Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.
Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.
Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenangan Terakhir
Di Ruang Tunggu, Kinan melihat dengan tubuh hampir terkikis, tersisa hanyalah jiwa."Dia akan pergi," bisiknya pada perempuan tua itu. "Raka. Dia... dia akan ikut aku, Bu." Aku bisa melihat jiwanya, dia sudah berada di tengah kehidupan atau kematian, disini dan sana."
"Dan kamu, Nak, apa yang akan kamu lakukan padanya?"
Kinan menatap jendela Raka terbaring di ruang ICU. Maya dan Laras di luar, masuk secara bergantian menangis, dan berdoa. Sementara Ibu Rini menangis di perjalanan pulang dengan hati yang terbelah.
"Bu, aku akan menarik dia, untuk kembali di kehidupannya."
"Kamu tidak punya energi, kamu sudah—"
"Aku punya cinta," potongnya "Dan itu energi terbesar didalam hidupku dari semua yang aku punya."
"'Kamu tidak punya apa apa, Nak, "'Perempuan bermata embun itu menggeleng tidak sanggup untuk menahannya.
Tapi benar apa yang dikatakannya, Kinan lemah akhirnya rubuh bukan seperti jatuhnya manusia, tidak berbentuk, tanpa maya dan rasa.
" Istirahat sayang," Ia duduk di antara bayangan menatap "jendela" Raka di ruang ICU—mesin yang berbunyi, dua wanita yang bergantian berjaga, dan seorang ibu yang terlambat kembali.
"Kinan, " ujarnya, "kamu sudah memberikan segalanya tiga kali turun, tiga kali intervensi. Kamu—"
"Bu...tolong aku, tolong aku, Mas Raka ucapnya hampir tidak terdengar, bahkan di tempat tanpa suara. "Satu kali lagi untuk terakhir."
"Kamu akan lenyap, dari kenangan,dari hatinya, sejarah yang tidak pernah ada."
" Aku akan pergi kemana ?"
" Ruang tunggu hanya sementara ada kehidupan baru disisi Tuhan."
" Sampai kapan ?"
" Sampai dunia ini berakhir.'
Kinan hanya bisa terdiam, hidup setelah mati bukan seperti perkiraan orang orang dunia, ada ruang, ada pertanyaan, penghakiman. dan jiwa yang tenang, serta kegelisahan
Ia tersenyum dan berharap ini tidak untuk terakhirnya."Kalau dia hidup, maka aku ada, dia ada di setiap napas, disetiap langkah cinta yang akan dia beri, Itu cukup, bu, lebih dari cukup dari hidup dan kematian.
"Kamu yakin?"
Ia tidak menjawab sudah bergerak menembus batas, ruang, dan aturan yang mengikat orang mati.
Raka terbangun bukan di ruangan ICU, tempat tidur mesin yang bergerak, tapi di... di tengah, disini dan disana, hidup dan mati, kenangan dan kenyataan.
Sejauh mata memandang hanyalah putih dan cahaya tak berujung. Di kejauhan, pusaran cahaya lembut seperti embusan angin pertama di ujung senja, munculah perempuan itu.
Ia bukan Kinan yang sakit, kurus, napas tersengal di ranjang rumah sakit menahan sakit, bukan. Dia adalah Kinan yang utuh selalu ada, dan abadi. Rambutnya jatuh lembut seperti aliran sungai di bulan purnama. Senyumnya merekah bagai kuncup mawar baru saja disentuh mentari. Matanya—dua danau tenang di tengah hutan, menyimpan ribuan bintang tak pernah padam.
Cahaya hangat samar menyelimuti tubuhnya menyilaukan mata, hangat bagaikan selimut kasih tak pernah terlepaskan.
Raka tersentak kaget seolah tidak percaya istrinya tampil dalam wujud paling murni—keindahan tak terkoyak, tak terkikis waktu. Setiap gerakannya adalah tarian dedaunan ditiup angin, lembut dan penuh makna. Ia bukan sekadar jiwa atau kenangan; tapi puisi nyata, lukisan bernapas.
"Kinan?" panggilnya bergetar senar kecapi yang baru dipetik. Tubuhnya—apakah ia masih punya tubuh?—terasa ringan, melayang di antara dua dunia.
"Mas Raka," Ia melangkah mendekat, dan setiap langkahnya meninggalkan jejak cahaya temaram perlahan memudar, buih pantai yang ditinggal ombak.
"Kamu ..kamu di sini?" Raka ingin meraih, tangannya terjulur—namun jari-jarinya hanya menembus udara, menyentuh kehangatan tak berbentuk, meraih mimpi di pagi buta.
Ia tersenyum menghangatkan jiwa, keabadian di sudut bibirnya, senyuman melampaui hidup dan mati. "Kinan di sini, Mas untukmu,.. untuk mengantar Mas"
"Mengantar?" Raka menatap sekeliling, semuanya putih, tanpa batas, kanvas lukisan, Tapi di hadapannya, dia adalah warna—palet paling indah diciptakan semesta. "Ngantar ke mana?"
Ia mengangkat tangannya, menunjuk dua arah keduanya putih tidak berujung, satu tampak lebih redup seperti senja perlahan tenggelam dan satu lagi terang benderang, fajar yang baru dilahirkan.
“Ke sini bersama Kinan selamanya,” katanya pelan. “Tapi Mas tidak benar-benar hidup.”
" Itu yang mas tunggu tunggu, Nan."
Perempuan itu hanya tersenyum, menunjuk ke arah terang. “Atau mas ke sana, ketempat yang bisa Mas sentuh, Mas peluk, dan tumbuh bersama mereka.”
Raka menatapnya tubuh gemetar.
“Mas mau kamu, Nan” bisiknya. “Dari dulu sampai sekarang sampai kapan pun.”
Ia kembali tersenyum senyuman yang selalu menjadi rumah bagi hatinya.
“Kinan tahu, Mas” ucapnya pelan. “Dan tentunya Kinan juga mau.”
Ada jeda yang panjang diantara dua bayang
“Tapi cinta itu bukan tentang memiliki, ” lanjutnya. “Cinta juga melepaskan orang yang kita sayangi… hidup benar-benar hidup.”
Raka menunduk danya terasa sesak.
“Mas tidak bisa hidup tanpa kamu, Sayang.”
Kinan mendekat. Wajahnya bercahaya tanpa menyilaukan.“Mas bisa,” katanya lembut. “Mas sudah melakukannya.”Ia menyebut satu per satu, seperti merangkai doa.
“Maya ada, laras dan Ibu.”
Nama-nama itu bergetar di udara putih, membentuk bayangan samar orang yang memanggilnya pulang.
“Dan kamu?” tanya Raka lirih.
Ia mengangkat tangannya, meletakkannya di dadanya tidak menyentuh, tapi terasa hangat—seperti api kecil tak pernah padam.
“Kinan tetap di sini, dan Mas harus hidup untuk aku, untuk mereka dan Mas sendiri.”
Raka berdiri di ambang dua cahaya, satu redup, tenang, sunyi—bersama istrinya, dan satu lagi terang, berdenyut, penuh suara—kehidupan.
Ia masih berdiri di sana, bercahaya indah dengan cara yang tak bisa lagi disentuh dunia.
“Mas takut, Nan…” suaranya retak, lelaki yang benar-benar kehilangan pegangan.
“Aku juga takut, Mas.”
Sunyi membentang di antara mereka. Putih di sekeliling menunggu keputusan yang tak ingin dipilih siapa pun.
“Kalau Mas pergi ke sana…” suaranya melembut, “Mas akan lupa menggenggam tangan lembut Kinan”
Raka tersenyum menggeleng cepat. “Tidak.”
“Mas lupa suara tawa Kinan saat bernyanyi lagu dangdut .”Air mata yang tak berbentuk mulai terasa di dadanya.
"Tidak, Sayang, jangan buat mas bersedih."
“Mas akan lupa bagaimana Kinan selalu tidur miring ke arah Mas.”
Mata laki laki itu berkaca kaca, perasaan nya kembali berkecamuk" Mas tidak akan lupa!” kali ini suaranya pecah. “Mas tidak akan pernah melupakan semuanya.”
Kinan menatap kenangan cinta, penuh dengan hal yang tak sempat mereka selesaikan.“Kinan tahu,” bisiknya. “Tapi ingatan akan berubah, Mas. Waktu akan membuat lebih lembut… lebih jauh.”
Ia melangkah mendekat, ujung jarinya menyentuh tipis, rapuh embun yang bisa hilang jika bernapas terlalu kuat.
“Mas masih ingat malam terakhir di rumah?” tanyanya pelan.
Raka mengangguk, bibirnya bergetar. Ia ingat. Lampu kamar yang temaram, bau obat, nafas berat tapi tetap memaksakan senyuman.
“Kinan pura-pura tidur,” lanjutnya. “Padahal Kinan mendengar Mas menangis di kamar mandi.”
Dada Raka runtuh.“Mas tidak mau kamu dengar, sayang…”
“Kinan dengar dan disaat itu Kinan tahu… kalau pergi duluan, Mas akan hancur.”
Hening.
“Dan Kinan tidak mau Mas hancur.”
Cahaya di sekitarnya mulai berubah memudar seperti malam menjemput senja dalam keheningan.
Raka menyadarinya.
“Kenapa kamu Sayang…?” suaranya terdengar panik.
Kinan menatap tubuhnya sendiri mulai memudar di ujung cahaya.“Karena Mas sudah memilih,” katanya lembut.
Raka membeku.
Ia belum melangkah.
Tapi hatinya sudah tahu.
“Mas belum tidak akan—”
“Sudah, Mas harus memilih hidup. Bahkan saat Mas bilang tidak bisa tanpaku… Mas harus tetap bernapas.”
Air mata nya kini benar-benar jatuh. Atau mungkin hanya rasa yang tumpah tanpa bentuk.
“Nan, jangan pergi lagi,” Ia takut kehilangan untuk kedua kalinya.
Perempuan berwajah lembut itu mengangkat tangan, menyentuh pipinya hangat
“Kinan tidak pergi."
" Mas yang ikut.."
" Jangan."
Cahaya di kakinya mulai terurai seperti debu keemasan diterbangkan angin.
Raka menggenggam tangannya, kali ini ia bisa merasakan benar-benar merasakan.
Dan justru itu yang paling menyakitkan.
“Mas capek kehilangan .
“Kinan juga capek lihat Mas sedih.”
Ia mencium keningnya lembut nyaris tak terasa tapi penuh.“Mas dengar Kinan baik-baik, kalau Mas tertawa… jangan merasa bersalah, seandainya mas jatuh cinta lagi… jangan merasa mengkhianati. Dan kalau Mas bahagia… jangan pikir itu melupakan
Suara nya bergetar bersama tubuh semakin tembus cahaya.
“Nan..” Raka menangis tanpa suara.
“Mas...sayang ” katanya, seperti doa terakhir.
“Kinan lebih dari itu, Mas.”Tubuhnya kini tinggal setengah cahaya.“Terima kasih sudah mencintaiku sampai sejauh ini.”
“Jangan,” Raka menggeleng. “Mas belum selesai mencintaimu.”Laki laki itu benar benar runtuh
“Cinta tidak pernah selesai, Mas, dia hanya berubah bentuk.”
Cahaya terang di belakang mulai menariknya. lembut, tapi pasti. Ia mundur satu langkah tubuhnya kini seperti kabut ditembus matahari pagi. “Pergilah,” bisiknya.
Raka mencoba bertahan mengulurkan tangannya “Sayang....”
Ia tersenyum untuk terakhir kalinya, air matanya jatuh “Mas tidak sendirian. Mas selalu ada di jiwa ”
Cahaya di sekeliling pecah seperti ribuan kelopak bunga yang diterbangkan angin.
Sebelum benar-benar hilang, suara itu kembali terdengar menyentuh kalbu
“Mas hiduplah… untukku selamanya .”
mampir 🤭