NovelToon NovelToon
Mantan Calon Istri Yang Kamu Buang Kini Jadi Jutawan

Mantan Calon Istri Yang Kamu Buang Kini Jadi Jutawan

Status: tamat
Genre:Romantis / Bepergian untuk menjadi kaya / Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam pengganti / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:15.4k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Satu surat pemecatan. Satu undangan pernikahan mantan. Dan satu warung makan yang hampir mati.

​Hidup Maya di Jakarta hancur dalam semalam. Jabatan manajer yang ia kejar mati-matian hilang begitu saja, tepat saat ia memergoki tunangannya berselingkuh dengan teman lama sekaligus rekan sekantornya. Tidak ada pilihan lain selain pulang ke kampung halaman—sebuah langkah yang dianggap "kekalahan total" oleh orang-orang di kampungnya.

​Di kampung, ia tidak disambut pelukan hangat, melainkan tumpukan utang dan warung makan ibunya yang sepi pelanggan. Maya diremehkan, dianggap sebagai "produk gagal" yang hanya bisa menghabiskan nasi.

​Namun, Maya tidak pulang untuk menyerah.

​Berbekal pisau dapur dan insting bisnisnya, Maya memutuskan untuk mengubah warung kumuh itu menjadi katering kelas atas.

​​Hingga suatu hari, sebuah pesanan besar datang. Pesanan katering untuk acara pernikahan paling megah di kota itu. Pernikahan mantan tunangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Peresmian Tahta Rempah Jati

​"Yu, piringnya kurang ke kiri sedikit! Nah, begitu. Ingat ya, kita ini melayani manusia, bukan robot. Senyumnya jangan lupa disetel!"

​Maya berteriak sambil membawa nampan berisi serbet bersih. Suaranya bergema di dalam gedung klasik yang dulunya milik Burhan. Kini, tempat itu sudah berubah total. 

Cat sudah berganti dengan warna putih gading yang elegan dengan aksen kayu jati di mana-mana. Di depan gedung, sebuah plang besar berbahan kuningan berkilat tertimpa sinar matahari: "Pusat Pelatihan Rempah Jati".

​"Siap, Mbak Bos! Ini Yu Nah sudah pakai lipstik merah paling mentereng, biar pejabatnya nggak salah fokus!" sahut Yu Nah sambil tertawa, tangannya lincah menata alat makan.

​Maya tertawa melihat tingkah para karyawannya. Suasana dapur dan area makan hari ini benar-benar hidup. 

Tidak ada lagi ketegangan seperti saat Burhan masih berkuasa. Aroma lengkuas, serai, dan santan kental yang sedang digodok di dapur terbuka mulai merayap keluar, menggoda siapa pun yang lewat di trotoar depan.

​"Gila ya, aromanya jauh lebih enak daripada zamannya si Burhan. Dulu mah cuma bau minyak jelantah!" celetuk Budi sambil mengangkut kotak-kotak tisu.

​"Hush! Jangan sebut nama itu, pamali," timpal Maya sambil membetulkan letak vas bunga.

​Tiba-tiba, Arlan masuk dengan langkah tegapnya yang khas.

Hari ini dia memakai kemeja batik tulis berwarna gelap yang membuatnya terlihat sangat berwibawa, namun lengannya tetap digulung—kebiasaannya kalau sedang ingin membantu.

​"Maya, sini sebentar. Ada yang ketinggalan di saku saya," panggil Arlan.

​Maya mendekat dengan wajah bingung. "Apa? Jangan bilang kamu lupa bawa gunting pitanya?"

​Arlan tidak menjawab. Dia mengeluarkan sebuah ponsel pintar seri terbaru dari sakunya dan menyerahkannya kepada Maya. "Buka. Saya sudah pasang aplikasi resminya."

​Maya mengernyitkan dahi. "Aplikasi apa? Jangan bilang kamu instal game?"

​"Buka saja, bawel," Arlan terkekeh.

​Begitu layar menyala, mata Maya membelalak. Di sana ada logo Dapur Rempah yang bergerak cantik. Saat ia menyentuhnya, muncul dasbor yang sangat rapi. Ada grafik stok daging, jumlah pesanan masuk, hingga laporan keuangan harian yang berjalan secara real-time.

​"Arlan! Ini apa?" Maya menatap Arlan tidak percaya.

​"Sistem manajemen katering digital. Kamu nggak perlu lagi pusing nyatetin di buku tulis yang gampang hilang atau kena tumpahan minyak. Semua pesanan dari kantor-kantor di kabupaten ini langsung masuk ke sini. Kamu bisa kontrol stok daging yang kita ambil dari gudang jagal kemarin hanya lewat satu jempol," jelas Arlan santai.

​Maya menutup mulutnya dengan tangan. "Kamu... kamu kapan bikin beginian? Pasti harganya mahal banget!"

​"Rahasia perusahaan. Anggap saja ini hadiah biar 'Ibu Direktur' kita nggak gampang marah karena pusing ngitung duit," Arlan mengacak rambut Maya pelan, membuat Maya refleks menepisnya karena malu dilihat Yu Nah.

​"Ih, Arlan! Berantakan tahu!" Maya cemberut, tapi matanya berbinar bahagia.

​Acara peresmian dimulai tanpa hiruk-pikuk pesta hotel yang kaku. Tamu-tamu yang datang adalah orang-orang yang selama ini mendukung Maya dari bawah. 

Ada para petani sayur yang setiap pagi memasok cabai segar, janda-janda desa yang kini punya seragam rapi, hingga anak-anak putus sekolah yang kini punya harapan baru sebagai asisten koki.

​"Ibu, ayo. Waktunya potong pita," ajak Maya sambil menuntun Ibu Sum ke depan pintu utama.

​Ibu Sum gemetar. Tangannya yang kasar memegang gunting perak itu dengan ragu. "May... Ibu nggak pernah mimpi bisa berdiri di gedung sebesar ini. Dulu warung kita hampir disita..."

​"Itu dulu, Bu. Sekarang kita yang punya gedung ini. Ayo, potong pitanya," bisik Maya memberikan semangat.

​Sreeek.

​Pita merah itu terbelah. Tepuk tangan riuh pecah. Ibu Sum menangis haru, memeluk Maya erat-erat di depan semua orang.

Arlan berdiri di belakang mereka, tersenyum tipis—jenis senyum yang hanya ia berikan saat melihat Maya bahagia.

​Tamu-tamu mulai merangsek masuk. Suasana meriah seketika. Orang-orang dari kantor perbankan dan dinas di sekitar lokasi mulai berdatangan.

Mereka tidak datang karena undangan formal, tapi karena tergiur aroma masakan yang sudah jadi buah bibir seantero kota.

​"Selamat siang, Pak Kepala Dinas! Wah, kehormatan besar bapak mau mampir," sapa Maya saat melihat seorang pejabat daerah masuk ke area restoran.

​"Duh, Mbak Maya. Saya sudah nggak tahan. Dari lantai tiga kantor saya, bau masakan mbak ini kayak manggil-manggil nama saya!" kelakar sang pejabat sambil duduk.

​Maya tertawa renyah. "Tenang Pak, saya sudah siapkan menu khusus buat bapak. Namanya 'Empal Gentong Istimewa'."

​"Bukannya itu menu andalannya si Burhan dulu?" tanya pejabat itu heran.

​"Beda Pak. Ini resep modifikasi saya. Kalau punyanya dia dulu cuma menang di lemak, punya saya menang di rempah dan cinta," jawab Maya santai tapi telak.

​Di sisi lain ruangan, pemandangan unik terjadi. Arlan, sang CEO Dirgantara Utama Group yang biasanya dingin dan ditakuti di ruang rapat, kini terlihat sibuk membagikan brosur pelatihan kepada ibu-ibu yang hadir.

​"Ini brosurnya, Bu. Kalau ada kerabat yang butuh pelatihan memasak profesional, silakan daftar. Gratis untuk warga lokal," ujar Arlan dengan nada datar namun tetap sopan.

​Para tamu wanita—terutama yang masih muda—mendadak salah fokus. Mereka berbisik-bisik heboh melihat kegantengan Arlan yang sedang memegang tumpukan kertas brosur.

​"Eh, itu pelayannya kok ganteng banget ya? Kayak model!" bisik seorang staf kantor bank.

​"Hush! Itu kan Pak Arlan, CEO yang lagi viral itu! Kok mau-mauan ya bagiin brosur di sini?" sahut temannya.

​Maya yang melihat itu dari jauh hanya bisa geleng-geleng kepala. "Arlan, Arlan... kamu itu mau bantu promosi atau mau bikin kerusuhan massa?" gumamnya lucu.

​Makanan mulai disajikan. Suasana resto penuh dengan suara denting sendok dan pujian. "Ya ampun, empal gentongnya lembut banget! Kuahnya gurih tapi nggak bikin enek!" teru salah satu pelanggan. Di ulasan Google Maps, dalam hitungan menit, bintang lima bermunculan untuk Dapur Rempah Maya.

​Maya merasa berada di puncak dunia. Dia telah membuktikan bahwa koki kampung tidak bisa diremehkan. Dia tidak butuh jabatan mewah di Jakarta untuk menjadi seseorang yang dihormati.

​Namun, di tengah sorak-sorai dan tawa itu, Budi tiba-tiba berlari dari arah ruang kantor belakang. Wajahnya pucat pasi, nafasnya memburu, dan tangannya memegang tablet kantor dengan kencang.

​"Mbak Maya! Pak Arlan! Tolong lihat ini!" teriak Budi, memecah keceriaan di meja depan.

​Maya mengernyit. "Budi, ada apa? Sopan sedikit, banyak tamu."

​"Maaf Mbak, tapi ini gawat banget! Ini baru saja viral di portal berita Jakarta!" Budi menyodorkan tablet itu dengan tangan gemetar.

​Maya dan Arlan mendekat secara bersamaan. Arlan merebut tablet itu dan membacanya. Wajahnya yang tadi santai seketika mengeras. Matanya menyipit tajam, urat di pelipisnya menonjol.

​"Kenapa, Lan?" tanya Maya cemas.

​Arlan tidak menjawab, dia menyerahkan tablet itu ke tangan Maya. Di sana, terpampang foto seorang wanita yang sangat familiar—Siska Pratama. Dia memakai setelan jas mahal, berdiri di depan gedung perusahaan keluarganya.

​Judul beritanya mencolok dengan huruf kapital merah: "SISKA PRATAMA MENANGKAN BANDING, RESMI BEBAS DAN SIAP MEMBANGUN KEMBALI PRATAMA FOOD YANG SEMPAT TERPURUK AKIBAT KASUS YANG MENIMPANYA."

​Maya merasa dunianya seolah berhenti berputar. Suara riuh di sekelilingnya mendadak senyap. Ia membaca baris berikutnya: "Didampingi kuasa hukum ternama, Siska menyatakan bahwa dirinya hanyalah korban konspirasi persaingan bisnis yang kotor dan siap melakukan serangan balik kepada pihak-pihak yang telah menjatuhkannya."

​Maya menatap Arlan. "Dia bebas, Lan? Bagaimana bisa? Bukannya bukti-bukti kita sudah lengkap?"

​Arlan mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Koneksi bapaknya lebih dalam dari yang saya duga. Dia pakai celah prosedur untuk membatalkan putusan sebelumnya."

​"Dia bilang... serangan balik. Lan, dia pasti bakal nyasar kita," bisik Maya, tangannya tanpa sadar meremas ujung kain taplak meja.

​Arlan menatap Maya dengan tatapan yang sangat dalam dan protektif. "Biarkan dia mencoba, Maya. Dia pikir dengan keluar dari penjara dia bisa menang begitu saja?"

​Arlan menoleh ke arah plang nama Pusat Pelatihan Rempah Jati yang terlihat dari jendela besar. "Dia baru saja membangunkan naga yang salah."

​Maya menarik napas panjang, mencoba menguasai dirinya. Riuh peresmian masih berlangsung, tapi ia tahu, ketenangan ini hanyalah jeda singkat sebelum badai yang lebih besar datang menerjang. 

Siska tidak akan diam, dan Maya tahu, musuh lamanya itu akan melakukan apa saja untuk menghancurkan apa yang baru saja ia bangun.

​"Ganti strategi, Maya," ujar Arlan dingin. "Perang yang sebenarnya baru saja dimulai kembali. Dan kali ini, saya tidak akan memberinya celah sedikit pun."

​Maya menatap tablet itu sekali lagi, lalu menatap kerumunan pelanggan yang masih lahap makan. Dia tidak akan membiarkan Siska merusak kebahagiaan orang-orang ini.

​"Oke," jawab Maya dengan nada suara yang berubah drastis menjadi sangat tegas. "Kalau dia mau perang, akan saya sajikan menu paling pahit buat dia."

1
Warni
Ada saja ujiannya.
Warni
Astaga
Dewiendahsetiowati
terima kasih untuk ceritanya dan ditunggu karya selanjutnya thor
Rina Arie
good book
Savana Liora: makasih kak
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
kamu kuat Maya dan pasti bisa membuktikan bahwa kamu bisa bangkit
Savana Liora: iya. maya pasti bisa
total 1 replies
Dewi Sri
Hadir.... cerita sederhana tp bagus 👍
Savana Liora: makasih kak
total 1 replies
Feni Puji Pajarwati
good job author...ceritanya menarik dan gak bikin bosen sama alur ceritanya...
Savana Liora: makasih akak
total 1 replies
Iqlima Al Jazira
Terimakasih thor untuk ceritanya..
vote untuk mu👍
Iqlima Al Jazira: sama-sama thor
total 2 replies
Iqlima Al Jazira
aku padamu arlan🤭
tutiana
bagusss
Dewiendahsetiowati
ada aja ujiannya, paling ini kerjaan Rosa edan,bikin jengkel aja manusia 1 itu
Dewiendahsetiowati
kamu kuat Maya dan Adit akan menyesal membuang berlian kayak kamu
Dewiendahsetiowati
awal mula Maya untuk bangkit lagi
Savana Liora: iya bener
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Savana Liora: makasih udah hadir kakak
total 1 replies
Iqlima Al Jazira
aku pada mu arlan🤩
Savana Liora: halo kak. happy reading
total 1 replies
Iqlima Al Jazira
so sweet👍
Savana Liora: iya kan?
total 1 replies
Ma Em
Semangat Maya semoga masalah yg Maya alami cepat selesai dan usaha kateringnya tambah sukses .
Savana Liora: terimakasih udah mampir ya kk
total 1 replies
macha
kak semangat💪💪
Savana Liora: hi kak. makasih ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!