NovelToon NovelToon
Garis Tangan Nona Kedua

Garis Tangan Nona Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dunia Lain / Spiritual / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: ImShio

Lilian Zetiana Beatrixia. Seorang mahasiswi cantik semester 7 yang baru saja menyelesaikan proposal penelitiannya tepat pada pukul 02.00 dini hari. Ia sedang terbaring lelah di ranjangnya setelah berkutat di depan laptopnya selama 3 hari dengan beberapa piring kotor yang tak sempat ia bersihkan selama itu.

Namun bagaimana reaksinya ketika keesokan harinya ia terbangun di sebuah ruangan asing serta tubuh seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali.

Baca setiap babnya jika penasaran, yuhuuuu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImShio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan Dia

Keesokan harinya, mentari pagi terbit perlahan di balik atap-atap ibu kota, menyinari dunia dengan cahaya pucat yang belum sepenuhnya hangat. Namun di sebuah kediaman yang mewah dan megah milik keluarga Wu, udara di dalamnya justru terasa berat, dipenuhi aroma obat, dupa mahal, dan ambisi yang membusuk.

Di ruang dalam yang luas, dipenuhi perabotan kayu cendana dengan ukiran naga dan tirai sutra berlapis emas, Wu Fanghua duduk bersandar di kursi empuk. Punggungnya masih dibalut kain tebal, darah kering terlihat samar di balik lapisan perban. Rasa perih yang ia dapat belum sepenuhnya hilang.

Matanya menatap kosong ke depan, lalu perlahan berubah tajam.

“Ibu…” ucapnya akhirnya, suaranya rendah namun dipenuhi kebencian yang pekat. “Kapan kau akan membalas Wu Zetian?”

Selir Li Hua yang duduk di seberangnya menghentikan gerakan tangannya menuang teh. Wanita itu mengangkat cangkir tehnya perlahan, menyesapnya dengan tenang seolah pertanyaan Fanghua hanyalah angin lalu.

“Aku sudah tidak sabar,” lanjut Fanghua dengan nada bergetar. “Aku ingin melihatnya menderita. Aku ingin dia merasakan rasa malu dan sakit seperti yang aku rasakan. Dan mungkin.. bisa lebih parah dari itu.”

Li Hua meletakkan cangkirnya dengan pelan. Bunyi porselen menyentuh meja terdengar lembut, namun sorot matanya dingin.

“Tenanglah, Fanghua,” katanya dengan suara halus namun penuh keyakinan. “Segala sesuatu harus dilakukan dengan perhitungan. Aku sudah merencanakan sesuatu.”

Fanghua menoleh cepat. “Rencana apa, Ibu?”

Senyum tipis terukir di bibir Li Hua. “Sesuatu yang akan memancing si bodoh itu keluar dari persembunyiannya. Sesuatu yang tidak akan mungkin bisa ia abaikan.”

Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Kau hanya perlu menunggu anakku. Hari itu pasti akan datang.” ucapnya dengan nada yakin.

Fanghua mengepalkan tangannya perlahan, lalu mengangguk. “Baiklah, Ibu. Aku akan menunggu.” Namun di dalam hatinya, api dendam terus menyala, menunggu saat yang tepat untuk melahap segalanya.

---

Tok. Tok. Tok.

Suara ketukan pintu terdengar di sebuah kediaman lain yang jauh lebih sederhana, namun hangat dan penuh ketenangan. Kakek Zhou yang sedang duduk di ruang tengah merasa penasaran dengan orang yang mengetuk pintu.

Ia mengerutkan dahi, lalu bangkit dan berjalan menuju pintu.

Saat pintu dibuka, berdirilah seorang gadis muda berpakaian pelayan. Wajahnya tampak sombong.

Kakek Zhou menatapnya intens dari ujung kepala hingga kaki. “Siapa kau?” tanyanya dengan suara rendah namun berwibawa.

Pelayan itu tersentak, lalu buru-buru membungkuk. “Hei kakek tua, kau siapa? Ini adalah kediaman Nona Kedua, Wu Zetian. Apa yang kau lakukan di sini?”

Belum sempat Kakek Zhou menjawab,

“Kurang ajar.”

Suara dingin terdengar dari belakang.

Wu Zetian melangkah maju, wajahnya tanpa senyum, matanya tajam seperti bilah pedang. Udara di sekitarnya mendadak berubah berat.

“Siapa kau,” ucapnya perlahan, “hingga berani menanyakan hal itu kepada orangku?”

Gadis pelayan itu membeku. Kakinya terasa berat, seolah ada kekuatan tak terlihat yang menarik tubuhnya ke bawah. Lututnya gemetar, napasnya tercekat. Wu Zetian sengaja melepaskan sedikit aura sihir gravitasi untuk menekan gadis itu.

“A-aku…” gadis itu terengah, wajahnya pucat pasi. “Aku minta maaf, Nona…”

“Jawab pertanyaanku,” potong Wu Zetian dingin. “Siapa kau?”

“A-aku pelayan Shu,” jawabnya dengan suara gemetar. “Hamba diperintahkan oleh Tuan Wu Zheng,”

Wu Zetian menyipitkan matanya.

Gadis itu menelan ludah. “Tuan Wu Zheng memerintahkan hamba untuk memberitahu Nona bahwa Selir Zhen Zu saat ini sedang sekarat.”

Kata-kata itu membuat Wu Zetian terdiam sejenak.

Selir Zhen Zu sekarat?

Untuk sesaat, aura gravitasi mengendur tanpa sadar.

"Lalu apa yang orang tua itu minta?” tanyanya dingin.

“Tuan meminta Nona untuk menjenguk selir Zhen Zu,” jawab pelayan Shu dengan kepala tertunduk dalam-dalam.

Wu Zetian terdiam beberapa detik. Wajahnya tak menunjukkan emosi apa pun, namun pikirannya bergerak cepat.

“Baiklah,” ucapnya akhirnya. “Aku akan datang. Kau boleh pergi.”

Aura gravitasi sepenuhnya dilepas. Pelayan Shu hampir terjatuh, lalu buru-buru membungkuk berulang kali. Ia bergegas pergi seolah dikejar maut.

_______________

Wu Zhen Zu berbalik dan masuk ke kamarnya, menutup pintu perlahan.

Di dalam kamar yang sunyi, Wu Zetian duduk di tepi ranjang. Ingatannya melayang pada sosok Selir Zhen Zu, wanita lembut yang selama dua tahun terakhir hanya bisa terbaring lemah di kamar, tubuhnya perlahan rusak oleh racun licik.

Selir Zhen Zu adalah satu-satunya orang di keluarga itu yang tidak pernah memandangnya dengan hina. Beberapa menit berlalu dalam keheningan, hingga akhirnya sorot mata Wu Zetian berubah tegas.

“Aku yakin,” gumamnya dingin. “Ini ulah salah satu dari mereka yang membuat selir Zhen Zu sekarat.”

Ia berdiri.

“Aku akan mencari tahu,” ucapnya penuh tekad. “Dan jika dugaanku benar…”

Senyum tipis namun berbahaya terukir di wajahnya.

“Maka mereka semua akan membayar semuanya.”

“Tapi sebelum itu,” gumamnya pelan, suaranya hampir seperti bisikan angin, “aku harus mencari buktinya agar mereka tidak akan bisa lari dari perangkap mereka sendiri.”

______

Ia sangat paham satu hal di dunia ini, kebenaran tanpa bukti hanyalah keluhan seorang lemah. Selir pertama dan kedua bukan perempuan sembarangan. Mereka licik dan tahu bagaimana membersihkan jejak. Jika ia gegabah, yang akan jatuh bukan mereka, melainkan dirinya sendiri.

Wu Zetian menutup mata sejenak. Lalu ia menggenggam liontin lilac di dadanya.

“Cringg—”

Suara bening itu bergema lembut, dan dunia di sekelilingnya seketika terlipat. Ruang kamarnya lenyap, digantikan oleh hamparan cahaya ungu lembut yang menenangkan namun penuh misteri.

Wu Zetian telah kembali ke Dimensi Lilac.

_____________________________

Kini sudah 10 jam sejak Wu Zetian masuk ke dalam Dimensi Lilac. Yang artinya, Wu Zetian telah menghabiskan waktu selama sejam di dalam Dimensi Lilac. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar.

Wu Zetian melangkah maju sedikit demi sedikit. Bibirnya melengkung.

“Kalian ingin mengancamku menggunakan Selir Zhen Zu?” katanya keras, suaranya bergema di kamar kosong itu.

Ia terkekeh, tawa rendah dan dingin.

“Hahahahahaha… lucu sekali.”

Ia melangkah ke depan, menatap pantulan dirinya di cermin. Wajah cantik itu kini memancarkan aura yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.

“Mungkin,” ucapnya perlahan, nadanya berubah tenang namun berbahaya, “jika yang ada di tubuh ini adalah Wu Zetian yang dulu, mungkin saja kalian akan menang.”

Ia berhenti sejenak.

Sorot matanya menggelap.

“Tapi ini aku, bukan dia.”

Tangannya terangkat, menyentuh dadanya sendiri, seolah menegaskan identitas yang tersembunyi jauh di dalam.

“Aku adalah Lilian.”

Senyum miring terbit di bibirnya.

“Bukan gadis bodoh yang hanya tahu diam saat ditindas.”

Baik di dunia ini maupun sebelumnya, ia selalu mengingat satu hal penting ini: jika ingin bertahan, maka jangan pernah menunggu belas kasihan.

__________________

Ia berbalik, menatap jendela yang terbuka.

“Selir Li Hua,” ucapnya perlahan, seolah menyebut nama itu saja sudah cukup untuk mengutuk seseorang. “Kau rupanya sangat suka bermain-main denganku, bukan?”

Ia tertawa kecil.

“Ah, baiklah.”

Nada suaranya berubah ringan, hampir ceria namun justru itulah yang paling berbahaya.

“Aku akan dengan senang hati masuk ke dalam permainanmu.”

Matanya berkilat tajam, penuh antisipasi.

“Tapi kali ini, aku yang akan menulis aturannya.” lanjutnya pelan.

______________

Yuhuuu~🌹

Jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen, subscribe dan vote karya-karya Author 💖

See you~💓

1
Wahyuningsih
💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Murni Dewita
double up thor
Murni Dewita
next
Murni Dewita
lanjut
Murni Dewita
👣
xiaoyu
gaaass truuss
Wahyuningsih
thor upnya dikit amat 😔😔 amat aja gk dikit 😄😄😄klau up yg buanyk thor n hrs tiap hri makacih tuk upnya thor sehat sellu thor n jga keshtn tetp 💪💪💪
Wahyuningsih
lanjut thor yg buanyk upnya thor n hrs tiap hri jgn lma2 upnya thor makacih tuk upnya thor sehat sellu n jga keshtn tetp 💪💪💪
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Siaaap kak, dan terimakasih dukungannya🥰
Sehat selalu💖
total 1 replies
Wahyuningsih
mantap thor wu zetian dpt ruang dmensi mkin sru 😄😄😄
Wahyuningsih
thor hrs kasih bnuslah ruang dimensi biar mkin seru bikin wu zetian badaz abiz
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Hehe sabar yaa kak, nanti ada kok🤭
total 1 replies
Wahyuningsih
q mampir thor, moga2 jln critanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!