"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Rival Muncul: Dokter Siska yang Sempurna
Dari dalam mobil itu keluar seorang wanita paruh baya yang sangat elegan dan langsung memanggil nama Adrian dengan suara yang sangat merdu namun sangat berwibawa. Adrian seketika menghentikan langkahnya dan berdiri tegak dengan sikap yang sangat hormat seolah sedang menghadapi dewan direktur tertinggi rumah sakit. Lala yang berada di sampingnya ikut terpaku melihat sosok wanita yang mengenakan setelan sutra berwarna biru tua tersebut.
"Mama? Kenapa Mama datang ke sini tanpa memberi kabar terlebih dahulu kepada saya?" tanya Adrian dengan nada suara yang penuh keterkejutan.
"Mama sengaja ingin memberikan kejutan, sekaligus ingin melihat sendiri siapa gadis yang membuatmu mengirim pesan heboh di grup rumah sakit," jawab wanita itu sambil tersenyum penuh rahasia.
Wanita paruh baya itu berjalan mendekat sambil menatap Lala dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan yang sangat teliti. Lala merasa jiwanya seolah sedang dipindai oleh mesin rontgen tercanggih yang pernah ada di dunia medis ini. Ia segera merapikan rompi relawannya yang sedikit kusut dan mencoba memberikan senyuman termanis yang pernah ia miliki.
"Selamat malam Tante cantik, perkenalkan saya Lala, asisten masa depan Dokter Adrian yang paling ugal ugalan!" seru Lala dengan percaya diri yang meluap luap.
"Ugal ugalan? Sepertinya kamu memang sangat unik, pantas saja Adrian sampai salah kirim pesan," ucap Mama Adrian sambil terkekeh pelan.
Belum sempat Adrian menjelaskan status Lala yang sebenarnya, sosok Dokter Siska tiba tiba muncul dari balik pintu lobi dengan langkah kaki yang sangat anggun. Siska mengenakan jas dokter yang sangat rapi dan senyum yang sangat manis, sangat berbeda dengan ekspresi kemarahan yang ia tunjukkan di ruangan tadi. Ia langsung menghampiri Mama Adrian dan mencium punggung tangan wanita itu dengan sangat akrab seolah mereka adalah keluarga dekat.
"Tante sudah sampai? Maaf saya agak terlambat menyambut karena tadi ada pasien darurat yang harus segera ditangani," ucap Siska dengan nada suara yang sangat lembut.
"Tidak apa apa Siska sayang, Tante baru saja berkenalan dengan relawan kecil yang sangat ceria ini," balas Mama Adrian sambil menunjuk ke arah Lala.
Lala merasakan dadanya mendadak sesak melihat betapa sempurnanya interaksi antara Dokter Siska dan Mama Adrian di depan matanya. Siska tampak sangat serasi berdiri di samping Adrian, membentuk gambaran pasangan dokter masa depan yang sangat ideal dan sangat berwibawa. Sedangkan dirinya hanya seorang siswi sekolah menengah atas yang mengenakan rompi relawan kebesaran dan membawa tas sekolah yang penuh dengan buku biologi.
"Lala ini hanya relawan sementara Tante, dia masih harus banyak belajar tentang etika di rumah sakit agar tidak mengganggu konsentrasi Adrian," sindir Siska dengan senyum kemenangan.
"Saya tidak merasa terganggu, justru Lala sangat membantu dalam menjaga mood saya tetap stabil," bela Adrian secara tiba tiba hingga membuat Siska terdiam.
Keadaan di lobi rumah sakit itu menjadi sangat kaku karena adanya benturan dua dunia yang sangat berbeda antara Lala dan Siska. Mama Adrian hanya memperhatikan drama tersebut dengan binar mata yang penuh rasa penasaran seolah sedang menonton pertunjukan komedi yang sangat menarik. Ia menyadari bahwa putranya yang kaku kini sedang diperebutkan oleh dua wanita dengan karakter yang sangat bertolak belakang.
"Siska, bisakah kamu menemani Lala pulang? Tante ingin bicara berdua saja dengan Adrian mengenai urusan keluarga," pinta Mama Adrian dengan nada yang tidak bisa dibantah.
"Tentu saja Tante, saya akan memastikan Lala sampai di rumahnya dengan selamat tanpa ada drama tambahan," jawab Siska sambil melirik Lala dengan sinis.
Lala merasa ingin menolak permintaan itu karena ia sangat benci harus satu mobil dengan wanita yang ia anggap sebagai nenek sihir tersebut. Namun, melihat tatapan Adrian yang mengisyaratkan agar ia patuh, Lala akhirnya hanya bisa mengangguk dengan wajah yang ditekuk sangat dalam. Adrian memberikan tas sekolah Lala kepada Siska dan membisikkan sesuatu yang membuat Siska semakin merasa tidak nyaman.
"Hati hati di jalan, jangan sampai ada barang milik Lala yang hilang atau rusak selama perjalanan," perintah Adrian dengan nada yang sangat tegas.
"Dokter, jangan lupa telepon aku sebelum tidur atau aku akan mengigau nama Dokter berulang ulang!" teriak Lala saat ia mulai ditarik oleh Siska menuju tempat parkir.
Adrian hanya bisa memijat pelipisnya melihat tingkah laku Lala yang tidak tahu malu di depan ibunya sendiri. Mama Adrian tertawa kecil dan merangkul lengan putranya untuk berjalan menuju kafe yang terletak di dalam area rumah sakit tersebut. Ia merasa bahwa kehidupan putranya yang membosankan kini sudah berubah menjadi sebuah petualangan yang sangat liar dan penuh dengan kejutan tidak terduga.
"Dia benar benar menarik, Adrian, jauh lebih hidup daripada gadis gadis kaku yang biasanya kamu kenal," puji Mama Adrian sambil duduk di kursi kafe.
"Dia hanya pasien yang terlalu bersemangat Mama, tidak ada hal yang istimewa di antara kami berdua," sanggah Adrian dengan wajah yang kembali memucat.
Sementara itu, di dalam mobil mewah milik Siska, suasana terasa sangat dingin seolah sedang berada di dalam gudang penyimpanan mayat. Siska tidak mengucapkan satu kata pun dan hanya fokus menyetir dengan pandangan lurus ke depan yang sangat menyeramkan. Lala mencoba mencairkan suasana dengan menyalakan radio namun Siska segera mematikannya kembali dengan gerakan tangan yang sangat kasar.
"Dengar ya bocil, kamu tidak akan pernah bisa bersaing denganku untuk mendapatkan hati Adrian dan restu ibunya," ucap Siska tanpa menoleh sedikitpun.
"Kenapa tidak bisa? Dokter Adrian lebih suka seblak daripada roti gandum yang biasa Dokter makan kan?" balas Lala dengan ugal ugalan yang tidak mau kalah.
Siska tertawa mengejek dan menghentikan mobilnya secara mendadak di pinggir jalan yang cukup sepi dan sangat gelap gulita. Ia menatap Lala dengan mata yang penuh dengan api kebencian seolah ingin menelan gadis kecil itu bulat bulat sekarang juga. Lala sempat merasa takut namun ia segera teringat akan janji manis Adrian yang akan selalu melindunginya dari segala macam marabahaya yang mengancam.
"Kamu hanya gangguan kecil dalam hidup Adrian, dan aku akan memastikan gangguan ini segera lenyap dari rumah sakit itu!" ancam Siska dengan suara yang sangat rendah.
Baru saja Lala hendak membalas ucapan Siska, tiba tiba sebuah sepeda motor besar berhenti tepat di depan mobil mereka dan pengendaranya mulai menggedor kaca jendela dengan sangat keras.