Serah Spencer adalah seorang Ratu yang terkhianati oleh tunangannya sendiri, Raja Louis dari kerajaan Mathilda.
Awalnya ia mengira dengan status pertunangannya akan membawa ketenangan juga kedamaian untuk rakyat dan kerajaannya di Regina yang sedang menjadi wilayah perebutan. Namun, setelah mengetahui rencana Louis yang licik, Serah memutuskan untuk tak tinggal diam.
Dia akan membalas Louis dan berdiri sendiri demi kerajaannya. Namun, sebelum itu ia harus lolos dari genggaman Louis.
Apakah Serah akan berhasil kembali ke kerajaannya sendiri yang sedang menjadi wilayah konflik antar Raja Louis dan Raja Grenseal? Sementara kedua Raja itu mulai jatuh cinta kepada Serah.
Apa yang akan dilakukannya nanti untuk melawan Louis sekaligus melindungi kekuasaannya sebagai Negeri yang bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 : Rumor mulai tersebar
Siangnya, tepat pukul 11:00 siang mereka semua sudah berkumpul di depan istana dan akan segera diberangkatkan menuju ke hutan yang ada di dekat Mathilda.
Louis sudah jalan terlebih dahulu dengan kereta khusus untuknya sekitar beberapa menit yang lalu.
Namun, Helena dengan kepercayaan diri penuh segera menaiki kereta kuda yang tadi pagi ditunjuknya sebagai miliknya.
"Buka pintunya," ucapnya memerintah sang pengawal dengan begitu berani.
Pengawal itu tak mengerti apa-apa karena tugasnya memang hanya mengawal siapapun yang masuk nantinya. Maka, tanpa banyak bertanya ia pun membukakan pintu itu untuk Helena.
"Kalian lihat sendiri 'kan?" Helena berpaling ke arah teman-temannya yang lain dan masih bisa bersikap pamer dan angkuh. Kemudian gadis itu pun masuk ke dalam dan menutup pintu kereta keras-keras.
Brakh...!
Suara pintu itu mengagetkan para gadis yang sedikit tersentak. Tak pernah mereka menduga Helena bakal bersikap kasar secara fisik di hadapan mereka, bahkan di depan Serah sendiri.
"Ayo jalan!" Ujar Helena setelah menyamankan diri di dalam.
"Uh, tapi bagaimana yang lain, Lady...?" Pengawal itu tampak ragu untuk mengikuti perintah Helena karena gadis-gadis lain terutama Serah masih berada di luar kereta.
"Aku bilang jalan! Kereta ini memang disediakan Raja Louis untukku bukan mereka! Apa kau ingin membuat Raja Louis marah?" Balas Helena menggunakan kekuasaan Louis untuk mengancam.
Pengawal itu masih ragu. Dalam hatinya bertanya-tanya, apa benar Raja Louis yang memberi perintah untuk membawa Helena seorang, padahal Serah lah calon Ratu Mathilda. Tapi kalau ini benar, berarti Louis sengaja mengabaikan Serah?
"Kenapa masih tidak jalan? Kau mau aku turun dan memberi tau ini pada Raja?" Helena tanpak sudah kesal ketika pengawal itu masih berdiam diri.
"Jalan lah, tidak apa-apa. Aku bisa naik kereta lainnya," ujar Serah ketika tanpa sengaja mendengar suara teriakan kecil Helena dari dalam kereta.
"Ba-baiklah, Yang mulia," balas pengawal itu sambil mengangguk patuh. Akhirnya kereta yang dinaiki Helena pun dipacu dan mulai berjalan perlahan meninggalkan area depan istana.
Gadis-gadis yang mengikuti Serah tampak kecewa dan seperti protes dalam diam saat melihat Serah sama sekali tidak bertindak atas kelancangan sikap Helena. Mereka yakin kalau kereta itu tidak dipersiapkan untuk Helena, dan gadis itu hanya sedang besar mulut saja. Tapi Serah hanya tersenyum tipis.
"Sudahlah, biarkan saja. Jangan sampai sikap Helena merusak suasana hati kalian yang baik, karena hari ini akan ada bangsawan yang berkumpul," ujar Serah memberi dorongan motivasi lebih agar para gadis itu melupakan soal Helena dan menjadi lebih bersemangat.
"Para bangsawan Kota, Yang mulia?" Anastasia langsung berbinar cerah. Wajahnya sumringah seketika. Serah mengangguk dengan senyuman misterius.
Sikap Serah membuat semua gadis antusias dan hampir bersorak keras. Ini adalah momen yang mereka nanti dengan harapan bisa bertemu dengan pria idaman.
"Jadi? Kita pergi sekarang?" Tanya Serah dengan tatapan mengedar ke satu-persatu dari para gadis.
"Ya, Yang mulia! Kami siap!" Jawab semuanya dengan kompak kecuali Cristine yang sejak awal percakapan hanya mengamati. Tampaknya dia tak tertarik dengan para pria bangsawan yang akan hadir hari ini.
"Ayo kita ke sana," ujar Serah menunjuk kereta yang lain.
Mereka pun bergegas menuju ke kereta itu yang berada sedikit jauh di belakang.
"Ah, Yang mulia, silahkan!" Seorang pengawal dengan sigap membukakan pintu kereta ketika melihat Serah dan rombongannya datang.
Akhirnya Serah menggunakan kereta kuda yang terakhir itu bersama gadis-gadis lain. Dua kereta itu berjalan beriringan depan dan belakang menyusul kereta lainnya yang sudah melaju lebih dahulu.
.
.
Sebuah padang rumput menghampar indah bagai permadani zamrud yang berkilauan ditemani dengan hembusan angin yang terasa hangat di kulit membawa napas sang mentari menerangi dari singgasana tertinggi, bagai seorang Raja.
Louis yang sudah datang terlebih dahulu sudah duduk di bangku kebesarannya dikelilingi oleh bangsawan lain.
Ini adalah acara perburuan yang rutin diadakan tiap jelang penutupan bulan di mana pada acara ini semua lapisan bangsawan akan hadir ikut meramaikan acara sambil mencari koneksi dan relasi. Tak sedikit dari mereka ikut bertaruh besar untuk sebuah kemenangan dan kehormatan.
Para bangsawan itu tampak duduk dengan wajah tak sabar untuk memulai acara.
Sementara Louis tampaknya sedang fokus menanti kedatangan Serah dan rombongannya.
"Yang mulia, tunggu apa lagi? Kenapa acaranya belum dimulai, kami sudah tidak sabar!" Seorang pria dengan wajah yang agak tua terlihat gelisah.
"Benar, kenapa belum dimulai? Matahari sebentar lagi akan lebih tinggi!" Timpal pria lainnya.
"Ah, itu dia keretanya datang." Senyum Louis melebar saat melihat kereta kuda berjalan mendekati lapangan. Ia segera berdiri dari tempat duduk dan berjalan menghampiri. Para bangsawan lain segera mengalihkan pandang memperhatikan, siapa orang yang ada di dalam kereta itu.
Louis yang belum menyadari apapun segera membuka pintu kereta tanpa memastikan terlebih dahulu.
Senyumnya sirna ketika pintu terbuka dan melihat siapa sosok yang sedang duduk berada di dalam. Wajah Louis memucat saat mengetahui yang menunggu adalah Helena, bukan Serah.
"Yang mulia...." Helena mengulum senyum dan menebarkan pesonanya yang sangat manis kepada Louis. Dia terlihat bahagia dan berpikir Louis benar-benar menjemput nya dan menjadikan dirinya spesial hari ini.
Louis masih terpaku dengan kebingungan dan kekhawatiran untuk merespon. Sementara bangsawan-bangsawan lain merasa aneh ketika melihat sang Raja belum bergeming.
Kenapa malah dia yang ada di sini? Kemana Serah???? Kalau sampai aku mengantarnya semua orang bisa salah-paham dan mengira aku dan Helena ada hubungan lebih. Rahasiaku bisa terbongkar!
Louis langsung panik namun tetap tak tau harus berbuat apa. Dia tak mungkin menampakkan kemarahan atau kekerasan pada Helena saat ini.
"Kau tidak mau membantuku turun, Yang mulia?" Ucap gadis itu yang penuh percaya diri memberikan tangannya sendiri kepada Louis.
Sang pengawal hanya melirik saat melihat adegan tersebut. Louis pun tak bisa menepis, karena ayah Helena juga hadir. Dia masih membutuhkan pria tua itu. Akhirnya dengan menahan kesal Louis terpaksa meraih tangan Helena.
"Tentu saja, My Lady...," ucapnya berpura-pura manis dan membantu Helena turun dari keretanya.
Keduanya berjalan menuju ke arah penjamuan dengan banyak dipandang mata. Louis yang gagah dan berkarismatik, Helena yang tampil muda dan cantik. Sekilas keduanya tampak serasi. Helena bahkan dengan sengaja memeluk lengan Louis dengan mesra, seolah ingin menunjukkan kalau mereka adalah pasangan yang sebenarnya saling mencintai dengan romantis.
Tak lama kereta kuda Serah beserta rombongannya pun tiba. Mereka memang berjalan agak lambat di belakang. Begitu tiba di lokasi semua orang langsung memandang Louis dengan heran.
"Oh iya, aku hampir lupa kalau Ratu Regina itu adalah tunangannya Raja Louis," ucap seorang pria berbisik pelan.
"Benar juga. Aku terlalu terhipnotis sama keadaan jadi lupa kalau tunangan Raja Louis adalah Putri Serah," timpal yang lain.
"Tapi kenapa Raja Louis malah membawa Helena? Dia bahkan menaiki kereta kuda yang lebih bagus dan khusus dari milik Putri Serah." Orang-orang mulai berkomentar dan mempertanyakan akan sikap Louis.
Sementara Serah yang mendengar ucapan-ucapan itu hanya tersenyum, karena ini lah yang dia inginkan, dan ini masih awal.
"Ayo." Dengan satu komando, para gadis lain berjalan mengikutinya. Mereka berjalan menuju ke arah jamuan seperti iringan para Dewi, di mana semua mata memandang dan seakan telah melupakan Helena begitu saja.
Apa yang akan dikatakan Serah setelah melihat Louis malah bersama dengan salah satu pelayan termudanya.
Rencana pertama Serah yang jelas berhasil untuk menggiring opini publik.
ato lewat hutan, tinggalkan sj dia😁
serah akan sukarela menyerahkan louis pdmu
jgn ampe louis jd sm serah, gk rela qu
jadi tumbal Louis buat muja kerang ajaib