"Cinta adalah akting terbaik, dan kebenaran adalah kemewahan yang tidak mampu mereka beli."
Di tengah gemerlapnya Paris Fashion Week dan eksklusivitas jet pribadi, Serena Rousseau Mane, sang supermodel yang beralih menjadi aktris, memiliki satu aturan emas: jangan pernah berurusan dengan Nicholas Moreau Feng.
Nicholas bukan hanya aktor papan atas dengan reputasi predator di depan kamera, tetapi juga pria yang menghancurkan hatinya di masa SMA mereka. Kembalinya Nicholas ke dalam hidup Serena lewat proyek film jutaan dolar bukan sekadar reuni profesional, melainkan sebuah permainan kekuasaan. Di balik setelan bespoke dan perhiasan berlian yang mereka kenakan, tersimpan dendam lama tentang pengkhianatan masa lalu dan ketakutan Serena akan "ciuman mematikan" Nicholas yang sanggup menghancurkan kariernya—atau lebih buruk, kembali mencuri hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skenario Gila Nicholas
Keesokan harinya, matahari Provence bersinar terik, menyinari set film yang sudah dipenuhi oleh kru yang sibuk menyiapkan peralatan untuk pengambilan gambar trailer utama.
Pagi ini, Beatrice tidak terlihat di lokasi. Kabarnya, ia harus kembali ke Paris untuk pemotretan mendadak, meninggalkan Nicholas tanpa pemandu sorak pribadinya.
Serena duduk di kursi sutradara dengan kacamata hitam oversized dari Saint Laurent, menyesap iced americano tanpa gula. Dari kejauhan, ia melihat Nicholas sedang dikelilingi oleh beberapa kru wanita.
Nicholas, yang sadar bahwa Serena sedang memperhatikannya, mulai beraksi. Ia bersandar di kap mobil Bugatti-nya yang berkilauan, lalu dengan sengaja melakukan gerakan andalannya, membasahi bibir bawahnya perlahan dengan lidah, kemudian mengatupkan bibirnya hingga tampak penuh dan sedikit bergetar, ekspresi yang selalu membuat penggemarnya di seluruh dunia histeris.
"Lihat dia," desis Serena kepada Iris yang berdiri di sampingnya. "Dia benar-benar mengira dirinya adalah pemberian Tuhan untuk wanita. Lihat gerakan bibirnya itu. Dia pikir dia sangat jantan dan menggoda?"
Iris menahan tawa. "Publik menyebutnya 'The Smoldering Look', Serena."
"Smoldering?" Serena mendengus sinis, suaranya cukup keras hingga Nicholas menoleh. "Dia terlihat seperti bocah lima tahun yang baru saja memakan selai stroberi dan mencoba menjilat sisa-sisanya. Benar-benar memuakkan. Dia pikir dengan memainkan bibir alat sedot-nya itu, aku akan pingsan?"
Nicholas, yang mendengar ejekan itu, justru berjalan mendekat dengan langkah santai. Ia melepas kacamata hitamnya, menampilkan mata sipit yang berkilat penuh tantangan.
"Bocah lima tahun, Serena?" Nicholas berdiri tepat di depan kursi Serena, menghalangi cahaya matahari. Ia kembali melakukan gerakan bibir itu, kali ini lebih dekat. "Kalau aku bocah lima tahun, berarti kau adalah teman bermainku yang paling suka berebut mainan denganku. Kau terlalu sibuk memperhatikan bibirku untuk seseorang yang mengaku muak."
"Aku memperhatikan karena itu mengganggu pemandangan, Nicholas," balas Serena sambil berdiri, membuat mereka sejajar. "Kau tebar pesona ke sana kemari seolah ini adalah pasar malam. Simpan ekspresi konyolmu itu untuk Beatrice. Dia mungkin tipe wanita yang mudah tertipu oleh wajah sok gantengmu."
"Oh, Beatrice sangat menyukainya," bisik Nicholas, suaranya merendah, "tapi aku tahu siapa yang sebenarnya paling tahu rasa dari ekspresi konyol ini. Kau ingin aku berhenti tebar pesona? Suruh sutradara mulai mengambil gambar. Aku butuh target yang nyata untuk bibir ini, bukan hanya kru yang ketakutan."
Serena memutar bola matanya, melangkah melewati Nicholas sambil sengaja menabrak bahunya. "Siapkan saja mentalmu, Feng. Aku akan memastikan adegan hari ini membuatmu sadar bahwa tidak semua wanita bisa kau taklukkan dengan satu hisapan."
Di belakang mereka, Peter dan Simon saling berpandangan sambil menyeringai. Mereka tahu, meski Serena memaki Nicholas seperti anak kecil, tatapan mata Serena tidak bisa berbohong, ada api yang jauh lebih panas dari sekadar kebencian di sana.
Sutradara berteriak, "Action!"
Kamera crane mulai bergerak turun, menangkap siluet dua ikon papan atas itu di tengah hamparan lavender yang mulai meredup tertutup awan. Sesuai naskah trailer, Nicholas seharusnya hanya membisikkan kata perpisahan sebelum Serena berbalik pergi. Namun, Nicholas Moreau Feng punya rencana lain untuk menghancurkan pertahanan wanita yang baru saja menyebutnya "bocah lima tahun."
Nicholas menarik Serena lebih rapat, telapak tangannya yang hangat menempel di punggung terbuka Serena yang terbalut gaun sutra. Bukannya membisikkan dialog, Nicholas justru memiringkan kepalanya, membenamkan wajahnya di ceruk leher Serena.
Serena merasakan embusan napas Nicholas yang panas, lalu... sentuhan itu. Nicholas tidak hanya menempelkan bibirnya, ia memberikan hisapan kecil yang tegas di titik paling sensitif di leher Serena, sebuah gerakan improvisasi yang sangat intim, sangat "Nicholas."
Seluruh kru menahan napas. Iris di balik monitor sudah bersiap ingin berteriak, mengira Serena akan meledak atau lemas.
Namun, Serena Rousseau Mane adalah seorang model yang ditempa oleh kerasnya panggung Milan dan Paris. Ia merasakan gelombang listrik yang familiar menghantam dadanya, memori tentang malam-malam intim mereka hampir saja meruntuhkan kekuatannya. Tapi, ia teringat makiannya semalam. Ia teringat Beatrice.
Alih-alih gemetar atau mendorongnya, Serena justru tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kemenangan yang tertangkap sempurna oleh lensa kamera. Ia membiarkan Nicholas mencium lehernya selama tiga detik ekstra, lalu dengan gerakan anggun yang sangat terkontrol, ia menyentuh rahang Nicholas dengan jemarinya yang lentur, mendorong wajah pria itu menjauh dengan perlahan namun penuh otoritas.
"Kau melupakan dialogmu, Nicholas," bisik Serena, suaranya tetap stabil, dingin, dan mematikan. "Atau kau begitu lapar hingga lupa ini adalah set film, bukan kamar tidurmu?"
Serena kemudian berbalik, berjalan menjauh dengan langkah catwalk yang sempurna, meninggalkan Nicholas yang terpaku di tengah set.
"CUT! Magnifique!" teriak sutradara dengan antusias. "Improvisasi yang luar biasa, Nicholas! Dan reaksi Serena... sangat berkelas! Itu adalah chemistry benci-tapi-cinta yang sempurna untuk trailer kita!"
Begitu kamera berhenti merekam, Serena berhenti berjalan. Ia berbalik, menatap Nicholas yang masih berdiri di sana dengan ekspresi sedikit frustrasi karena gagal membuat Serena kehilangan kendali.
Serena mengusap lehernya dengan tisu pembersih yang segera disodorkan Marie, seolah-olah baru saja terkena noda kotoran.
"Lain kali, jika kau ingin menunjukkan bakat sedotan-mu itu, Nicholas, lakukan pada botol soda. Leherku terlalu mahal untuk eksperimen bocah sepertimu."
Nicholas menyeringai, meski matanya menunjukkan kekaguman yang tersembunyi. "Kau belajar banyak selama tujuh tahun ini, Serena. Tapi aku tahu detak jantungmu tadi tidak sebohong mulutmu."
"Detak jantungku hanya kaget karena ada bau brandy murahan yang menempel di napasmu," balas Serena angkuh. Ia kemudian menoleh ke arah Marie. "Marie, siapkan Pagani-ku. Aku ingin pulang sekarang. Berada di dekat pria ini terlalu lama membuat kulitku terasa kusam."
Serena melenggang pergi, meninggalkan Nicholas yang kini kembali memainkan bibirnya, kali ini bukan untuk tebar pesona, tapi karena ia benar-benar merasa tertantang. Serena baru saja membuktikan bahwa meskipun Nicholas tahu "luar-dalam" tubuhnya, ia tidak lagi memiliki kunci untuk mengendalikan jiwanya.
Malam itu, Serena mencoba menenangkan sarafnya dengan berendam di bathtub marmer yang dipenuhi kelopak mawar dan minyak esensial mahal. Ia baru saja mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia telah memenangkan pertempuran di set syuting tadi. Namun, ketenangan itu pecah saat ponsel iPhone berlapis emasnya bergetar di atas meja rias.
Satu notifikasi pesan masuk dari nomor yang sangat ia kenal, meski tidak tersimpan di kontaknya.
Nicholas: Lehermu masih terasa seperti lavender, Serena. Dan detak nadimu di bawah bibirku tadi... itu tidak bisa berbohong. Kau masih bereaksi sama seperti saat kita di Paris dulu.
Serena hampir saja melempar ponselnya ke dalam air. Jantungnya berkhianat, berdegup kencang hanya karena beberapa baris kalimat. Ia bisa membayangkan wajah Nicholas saat mengetik itu, mungkin sambil menyesap whiskey, dengan mata sipit yang berkilat nakal dan bibir yang sedikit melengkung sombong.
"Pria gila," desis Serena.
Ia segera mengetik balasan dengan jari yang sedikit gemetar, berusaha menjaga martabatnya sebagai ratu es.
Serena: Itu bukan reaksi, itu rasa jijik yang tertahan. Dan jangan berani-berani mengirim pesan seperti ini lagi atau aku akan melaporkanmu atas pelecehan di tempat kerja. Kembalilah ke Beatrice-mu yang membosankan itu.
Hanya butuh beberapa detik bagi Nicholas untuk membalas.
Nicholas: Beatrice tidak punya aroma lavender yang membuatku candu, Serena. Dan kita berdua tahu, jijik tidak akan membuat napasmu tertahan selama tiga detik saat aku menghisap kulitmu. Sampai jumpa di mimpimu, ma chérie. Jangan sampai bibirmu jentol karena menggigitnya sendiri sambil memikirkanku.
Serena membanting ponselnya ke atas tumpukan handuk. Ia ingin berteriak. Nicholas selalu tahu cara menarik ulur emosinya. Pria itu tahu bahwa Serena masih menyimpan rahasia tentang betapa ia merindukan sentuhan Nicholas, dan Nicholas menggunakan fakta itu untuk menyiksanya perlahan.
Di seberang koridor château, Nicholas berdiri di balkon kamarnya, menatap cahaya lampu dari kamar Serena. Ia menyesap minumannya, jemarinya menyentuh bibirnya sendiri yang seolah masih merasakan kehalusan kulit leher Serena.
"Permainan baru saja dimulai, Serena," gumam Nicholas pada kegelapan malam.
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍😍😍