NovelToon NovelToon
Membawa Benih Sang Casanova

Membawa Benih Sang Casanova

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Action / Romantis / Mafia
Popularitas:73.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ibu.peri

Demi biaya pengobatan ibunya, Alisha rela bekerja di klub malam. Namun kepercayaannya dikhianati sang sahabat—ia terjerumus ke sebuah kamar hotel dan bertemu Theodore Smith, cassanova kaya yang mengira malam itu hanya hiburan biasa.
Segalanya berubah ketika Theodore menyadari satu kenyataan yang tak pernah ia duga. Sejak saat itu, Alisha memilih pergi, membawa rahasia besar yang mengikat mereka selamanya.
Ketika takdir mempertemukan kembali, penyesalan, luka, dan perasaan yang tak direncanakan pun muncul.
Akankah cinta lahir dari kesalahan, atau masa lalu justru menghancurkan segalanya?
Benih Sang Cassanova

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibu.peri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PESTA MINUMAN

Tiga puluh menit kemudian...

Suara mesin mobil sport hitam menggeram lembut saat berhenti di pelataran markas utama Draken. Lampu depan menyapu halaman dengan sorot dingin sebelum padam. Pintu terbuka otomatis dan keluarlah Theo dengan gaya khasnya dan senyum tak berdosa yang selalu membuat orang waspada.

Ia melangkah santai menyusuri lorong, seolah tidak ada yang lebih penting di dunia ini selain dirinya. Tangannya memainkan kunci mobil, dan setiap langkahnya memantul tenang di marmer mahal markas itu.

Brak.

Pintu ruang rapat terbuka lebar, membuat semua kepala menoleh. Tanpa rasa bersalah, Theo berdiri di ambang pintu, senyum lebarnya mengembang.

"Sudah datang, rupanya," ucapnya ringan. Suaranya nyaring tapi santai. Ia masuk, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa seolah ruangan itu miliknya. Satu kaki disilangkan santai, dan ia menatap semua yang hadir dengan senyum lamanya.

Ruangan itu sudah dipenuhi para mafia.

Joe, yang berdiri di belakang sofa, mengangkat alis. “Wah... Theo sudah kembali ke setelan pabrik, wajahnya Lebih bersinar.”

Damian hanya memperhatikan tanpa banyak berkomentar. Wajahnya tenang, matanya tajam seperti biasa, tetapi ada sorot yang berbeda saat menatap Theo. Di sampingnya, Juna menyandarkan tubuh ke sofa sambil memainkan korek api di tangannya. Ia tidak berkata apa-apa, hanya sesekali menoleh ke arah Theo dengan senyum miring.

Gerry pun begitu. Ia menyilangkan tangan di dada dan menatap Theo dengan sikap tenang, nyaris datar. Tidak ada ekspresi terkejut, apalagi heran. Mereka bertiga memang sudah tahu lebih dulu.

Karena mereka adalah saksi diam atas semua yang dilakukan Theo sore tadi—dari layar monitor pengintai milik Cleo dan Alexa, mereka melihat bagaimana pria flamboyan itu bertekuk lutut di depan seorang wanita dan seorang gadis kecil.

Berbeda dengan ketiganya, Xander justru menatap Theo dengan sorot penuh tanya. Bahkan ketiga sahabatnya—Maxime, Nathan, dan Ansel—ikut memasang wajah tidak sabar.

“Ada apa kau menyuruh kami ke sini?” tanya Xander tajam, suaranya rendah namun menekan. Matanya menusuk, mencermati setiap gerak Theo seolah menanti alasan yang pantas.

“Benar. Menyuruh kami hanya untuk melihat senyummu? Kami bukan penonton drama,” Maxime menyambung dengan nada sarkastik khasnya. Ia melirik ke arah Ansel yang hanya mengangguk pelan, sementara Nathan diam tapi jelas terlihat tidak nyaman.

Theo masih duduk tenang di sofa, seperti aktor utama yang belum menyampaikan dialog penting. Ia menatap satu per satu wajah di hadapannya. Tidak terburu-buru. Tidak gentar. Justru semakin percaya diri.

“Santai dulu,” ucapnya sambil mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar semua tenang. “Aku menghubungi kalian bukan untuk hal tidak penting.”

Ia melangkah pelan ke meja panjang di sisi ruangan, lalu berdiri membelakangi jendela besar yang menampilkan kota dalam gelapnya malam.

“Hari ini... adalah hari paling bahagia dalam hidupku,” katanya, suaranya lebih lembut dari biasanya, tapi tetap terdengar mantap. “Aku telah menemukan wanita yang selama ini kucari. Dan... aku juga menemukan putri kecilku.”

Semua langsung terdiam.

“Putri kecilmu?” Nathan akhirnya bersuara. Matanya menyipit curiga.

“Ya,” jawab Theo sambil tersenyum. “Namanya Thea, Usianya hampir lima tahun. Cerdas, keras kepala, lucu dan... Dia menyebutku uncle bau,” tiba-tiba Theo terkekeh, saat mengingat panggilan itu.

Juna terkekeh. “Ya Tuhan. panggilan macam apa itu.”

“Dia... seperti miniatur diriku. Dan entah kenapa, itu justru yang membuatku ingin berubah,” tambah Theo, suaranya menurun. “Aku tidak peduli apakah perlu tes DNA atau tidak. Tapi Aku yakin, jika dia benar-benar darah dagingku.”

Xander masih menatapnya tajam, namun ekspresinya mulai melunak. Ia menyandarkan tubuh ke dinding, lalu mengangguk kecil. “Kau begitu yakin”

Theo mengangguk. “Yakin sekali. Karena untuk pertama kalinya... aku ingin seseorang mengenalku sebagai ayah, bukan sebagai cassanova..”

Suasana di ruangan itu menjadi berat, bukan karena marah, tapi karena rasa hormat yang tumbuh tiba-tiba. Theo bukan hanya sedang berbicara sebagai sahabat, tapi sebagai pria yang kembali menemukan makna hidupnya.

Lalu, dengan senyum yang mulai mengembang, Theo menjentikkan jarinya. "Dan.. sekarang, mari kita berpesta,"

Tap.

Pintu samping terbuka. Masuklah enam orang berseragam membawa tiga troli besar. Troli pertama penuh dengan botol wine berlabel langka: Screaming Eagle Cabernet Sauvignon 1992, Domaine de la Romanée-Conti, dan Château Cheval Blanc 1947—daftar anggur termahal di dunia.

Troli kedua membawa makanan mewah—beberapa di antaranya impor langsung dari restoran bintang Michelin. Sementara troli terakhir membawa set speaker dan turntable untuk musik klasik dan jazz.

Semua mata memandang penuh takjub.

Maxime menatap satu botol dan nyaris terlonjak. “Château Cheval Blanc 1947? Astaga... kau merampok dimana?”

“Jangan banyak tanya, minum saja,” jawab Theo santai.

Joe berdiri dengan mata berbinar. “Aku tidak jadi pulang kalau begini! Ini... ini surganya wine!”

“Dan aku akan menginap di markas. Jangan ada yang ganggu,” sambung Maxime sambil langsung mengambil satu gelas.

Ansel dan Nathan akhirnya tertawa pelan, suasana tegang mulai mencair. Bahkan Xander tidak menolak saat seorang pelayan menyodorkan gelas wine padanya.

“Mari kita nikmati malam ini,” seru Theo, mengangkat gelasnya tinggi. “Untuk kebahagiaanku. Untuk cinta, yang entah sejak kapan mulai berani singgah ke hidup mafia seperti kita.”

Ia menyesap anggurnya perlahan, lalu tertawa lepas. Tawa bahagia yang tidak dibuat-buat.

Mereka semua menikmati pesta dadakan itu, walaupun awalnya mereka sedikit kesal. Tapi, mereka tetap menikmati juga.

Musik mulai diputar. Suara saksofon lembut mengalun, menciptakan suasana elegan yang jauh dari kesan kekerasan. Malam itu, markas Draken bukan sekadar tempat berkumpul para mafia. Tapi menjadi saksi, bagaimana seorang pria yang dikenal dengan reputasi tak terkendali, akhirnya menemukan hal yang mampu meluluhkan seluruh egonya—cinta dari seorang anak kecil dan wanita yang tak bisa ia lepaskan.

Dan saat pesta mulai memanas, satu suara muncul pelan dari Gerry.

“Dulu kita merayakan kemenangan perang. Sekarang... kita merayakan kebahagiaan Theo setelah menemukan wanitanya.”

Juna menyenggol lengannya. “Dan sialnya.. kita semua tersentuh,”

Malam makin larut. Musik masih berdendang pelan, lampu gantung berkilauan seperti berlian, dan aroma wine mahal memenuhi udara. Di antara suasana yang mulai lengang, terdengar tawa renyah yang sedikit… kacau.

Theo berjalan sempoyongan, masih dengan gelas wine di tangan, wajah merah padam, mata berbinar tak fokus.

“Aku bahagia… hahahaha… aku tidak sendiri lagi…” gumamnya dengan suara yang sudah seperti orang kerasukan. “Ularku… sekarang punya sarang… HAHAHA!”

Damian yang duduk menyender di sofa, hanya menggeleng pelan melihat kelakuan sahabatnya itu. Juna yang awalnya ikut tertawa, kini mulai memejamkan mata. Maxime dan Nathan sudah tepar sejak lima belas menit lalu, satu tidur di lantai berkarpet, satu lagi dengan kaki menjuntai di lengan sofa.

Theo terus tertawa sambil berkeliling ruangan, memeluk bantal, menepuk-nepuk, lalu tiba-tiba…

Bruk.

Tubuhnya terhuyung dan jatuh ke atas sofa besar di sisi kanan ruangan. Gelas wine lepas dari tangannya, menggelinding pelan hingga berhenti di kaki Damian. Napasnya memburu, lalu tenang… dan akhirnya dengkuran kecil terdengar.

1
Pawon Ana
Theo Theo 😂✌️
ArchaBeryl
Dasar ya Daddy thea gak tau tempat 🤣🤣🤣🤣
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍😍
vj'z tri
Dady nya Thea kah 🤭🤭🤭🤭
vj'z tri
tenang sebelum badai datang🤣🤣🤣🤣
Ros Ani
semangat 💪
ArchaBeryl
lanjutkan kak💪💪
vj'z tri
Lo B2 yg mati 😅😅😅
ArchaBeryl
kak nambah 1 bab lagi dunk
takutnya dak bisa tidur malam ne karna penasaran 🤭🤭🤭
vj'z tri
i love u too Thea sayang 🤧🤧🤧🤧
Bu Dewi
ditunggu kelanjutannya kak🤭🤭🤭🤭
ArchaBeryl
lagi dunk kak
aq bacanya Sampai tahan nafas
seru banget kak💪💪💪
ArchaBeryl: siap kak💪💪
total 2 replies
saljutantaloe
up lagi thor lg seru2nya loh malah di gantung ibarat kata nih ditinggal pas lg sayang2nya nyesek bgt kan hah
Ndha: kk bisa aja🤭🤭
total 1 replies
vj'z tri
amnesia ni bocah ...kalau pasukan nya banyak yang tewas 🤧🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 kata nya suruh pakai otak ,Dady ya pakai otak dan otot 🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
waduh kalau thea tahu maminya diajari tembak-tembak dor dor dor iri dia🤭🤭🤭🤭
ArchaBeryl
Mantap makin seru kak💪💪💪
ayudya
temui orang tua Alisha dan kk nya, minta restu.., pasti mereka mau Terima kamu sebagai menantu apa lagi thea sangat sayang sama kamu.
vj'z tri
😅😅😅😅 sabar mom ini demi keamanan cucu dan menantu kesayangan mu
vj'z tri
ngadepin horang licik ya harus lebih licik lah 🤧🤧🤧🤧
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!