NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Action / Romantis / Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Jian Yi secara tak terduga memperoleh sebuah pedang aneh yang mampu berbicara. Dari pedang itulah ia mempelajari teknik pedang kuno dan jalan kultivasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Saat kekuatannya dianggap cukup, pedang tersebut memerintahkannya untuk mengembara—mencari cara agar sang roh pedang dapat memperoleh wujud fisik.

Maka dimulailah perjalanan Jian Yi sebagai seorang pengembara, melangkah di antara bahaya, rahasia, dan takdir yang perlahan terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Duel Para Pemabuk Gila

​Kedai "Ayam Ceria" itu sebenarnya jauh dari kata ceria.

Bangunannya reyot, mejanya lengket oleh tumpahan minyak bertahun-tahun, dan aromanya merupakan perpaduan antara lemak terbakar dan arak murahan yang baunya mirip cairan pembersih lantai.

​Jian Yi, yang tadinya tampil elegan seperti pangeran dari pegunungan, kini duduk berhadapan dengan Lu Feng.

Di meja mereka sudah berjejer dua puluh kendi arak "Cap Tikus Tanah"—arak paling murah dan paling keras yang bisa ditemukan di wilayah itu.

​"Dengar, Yi... hic... kau mungkin Grand Master dalam urusan pedang," ujar Lu Feng dengan mata yang sudah setengah tertutup dan wajah semerah kepiting rebus. "Tapi dalam urusan minum, kau itu cuma bayi... bayi yang baru lahir dan masih bau kencur!"

​Jian Yi, yang biasanya tenang, kini sudah melepas ikat rambutnya.

Rambutnya berantakan, dan ia menunjuk wajah Lu Feng dengan sumpit. "Kau... kau menghinaku? Aku sudah meditasi di gua dingin selama setahun! Perutku ini sudah ditempa oleh es abadi! Arak sampahmu ini... hic... cuma seperti air tajin!"

​"Jian Yi, berhenti! Kau memalukan! Kau sedang bicara dengan sumpit, bukan Lu Feng!" teriak Ling'er di dalam kepala Jian Yi. Suaranya terdengar sangat frustrasi.

​"Diam kau, Pedang Karat! Hic... Lu Feng, ayo! Siapa yang tumbang duluan, dia harus jadi kuda-kudaan menuju kota berikutnya!" tantang Jian Yi sambil mengangkat kendi araknya tinggi-tinggi.

​"Sepakat!"

​Mereka mulai menenggak arak itu seperti orang kesurupan.

Tak ada lagi sisa-sisa keanggunan pendekar tingkat tinggi.

​Setelah botol ke-lima belas, sifat asli mereka yang absurd mulai keluar.

​Jian Yi tiba-tiba berdiri di atas meja, mengangkat Ling'er (yang masih dalam sarungnya) dan mulai bernyanyi dengan suara yang sangat tidak keruan. "Dunia ini fana... hic... Keluarga Yuan sudah jadi debu... Ling'er gemuk tapi aku rindu..."

​"SIAPA YANG KAU RINDUKAN, BODOH?! TURUNKAN AKU!" Ling'er bergetar hebat hingga meja bergoyang.

​Sementara itu, Lu Feng malah mulai menangis tersedu-sedu sambil memeluk kaki meja. "Meja... kau tahu tidak? Kau adalah teman yang paling setia... Kau tidak pernah mengusirku seperti tetua sekte itu... Kau datar, tapi hatimu keras... aku mencintaimu, Meja..."

​Pelayan kedai yang melihat pemandangan itu hanya bisa bengong.

Dua pria yang auranya terasa sangat kuat ini sekarang terlihat seperti dua orang gila yang lepas dari rumah sakit jiwa.

​"Hei, Lu Feng!" Jian Yi berteriak sambil mencoba melakukan pose bangau di atas meja yang goyang. "Lihat ini! Teknik... Teknik Rahasia... Bangau Mabuk Mencari Alamat!"

​Jian Yi mencoba melompat, tapi karena keseimbangannya sudah hilang total, ia malah terjatuh menimpa Lu Feng.

​"Ouch! Yi... kau berat sekali! Kau pasti diam-diam makan batu di dalam gua itu!" gerutu Lu Feng sambil mencoba bangkit, tapi malah berakhir dengan memutar-mutar capingnya seperti piring terbang. "Lihat! Senjata rahasia baru! Caping Pemotong Langit!"

​Caping itu melayang, mengenai lampu gantung kedai, dan jatuh tepat di atas kepala seekor anjing yang sedang tidur di pojok ruangan.

​"Hahahaha! Anjing itu jadi pendekar caping!" Jian Yi tertawa sampai mengeluarkan air mata, berguling-guling di lantai tanah kedai yang kotor. "Lu Feng... kau benar... ini jauh lebih baik daripada meditasi."

​"Aku ingin pensiun. Aku ingin jadi alat pemotong sayur saja daripada jadi pedang pendekar gila ini." gumam Ling'er pasrah.

​Menjelang tengah malam, kedai itu sudah berantakan.

Jian Yi dan Lu Feng akhirnya tumbang di bawah meja, tidur saling tindih dengan posisi yang sangat aneh.

Jian Yi memeluk kendi kosong seolah itu adalah guling, sementara Lu Feng menggunakan sepatu Jian Yi sebagai bantal.

​Di tengah mabuknya, Jian Yi menggumam kecil, "Coi Gi... Jibo... Tuzhu... aku... aku punya teman baru yang lebih bodoh dari kalian..."

​Esok paginya, mereka pasti akan bangun dengan sakit kepala yang luar biasa, tapi di malam yang absurd itu, Jian Yi benar-benar merasa "hidup" kembali.

1
Dadan Purwandi
mantapppp 🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
gaspolll thorrrrr🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
mantap thorrrrr🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
mantap 🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
mantap ceritanya 🔥🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
hancurkannnnn🔥🔥🔥🔥
angin kelana
dah 7 tahun lg yah...
Agen One: time skip aja/Pray/
total 1 replies
Adibhamad Alshunaybir
mantap author semangat up nya☺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!