NovelToon NovelToon
EMPIRE OF GANG [1] : Sang Adik Ternyata Pembunuh Paling Di Takuti

EMPIRE OF GANG [1] : Sang Adik Ternyata Pembunuh Paling Di Takuti

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Mata-mata/Agen / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Roman-Angst Mafia / Persaingan Mafia
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: lirien

Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bawahan Bermasalah

“Kenapa bisa datang main ke sini?”

Suara itu terdengar malas, namun sarat ancaman.

Deza melangkah mendekat, satu langkah saja sudah cukup membuat Noel refleks mundur setengah badan. Bau alkohol, parfum menyengat, dan kesombongan kelas dunia menyatu di tubuh pria itu.

“Minggir!” teriak Noel, berdiri lebih ke depan, tubuhnya menutup Mirea sepenuhnya. Tangannya gemetar, tapi tekadnya nyata. “Jangan mendekat!”

“Keras kepala juga, ya,” Deza terkekeh. Ia melangkah lagi, jarak mereka kini hanya sejengkal. “Apa kamu tahu aku ini siapa?”

Nada suaranya bukan bertanya. Itu ancaman telanjang.

Tawa rendah mulai terdengar dari sekeliling. Beberapa pria menghentikan aktivitasnya. Taruhan berhenti. Musik seolah merendah, memberi ruang pada drama.

“Heh, bocah,” ujar salah satu pria di samping Deza yang tak lain bernama Arif, sehabat dekat Deza sambil menyeringai. “Dengar baik-baik.”

Ia meraih bahu Deza dengan bangga.

“Dia ini adik kandung geng pembunuh nomor satu.”

Beberapa orang bersiul.

“Fang Yugala.”

Nama itu menggema seperti kutukan.

“Deza Yugala,” tambah pria itu sambil menepuk setumpuk uang ke dada Noel, sengaja keras. “Ingat namanya baik-baik.”

Uang kertas itu jatuh ke lantai.

Noel menelan ludah. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Jantungnya berdetak terlalu cepat, terlalu keras.

Namun,

di balik punggungnya.

Mirea tersenyum.

Tipis. Nyaris tak terlihat.

Oh…

ternyata memang masih bawahan.

Tatapan Mirea dingin, licik, nyaris geli.

Bahkan tak tahu siapa bosnya sendiri.

Berani cari masalah di tempatku.

“Dik Mire, mereka anggota geng,” ujar Noel cepat, suaranya tegang. “Ayo… ayo kita pergi.”

Ia melirik Mirea penuh kecemasan.

Mirea mengangguk pelan, wajahnya kembali polos. Tanpa protes, ia mengikuti langkah kakaknya saat mereka berbalik.

Namun

“HEI!”

Teriakan Deza memecah udara.

“Kenapa baru datang langsung pergi?” ejeknya keras. “Jangan-jangan ketakutan setelah dengar namaku?”

“Hahahaha!”

Tawa meledak di sekeliling mereka.

Noel dan Mirea terpaksa berbalik.

Deza berdiri dengan dada dibusungkan, senyum angkuh terpatri di wajahnya. “Wajar sih,” lanjutnya santai. “Orang kecil memang begitu. Dengar nama besar sedikit langsung ciut.”

Noel menahan napas, lalu berteriak putus asa, “Penjaga! Ada yang bikin onar di sini!”

Ia menunjuk Deza.

Beberapa penjaga melirik sekilas,

lalu… berpaling pergi.

Mereka berjalan pergi begitu saja.

Senyum Deza makin lebar.

“Eh, penjaga!” Noel berteriak lagi, suaranya kini bergetar. “Hei—!”

Tak ada yang peduli.

“Hah?” Deza terkekeh, mendekat sambil menepuk pipi Noel ringan. “Kamu ini anak SD, ya? Masih butuh orang lain buat jagain kamu?”

Tawa kembali pecah.

“Jangan terlalu polos,” lanjut Deza, matanya menyapu Mirea dari atas sampai bawah dengan tatapan menjijikkan. “Mereka cuma melayani orang yang punya kuasa.”

Salah satu temannya mengangkat segepok uang, menggoyangkannya di udara dengan sengaja.

“Sedangkan kamu?” Deza menyeringai. “Aku rasa mereka nggak bakal ngurusin kamu.”

“Siapa bilang kami bukan orang yang berkuasa?!” teriak Noel, emosinya akhirnya pecah.

“Aku adalah—”

Tangannya tiba-tiba digenggam.

Mirea.

Genggamannya lembut, tapi tegas.

“Kak Noel,” bisiknya pelan, hampir tak terdengar. “Kita datang ke sini diam-diam. Jangan ungkap identitas kita.”

Noel terdiam.

Sementara Deza tertawa puas. “Bahkan nggak berani sebut nama sendiri, tapi berani sombong di sini?”

Ia mengangkat tangan.

“Teman-teman,” serunya, “beri bocah ini sedikit pelajaran.”

Uang dilempar ke udara.

Kertas-kertas hijau beterbangan seperti hujan. Orang-orang berebut memungutnya, sorakan makin liar.

“Pukul bocah ini saja,” perintah Deza dingin. “Sedangkan cewek itu...”

Tatapannya menempel pada Mirea.

“...jangan sampai terluka sedikitpun.”

Arif menjilat bibirnya.

“Tenang,” ujar Arif sambil merangkul Deza. “Aku sangat menghargai wanita.”

Ia menepuk dadanya sendiri dengan bangga, lalu melangkah maju.

Noel reflek membuka tangan, berdiri di depan Mirea lagi. “Jangan sentuh adikku!”

Arif tertawa terbahak-bahak, lalu mendekat lebih pelan, nada suaranya berubah licik.

“Bocah,” katanya. “Gini aja. Suruh cewek itu temani aku tidur semalam.”

Arif mencondongkan tubuh, berbisik.

“Maka aku lepaskan kamu. Gimana?”

1
Mo Xiao Lam
oh ada gula aren di sini 🙏
Aksara: Ahaha ini lucu banget nih😭🌷
total 1 replies
Aria Sabila
👍😁
Aksara: Hallo lirelovrsss🌷
nantikan terus ya kelanjutan cerita serunya🫶🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!