NovelToon NovelToon
Benih Kesalahan Satu Malam

Benih Kesalahan Satu Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Hamil di luar nikah / Anak Kembar / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senimetha

Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Elisa-15

Keesokan harinya, Langit Jakarta yang biasanya bising dengan deru kendaraan, pagi ini tampak bersih dan biru, seolah ikut memberikan restu pada sebuah upacara yang lahir dari puing-puing tragedi. Di dalam rumah, aroma melati yang lembut yang sudah dipastikan tidak memicu rasa mual Elisa begitu menyeruak di sepanjang koridor menuju taman tengah.

Elisa duduk di depan cermin besar. Perias yang didatangkan khusus oleh Nyonya Siska bekerja dengan sangat hati-hati. Sesuai permintaan Kalandra, riasan Elisa dibuat senatural mungkin, flawless namun tetap menonjolkan kecantikan lugunya. Ia mengenakan kebaya kutubaru modern berwarna putih tulang dengan payet mutiara yang sangat halus. Kain jarik sutra yang membalut pinggangnya terasa nyaman, tidak menekan perutnya yang mulai sering terasa kembung.

"Nona sangat cantik," bisik sang perias sambil menyematkan kerudung brokat tipis di atas kepala Elisa.

Elisa menatap pantulannya sendiri. Ia hampir tidak mengenali gadis di dalam cermin itu. Di lehernya melingkar kalung mutiara pemberian Nyonya Siska, dan di matanya masih tertinggal jejak keraguan. Namun, saat ia melihat bayangan Aris di ambang pintu yang mengenakan beskap kecil berwarna senada dan tampak begitu bangga. Elisa tahu ia tidak boleh mundur lagi.

"Kakak...kakak cantik banget kayak bidadari," ucap Aris dengan mata berbinar.

Elisa tersenyum lembut, meski tangannya terasa sedingin es. "Sini, sayang. Temani Kakak."

Di sisi lain mansion, Kalandra sedang berdiri di depan cermin panjang. Bimo membantunya merapikan keris yang terselip di balik beskap putihnya. Wajah Kalandra tampak luar biasa tenang, namun Bimo bisa melihat keringat dingin di pelipis sahabatnya itu.

"Lo pucat, Lan. Mual lagi?" tanya Bimo cemas.

Kalandra menarik napas panjang, mencoba menekan gejolak di lambungnya yang tiba-tiba berontak. "Sepertinya efek tegang bercampur dengan gejala itu, Bim. Rasanya perut gue sedang diputar-putar."

"Tahan sebentar lagi. Penghulu sudah datang. Papa dan Mama juga sudah di bawah," ujar Bimo sambil menepuk bahu Kalandra. "Ingat, Lan. Ini bukan cuma soal dokumen. Ini soal janji lo di depan Tuhan untuk melindungi anak dan istrimu."

Kalandra mengangguk pasti. "Gue tahu."

Saat Kalandra melangkah turun menuju area akad di taman tengah, ia melihat Tuan Baskoro berdiri di dekat meja akad. Pria paruh baya itu menatap putranya dengan tatapan yang sulit diartikan tapi ada ketegasan, namun juga ada secercah rasa lega. Kolega-kolega terdekat yang diundang sudah duduk dengan tenang, menjaga rahasia besar ini di balik raut wajah formal mereka.

Upacara dimulai. Suara gemericik air dari kolam koi di samping taman memberikan latar belakang yang sungguh menenangkan. Kalandra duduk di depan penghulu. Tak lama kemudian, Elisa muncul, dipandu oleh Nyonya Siska.

Waktu seolah melambat bagi Kalandra saat ia melihat Elisa berjalan ke arahnya. Ia melihat gadis itu menunduk, namun punggungnya tegak. Ada kekuatan yang tersirat dalam kerapuhannya. Ketika Elisa duduk di sampingnya, aroma bedak bayi yang samar dan bau jahe yang selalu Elisa bawa tercium oleh Kalandra. Anehnya, aroma itu langsung menenangkan perut Kalandra yang bergejolak.

Penghulu memulai khutbah nikah dengan lembut. Elisa merasa dunianya menyempit hanya pada meja kayu di depannya. Ia merasakan tangan Kalandra yang besar dan hangat sesaat menyentuh tangannya sebelum pria itu menjabat tangan penghulu.

"Saudara Kalandra Mahendra bin Baskoro Mahendra..." suara penghulu menggema.

Kalandra memantapkan suaranya. Ia tidak ingin terdengar ragu sedikit pun. Ia ingin setiap orang di ruangan ini, terutama Elisa, tahu bahwa ia serius.

"Saya terima nikah dan kawinnya Elisa Putri binti (Almarhum) Bapak Hendrawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"

"Sah?"

"Sah!"

Dalam satu tarikan napas, status Elisa berubah. Ia bukan lagi gadis kurir yang malang. Ia adalah Nyonya Kalandra Mahendra.

Elisa merasa air matanya jatuh di pipinya tanpa bisa dibendung. Bukan air mata bahagia yang meluap, melainkan air mata kelegaan karena sebuah beban tak kasat mata seolah terangkat dari pundaknya. Ia sekarang memiliki pelindung yang sah secara hukum dan agama.

Saat sesi doa, Kalandra melirik ke samping. Ia melihat bahu Elisa yang sedikit bergetar. Tanpa peduli pada tatapan kolega-kolega ayahnya, Kalandra mengulurkan tangan, menggenggam jemari Elisa di bawah meja akad, dan menekannya lembut seolah memberikan sebuah isyarat bahwa mulai detik ini, Elisa tidak akan pernah berjalan sendirian lagi.

Setelah acara inti selesai, suasana menjadi lebih cair. Tidak ada pesta pora, hanya makan siang bersama yang sangat privat. Tuan Baskoro bangkit dari kursinya dan mendekat ke arah pengantin baru itu.

"Selamat, Landra. Selamat, Elisa," ucap Baskoro. Ia menatap Elisa lebih lembut dari kemarin. "Sekarang, kamu adalah putri di rumah ini. Jika Landra menyakitimu, datanglah pada papa. Papa yang akan memberinya pelajaran."

"Terima kasih, Pak...ee…maksud saya, Papa," ucap Elisa malu-malu.

Baskoro tersenyum tipis. "Satu hal lagi. Papa sudah menyiapkan sesuatu untukmu."

Baskoro memberi isyarat pada Bimo. Tak lama, Bimo membawakan sebuah map hitam. "Ini adalah akta pendirian yayasan atas namamu, Elisa. Mahendra Foundation untuk pendidikan anak-anak yatim piatu. Papa ingin kamu yang mengelolanya saat kamu sudah siap nanti. Ini identitas barumu di mata publik sebagai seorang filantropis, bukan hanya istri dari Kalandra."

Elisa menutup mulutnya, terkejut. Tuan Baskoro tidak hanya memberinya keamanan, tapi juga memberinya martabat. Ia tidak ingin Elisa dipandang sebelah mata oleh dunia luar.

"Terima kasih banyak, Papa. Saya... saya tidak tahu harus berkata apa," isak Elisa.

"Cukup jaga kesehatanmu dan cucu Papa,” jawab Baskoro pendek sebelum berbalik pergi dengan gaya angkuhnya yang khas.

Sore harinya, saat tamu-tamu sudah pulang, Kalandra dan Elisa duduk di balkon kamar utama yang kini mereka tempati bersama. Suasana terasa sangat canggung. Kalandra sudah melepas beskapnya, hanya menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung.

"Kamu lelah?" tanya Kalandra.

"Sedikit, Mas. Tapi rasa mualnya sudah hilang," jawab Elisa sambil menatap cincin emas putih di jari manisnya.

Kalandra duduk di kursi sebelah Elisa. "Besok pagi kita akan berangkat ke Puncak. Di sana udaranya lebih bersih. Saya sudah minta pelayan menyiapkan makanan sehat yang tidak akan membuatmu mual. Kita akan di sana sampai kontrol dokter berikutnya."

Elisa menoleh. "Memangnya Mas Landra tidak bekerja?"

"Saya bisa bekerja dari sana. Bimo yang akan mengurus kantor untuk sementara," Kalandra menjeda kalimatnya. "Saya ingin memastikan kamu melewati trimester pertama ini dengan tenang."

Tiba-tiba, Kalandra meringis. Ia memegang perut bagian bawahnya.

"Kenapa, Mas?" Elisa tampak khawatir.

"Perut saya kram..." gumam Kalandra. "Aneh. Setiap kali kamu merasa tenang, perut saya yang bereaksi. Tapi kalau kamu tegang, saya yang mual."

Elisa tertawa kecil, suara tawa yang sangat langka didengar Kalandra. "Sepertinya anak ini memang suka mengerjai ayahnya."

Kalandra menatap Elisa yang sedang tertawa. Sinar matahari senja menyinari wajah gadis itu, membuatnya tampak begitu bercahaya. Rasa mual, kram, dan semua kegelisahan Kalandra seolah terbayar hanya dengan melihat senyuman itu.

"Biarkan saja," bisik Kalandra. "Asal dia tidak mengerjai ibunya, saya rela menanggung sakitnya setiap hari."

Kalimat itu membuat Elisa terdiam. Jantungnya berdebar, bukan karena takut, tapi karena rasa hangat yang mulai merayapi hatinya. Ia menyadari bahwa pria di hadapannya ini benar-benar sedang berusaha. Kalandra tidak hanya bertanggung jawab dengan uang, tapi ia memberikan dirinya sendiri sebagai tameng bagi Elisa.

Di sisi lain kota, di sebuah kantor yang gelap, Pak Danu membanting gelas wiskinya ke dinding. Berita tentang pernikahan privat Kalandra sudah sampai ke telinganya.

"Menikah resmi?…Aahkkk…Bodoh!" teriak Danu. "Dia pikir dengan menikahinya, dia bisa menutupi noda itu? Kita lihat saja berapa lama pernikahan atas dasar kecelakaan itu bisa bertahan di bawah tekanan yang akan aku perbuat!”

Danu mengambil ponselnya. "Cari tahu jadwal mereka. Saya tahu Kalandra pasti akan membawa gadis itu pergi untuk bersembunyi. Jangan sampai mereka lolos dari pengawasan kita."

Badai baru sedang bersiap menerjang. Namun di mansion Mahendra, di bawah naungan malam yang damai, dua orang yang terikat takdir sedang mencoba untuk saling mengenal, selangkah demi selangkah, di atas jalan setapak yang disebut pernikahan.

Elisa memandangi buku catatan Nyonya Siska yang diberikan Kalandra semalam. Ia membacanya pelan, tentang bagaimana trimester pertama adalah masa yang paling krusial. Ia bertekad untuk menjadi kuat. Bukan hanya untuk Aris, tapi untuk nyawa kecil yang kini mulai menyatukan hatinya dengan pria yang dulu sangat ia benci.

"Selamat istirahat, Mas Landra," bisik Elisa saat Kalandra berdiri untuk bersiap tidur di sofa kamar yang sama, ya kalandra memilih untuk tidur di sofa karena ia masih ingin menjaga privasi dan kenyamanan Elisa.

"Selamat istirahat, Elisa. Istriku."

Kata terakhir itu menggantung di udara, manis namun juga berat, menandai berakhirnya bab penderitaan lama dan dimulainya perjuangan baru yang lebih panjang.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Selamat membaca☺️🥰

Jangan lupa like, comment, vote dan ratenya ya Manteman🙏🏻🙌🏾❤️

1
Edi
semoga si danu cepat ketangkap dan bebi tripel lahir dengan selamat
tamara.nietzsche
Saling dukung ya! The Mansion😍🙏
tamara.nietzsche
Cerita yang kerennn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!