NovelToon NovelToon
Kebetulan Menjadi Legenda Murim

Kebetulan Menjadi Legenda Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Fantasi Timur / Epik Petualangan / Antagonis
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Drunk Cats

Geun hanya ingin cepat kaya dan hidup nyaman.

Tapi setiap kebohongan kecil dan pertarungan nekat demi uang justru melahirkan legenda baru.

Saat dunia bela diri mulai menyebutnya monster dan iblis, Geun sendiri hanya sibuk mencari kerja dengan bayaran tinggi.

Geun yang awalnya hanyalah pemuda gelandangan yang ingin hidup bebas dan nyaman, namun tanpa sadar meninggalkan jejak yang mengubah dunia bela diri selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drunk Cats, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab #2: Tujuh Tael

Aroma lemak babi panggang, arak murah, dan keringat laki-laki menyambut Geun begitu ia mendorong pintu kayu Penginapan Awan Merah.

Bagi orang biasa, bau ini mungkin membuat mual. Tapi bagi Geun, ini adalah aroma surga. Ini aroma kehidupan. Ini aroma yang jauh lebih baik daripada bau kematian dan lumpur beku di luar sana.

Penginapan itu ramai. Para pengembara yang terjebak badai, pengawal bayaran yang sedang istirahat, dan pelayan yang berlarian membawa nampan memenuhi ruangan yang hangat itu.

Geun melangkah masuk.

Penampilannya yang seperti bangkai berjalan dengan pakaian linen tipis, rambut kusut masai, dan kulit pucat kebiruan. Seketika membuat beberapa tamu menutup hidung.

Seorang pelayan pria bertubuh besar segera menghadang langkahnya. Wajahnya masam, seolah baru saja menginjak kotoran anjing.

"Oi, gembel," panggilnya kasar. "Dapur umum ada di blok selatan. Di sini tempat orang membayar. Pergi sana sebelum aku patahkan kakimu."

Geun tidak marah. Dia sudah terlalu sering mendengar kalimat itu. Marah hanya buang-buang tenaga, dan tenaga butuh kalori.

Tanpa bicara, Geun merogoh balik bajunya. Dia mengeluarkan satu keping tael perak murni yang dia dapatkan dari murid Qingcheng tadi. Bukan koin tembaga, tapi perak utuh.

Dia melmpar perak itu ke udara, menangkapnya kembali, lalu menatap pelayan itu dengan mata sayu.

"Aku mau meja di sudut yang hangat," suara Geun serak tapi jelas. "Dua porsi babi hongshaorou, satu ayam panggang utuh, nasi satu bakul, dan satu guci kecil arak Cloud Nectar. Aku juga akan menginap seminggu. Sisanya..."

Geun menjentikkan keping perak itu ke dada si pelayan yang bengong.

"...untukmu kalau makanannya datang sebelum aku mati kelaparan."

Wajah pelayan itu berubah lebih cepat daripada cuaca musim semi. Dari jijik menjadi penjilaat ulung dalam hitungan detik. Dia menangkap tael perak itu dengan gerakan akrobatik.

"Tuan Muda! Mata saya memang buta!" Pelayan itu membungkuk dalam-dalam, hampir mencium lantai. "Silakan! Silakan! Meja terbaik di dekat perapian kosong untuk Anda!"

Geun mendengus pelan.

Dia sudah belajar satu hukum mutlak sejak dia bisa berjalan. Manusia mungkin berbohong, tapi uang selalu jujur.

...****************...

Lima belas menit kemudian, meja Geun penuh dengan makanan.

Dia makan seperti serigala yang baru turun gunung. Tidak ada etika, tidak ada tata krama. Dia menyambar potongan daging babi berlemak dengan tangan, memasukkannya ke mulut, lalu mendorongnya dengan segenggam nasi.

Rasanya luar biasa. Lemak gurih meledak di lidahnya, sensasi hangat nasi memenuhi lambungnya yang kosong.

Bahkan setelah menghabiskan mangkuk mie di kedai sebelumnya, perut Geun masih berteriak minta diisi. Tubuhnya yang selama bertahun-tahun hidup dalam kekurangan gizi seolah menjadi lubang tanpa dasar, menyerap setiap nutrisi yang masuk dengan rakus.

Sambil mengunyah paha ayam dengan rakus, mata Geun bergerak menyapu ruangan.

Dunia di hadapannya tidak pernah terlihat sama seperti di mata orang lain.

Di balik kulit, daging, dan pakaian para pelanggan penginapan, Geun melihat sesuatu yang lain. Sebuah aliran-aliran samar seperti uap air berwarna. Ada yang tipis, hampir tak terlihat. Ada pula yang menggumpal, berputar pelan di bagian perut bawah dan lengan.

Itu energi internal. Qi.

Sebagian besar orang hanya mengeluarkan uap pucat yang tipis. Mereka adalah Orang biasa, Buruh, Pedagang, Pemabuk.

Tapi di beberapa meja, terutama yang dipenuhi pria-pria dengan punggung tegap dan napas teratur, uap itu tampak berbeda. Lebih padat. Lebih berat. Seperti aliran air yang stabil dan berputar di bagian perut bawah ke seluruh tubuh.

"Praktisi," pikir Geun singkat.

Dulu, dia mengira semua orang melihat hal yang sama.

Saat masih kecil dan belum menggelandang, dia pernah bertanya pada ibunya kenapa dada paman tetangga `menyala merah` setiap kali marah. Ibunya hanya menamparnya dan menyuruhnya berhenti mengigau.

Butuh waktu bertahun-tahun baginya untuk sadar bahwa penglihatan ini bukan hal umum. Tidak ada orang lain yang menoleh ke arah uap bercahaya itu. Tidak ada yang bereaksi pada aliran yang berubah.

Hanya dia.

Apakah itu bakat? Anugerah surga?

"Puih." Geun meludah tulang ayam ke lantai.

Apa gunanya melihat cahaya warna-warni kalau perutmu lapar? Apa gunanya tahu aliran tenaga orang kalau kau tidak punya uang untuk beli mantel? Bakat ini tidak pernah memberinya makan.

Satu-satunya kegunaannya hanyalah membantunya kabur dari pukulan para preman pasar.

"Tuan Muda, apakah araknya sesuai selera?"

Sebuah suara lembut memecah lamunannya.

Geun mendongak. Di depannya berdiri seorang gadis muda, mungkin seumuran dengannya. Dia memakai pakaian pelayan sederhana, tapi wajahnya bersih dan cukup manis, dengan pipi yang sedikit merona karena panasnya dapur.

Namanya Seo-yun, putri pemilik penginapan. Dia memegang guci arak tambahan dengan ragu-ragu.

Jujur saja, Seo-yun bingung. Tamu di depannya ini berpakaian seperti pengemis paling hina di kota, baunya apek, dan cara makannya menjijikkan. Tapi di meja itu ada makanan seharga tiga minggu gaji pelayan, dan dia membayarnya tunai tanpa menawar.

Geun meletakkan paha ayamnya. Dia bersandar, menatap gadis itu dari atas ke bawah dengan tatapan kurang ajar.

Perutnya sudah kenyang. Sekarang, insting purba keduanya mulai mengambil alih.

"Araknya biasa saja," kata Geun sambil menyeringai, menampilkan gigi-giginya yang masih ada sisa daging. "Tapi pelayannya lumayan menyegarkan mata."

Seo-yun mundur selangkah, risih. "Terima kasih, Tuan. Jika butuh apa-apa lagi..."

"Hei, jangan buru-buru," potong Geun. Dia menuang arak ke cawan, lalu menunjuk kursi kosong di sebelahnya. "Duduklah sebentar. Tuangkan arak untukku. Aku bayar ekstra."

Seo-yun menoleh ke arah meja kasir. Ayahnya, pemilik penginapan, sedang menghitung koin. Melihat putrinya menoleh, si ayah hanya mengangguk tegas, seolah memberi isyarat "Layani dia, uangnya banyak."

Seo-yun menghela napas pasrah. Dia menuangkan arak ke cawan Geun dengan gerakan kaku.

"Kau tegang sekali," goda Geun, meneguk arak itu sekali teguk. Panas arak membakar tenggorokannya, nikmat sekali. "Namamu siapa, Cantik? Berapa harga untuk senyum manis itu?"

"Tuan, tolong jaga sopan santun," kata Seo-yun dingin.

Geun tertawa. "Sopan santun tidak bikin perut kenyang, Nona. Aku punya uang, kau punya arak. Di mana bagian yang tidak sopannya?"

Sebelum Seo-yun sempat membalas, suara gaduh dari meja di sebelah mereka menarik perhatian Geun.

"TUJUH TAEL!"

Teriakan itu begitu keras hingga membuat Geun berhenti menggoda Seo-yun.

1
Riduanmake
bau2 heavenly demon
Noman Me
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!