NovelToon NovelToon
CINTA DI UJUNG DOA

CINTA DI UJUNG DOA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / CEO / Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Cintapertama
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Dukungan dari Saudara

#

Tiga hari.

Tiga hari Arkan ngurung diri di apartemen. Nggak keluar. Nggak makan bener. Cuma baca Alkitab sama Quran bergantian—nyoba cari jawaban yang... yang entah ada atau nggak.

Kepalanya pusing. Matanya perih. Hatinya... hancur.

"Kenapa... kenapa aku nggak bisa nemuin jawabannya?"

Dia lempar buku ke lantai. Frustasi. Napasnya ngos-ngosan.

TOK TOK TOK.

Ketukan pintu. Keras. Berkali-kali.

"Arkan! Arkan buka pintunya! Aku tau kamu di dalem!"

Suara perempuan. Suara yang... yang familiar.

Arkan buka pintu. Dan...

Alisha. Kakak nya. Berdiri di sana pake celana hitam, kaos putih santai, jaket kulit coklat. Rambut panjangnya digerai. Wajahnya... khawatir.

"Kakak... kenapa... kenapa Kakak disini?"

"Papa yang kasih tau. Papa bilang kamu lagi nggak baik-baik aja." Alisha masuk tanpa diundang. Natap apartemen yang berantakan—baju berserakan, piring kotor numpuk, buku-buku bertebaran. "Ya ampun Arkan... kamu hidup kayak orang gelandangan!"

"Kakak... aku... aku lagi nggak mood beresin—"

"Duduk." Alisha nunjuk sofa. Nada komando. Kayak dokter lagi ngomong sama pasien.

Arkan duduk. Alisha duduk di sebelahnya.

"Sekarang cerita. Cerita semuanya. Dari awal. Jangan ada yang disembunyiin."

Dan Arkan cerita. Semuanya. Dari ketemu Zahra, jatuh cinta, konflik sama Mama, sampai sekarang dia bingung soal agama.

Alisha dengerin tanpa interupsi. Sesekali ngangguk. Sesekali ngerutkan dahi.

"...jadi sekarang... Zahra minta kamu masuk Islam. Tapi kamu masih ragu. Dan Mama ngancam mau cabut kamu dari ahli waris. Gitu?"

"Iya, Kak. Dan aku... aku nggak tau harus gimana. Aku... aku cinta Zahra. Tapi aku juga... aku juga masih percaya sama Yesus. Aku... aku nggak bisa milih."

Alisha diam lama. Natap Arkan serius.

"Arkan, Kakak mau tanya satu hal. Kamu cinta Zahra karena dia muslimah? Atau karena dia Zahra?"

"Karena dia Zahra. Agamanya... agamanya nggak penting buat aku—"

"Salah." Alisha potong. "Agamanya penting. Buat dia. Dan harusnya... harusnya penting juga buat kamu."

Arkan diem.

"Arkan, dengerin Kakak. Cinta itu nggak cukup buat bikin hubungan bertahan. Apalagi kalau beda keyakinan. Kalau kamu tetep Kristen... dan Zahra tetep muslim... kalian nggak akan bahagia. Karena... karena selalu ada tembok invisible yang... yang bakal pisahin kalian. Tembok keyakinan."

"Tapi Kak... aku nggak bisa tiba-tiba masuk Islam kalau... kalau aku belum yakin..."

"Kakak nggak bilang kamu harus langsung masuk Islam. Kakak cuma bilang... kamu harus serius cari jawaban. Bukan cuma baca buku. Tapi... tapi tanya langsung ke ahlinya. Pergi ke ustadz. Pergi ke pendeta. Tanya. Debat. Cari tau. Sampai kamu beneran yakin."

"Kakak... Kakak nggak marah aku mikirin masuk Islam?"

Alisha senyum. Senyum yang hangat. "Arkan, Kakak dokter. Kakak udah liat banyak orang dari berbagai agama. Dan Kakak belajar satu hal... agama itu bukan soal siapa yang bener atau salah. Agama itu soal... soal apa yang bikin kamu tenang. Apa yang bikin kamu percaya ada Tuhan yang jagain kamu. Dan kalau... kalau Islam itu yang bikin kamu tenang... Kakak nggak akan larang."

Arkan nangis. "Kakak... makasih... makasih udah nggak ngehakimin aku..."

"Kakak nggak akan ngehakimin. Tapi Kakak juga nggak akan biarkan kamu ambil keputusan gegabah. Kamu harus... harus bener-bener yakin. Karena kalau kamu salah... kamu bakal nyesel seumur hidup."

"Aku tau, Kak. Makanya... makanya aku bingung..."

Alisha pegang bahu Arkan. "Arkan, Kakak mau kamu lakukan satu hal."

"Apa?"

"Temuin Zahra lagi. Ngobrol sama dia. Tanya dia... tanya dia kenapa dia begitu yakin sama Islam. Kenapa dia... dia rela ngelepas kamu demi agamanya. Mungkin... mungkin dari dia... kamu bisa nemuin jawaban."

"Tapi dia... dia bilang dia nggak mau ketemu aku dulu..."

"Kamu tetep harus coba. Karena... karena cinta kalian nggak akan selesai kalau kalian terus ngindarin satu sama lain."

Arkan diem. Mikir.

"...oke, Kak. Aku... aku bakal coba."

"Bagus." Alisha berdiri. "Sekarang beresin apartemen ini. Mandi. Makan yang bener. Kamu kelihatan kayak mayak hidup."

Arkan ketawa. Pertama kalinya dalam tiga hari ini. "Iya, Kak. Makasih ya..."

"Sama-sama. Oh iya, satu lagi."

"Apa?"

"Kakak pengen ketemu Zahra. Secara langsung."

Arkan kaget. "Hah? Kenapa?"

"Karena Kakak pengen tau... tau gimana cewek yang bisa bikin adik Kakak segila ini." Alisha senyum. "Dan... dan Kakak pengen tau... apa dia beneran tulus. Atau... atau dia cuma manfaatin kamu."

"Kak, Zahra nggak kayak gitu—"

"Kakak tau. Tapi Kakak tetep mau ketemu dia. Secara diam-diam. Tanpa kamu. Biar... biar Kakak bisa ngobrol sama dia woman to woman."

"Tapi... tapi gimana Kakak tau alamatnya?"

Alisha senyum nakal. "Kakak punya cara."

---

Malem itu, setelah Arkan tidur—capek setelah beresin apartemen—Alisha duduk di sofa sambil buka laptop. Jari-jarinya ngetik cepet di keyboard.

Dia buka aplikasi pelacak lokasi—aplikasi yang dia install diam-diam di telepon genggam Arkan pas dia masih tinggal di rumah. Dulu buat jagain adiknya. Sekarang... sekarang buat hal lain.

"Oke... terakhir kali Arkan ke lokasi ini..." Dia zoom peta. "Kampung... daerah Tanah Abang... gang sempit... kontrakan..."

Dia catat alamatnya. Terus buka aplikasi pesan Arkan—yang dia tau kode kuncinya karena Arkan pernah bilang pas mereka masih deket.

Scroll percakapan. Cari nama Zahra.

Ketemu.

**Zahra Amanda**

Dia baca semua percakapan mereka. Dari awal sampe akhir. Dan... dan hatinya nyesek.

"Ya ampun... ini cinta yang... yang beneran tulus..."

Dia baca pesan terakhir dari Zahra:

*"Mas, maaf. Zahra... Zahra butuh waktu sendiri. Zahra nggak mau Mas tertekan. Zahra sayang Mas. Tapi... tapi Zahra juga sayang sama agama Zahra. Maaf."*

Alisha lap mata yang berkaca-kaca. "Cewek ini... cewek ini beneran cinta adik ku..."

Dia tulis alamat lengkap di notes telepon genggam. Terus tutup laptop.

"Besok. Besok aku ketemu dia. Dan aku... aku akan tau... apa dia layak buat adik ku."

---

Besok sore, Alisha nyetir sendiri ke kampung tempat Zahra tinggal. Dia parkir mobil di pinggir jalan—karena nggak bisa masuk gang yang sempit.

Jalan kaki masuk gang. Gang becek. Bau got. Dinding tembok penuh coretan. Rumah-rumah kecil berjejer rapat.

"Ya ampun... Zahra tinggal di tempat kayak gini?"

Hatinya nyesek. Campuran kasihan sama... sama kagum. Kagum ada cewek yang bisa bertahan hidup di tempat kayak gini.

Dia nanya ke ibu-ibu yang lagi nyuci di depan rumah. "Permisi, Bu. Saya cari rumah Zahra Amanda. Tau nggak dimana?"

"Oh, Zahra? Itu di ujung gang. Yang atapnya seng. Pintunya biru kusam."

"Makasih, Bu."

Alisha jalan ke ujung gang. Ketemu rumah kontrakan yang dimaksud. Kecil. Sempit. Cat pintu udah ngelupas. Atap seng berkarat.

Dia ketuk pintu. Pelan.

TOK TOK TOK.

"Sebentar!"

Suara perempuan. Lembut tapi... tapi capek.

Pintu kebuka. Dan...

Zahra. Berdiri di sana pake daster pink pudar, hijab coklat yang udah tipis. Wajahnya pucat. Mata cekung. Kurus. Kayak... kayak orang yang nggak makan berhari-hari.

"Iya? Cari siapa?"

Alisha senyum. "Zahra Amanda?"

"Iya. Saya. Ada apa ya?"

"Perkenalkan, saya Alisha. Alisha Natasha Wijaya. Kakak Arkan."

Zahra diam. Matanya melebar. Shock.

"K-kakak... Kakak Arkan?"

"Iya. Boleh aku masuk? Aku... aku mau ngobrol sama kamu. Sebentar aja."

Zahra ragu. Tapi... tapi akhirnya dia buka pintu lebih lebar. "Silakan masuk... tapi... tapi maaf ya tempatnya sempit..."

Alisha masuk. Natap sekeliling. Kamar sempit. Kasur tipis di pojok. Kompor lusuh. Ember plastik. Baju-baju tergantung di tali jemuran.

"Ini... ini tempat kamu tinggal?"

"Iya, Kak. Maaf... Zahra nggak bisa kasih yang lebih baik..." Zahra nunduk. Malu.

"Nggak apa-apa. Aku nggak judge." Alisha duduk di lantai semen. "Duduk sini. Aku mau ngobrol."

Zahra duduk di seberang Alisha. Jarak... mungkin satu meter.

"Kak... ada apa... ada apa Kakak kesini? Arkan... Mas Arkan baik-baik aja kan?"

"Dia baik. Secara fisik. Tapi... tapi hatinya nggak baik. Dia... dia hancur, Zahra. Gara-gara kamu."

Zahra nunduk. Air mata keluar. "Maaf... maaf Zahra... Zahra nggak bermaksud bikin dia—"

"Aku nggak nyalahin kamu." Alisha senyum. "Aku kesini buat... buat ngerti. Ngerti kenapa adik ku bisa segila itu sama kamu. Dan... dan aku pengen tau... apa kamu beneran cinta sama dia. Atau... atau kamu cuma manfaatin dia."

Zahra angkat muka. Natap Alisha dengan mata yang berkaca-kaca. "Zahra cinta Mas Arkan. Beneran cinta. Tapi... tapi Zahra juga cinta sama agama Zahra. Dan... dan Zahra nggak bisa pilih. Zahra... Zahra nggak bisa ninggalin Islam demi dia. Dan Zahra juga nggak mau... nggak mau dia masuk Islam kalau dia belum yakin. Karena... karena nanti dia bakal nyesel. Bakal... bakal benci Zahra."

Alisha diem. Dengerin.

"Zahra tau... Zahra tau ini egois. Tapi... tapi Zahra udah janji sama Bapak Zahra... sama Allah... kalau Zahra nggak akan ninggalin Islam. Apapun yang terjadi. Dan... dan kalau Mas Arkan nggak bisa masuk Islam... Zahra... Zahra harus rela ngelepas dia."

"Kamu... kamu rela?"

Zahra nangis. "Nggak. Zahra nggak rela. Zahra... Zahra kangen dia tiap hari. Zahra nangis tiap malem. Tapi... tapi Zahra nggak punya pilihan lain..."

Alisha natap Zahra lama. Terus... terus dia senyum.

"Kamu... kamu cewek yang kuat, Zahra. Dan... dan aku seneng adik ku jatuh cinta sama cewek kayak kamu."

Zahra kaget. "Kak... Kakak... Kakak nggak marah?"

"Kenapa aku harus marah? Kamu nggak salah apa-apa. Kamu cuma... cuma teguh sama prinsip kamu. Dan itu... itu hal yang jarang aku temuin di cewek-cewek sekarang."

"Tapi... tapi Kakak kan keluarga Mas Arkan... Kakak pasti... pasti nggak suka Zahra sama dia—"

"Aku suka." Alisha pegang tangan Zahra. "Aku suka kamu buat adik ku. Karena... karena kamu tulus. Kamu nggak peduli dia kaya atau miskin. Kamu cuma... cuma cinta dia apa adanya."

Zahra nangis makin keras. "Makasih, Kak... makasih..."

Alisha peluk Zahra. Lembut. "Zahra, aku mau kamu tau satu hal. Arkan... Arkan lagi berjuang. Berjuang cari jawaban. Dan... dan aku yakin... dia bakal nemuin jawaban itu. Cepat atau lambat. Kamu... kamu harus sabar. Dan percaya sama dia."

"Zahra percaya, Kak. Zahra... Zahra cuma takut... takut dia nggak bakal yakin..."

"Dia bakal yakin. Kalau cinta kalian beneran takdir... Allah bakal kasih jalan. Percaya itu."

Dan mereka pelukan lama. Dua perempuan dari dunia yang berbeda. Tapi... tapi punya satu kesamaan.

Mereka sama-sama sayang Arkan.

---

**BERSAMBUNG KE BAB 19...**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!