Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.
Tapi, nasib justru mempermainkannya. Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang mana ia harus menikahi Lilis, seorang janda kembang.
Suatu hari, Rayyan pamit harus kembali ke Ibu Kota demi menyelesaikan urusannya. Tapi lama waktu berlalu, Rayyan tak kunjung kembali, hingga Lilis makin gelisah menanti.
Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?
Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri, dan menetap di desa tersebut?
Lantas apa yang sebenarnya terjadi pada Rayyan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perbaikan Gizi Sebelum Hamil
#25
“Makasih, loh, Lis. Ini makanan orang kota, banyak lagi.”
“Lis, enak tenan ini makanannya.”
“Majikan suamimu orang baik ternyata, ya.”
“Sering-sering, ya, Lis. Tak doakan, semoga rezekinya Nyonya Bos lancar.”
Begitulah perkataan para tetangga sekitar rumah Lilis, sore itu usai menangis hingga kering air matanya, Lilis memutuskan untuk membagi-bagikan kue-kue yang dibawa Rosa sebagai oleh-oleh dari kota.
“Dalam rangka apa, toh, Nyonya Bos suami kamu datang ke desa ini?” tanya Lek Karti sambil menyantap bolu marmer di dalam besek nya.
“Mau inspeksi peternakan, Lek.”
“Lha terus, kenapa Nyonya Bos ke sini, tapi suami kamu malah pergi?”
“Karena Pak Bos sedang butuh bantuan, jadi Mas Rayyan dipanggil ke kota sejenak.”
“Owalah, begitu, toh.” Akhirnya wanita itu pun puas setelah mendengar jawaban Lilis. “Oh, iya, Lis. Terus nasib ibumu gimana?”
Lilis membuang nafas berat. “Biar Ibu membayar hutangnya sendiri, begitulah pesan Mas Rayyan, Lek. Aku tidak keterlaluan, kan?”
Lek Karti segera mengibaskan tangannya, “Ya, nggak toh, wong Saodah memang kelewatan. Lha bisa-bisanya nawarin kamu untuk jadi istri ke empat pria bangkotan,” gerutu Lek Karti. “Untungnya kamu keburu menikah dengan suamimu yang ganteng itu, pokoknya mujur banget nasibmu, Lis.”
Alih-alih kembali pulang, Lilis justru terjebak ngerumpi bersama Lek Karti salah satu tetangga di depan rumahnya. “Mujur gimana, Lek, wong kami menikah karena di grebek.”
“Eehh, biarin aja, anggap aja penggerebekan itu, bentuk pertolongan Gusti Allah untukmu. Kamu nggak nganu-anu sama pria itu, kan, maksud Lek. Sebelum kalian dinikahkan?”
“Ya, nggak lah, Lek. Begini-begini aku masih takut dosa. Sudah hidup miskin, melanggar aturan agama, buntutnya di siksa di neraka. Lha kok malang tenan hidupku.”
“Lek setuju, syukurlah, kalau kamu dan suamimu nggak ngapa-ngapain sebelum kalian menikah. Nggak kebayang sedihnya bapak ibumu di alam sana, kalau sampai kejadian beneran. Mereka orang-orang yang rajin ibadah semasa hidupnya.”
“Iya, Lek. Alhamdulillah.”
Setelah menemani Lek Karti ngerumpi sejenak, Lilis pun pamit pulang, karena harus menyiapkan makan malam untuk Nyonya Bos. Tapi, tiba di rumah, Rosa sudah sibuk menyiapkan hidangan istimewa. Wanita itu mengolah daging slice dengan penggorengan ala kadarnya, kemudian menyajikannya di meja bersama nasi hangat yang baru saja matang.
“Lho, Nyonya, kok sudah masak? Kan, harusnya say—”
“Sudah, kita cuma berdua, ayo makan, lagian sejak tadi kamu sibuk membagi-bagikan makanan ke tetangga. Anggap saja kita berbagi tugas.”
Lilis mengamati hidangan lezat, yang hampir tidak pernah ia makan, karena harganya yang sangat mahal. Jika ada Arimbi dan Bu Saidah, dua orang itu pasti makan paling lahap.
“Ayo, makan. Kalau dingin rasanya tak enak.”
“Eh, i-iya, Nyonya,” kata Lilis, masih sungkan karena Nyonya Bosnya yang menyiapkan makanan. Tapi Rosa justru berpikiran lain, ia pikir Lilis memikirkan Rayyan.
“Sudah, jangan pikirkan Rayyan, suamiku pasti juga mengajaknya makan di tempat yang enak.”
“Eh, I-iya, Nyonya,” jawab Lilis tergagap, lalu mulai menyendok nasi serta lauk daging yang tersaji di hadapannya.
“Jangan ragu-ragu, kamu harus makan banyak protein, anggap saja saat ini, kamu sedang memperbaiki gizi, menyiapkan nutrisi penting untuk tubuh sebelum nanti masa kehamilan datang.” Sambil berbicara, Rosa menyendokkan banyak daging lalu memindahkannya ke piring Lilis.
Uhuk!
Uhuk!
Uhuk!
Lilis tiba-tiba tersedak karena Rosa membahas kehamilan, yang sama sekali belum terpikirkan olehnya. Hamil? Berarti harus melalui proses yang aduh, Lilis saja masih malu membayangkannya.
“H-ha-mil, Nyonya,” gumam Lilis terbata, wajahnya terkejut, tapi juga merah merona, entah karena malu atau apa, Rosa tak bisa menebaknya. Apa jangan-jangan mereka belum pernah melewatinya?
“Iya, hamil, bukankah wajar bila setelah menikah datanglah masa kehamilan?” tanya Rosa, berpura-pura tak menanggapi kegugupan Lilis tatkala membicarakan soal kehamilan.
“Iya, sih, Nyonya, tapi—”
“Tapi apa? Buang ragumu, singkirkan perasaan malu-malu itu. Aku akan jadi orang yang paling bahagia jika nanti mendengar berita kehamilanmu,” bisik Rosa, makin memanaskan suasana.
Diam-diam Rosa curiga, masa iya sudah janda tapi masih malu membahas hubungan antara laki-laki dan perempuan yang sudah menikah. Seperti masih gadis saja—
Deg!
Apa mungkin Lilis masih gadis, dia dinikahi tapi tak pernah disentuh, lalu mereka bercerai begitu saja? Apakah begitu? Jika itu benar, Janda hanya status bagi Lilis, sesungguhnya perempuan di hadapannya ini masih orisinil.
Namun, Rosa tak mengungkapkan isi pikirannya, takut jika Lilis semakin malu. Jika yang ia pikirkan benar, maka biarlah, Rayyan akan sangat bahagia karena dia adalah pria pertama bagi Lilis begitu pula sebaliknya.
“Ayo makan yang banyak, badanmu kurus sekali.” Rosa terus meminta Lilis untuk makan banyak, karena menilai tubuh Lilis terlalu kurus. Ditambah lagi wajah Lilis yang cantik, hanya tidak pernah mendapat perawatan saja. Jika tubuhnya lebih berisi sedikit saja, pasti menggemaskan. Toh Rayyan juga bukan tipe-tipe pria yang gemar dengan gadis bertubuh kutilang dara, kurus tinggi langsing dada rata.
Tiba-tiba, kedua mata Rosa berbinar bahagia, Yah, mungkin sesekali, Lilis harus menjalani perawatan wajah dan tubuh.
“Lis, besok ikut aku ke kota, ya?”
“Hah?! Ke kota? Mau apa, Nyonya?”
“Beli pakaian, anggap saja aku memberi hadiah pernikahan untuk kalian. Gimana?”
“Tidak perlu, Nyonya. Terima kasih atas niat baik Nyonya, tapi, tak perlu repot-repot.” Lilis makin tak enak setelah mendengar niatan Rosa.
Tapi Rosa mengibaskan tangannya santai, “Sama sekali tidak repot, ini memang tugasku, karena suamimu—”
“Mas Rayyan kenapa, Nyonya?”
“Ah, tidak-tidak apa. Pokoknya besok kita ke kota, kita kasih kejutan untuk suami kamu.”
•••
Di kota, tepatnya di rumah Dio dan Monica. Pria itu tengah frustasi setelah berhasil mengobrak-abrik laporan keuangan, demi menutupi kecurangan yang ia lakukan.
Kini, kedatangan dua orang asing ke perusahaan, mulai membuatnya kelimpungan, hingga ia terpaksa lembur demi membetulkan laporan yang sudah ia susun sedemikian rupa agar tampak natural dan tidak mencurigakan.
Semua bermula setelah resepsi pernikahan mewahnya dengan Monica beberapa bulan yang lalu. Setelah resmi menjadi istri Dio, wanita itu punya banyak sekali permintaan, ini dan itu seolah-olah Dio memiliki kantong ajaib Doraemon, yang selalu bisa mengabulkan keinginannya.
Ditambah lagi, kehamilan Monica, menjadi alasan utama, agar Dio mengabulkan hobi barunya berbelanja perhiasan dan tas mewah.
Rasa cinta yang masih panas membara, membuat Dio rela melakukan apa saja demi menuruti permintaan wanita yang sedang mengandung anaknya. Terlebih anak dalam kandungan Monica adalah calon penerus keluarga Erlangga.
“Malam, Sayang,” sapa Monica yang baru pulang, karena tadi pergi ke rumah orang tuanya. Wanita seksi itu mengecup mesra bibir suaminya.
“Kenapa malam sekali pulangnya?” tanya Dio tanpa mengalihkan tatapannya.
Monica menggeser kursi yang diduduki suaminya, kemudian dengan gerakan sensual ia duduk di pangkuan Dio seraya melepas satu persatu kancing dress yang ia kenakan. Nampaklah dua bongkahan besar yang biasanya menjadi favorit Dio, ketika mereka bermesraan.
“Iya, Mama tadi ajakin ngobrol panjang, ya aku gak enak lah, masa mau buru-buru pamit.”
Dio pura-pura cemberut, “Padahal tadi aku sudah ingin menjemputmu.”
Monica makin agresif, “Huum, aku tak enak padamu, sepertinya kamu sangat sibuk belakangan ini.”
Hidung Dio mulai mengendus leher dan dada Monica, tangannya terulur hendak mengeluarkan salah satunya dari tempurung yang mengungkungnya, tapi tiba-tiba tatapan matanya tertuju pada bercak merah keunguan di salah satu bongkahan milik Monica seolah-olah baru saja terjadi.
“Sayang, kenapa ada bercak merah?” tanya Dio.
“Mana? Oh, itu. Bukannya semalam kamu yang membuat jejaknya?” jawab Monica sambil berbisik di telinga suaminya.
Ya memang, sih, semalam Dio menghisap sangat rakus, tapi Dio ingat persis jejak nya tidak seperti ini.
“Oh, ayolah, Sayang. Kenapa membuatku menunggu?” rengek Monica ia sudah tak tahan ingin melebur liar bersama suaminya seperti biasa. Padahal kehamilannya masih rentan keguguran, tapi keduanya tak peduli, karena yang utama adalah melampiaskan kebutuhan jasmani mereka terlebih dahulu.
###
mau lagi? mohon maaf tidak bisa, othor harus nyicil pekerjaan rumah, karena besok anak2 mulai libur sekolah. biar sabtu dan minggu apdetan tetap lancar, pekerjaan rumah harus di cicil perlahan. 😁😁
bagaimana reaksi Mas Ray, setelah melihat istrinya di permak Nyonya Bos? 💃💃 apakah semakin panas? 🌶🌶 atau masih malu malu harimau? 🐛🐛
setelah Rayyan liat apa akan langsung ehem ehem ya🤭