Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Di depan pintu belakang Mahardika Tower—pintu yang dikhususkan untuk distribusi barang dan karyawan level bawah—Rio duduk tenang di balik kemudi sedan hitam keluarga Adytama.
Tak lama kemudian, sosok yang ditunggu muncul. Namun, penampilannya jauh dari kata anggun. Bianca berjalan tertatih-tengah dengan salah satu hak sepatu mahalnya yang tampak goyang. Blazer Chanel merah mudanya kini kusam tertutup debu abu-abu, rambutnya yang tadi pagi tertata sempurna kini berantakan dan lepek oleh keringat. Wajahnya yang penuh riasan kini tampak kotor, maskaranya sedikit luntur di sudut mata.
Begitu masuk ke dalam mobil, Bianca membanting pintu dengan sangat keras hingga mobil berguncang.
"RIO! JALAN SEKARANG! AKU MAU MATI RASANYA!" teriak Bianca histeris. Ia melemparkan tasnya ke kursi samping dengan kasar.
Rio melirik dari spion tengah. Ia harus mengerahkan seluruh sisa kewarasannya untuk tidak tertawa terbahak-bahak melihat pemandangan di depannya.
"Non Bianca... kenapa penampilannya jadi begini?" tanya Rio dengan nada yang dibuat sedalam dan seprihatin mungkin, padahal hatinya sedang bersorak puas.
"Kenapa kamu tanya?! Ini semua gara-gara CEO gila itu! Raditya Mahardika! Dia itu benar-benar tidak punya perasaan!" Bianca mulai memaki-maki sambil membersihkan debu di lengannya dengan tisu basah.
"Masa aku ditaruh di gudang? Basement dua, Rio! Tidak ada AC yang dingin, cuma ada kipas angin butut dan tumpukan kain berdebu. Aku disuruh mendata ribuan roll kain secara manual! Tanganku sampai kasar semua!"
Rio menjalankan mobil perlahan menuju arus lalu lintas yang mulai padat. "Sabar, Non. Mungkin ada alasan di balik itu semua."
"Alasan apa?! Dia sengaja mempermalukan aku di depan anak magang lain! Dia bilang aku harus tahu dasar-dasar material. Dasar gila! Aku ini calon istrinya, harusnya dia mengajakku makan siang di restoran mewah, bukan membiarkan aku makan nasi kotak di pojok gudang!"
Rio terdiam sejenak, lalu ia mengeluarkan jurus manipulasi psikologisnya. "Non Bianca... kalau boleh saya berpendapat, mungkin saja itu adalah cara Pak Raditya menguji Non."
Bianca berhenti mengomel, ia menatap punggung kepala Rio dengan dahi berkerut.
"Menguji? Maksudmu?"
"Orang seperti Pak Raditya Mahardika itu sudah punya segalanya, Non. Dia pasti bosan dengan perempuan yang hanya bisa dandan dan manja. Mungkin dia sedang mencari tahu, apakah Non Bianca ini tipe perempuan tangguh yang bisa diajak membangun kekaisaran bisnisnya bersama atau tidak. Istilahnya, dia sedang mengetes mental calon istrinya. Karena biasanya, lelaki sehebat beliau tidak suka perempuan yang hanya tahu menghabiskan uang," jelas Rio dengan nada bicara yang sangat meyakinkan.
Bianca terdiam. Ia menatap pantulan wajahnya yang kusam di cermin kecil. Kata-kata Rio seolah menyiram bensin pada egonya yang sedang terbakar. "Benar... benar juga katamu, Rio. Dia kan CEO besar, pasti dia mau melihat apakah aku layak bersanding di sampingnya atau tidak. Dia mau melihat dedikasiku!"
"Tepat sekali, Non. Kalau Non menyerah hari ini, beliau pasti berpikir Non sama saja dengan perempuan lain yang mengejar hartanya saja," tambah Rio, menahan senyum sinisnya.
Bianca langsung duduk tegak, meski badannya pegal luar biasa. "Kamu benar. Aku tidak boleh menyerah. Besok aku akan datang lebih pagi dengan semangat baru. Dia akan terkesan melihatku tetap bertahan di gudang itu tanpa mengeluh sedikit pun di depannya. Terima kasih, Rio. Ternyata otakmu ada gunanya juga."
"Sama-sama, Non Bianca," jawab Rio datar, kembali fokus pada jalanan. Di dalam hatinya, ia membatin; Silakan bekerja keras di gudang besok, Bianca. Karena aku sudah menyiapkan tumpukan arsip dari sepuluh tahun lalu untuk kamu rapikan.
**
Malam harinya, rumah kediaman Adytama terasa begitu formal. Meja makan panjang sudah tertata rapi. Ayah Haris duduk di kepala meja, di sampingnya ada Mama Reva yang tampil glamor, dan Bianca yang sudah mandi serta berganti pakaian dengan gaun rumah yang mahal.
Kirana duduk di seberang Bianca, wajahnya masih tampak sedikit letih namun ia berusaha ikut serta dalam makan malam keluarga ini sesuai permintaan ayahnya. Rio berdiri tak jauh dari pintu dapur, bersiaga jika ada perintah, namun matanya tetap waspada mengamati dinamika keluarga tersebut.
"Jadi, bagaimana hari pertama magangmu di Mahardika Tower, Bianca?" tanya Ayah Haris sambil memotong steak-nya.
Bianca tersenyum lebar, senyum yang sangat kontras dengan wajah kotornya tadi sore. "Luar biasa, Ayah! Pak Raditya Mahardika benar-benar memperhatikan Bianca. Dia bahkan meluangkan waktu secara khusus untuk memberikan instruksi langsung pada Bianca."
Rio yang mendengar itu dari kejauhan hampir saja tersedak udara. Luar biasa... dia berbohong dengan sangat lancar, pikirnya.
"Benarkah?" Mama Reva tampak sangat antusias, matanya berbinar. "Apa katanya padamu, Sayang?"
"Dia bilang, dia ingin Bianca belajar dari dasar karena dia punya rencana besar untuk Bianca di masa depan perusahaan. Dia menempatkan Bianca di divisi yang sangat krusial agar Bianca paham seluk-beluk aset Mahardika Group. Dia sangat intens memantau pekerjaan Bianca lewat asistennya, Pak Bram," ucap Bianca dengan nada pamer yang meluap-luap.
"Duh, beruntung sekali kamu, Bianca," puji Mama Reva sambil melirik sinis ke arah Kirana. "Tidak seperti kakakmu ini. Sudah sakit-sakitan, kerjanya cuma jaga kafe. Apa ada masa depannya? Harusnya kamu contoh adikmu ini, Kirana. Bianca itu punya visi besar, dia tahu siapa pria yang harus didekati untuk mengangkat derajat keluarga kita."
Kirana meletakkan garpunya perlahan, dentingan logam di atas piring porselen itu terdengar nyaring di ruangan yang sunyi.
"Ma, tanpa pelayan Mama tidak akan bisa melakukan apapun. Dan kafe itu adalah tempatku bekerja dan disana saya digaji bukan hanya menjadi pengangguran."
"Hasilkan apa? Recehan?" sahut Mama Reva dengan tawa mengejek. "Dibandingkan dengan satu kontrak Mahardika Group, perusahaanmu itu tidak ada apa-apanya. Lihat Bianca, sebentar lagi dia akan menjadi Nyonya Mahardika. Kalau itu terjadi, kamu tidak perlu lagi capek-capek jadi barista tidak jelas itu. Malu-maluin keluarga saja ada anak CEO Adytama Group tapi kerjaannya bikin kopi di pinggir jalan."
Bianca ikut menyeringai. "Iya, Mbak Kirana. Mending Mbak istirahat saja di rumah, jangan terlalu banyak gaya. Biar urusan masa depan dan nama baik keluarga, aku yang urus bersama Mas Raditya."
Rio melihat tangan Kirana di bawah meja mengepal kuat hingga kuku-kukunya memutih. Ia bisa merasakan gelombang kemarahan dan luka yang tertahan dari wanita itu. Namun, yang membuat Rio terkesan adalah bagaimana Kirana tetap menegakkan punggungnya.
"Masa depan tidak selalu tentang siapa pria yang ada di samping kita, Bianca," ucap Kirana dengan suara yang tenang namun sangat dingin, membuat suasana meja makan mendadak mencekam.
"Saya bangga dengan apa yang saya bangun sendiri. Saya tidak perlu menjual nama Ayah atau memelas perhatian pria kaya hanya untuk merasa berharga. Dan untuk Mama Reva... terima kasih atas kekhawatirannya, tapi saya jauh lebih bahagia menjadi 'barista' daripada menjadi seseorang yang hidupnya hanya diisi dengan kepalsuan dan pamer."
"Kirana! Jaga bicaramu!" bentak Mama Reva, wajahnya memerah.
"Saya hanya bicara jujur, Ma," balas Kirana, menatap langsung ke mata ibu tirinya tanpa rasa takut sedikit pun. "Jika memang Bianca sangat hebat di mata Pak Raditya, saya ikut senang. Tapi tolong, jangan rendahkan pekerjaan saya hanya untuk membuat dia terlihat lebih tinggi."
Ayah Haris berdehem keras, mencoba menengahi. "Sudah, sudah! Di meja makan dilarang bertengkar. Kirana, kamu harusnya lebih sabar. Reva, kamu juga jangan membanding-bandingkan terus."
Rio yang menyaksikan semuanya dari balik pintu dapur merasa hatinya bergetar. Ia melihat kekuatan yang luar biasa dari Kirana. Di balik tubuhnya yang baru saja pulih dari sakit, tersimpan jiwa baja yang tidak akan hancur hanya karena cacian.
Raditya—dalam diri Rio—menyadari bahwa wanita di depannya ini adalah permata yang sebenarnya. Sementara Bianca dan Mama Reva hanyalah perhiasan imitasi yang berisik.
Kalian benar-benar tidak tahu siapa yang kalian hadapi, batin Rio sambil menatap tajam ke arah Mama Reva dan Bianca. Kalian memuji-muji namaku untuk merendahkan Kirana, tanpa tahu bahwa pria yang kalian puja itu justru sedang muak melihat kalian dan sangat mengagumi wanita yang kalian hina.
Malam itu, Rio berjanji dalam hati. Ia akan mempercepat proses "pelajaran" bagi Bianca di kantor, dan ia akan memastikan bahwa KiraPharma milik Kirana akan mendapatkan dukungan yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun, bahkan oleh Kirana sendiri.
***
aq kasih bintang⭐⭐⭐⭐⭐
masih abu abu apakah reva atw harus atau mereka berua
ga sabar terbongkarnya semua kejahatan ma Reva
makasih Thor ceritanya menarik dan slalu bikin penasaran nunggu kelanjutannya 🙏
ak suka karakter kirana anggun, tegas, murah hati bersahaja. ak suka karakter raditya yg punya power, tp anak yg hormat orgtua, tegas, melindungi n sweet dgn perhatian n pengorbanannya pokoknya paket komplit versi ga lebaiii, semangat selalu dtunggu double up nya ya 😍