Dalam dunia bisnis yang kejam, Alara Davina—seorang desainer berbakat—terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Nathan Erlangga, CEO dingin yang menyimpan luka masa lalu. Yang Alara tidak tahu, wanita yang selama ini ia anggap sahabat—Kiara Anjani—adalah cinta pertama Nathan yang kembali untuk merebut segalanya.
Ketika pengkhianatan datang dari orang terdekat, air mata menjadi teman, dan hati yang rapuh harus memilih. Bertahan dalam cinta yang menyakitkan, atau pergi dengan luka yang tak pernah sembuh.
*Cinta sejati bukan tentang siapa yang datang pertama, tapi siapa yang bertahan hingga akhir.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nathan dan Mahira Semakin Dekat
Seminggu setelah pertengkaran dengan Layvin, Naura coba hidup normal. Gak memikirkan warning dari Layvin. Tapi dunia seolah konspirasi, buat hancurin Naura pelan-pelan.
Hari Kamis sore, ponsel Naura ga berhenti bunyi. Notifikasi dari sosmed, dari grup WhatsApp arisan ibu ibu yang Naura ikutin atas suruhan Richard biar keliatan sosialisasi.
Naura buka Instagram dengan perasaan gak enak, timeline dia penuh dengan satu postingan yang di share berulang ulang.
Foto Nathan dan Mahira.
Di sebuah restoran mewah, duduk berhadapan dengan lilin di tengah meja, Mahira senyum lebar sambil pegang gelas wine, Nathan juga senyum, senyum yang jarang banget Naura liat.
Caption di foto itu: 'CEO Erlangga Group tertangkap kamera lagi dinner romantis sama wanita misterius, bukan istrinya loh! Ada apa nih?'
Jantung Naura berhenti, tangannya gemetar pegang ponsel. Scroll ke bawah, ada foto lain. Nathan dan Mahira jalan di mall, Mahira pegangan lengan Nathan, Nathan gak nolak.
Foto lain lagi, mereka keluar dari bioskop, ketawa bareng. Foto lain, di kafe, Mahira nyuapin Nathan kue, Nathan buka mulut terima suapan itu sambil senyum.
Setiap foto kayak pisau yang nusuk jantung Naura berkali kali. Comment di bawah postingan makin kejam.
"Kasian istrinya, baru nikah udah diselingkuhin."
"Mungkin istrinya ga bisa puasin dia makanya cari yang lain."
"Wanita yang di foto cantik sih, pantas aja CEO nya suka."
"Istrinya tau gak ya suaminya selingkuh?"
Naura nutup Instagram dengan tangan gemetar keras, napasnya sesak, dadanya sakit banget.
Nathan dan Mahira, mereka jalan bareng, makan bareng, bahkan nonton bareng. Udah kayak pasangan beneran
Sementara Naura di rumah sendirian, nunggu suami yang ga pernah pulang. Air mata Naura jatuh, tapi dia usap cepet.
Naura kirim pesan ke Nathan.
...💌...
Naura: Kita harus ngobrol, penting!
Gak ada balasan, Naura nelpon tapi gak diangkat. Hingga pada jam tujuh malem, Nathan akhirnya membalas pesan.
^^^Nathan: Aku lagi di luar, ada apa?^^^
Naura mengetik balasan lagi.
Naura: Aku liat foto kamu sama Mahira di sosmed, apa itu benar?
Nathan kembali membalas, namun singkat.
^^^Nathan: Nanti kita ngobrol di rumah.^^^
Cuma itu balasan Nathan, gak ada penjelasan apapun lagi. Naura nungguin Nathan pulang dengan perasaan campur aduk, marah, sedih, kecewa, semua jadi satu.
Jam sepuluh malem Nathan masuk rumah, Naura udah duduk di ruang tamu, nungguin.
Nathan liat Naura, ekspresinya datar kayak biasa. "Kamu belum tidur?"
"Gimana aku bisa tidur?" Naura berdiri, tangannya gemetar "Kamu jelasin dulu soal foto foto itu."
Nathan melepas jasnya, duduk di sofa seberang Naura dengan santai, terlalu santai buat situasi kayak gini. "Foto apa?"
"JANGAN PURA PURA GAK TAU NATHAN!" Naura berteriak, emosinya udah mentok "Foto kamu sama Mahira! di sosmed! semua orang liat!"
"Oh itu," Nathan ngusap wajahnya. "Itu cuma temen lama jalan bareng, gak ada yang salah."
"Temen lama?" Naura tertawa pahit. "Temen lama yang kamu peluk? Yang kamu suapin? yang kamu ajakin dinner romantis?"
"Naura kamu terlalu overreact."
"OVERREACT?!" Naura ga percaya Nathan bisa setenang ini. "Suamiku ketangkap kamera, jalan mesra sama wanita lain, semua orang ngomongin, dan kamu bilang aku overreact?!"
Nathan menatap Naura dengan tatapan dingin. "Aku dan Mahira emang deket, aku ga pernah sembunyiin itu, dia temen lama aku, mantan aku, dan aku masih peduli sama dia."
Mantan aku.
Kata-kata itu keluar dari mulut Nathan dengan gampang banget. Tanpa rasa bersalah, tanpa ngerasa ada yang salah.
"Kamu masih cinta dia kan?" Naura bertanya dengan suara gemetar.
Nathan diam dan gak jawab, tapi diamnya udah jadi jawaban.
"Jawab aku Nathan," Naura nangis. "Kamu masih cinta sama Mahira?"
Nathan menatap Naura lama, ada sesuatu di matanya, penyesalan? atau apa? tapi cuma sebentar sebelum dia kembali dingin.
"Iya," dia bilang pelan tapi jelas "Aku masih cinta dia, aku ga pernah berhenti cinta dia."
Dunia Naura runtuh, berantakan, hancur total. Nathan mengaku masih mencintai Mahira. Di depan istrinya sendiri.
"Terus aku apa?" Naura berbisik, air matanya ngalir deras. "Terus pernikahan kita apa?"
"Kontrak, Naura," Nathan berdiri. "Cuma kontrak, aku udah bilang dari awal, jangan berharap lebih, jangan jatuh cinta, karena aku ga akan bisa bales."
"Tapi aku udah jatuh cinta," Naura nangis keras. "Aku udah cinta sama kamu Nathan, aku ga bisa kontrol, aku coba tapi ga bisa."
Nathan menggeleng, "Itu bukan salah aku Naura, aku udah warning dari awal."
"DAN AKU HAMIL!" Naura akhirnya berteriak, ngeluarin rahasia yang dia simpen berhari hari. "AKU HAMIL ANAK KAMU NATHAN!"
Hening.
Nathan membeku, matanya melebar.
"Apa?"
"Aku hamil," Naura terisak. "Delapan minggu, anak kamu, anak kita."
Nathan mundur selangkah, tangannya ngusap wajah kasar. "Tidak. Tidak mungkin, kita gak pernah..."
"Kamu lupa Nathan? satu bulan setengah yang lalu? kamu pulang mabok? kamu pikir aku itu Mahira, dan kamu..." Naura gak bisa nerusin, terlalu malu, terlalu sakit.
Nathan ingat malam itu. Malam dimana dia mabok berat gara gara frustasi, malam dimana semuanya kabur.
"A-aku gak inget," Nathan duduk lagi, kepalanya ditundukkan. "Aku gak tau."
"Sekarang kamu tau." Naura ngelap air matanya. "Dan aku mau kamu tau, aku akan tetep melahirkan bayi ini, mau kamu suka atau ga, aku ga akan aborsi."
Nathan menatap Naura dengan pandangan complicated. "Naura, ini gak seharusnya terjadi, ini di luar kontrak."
"AKU TAU!" Naura berteriak. "Tapi ini udah terjadi! bayi ini ada! dan bayi ini anak kamu mau kamu terima atau ga!"
Nathan berdiri, jalan mondar mandir, napasnya berat.
"Aku butuh waktu buat mikir," dia akhirnya bilang.
"Mikir apa?!" Naura berdiri juga. "Mikir mau tanggung jawab atau ninggalin aku dan anak kamu?!"
"NAURA AKU BILANG AKU BUTUH WAKTU!" Nathan berteriak balik.
Mereka berdua diem, napasnya tersengal. Nathan ngambil kunci mobil. "Aku keluar dulu, aku ga bisa mikir jernih di sini."
"Nathan, tunggu."
Tapi Nathan udah jalan keluar, pintu dibanting keras. Ninggalin Naura yang jatuh berlutut di lantai, nangis sambil memeluk perutnya.
"Maafkan mama, Sayang," dia berbisik sambil terisak. "Mama gak bisa kasih keluarga utuh buat kamu, papa kamu gak cinta sama mama."
***
Yang Naura gam tau, Nathan gak pulang ke kantor atau ke apartemen. Nathan pergi ke hotel bintang lima di pusat kota.
Di kamar 2105, Mahira udah nungguin di sana. Dengan lingerie merah yang transparan, rambut terurai, makeup yang bikin dia keliatan seperti dewi. Nathan masuk kamar dengan wajah berantakan, mata merah, napas berat.
"Nathan, Sayang." Mahira langsung peluk dia "Kenapa? ada apa?"
Nathan meluk Mahira balik, erat banget, kayak lagi pegang tali penyelamat.
"Naura, dia hamil." Nathan berbisik
Mahira kaku sebentar.
Tapi cepet dia ganti jadi ekspresi shock yang sempurna. "Apa! dia hamil?"
"Iya, dia hamil dua bulan."
Mahira melepas pelukan, menatap Nathan dengan mata berkaca kaca. "Terus gimana kita, Nathan? Hubungan kita gimana?"
"Aku gak tau," Nathan mengusap wajahnya frustasi "Aku gak tau harus gimana, ini di luar rencana, dan ini gak seharusnya terjadi."
Mahira mengecup bibir Nathan pelan, "Nathan, liat aku."
Nathan menatap Mahira.
"Kamu mencintai siapa?" Mahira bertanya lembut.
"Kamu," Nathan jawab tanpa ragu.
"Kamu mau sama siapa?"
"Kamu."
"Kamu mau masa depan sama siapa?"
"Kamu, Mahira. Cuma kamu," Nathan narik Mahira ke pelukannya lagi. "Aku cuma mau kamu."
Mahira senyum tipis, senyum kemenangan yang Nathan ga liat karena wajah Mahira di dada Nathan.
"Kalo gitu..." Mahira berbisik sambil tangannya mulai buka kancing kemeja Nathan satu persatu. "Lupain dia malam ini, lupain semua masalah, dan fokus sama aku aja."
Nathan gak nolak, tangannya mulai mengelus punggung Mahira yang telanjang karena lingerienya backless.
Mahira mengecup leher Nathan, perlahan naik ke rahang, ke pipi, ke bibir. Nathan bales ciumannya dengan lapar, agresif, kayak lagi nyari pelarian dari semua masalahnya.
Mereka berjalan ke ranjang sambil tetap berciuman, Nathan menyingkirkan lingerie Mahira, kain merah itu jatuh ke lantai.
Mahira telanjang sekarang, tubuhnya sempurna, kulitnya mulus, semuanya yang Nathan inget dari lima tahun lalu. Nathan rebahkan Mahira di ranjang, tubuhnya numpuk di atas Mahira.
"Aku kangen kamu," Nathan berbisik di telinga Mahira. "Kangen banget."
"Aku juga kangen kamu, Sayang," Mahira mengelus rambut Nathan. "Tunjukan seberapa kangennya kamu."
Nathan gak butuh diminta dua kali, tangannya menyusuri tubuh Mahira, dari leher turun ke dada, meremas lembut, Mahira mendesah pelan.
Bibir Nathan turun ke dada Mahira, menciumi, mengecup, sementara tangannya turun lebih ke bawah, menyentuh bagian paling sensitive Mahira.
"Ahhh Nathan," Mahira mendesah lebih keras, tangannya mencengkram sprei.
Nathan terus eksplorasi tubuh Mahira, bibirnya turun ke perut, ke paha, Mahira menggeliat keenakan.
"Nathan, please," Mahira memohon. "Aku gak tahan."
Nathan naik lagi, melepas celananya sendiri, memposisikan dirinya. Dan dalam satu gerakan, Nathan masuk ke dalam Mahira.
"AHHH!" Mahira berteriak keenakan, punggungnya melengking.
Nathan bergerak, pelan di awal, lalu makin cepat, makin keras. Mahira terus mendesah, tangannya mencakar punggung Nathan, kakinya melingkar di pinggang Nathan.
"Lebih cepat Nathan, ahhh.. lebih dalam..." Mahira meminta
Nathan menuruti, gerakannya makin liar, makin tidak terkontrol. Ranjang berderit keras, headboard memukul dinding berulang kali.
Mahira menjerit keenakan berkali kali, Nathan menggeram, napasnya berat di leher Mahira. Mereka bergerak bersama dalam ritme yang sempurna, tubuh mereka berkeringat, suara desahan dan erangan memenuhi kamar.
"Nathan, aku.. aku mau..." Mahira berbisik terengah.
"Bareng, kita keluarkan bareng, Sayang." Nathan bisik balik.
Beberapa detik kemudian mereka berdua klimaks bersamaan, Mahira menjerit nama Nathan, Nathan menggerang keras.
Nathan kolaps di atas tubuh Mahira, napas mereka sama-sama tersengal. Mereka berbaring seperti itu beberapa menit, Nathan masih di dalam Mahira, pelukan mereka erat.
"Aku cinta sama kamu," Nathan berbisik
"Aku juga cinta kamu Nathan," Mahira ngecup kepala Nathan. "Dan apapun yang terjadi, kita akan tetep bersama kan?"
"Iya, apapun yang terjadi."
Mereka tertidur seperti itu, tubuh masih menyatu, pelukan masih erat.
***
Sementara itu di mansion, Naura masih nangis di kamar mandi. Duduk di lantai keramik yang dingin, memeluk lututnya, air mata gak berhenti ngalir.
Ponselnya berbunyi, pesan masuk dari nomor gam dikenal.
Sebuah foto. Foto Nathan masuk ke hotel, jam nya nunjukin satu jam yang lalu. Foto lain, Mahira di lobby hotel yang sama, setengah jam sebelum Nathan.
Terus video pendek, suara desahan dari dalam kamar, suara yang Naura kenal, suara Nathan yang menggerang.
Naura langsung muntah di toilet, sampai gk ada yang keluar lagi. Suaminya yang baru dia kasih tau, bahwa dia hamil. Dia langsung lari ke pelukan wanita lain.
Berhubungan badan sama wanita lain, di malam yang sama. Naura memeluk toilet sambil nangis.
"Maafkan mama, Sayang." dia berbisik ke perutnya. "Papa kamu jahat, papa kamu gak sayang sama kita."
Dan malam itu Naura tidur di lantai kamar mandi yang dingin, sendirian, dengan hati yang udah ga bisa lebih hancur lagi.
Sementara Nathan tidur di pelukan Mahira, melupakan istri dan calon anaknya. Melupakan tanggung jawab, dan segalanya demi wanita yang dia cinta.
Wanita yang lagi menyusun rencana, buat menghancurkan segalanya. Termasuk bayi yang gak bersalah di perut Naura.
ada laki2 lain yg perhatian dn menjaga,kenapa gk sm laki2 itu
lagian nathan jg selingkuh lbh baik naura pergi menjauh dari nathan.
daripd sakit hati tiap hari.
suami yg blm lepas dr masa lalunya gk akn percaya sm omongan istri sah nya.
buat apa tetap cinta dn bertahan.
pergi,cari kebahagiaanmu bersama anakmu sj