteskan air ke lantai.

​Ia melihat ke arah tempat tidur. Salena belum bergerak sedikit pun.

​"Apa dia tidak tidur semalaman karena menjagaku?" gumam Zane dalam hati. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis senyum tulus yang jarang ia perlihatkan.

​Niat jahil tiba-tiba muncul di kepalanya. Zane merangkak pelan ke atas tempat tidur, lalu memposisikan dirinya di atas Salena. Ia membungkuk, membiarkan tetesan air dingin dari rambutnya jatuh tepat ke pipi dan dahi Salena. Tak cukup sampai di situ, ia memeluk Salena, membiarkan kulit dadanya yang lembap bersentuhan langsung dengan lengan Salena yang hangat.

​"Bangun, Nona Ashford. Matahari sudah tinggi," bisik Zane tepat di telinga Salena.

​Salena mengerang, merasa ada sesuatu yang dingin dan basah mengusik tidurnya. Saat ia membuka mata, pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah Zane yang sangat dekat, dengan rambut berantakan yang basah dan aroma sabun mint yang segar.

​Salena tersentak, kesadarannya terkumpul seketika. Namun, gerakannya terhenti saat matanya menangkap pemandangan di depannya. Dalam jarak sedekat ini, tanpa cahaya remang-remang klub malam, ia melihat dengan sangat jelas tato-tato milik Zane.

​Karya seni di kulit Zane terlihat seperti peta rahasia. Di dada kirinya, tepat di atas jantung, ada tato tulisan latin kecil yang tampak sangat personal. Di bahunya, ada gambar abstrak yang menyambung hingga ke punggung, otot-ototnya bergerak setiap kali Zane bernapas. Dan tentu saja, tato kupu-kupu di belakang telinganya terlihat begitu kontras dengan otot lehernya yang tegang.

​Salena menelan ludah. "Zane... kau basah semua," ucapnya dengan suara serak khas orang bangun tidur, berusaha mengalihkan fokusnya dari kulit telanjang Zane yang penuh tato.

​Zane tertawa pelan, getaran tawanya terasa hingga ke dada Salena. "Itu hukuman karena kau tidur terlalu nyenyak di rumah orang asing. Jadi, Nona Pengacara... apa kau sudah selesai menginspeksi tato-tatoku?"

​Wajah Salena memerah hebat, tapi ia tidak memalingkan wajah. Keintiman pagi ini terasa begitu nyata, jauh lebih berbahaya daripada perdebatan mereka di kampus.

Suasana di dalam penthouse itu mendadak berubah. Ketegangan erotis yang sempat menggantung di antara mereka saat Zane menjahili Salena dengan rambut basahnya perlahan mencair, berganti menjadi kecanggungan yang lebih manusiawi. Perut Salena berbunyi pelan, sebuah pengingat bahwa drama emosional semalam telah menguras energinya.

Zane terkekeh, suara rendahnya menggetarkan udara pagi yang tenang. "Sepertinya Ratu Es kita butuh bahan bakar. Kau tidak bisa menghakimiku dengan perut kosong, Salena."

Zane bangkit dari tempat tidur, otot-otot punggungnya yang berhiaskan tato bergerak dinamis saat ia meregangkan tubuh. Ia tidak repot-repot mengenakan baju, seolah-olah bertelanjang dada di depan Salena adalah hal paling alami di dunia. Ia berjalan menuju dapur yang didominasi marmer hitam dan peralatan stainless.

"Kau mau masak?" tanya Salena ragu sambil merapikan rambutnya yang berantakan. Ia menyusul ke dapur, merasa sedikit kecil di tengah kemewahan maskulin ruangan itu.

"Aku besar di New York, Sal. Jika kau tidak bisa memasak setidaknya sesuatu yang layak dimakan, kau akan mati kelaparan di tengah hiruk-pikuk Manhattan," sahut Zane sambil membuka kulkas dua pintunya yang terisi rapi, kontras dengan citra berandal nya. "Kita buat Pancakes dan Omelette. Sederhana, tapi efektif."

Zane melemparkan sebuah apron putih bersih ke arah Salena. "Pakai itu. Aku tidak mau kemeja sutramu yang mahal itu terkena noda mentega."

Maka dimulailah sebuah pemandangan yang tak pernah dibayangkan oleh siapa pun di kampus mereka. Salena Blair Ashford, sang primadona akademik yang kaku, berdiri berdampingan dengan Zane Sebastian Vance, sang pemberontak Manhattan, di depan sebuah kompor.

Zane bertugas mengocok telur. Gerakannya sangat lihai, seolah ia sudah melakukannya ribuan kali. Salena, di sisi lain, ditugaskan untuk memotong buah beri dan menyiapkan adonan pancake.

"Kau memotong stroberi itu seolah sedang membedah mayat, Salena. Santai saja," goda Zane. Ia mendekat, berdiri di belakang Salena hingga gadis itu bisa merasakan hawa panas dari tubuh telanjang dada Zane. Zane meraih tangan Salena, mengarahkan pisau dengan lembut. "Ikuti iramanya. Jangan dilawan."

Jantung Salena berpacu. Sentuhan tangan Zane yang kasar namun hangat pada jemarinya membuat fokusnya terbelah. Tato di lengan Zane terlihat sangat jelas saat pria itu membantunya memotong buah. Salena bisa melihat urat-urat menonjol di tangan Zane, sebuah pemandangan yang sangat maskulin dan mengintimidasi namun entah mengapa membuatnya merasa aman.

"Kenapa kau diam?" bisik Zane di dekat telinganya. Aroma sabun mint dari tubuh Zane bercampur dengan aroma kopi yang mulai mendidih di mesin otomatis.

"Aku hanya... tidak terbiasa ada orang di dapurku. Maksudku, di dekatku saat aku memasak," jawab Salena terbata.

Zane melepaskan tangannya dan kembali ke telurnya. "Di New York, dapur adalah tempat paling jujur. Kau tidak bisa berpura-pura saat sedang memasak. Panas tetap panas, dan garam tetap asin. Tidak seperti hukum yang kau pelajari, di sini tidak ada pasal."

Salena tersenyum tipis. Ia mulai menikmati momen ini. Ia memperhatikan bagaimana Zane bergerak dengan efisien. Pria ini sangat teliti. Ia tidak hanya melempar bahan ke wajan, ia mengukur suhu, memperhatikan tekstur, dan sesekali bersiul pelan mengikuti nada lagu yang hanya ada di kepalanya.

"Zane," panggil Salena saat mereka sedang menunggu pancake matang.

"Yeah?"

"Tentang semalam... kau bicara banyak hal saat mabuk emosi. Tentang Phoenix, tentang Kharel."

Tangan Zane yang sedang memegang spatula sempat membeku sesaat, namun ia segera menguasai diri. Ia membalik pancake dengan sempurna. "Alkohol dan kesedihan adalah kombinasi yang buruk untuk menyimpan rahasia. Aku harap kau tidak menggunakannya untuk menuntut ku di pengadilan nanti."

"Aku tidak akan melakukannya," sahut Salena tulus. "Aku hanya berpikir... kau terlihat lebih nyata saat kau tidak mencoba menjadi Dewa."

Zane mematikan kompor. Ia menatap Salena dengan tatapan yang dalam, sebuah tatapan yang membuat Salena merasa seolah pria itu sedang membaca jiwanya. "Dan kau terlihat lebih cantik saat tidak mencoba menjadi Robot Hukum, Salena."

Mereka menyajikan makanan itu di meja bar. Hasil kolaborasi mereka, pancake yang lembut dengan sirup maple dan buah beri, serta omelette keju yang masih mengepulkan uap panas.

Saat mereka makan, suasana menjadi lebih santai. Zane kembali menjadi sosok yang cerewet seperti di telepon malam itu. Ia menceritakan bagaimana ia pernah hampir membakar dapur apartemen kakeknya karena mencoba membuat flambe saat berusia sepuluh tahun. Salena tertawa lepas, sebuah tawa yang jarang ia keluarkan di depan orang lain.

Namun, di tengah tawa itu, Salena tiba-tiba teringat ponsel Zane yang masih mati di bawah kolong tempat tidur. Ia teringat suara Phoenix yang penuh luka dan makian Kharel yang histeris. Ia tahu kedamaian di dapur ini hanyalah gencatan senjata sementara sebelum perang yang sebenarnya meletus.

"Zane," ucap Salena, suaranya mendadak serius.

"Kenapa? Rasanya aneh?"

"Bukan. Rasanya enak sekali," Salena meletakkan garpunya. "Tapi ada sesuatu yang harus kukatakan padamu. Sesuatu yang terjadi saat kau tertidur semalam. Tentang ponselmu."

Zane berhenti mengunyah. Matanya yang tajam langsung menangkap perubahan nada bicara Salena. Ia meletakkan gelas kopinya, bersandar di kursi, dan menatap Salena dengan serius. Tato kupu-kupu di belakang telinganya seolah ikut menegang.

"Katakan padaku, Salena. Apa yang terjadi?"

Salena menarik napas panjang. Ia tahu kejujurannya mungkin akan mengakhiri momen manis ini, tapi ia tidak punya pilihan. Ia harus memberitahu Zane bahwa ia telah mendeklarasikan perang terhadap Manhattan demi melindunginya.

🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading 🥰😍

1
falea sezi
Zane sebenarnya suka Karel. gk sih Thor
Anisa Muliana
padahal keluarga Vance berpengaruh di New York masak gk ada pembalasan utk si penabrak? kenapa rasanya kayak pasrah aja gtu..dan yg bergerak utk membalas malah Katiya..😌
Anisa Muliana
ditunggu update ceritanya thor..😁
Anisa Muliana
serius ceritanya seru thor😍 dan bikin deg"an bacanya Krn gk bisa nebak alurnya kyk gmna..
Anisa Muliana
sepertinya seru ceritanya thor😊
sakura
...
anggita
ikut dukung ng👍like sama iklan☝saja.
anggita
tato yg keren😚
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!