Raska dikenal sebagai pangeran sekolah, tampan, kaya, dan sempurna di mata dunia. Tak ada yang tahu, pendekatannya pada Elvara, gadis seratus kilo yang kerap diremehkan, berawal dari sebuah taruhan keji demi harta keluarga.
Namun kedekatan itu berubah menjadi ketertarikan yang berbahaya, mengguncang batas antara permainan dan perasaan.
Satu malam yang tak seharusnya terjadi mengikat mereka dalam pernikahan rahasia. Saat Raska mulai merasakan kenyamanan yang tak seharusnya ia miliki, kebenaran justru menghantam Elvara tanpa ampun. Ia pergi, membawa luka, harga diri, dan hati yang hancur.
Tahun berlalu. Elvara kembali sebagai wanita berbeda, langsing, cantik, memesona, dengan identitas baru yang sengaja disembunyikan. Raska tak mengenalinya, tapi tubuhnya mengingat, jantungnya bereaksi, dan hasrat lama kembali membara.
Mampukah Raska merebut kembali wanita yang pernah ia lukai?
Atau Elvara akan terus berlari dari cinta yang datang terlambat… namun tak pernah benar-benar pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Wilayah yang Tak Pernah Ia Pelajari
Tak lama setelah Elda meninggalkan ruang tamu, langkah kecil terdengar tergesa.
“Papa!”
Rava muncul dari arah ruang tengah, wajahnya berseri-seri, rambutnya sedikit berantakan karena terlalu banyak bergerak.
Tanpa ragu, ia berhenti tepat di depan Raska, menengadah dengan mata berbinar, seolah membawa seluruh dunia di sana. Mata yang kini punya tempat bergantung.
“Kata Papa mau main sama aku,” katanya menagih. Polos, namun penuh harap. "You remember, right? Papa nggak lupa, 'kan?”
Raska tersenyum tipis. Senyum yang masih canggung, tapi tulus. “Enggak,” jawabnya. “Papa ingat.” “Mau main apa?” tanyanya lembut.
Rava terdiam sejenak, seolah berpikir. “Do you have any ideas?" Rava menatapnya sungguh-sungguh. “Anak dan ayah biasanya main apa?”
Raska terdiam.
Kalimat itu sederhana. Tapi menghantam seperti peluru, langsung ke dada, tanpa sempat ia siapkan pertahanan.
Ia terbiasa merencanakan operasi, strategi, medan tempur. Tapi ini… ini wilayah yang tak pernah ia pelajari.
“Apa yang Rava mau?” tanyanya akhirnya.
Alis kecilnya berkerut. Bocah itu menunduk sebentar, seolah benar-benar berpikir keras. Lalu suaranya keluar lebih pelan dari biasanya.
“Mommy sibuk di hospital,” lanjut Rava jujur. “Nenek capek ngurus rumah dan aku. Uncle Adrian juga sibuk di hospital.”
Nama itu.
Uncle Adrian.
Raska menegang tanpa sadar.
Namun wajahnya tetap tenang. Tidak berubah. Tidak menunjukkan apa pun.
Rava tidak menyadari perubahan itu. Ia masih melanjutkan dengan nada polos yang sama, sama sekali tak bermaksud menyakiti.
“Jadi… gimana kalau Papa ajak aku jalan-jalan?”
Raska menelan ludah.
Ada rasa asing yang menggesek dadanya. Bukan marah, bukan cemburu sepenuhnya. Lebih seperti kesadaran pahit bahwa selama ini, tempat itu diisi orang lain. Bukan karena ia tak mau… tapi karena ia tak pernah ada.
Ia menarik napas pelan.
Lalu mengangguk.
“Boleh,” katanya, disertai senyum kecil yang kembali muncul. “Tapi Rava pamit dulu sama nenek.”
Mata Rava langsung membulat. Wajahnya bersinar.
“Yeay!” Rava bersorak kecil. Ia melompat di tempat. “Papa memang very nice! The best!”
Pujian itu sederhana. Namun rasanya lebih membahagiakan daripada apresiasi apa pun yang pernah ia terima setelah misi berakhir dengan sukses.
Rava langsung berlari pergi, langkah kakinya ringan, suaranya menggema di dalam rumah. Tak lama kemudian, bocah itu kembali dengan sepatu sudah terpasang, wajahnya penuh kemenangan.
Tak butuh waktu lama. Ayah dan anak itu keluar dari rumah.
Raska menggandeng tangan kecil Rava. Gerakan itu masih terasa asing baginya, tapi jari-jari kecil itu mencengkeram balik dengan percaya penuh, seolah berkata, jangan pergi lagi.
Ia membukakan pintu mobil, membantu Rava duduk di kursi samping. Mengaitkan sabuk pengaman dengan hati-hati, terlalu hati-hati, seperti takut salah satu gerakan bisa melukai sesuatu yang rapuh dan berharga.
Tak lama kemudian, mobil hitam itu melaju pelan, meninggalkan pekarangan rumah.
Dari balik jendela, Elda berdiri diam.
Ia melihat punggung Raska yang tegap. Melihat mobil itu menjauh. Dan lebih dari segalanya, ia melihat senyum cucunya. Mendengar tawa kecil yang jarang terdengar selega itu.
Elda menghela napas panjang.
“Semoga kalian belajar berpikir dewasa,” gumamnya lirih. “Demi masa depan bocah itu.”
Bukan doa yang diucapkan keras. Tapi doa seorang nenek yang sudah terlalu sering kehilangan,
dan tak ingin kehilangan lagi.
Bukan karena ego. Bukan karena masa lalu. Melainkan karena orang-orang dewasa sering lupa,
bahwa ada seorang anak kecil
yang hidupnya ikut dipertaruhkan.
***
Mereka tidak pergi ke tempat mewah.
Bukan mal besar. Bukan wahana bermain. Hanya taman kecil di ujung jalan.
Raska duduk di bangku kayu, sementara Rava berlari-lari mengejar burung merpati, tertawa keras tanpa beban.
“Papa look!” serunya. “Burungnya kabur!”
Raska tertawa kecil. Suara yang jarang sekali keluar dari dirinya.
Mereka mampir ke minimarket.
Rava memilih es krim dengan serius, seolah itu keputusan hidup dan mati.
“This one,” katanya mantap. Ia menunjuk es krim rasa coklat.
Es krim menetes di jari kecilnya. Raska refleks mengelapnya dengan tisu, gerakan canggung tapi penuh perhatian.
“Papa nggak pernah makan es krim?” tanya Rava.
“Jarang,” jawab Raska.
“Sayang,” kata Rava polos. “Nanti kita sering-sering beli, ya.”
Sering-sering.
Kata itu menetap lama di dada Raska.
Saat matahari mulai naik tinggi dan perut kecil itu mulai berbunyi, Raska menunduk sedikit.
“Lapar?”
Rava mengangguk cepat. “Banget.”
Raska tersenyum.
“Kalau begitu… Papa ajak makan siang.”
Mobil kembali melaju. Menuju restoran milik Raska.
Bukan untuk pamer. Bukan untuk menunjukkan siapa dia. Melainkan karena untuk pertama kalinya, ia ingin makan siang… sebagai seorang ayah.
***
Pintu restoran terbuka.
Langkah Raska masuk tenang, tegap, tanpa tergesa. Di sisi kirinya, tangan kecil Rava menggenggam jarinya erat, seolah takut dilepaskan.
Beberapa karyawan yang berada di area depan spontan menunduk hormat.
“Pak.”
“Selamat siang, Pak.”
Raska hanya mengangguk singkat.
Namun mata mereka, tanpa bisa dicegah, melirik ke satu titik yang sama.
Bocah di sampingnya.
Montok. Bersih. Rambut gelap rapi disisir seadanya. Wajah kecil itu… terlalu mirip.
Garis rahang. Hidung. Bahkan cara berjalan setengah melompat.
Miniatur Raska versi lima tahun.
Tak satu pun berani berkomentar. Aura Raska terlalu kuat untuk dilanggar. Tapi rasa terkejut itu tak bisa disembunyikan sepenuhnya.
Raska tak peduli.
Ia menggandeng Rava masuk ke ruang VIP.
Begitu pintu tertutup, suasana berubah lebih hangat. Lebih sunyi.
Raska menarik kursi, memastikan Rava duduk nyaman, lalu duduk di hadapannya.
“Mau makan apa?” tanyanya.
Rava langsung membuka menu dengan mata berbinar.
“Lobster. I like it,” katanya mantap. Lalu menambahkan dengan dahi berkerut, “Tapi aku nggak bisa kupas.”
Raska tersenyum kecil. “Papa yang kupaskan.”
Mata Rava membesar. “Really?”
“Iya.”
Senyum itu langsung merekah. Bangga. Bahagia. Seolah baru saja mendapatkan hadiah paling mahal di dunia.
Sambil menunggu pesanan, Raska bersandar sedikit. “Kamu suka apa lagi?” tanyanya.
Rava menghitung dengan jari. “Es krim. Cokelat. Nugget. But, aku nggak suka sayur hijau.”
“Kenapa?”
“Rasanya pahit” jawabnya jujur.
Raska terkekeh pelan. Suara yang jarang keluar dari dirinya.
“Minum?”
“Milk. But Mommy bilang jangan kebanyakan.”
Raska mengangguk, mencatat semuanya dalam hati. Seperti tentara yang akhirnya menemukan misi paling penting dalam hidupnya.
Pesanan datang. Lobster besar diletakkan di meja.
Rava menatapnya dengan takjub.
“Wow…”
Tanpa bicara, Raska mulai mengupas cangkangnya. Gerakannya rapi. Teliti. Tidak terburu-buru. Ia meletakkan potongan daging putih itu ke piring kecil Rava.
“Pelan-pelan,” katanya.
Rava makan dengan lahap. Sedikit cemong. Saus menempel di sudut bibirnya.
Tanpa sadar, Raska mengulurkan tangan. Mengusap sudut bibir kecil itu dengan ibu jarinya.
Gerakan sederhana.
Namun Rava mendadak berhenti mengunyah.
Ia menatap Raska.
...🔸🔸🔸...
...“Ia menguasai medan perang, tapi gugur oleh satu pertanyaan sederhana dari anaknya.”...
...“Menjadi ayah bukan tentang keberanian di medan perang, tapi tentang hadir, saat dibutuhkan.”...
...“Ia tak pernah takut peluru, tapi satu kalimat polos hampir merobohkan dadanya.”...
...*Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Jadi ingat Bianto - tak ada celah untuk menggagalkan pernikahan Raska dengan Elvara.
Bisa jadi berhadapan dengan Prakosa - orang yang menjaga keselamatan Elvara dan keluarganya.
Raska dan Jovi mendapat pujian dari Prakoso.
Raska berterima kasih pada Jovi.
Adrian berterima kasih pada Raska dan Jovi. Raska tak menjabat tangan Adrian ??
Elvara berterima kasih pada Jovi. Jovi malah melenceng menjawabnya - kena tegur Raska .
Malah nambah bicara map hitam nih Jovi /Facepalm/. Raska menstop Jovi yang banyak bicara. tapi Jovi masih ingin bicara sama Elvara /Facepalm/
😄😄😄😄😄😄😄
Kerja bagus Elvara, kerja bagus Adrian - kedua dokter ini bisa ajah bergerak melawan tanpa suara.
Jovi dan Raska langsung bergerak cepat - habisi musuh tak bersisa.
Naluri bawah sadar seorang anak terkoneksi atas apa yang terjadi pada kedua orang tuanya. Rava bisa tidur tenang ketika di tempat yang berbeda, kedua orang tuanya sudah aman.
Ketua menghentikan pertarungan.
Elvara dan Adrian di bawa keluar. Waduh Adrian dibanting ke lantai.
Lawannya secara kuantitas tak seimbang, tapi secara kualitas - Raska dan Jovi bisa mengimbangi serangan dari mereka.
Ketua dengan bahu terluka menahan sakit, tangan yang satunya memegang pistol.
Raska lebih dulu menyerbu sebelum ketua menembak.
Ketua sudah sakit bahunya ditambah hantaman dari Raska.
Raska juga dihantam tengkuknya oleh musuh. Dengan sekuat tenaga Raska melawan dua orang yang menyerbu bersamaan.