Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.
Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.
Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.
Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.
"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."
Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.
Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10. RACUN
Bangunan kesehatan di sisi timur kastil berdiri terpisah dari kediaman utama, namun tetap terhubung oleh lorong batu berlengkung yang teduh. Dindingnya dilapisi tanaman rambat hijau tua, sementara jendela-jendela tinggi membiarkan cahaya pagi masuk dengan lembut, menciptakan suasana tenang yang jauh berbeda dari hiruk-pikuk bagian tengah kastil.
Liora melangkah masuk dengan langkah pelan.
Di sebelahnya, Sasa berjalan dengan wajah waspada, keceriaan paginya menghilang sejak Gideon menjelaskan alasan kedatangan mereka.
Gideon sendiri berjalan di depan, langkahnya mantap namun bahunya sedikit menegang, seolah ia bersiap menghadapi sesuatu yang tidak ia sukai.
Begitu mereka tiba di depan pintu kayu besar dengan ukiran simbol pengobatan, pintu itu terbuka lebih dulu.
"Selamat pagi, Nyonya Duchess."
Seorang pria muda dengan rambut cokelat keemasan dan mata tajam berwarna senada dengan rambutnya, menyambut mereka dengan senyum ramah.
Jubah tabib berwarna hijau tua dikenakannya dengan rapi, bersih, dan sederhana, tidak berlebihan, namun jelas mencerminkan profesionalisme.
"Tabib Aldren," sapa Gideon.
"Silakan masuk," kata Aldren dengan nada hangat. "Aku sudah menunggu."
Liora membalas senyum itu dengan anggukan santai. Sejak awal, tabib muda ini selalu bersikap sopan padanya, tanpa tatapan merendahkan, tanpa nada iba yang menyakitkan.
Mereka diarahkan ke sebuah ruangan yang lebih kecil di dalam; kantor pribadi Tabib Aldren. Rak-rak kayu penuh botol ramuan berlabel rapi memenuhi dinding. Aroma herbal lembut memenuhi udara, menenangkan namun juga membuat Liora sedikit gugup tanpa alasan jelas.
Aldren menuangkan teh hangat ke dalam cangkir porselen, lalu menyajikan beberapa camilan ringan.
"Silakan," kata Aldren ramah. "Teh chamora dan biskuit gandum. Aman untuk kesehatan, Nyonya."
Liora duduk, Sasa berdiri di sampingnya, sementara Gideon memilih berdiri dekat jendela, tangannya terlipat di belakang punggung.
Setelah semuanya tenang, Aldren duduk di seberang Liora.
"Maaf telah mengganggu pagi Anda seperti ini, Nyonya Duchess," ucap Aldren serius namun tetap sopan.
Liora tersenyum santai. "Tidak masalah. Gideon bilang kau ingin berbicara denganku mengenai tubuhku."
Aldren mengangguk, wajahnya berubah lebih serius.
"Benar. Mohon jangan tersinggung. Namun saat saya memeriksa Anda kemarin, saya menemukan kejanggalan. Dan kejanggalan itu ... berkaitan langsung dengan kondisi tubuh Anda," jelas Aldren hati-hati, takut menyinggung Liora.
Sasa menegang.
Gideon melirik Aldren dengan tajam.
"Kejanggalan apa yang kau maksud?" tanya Liora penasaran.
Aldren menautkan jemarinya. "Sebelum aku menjelaskan, aku ingin bertanya lebih dulu. Tentang rutinitas dan pola makan Anda sebelum masuk ke kediaman Duke ini," katanya.
Liora terdiam.
"Saya sudah bertanya pada para pelayan dan koki di sini. Mereka mengatakan Anda cukup aktif bergerak, sering berjalan, dan bekerja. Porsi makan Anda pun normal, bahkan cenderung terkendali, meski Anda menyukai makanan manis," lanjut Aldren.
Aldren menatap Liora lurus.
Begitu pula dengan Sasa dan Gideon yang penasaran arah pembicaraan Tabib Aldren ini.
"Namun saya ingin tahu bagaimana pola hidup Anda saat masih tinggal di kediaman Count Montclair," pinta Aldren.
Bahu Liora sedikit turun. Ia menunduk.
Kenangan itu bukan sesuatu yang ingin ia buka dengan mudah.
Aldren menangkap perubahan emosi itu dan melirik Gideon. Gideon membalas dengan anggukan pelan seakan berkata melalui tatapannya; lanjutkan, tapi hati-hati.
"Di sana makanku sebenarnya juga normal. Tidak jauh berbeda dengan di sini. Tapi terkadang mereka memaksaku makan lebih banyak," kata Liora.
Gideon langsung memasang wajah kesal.
"Memaksa?" tanya Aldren pelan.
Liora mengangguk. "Bisa dibilang begitu. Sampai aku sering memuntahkan makananku sendiri karena terlalu banyak."
Ruangan itu membeku.
Aldren mengernyit. "Siapa yang memaksa Anda makan sampai seperti itu, Nyonya?"
Liora mengangkat wajahnya perlahan, senyum getir terlukis jelas. "Semua orang di sana. Kecuali Count," jawabnya.
Sasa ternganga. "Semua orang?"
"Termasuk pelayan?" tanya Gideon dengan nada yang mulai berbahaya.
Liora tidak menjawab. Tapi matanya berbicara cukup jelas.
Sasa langsung murka. "Berani sekali! Pelayan memaksa majikannya makan sampai sakit? Mereka tidak tahu diri! Mereka tidak pantas bekerja di kediaman bangsawan!"
Gideon mengangguk setuju. "Pelayan tidak akan berani bertindak sejauh itu tanpa perintah. Tapi tetap saja itu tidak pantas."
Liora ingat, para pelayan bahkan sepertinya tidak lagi melakukannya karena perintah tapi karena memang sengaja senang merendahkan Liora.
Gideon menatap Liora. "Countess yang memberi perintah?"
Liora mengangguk pelan. "Dan adik tiriku. Mereka melakukan hal yang sama. Jadi para pelayan mengikuti perintah mereka dan berujung kurang ajar juga."
"Nyonya, bolehkah aku memeriksa Anda kembali? Aku ingin memastikan sesuatu," tanya Aldren.
Liora mengangguk tanpa ragu.
Pemeriksaan berlangsung lama.
Aldren memeriksa denyut nadi, pernapasan, tekanan pada beberapa titik tubuh, bahkan mencium aroma napas Liora dengan cermat. Hingga mengecek darah.
Sasa berdiri tegang, sementara Gideon tak bergerak sedikit pun.
Setelah selesai, Aldren duduk kembali.
"Nyonya, apakah Anda meminum teh dengan rasa yang sama setiap hari saat di kediaman Count? Tapi ... bukan teh bangsawan biasa?" tebak Aldren.
Liora mencoba mengingat. "Ya. Setiap pagi. Pelayan selalu memberikannya bersama sarapan. Mereka bilang teh itu dibeli khusus oleh Countess. Katanya demi kesehatanku. Karena tubuhku ... seperti ini."
Aldren menoleh ke Gideon. Ragu apakah harus bicara fakta atau tidak.
Gideon langsung tahu. "Apa pun itu, katakan," suruhnya.
Aldren kembali menatap Liora. "Maaf, Nyonya. Sepertinya dugaan saya benar. Tubuh Anda menjadi seperti ini ... bukan karena kebiasaan makan. Melainkan karena racun."
Udara seolah menghilang dari ruangan.
"Racun?" Sasa berbisik.
Liora membeku. "Racun? Maksudmu tubuhku jadi seperti ini karena racun?"
Aldren mengangguk. "Saya pernah mempelajarinya. Racun ini berasal dari tanaman wilayah Timur bernama Virella Qing, tanaman yang biasa digunakan untuk menggemukkan hewan ternak agar cepat siap panen saat musim dingin."
Gideon mengepalkan tangan.
"Jika dikonsumsi manusia, racun ini merusak metabolisme secara perlahan. Membuat tubuh menimbun lemak secara tidak normal, melemahkan pernapasan, dan pada akhirnya berujung kematian," lanjut Aldren.
Liora terdiam.
"Dari hasil pemeriksaan saya, Anda telah mengonsumsinya dalam waktu yang sangat lama. Denyut nadi Anda berat. Pernapasan Anda pendek," diagnosa Aldren.
Gideon kini memasang wajah dingin denagn tangan mengepal erat.
Aldren menatap Liora penuh empati, lalu melanjutkan, "Bukankah Anda sering merasa sulit bernapas?"
Liora mengangguk.
"Iya. Aku pikir karena tubuhku yang terlalu berat," jawab Liora.
"Bahkan jika Anda berusaha menurunkan berat badan, racun ini akan terus bekerja," kata Aldren.
Liora menelan ludah. "Jadi aku akan tetap seperti ini walau aku berusaha menurunkan berat badan?"
Aldren mengangguk.
Kemarahan memenuhi dada Liora. Ia tertunduk mendengarnya, kesal bahkan marah sekarang atas apa yang ia dengar ini. Jelas kalau ini pasti ada sangkutan dengan Countess, karena Count tidak mungkin menyuruh Liora minum racun itu ketika count sendiri selalu terganggu dengan berat badan Liora.
"Nyonya," Aldren berkata tiba-tiba, suaranya mantap, "jika Anda percaya pada saya ... saya bisa menyembuhkan Anda."
Liora mendongak. "Kau bisa?"
"Saya bisa menghilangkan racun ini dari tubuh Anda. Saya hanya membutuhkan herbal tertentu dan waktu. Tapi saya berjanji akan melakukan yang terbaik," ujar Aldren tegas dan tanpa kebohongan.
Harapan, yang hampir padam kini kembali menyala.
"Kau bisa menyembuhkanku?" ulang Liora.
"Tentu, Nyonya. Untuk itulah aku ingin memeriksa Anda dengan baik," jawab Aldren dengan senyum hangat.
Gideon langsung berkata, "Aku akan menghubungi pedagang kita sekarang juga."
Aldren mengangguk.
“Dan sampai saya mendapatkan yang dibutuhkan, untuk saat ini saya akan membuat teh herbal untuk melancarkan metabolisme Anda, dan Anda harus mengikuti pola makan dan hidup yang saya terapkan. Mungkin ini akan sulit untuk Nyonya, tapi ini hal terbaik yang bisa saya lakukan," saran Aldren.
"Aku akan mengikutinya. Terima kasih sudah memikirkanku," kata Liora mantap.
Aldren tersenyum.
"Saya yang seharusnya berterima kasih karena Anda sudah mau menjadi Duchess. Berkat Anda kediaman Duke menjadi lebih hidup," kata Aldren tulus.
Liora terkejut. "Aku tidak melakukan apa pun."
Tabib Aldren hanya tertawa kecil, karena teringat kehebohan yang dibuat oleh Duchess-nya ini kemarin.
Lalu Gideon berkata dengan senyum indah, "Anda membuat semua orang tertawa dan penuh semangat sejak kedatangan Anda di kediaman Duke. Anda sudah seperti matahari di musim dingin. Bahkan pagi ini untuk pertama kalinya aku melihat Duke tersenyum seperti itu ketika membicarakan Anda."
Sasa menambahkan ceria, "Nyonya seperti matahari di musim dingin!"
Liora terdiam.
Hangat.
Tak menyangka ia akan mendengar ini, ia merasa diterima. Dan di dalam hatinya, Liora bersumpah ...
Ia akan sembuh.
Ia akan bangkit.
Dan Liora akan membungkam semua mulut yang pernah merendahkannya. Dan menunjukan kepada mereka yang senang dengan kehadiran Liora, bahwa Liora pantas menjadi seorang Duchess.
junior is coming 😄😄
gak berbelit², mudah difahami.
terima kasih ya
Mak Pak Lala cama Epan 😍😍😍
MaasyaaAllaahh.... ikutan ketawaaa...
baca sambil senyum senyuumm daritadii