NovelToon NovelToon
Perfect Partner

Perfect Partner

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Karir / Duniahiburan / Persahabatan / Kisah cinta masa kecil / Romansa
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: nowitsrain

Ketika teman baiknya pergi ke Korea untuk menjadi seorang idol, Sena mengantarkan kepergiannya dengan senang hati. Menjadi penyanyi adalah impian Andy sejak kecil, maka melepasnya untuk menggapai mimpi adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa Sena ambil.

Setelah kepergian Andy ke Korea, mereka kehilangan kontak sepenuhnya. Sependek pengetahuannya, persiapan menjadi idol berarti merelakan waktunya banyak tersita untuk berlatih banyak hal. Jadi hari-hari Sena lalui tanpa rasa keberatan. Malah, tak lupa selalu diselipkannya doa untuk teman baiknya, semoga kelak berhasil debut dan menggapai cita-citanya.

Namun siapa sangka, kerelaan hati Sena itu pada akhirnya membawa jalannya sendiri untuk kembali bertemu dengan Andy sang teman baik. Di pertemuan setelah sekian lama, akankah Sena menemukan Andy masihlah sama dengan Andy yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak?
Masihkah mereka menjadi perfect partner bagi satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

He's So Cute

Andy dan Sena kompak menoleh, dan menemukan Hana masuk, digelendoti oleh Nan. Gadis itu terdengar bicara lembut pada Nan, sebelum langkahnya berlanjut menuju ruang makan. Saat muncul dan tatapannya bertemu dengan Sena, wajahnya sedikit cemberut.

"Hai, Andy," sapanya, lalu beringsut mendekat ke arah Sena. Ia memeluk sahabatnya itu dari belakang, mengusap bahunya lembut. "Bagaimana keadaanmu?"

Sena mengangkat bahu. "Buruk," sahutnya.

Hana mengangguk paham. Sayangnya dia memiliki jadwal yang sangat padat hari ini, jadi tidak bisa menemani Sena melewati siklus bulanannya yang menyakitkan. Jika saja jadwanya tidak penuh, Hana pasti akan memilih di rumah saja. Untung saja sekarang ada Andy, yang bisa menggantikan perannya sesekali.

Ia melirik sekilas, lalu beralih pada mangkuk di depan Sena, mengirup aroma harum yang berputar-putar bersama uap panas yang masih menguar dari sana. Bau bawang putih dan seledri berpadu dengan kaldu ayam yang kaya, menciptakan aroma yang menenangkan. Di luar jendela, langit malam tampak benderang, bulan sedang muncul dalam satu lingkaran penuh.

"Aku tadi memasak sup," kata Andy, seolah menjawab pertanyaan yang tidak Hana ucapkan secara langsung. "Masih ada banyak, ambil saja kalau mau." Dia melanjutkan, sambil menunjuk panci sup di atas kompor.

Hana menggeleng. "Terima kasih, tapi aku sudah makan." Seraya mengusap perutnya dengan gerakan memutar.

"Yakin tidak mau coba? Rasanya sangat enak," ujar Sena.

Senyum Hana terbit meski tipis. "Baguslah kalau enak," balasnya. "Kalian nikmati saja berdua. Aku masih ada kerjaan, jadi aku tinggal ke atas dulu ya." Sembari tangannya mengusap bahu Sena lagi.

Sena balik tersenyum pada Hana, dan Andy turut melambaikan tangan sebelum gadis itu menghilang ke lantai atas. Suara langkah kakinya perlahan memudar, diikuti bunyi pintu yang tertutup pelan.

Untuk beberapa lama setelah kepergian Hana, tatapan Sena terkunci pada sosok Andy yang tengah melahap bubur dari mangkuk yang sama. Ia memperhatikan Andy lekat-lekat, seiring perasaannya semakin terasa menghangat. Memiliki seseorang yang bersedia menemanimu di saat-saat seperti ini adalah sebuah anugerah yang tidak bisa ditukar dengan apa pun. Entah perbuatan baik apa yang Sena pernah lakukan di masa lalu, sampai bisa dikelilingi teman-teman terbaik seperti Andy dan Hana.

"Terima kasih, Andy," ucapnya pelan, membuat Andy mengangkat kepala. "Terima kasih sudah menemaniku."

"Bukan masalah," balas Andy. Senyumnya terasa tulus, menyebar sampai ke mata. "Kapan pun kau butuh, aku akan usahakan untuk ada."

Sena kembali terdiam. Melihat Andy masih bisa duduk di hadapannya seperti ini, setelah beberapa hari sebelumnya tampak begitu canggung atas pengakuannya yang tak terduga, Sena jadi penasaran seberapa keras Andy meyakinkan diri untuk kembali bersikap seperti biasa? Pasti tidak mudah, tapi Andy mampu melakukannya. Andy mampu mengenyahkan kecanggungan dari hari itu, hanya untuk datang ke sini, meskipun itu sama sekali bukan kewajibannya.

"Andy," panggilnya pelan. Andy menjawabnya dengan dehaman, tatapan mereka terkunci. Sena menarik napas dalam-dalam, menyiapkan diri. "Maaf soal tempo hari," lanjutnya. "Aku tidak bermaksud membuatmu merasa tidak nyaman."

"Oh, tidak apa-apa, Lara. Justru aku yang minta maaf, reaksiku aneh sekali waktu itu." Andy menjawab santai, diwarnai tawa kecil. "Aku cuma ... terlalu kaget, mungkin?" Ia mengangkat bahu, seakan hendak menepis ucapannya sendiri.

Sena sedikit menunduk. Jari-jarinya bermain dengan ujung gelas di hadapannya, memutar-mutar gelas itu perlahan. Seharusnya, ia tahu untuk tidak membawa topik itu ke hadapan Andy. Walaupun mereka dekat dan bisa membicarakan tentang banyak hal, membahas soal perasaan sepertinya masih menjadi pengecualian. Terlebih lagi Andy adalah seorang idol sekarang. Pasti ada banyak batasan yang diberikan oleh perusahaan kepadanya, makanya secara tidak sadar beberapa hal menjadi cukup membingungkan untuknya.

"Tapi, serius," lanjut Andy, sambil terkekeh pelan, seakan masih tidak percaya. "Aku tidak  menyangka kau pernah menyukaiku."

Sena menelengkan kepala, sebab dalam nada suaranya, Andy seperti sedang meragukan dirinya sendiri. Ia terdengar seperti tidak percaya diri, seperti  memiliki seseorang yang menyukainya adalah sesuatu yang mustahil. "Kenapa memangnya?" tanyanya.

"Soalnya..." ucapan Andy terjeda oleh tawa. "Aku tidak pernah tahu bagaimana harus bersikap di depan para gadis. Dibanding yang lain, aku cenderung canggung." Dia menunduk sedikit, menyembunyikan senyum yang entah apa artinya. "Lagi pula, aku juga tidak seberapa tampan. Jadi aneh saja, kalau ada orang yang menyukaiku. Memangnya, apa yang disuka?"

Sena mendesah panjang. "Ayolah, kau tidak seperti itu," cetusnya, membawa Andy kembali bertatapan dengannya. "Selain cerdas dan berbakat, kau juga imut, tahu." Sekonyong-konyong, Sena menjulurkan tangan, mencubit pipi Andy.

Sang empunya yang tidak siap akan 'serangan' yang dilancarkan oleh Sena, refleks memundurkan kepala. "Hei, jangan begitu!" protesnya denga bibir bawah maju sedikit. Sontak saja Sena tertawa, merasa gemas.

"Tapi dulu kau memang imut, kok."

Alis Andy terangkat tinggi. "Dulu?" tanyanya skeptis. "Berarti sekarang sudah tidak imut lagi?"

Sena tertawa lagi, kali ini lebih keras dan lepas. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, sekadar untuk menepuk kepala Andy pelan. "Imut, kok," balasnya. "Sekarang pun masih imut. Tidak usah ragu soal itu."

Menurut Sena, jawabannya sudah sangat sempurna. Tetapi agaknya bagi Andy tidak demikian. Kata 'imut' sepertinya bukan pilihan yang tepat untuk digunakan. Sebab alih-alih tersenyum malu-malu sebagaimana reaksi biasanya, Andy malah menghela napas pendek dan kembali menyuapkan sup ke dalam mulut. Bahkan gerakannya terkesan sedikit kasar, seolah mencoba menutupi sesuatu.

Sena mengamatinya dengan senyum geli yang tertahan. Jujur saja, ia ingin mengatakan dengan gamblang bahwa Andy itu tampan. Tapi entah kenapa, kata itu tidak bisa keluar dari bibirnya. Sena tahu Andy sudah sering mendengar dari orang lain--terutama penggemar--soal betapa tampannya ia, jadi Sena pikir mungkin tidak masalah untuk mengatakan hal lain sebagai gantinya.

"Andy," panggilnya lagi. Andy hanya berdeham dan lanjut makan, bahkan tidak mau mengangkat kepalanya sama sekali. "Selain imut, kau juga tampan, kok."

Mata Andy seketika membelalak. Ia hampir tersedak sup yang baru mau masuk tenggorokan. Kepalanya terangkat perlahan, menampakkan pipinya yang merona samar. Tatapan mereka bertemu sebentar, dan Sena bisa melihat kebingungan bercampur dengan sesuatu yang lain di mata Andy—sebelum pria itu buru-buru memalingkan wajah dan tampak kehilangan kata-kata.

"Jangan begitu..." gumamnya, seketika kembali fokus pada mangkuk sup seakan-akan itu adalah hal paling menarik sedunia.

Sena tidak kuasa menahan senyum, melihat reaksi Andy yang begitu menggemaskan di matanya. "Makan saja, makan," katanya. Dia menepuk kepala Andy sekali lagi, kemudian bangkit dari kursi. "Habiskan, ya. Aku akan ke ruang tamu duluan.

Tanpa merasa berdosa sama sekali, Sena pergi meninggalkan Andy. Membiarkan pria itu berkelahi dengan isi pikirannya sendiri.

Bersambung....

1
Zenun
jiaelah babang
nowitsrain: 😁😁😁😁😁
total 1 replies
Zenun
🥺🥺🥺🥺🥺🥺
Zenun
teman yang lebih dari teman🤭
Zenun
benarkah begitu😁
Zenun
setuju dengan Andy sih
Zenun
waduh
Zenun
bisa bahasa qalbu😁
Zenun
dan teman-temannya Andy datang
Zenun
Kirain Andy menjaga jarak
Zenun
mungkin Andy jadi canggung karena dia sebenarnya hanya menganggap teman😁
Zenun
Kasihan kamu Andy😄
Zenun
benarkah begitu? 😁
Zenun
kayanya mereka kompak mau mngerjaimu, Andy
nowitsrain: Andy yang malang
total 1 replies
Zenun
kalau begitu kredit aja
nowitsrain: No no ya
total 1 replies
Zenun
weh, gak mau jagain mereka😁
nowitsrain: Wkwk ditinggal biar berduaan
total 1 replies
Zenun
hayoloooo
Zenun
bisa main bareng lagi ya Sena😁
nowitsrain: Yoyoyy.. Bersama mengguncang dunia
total 1 replies
Zenun
akankah pertemanan itu akan berubah menjadi asmara?
nowitsrain: Jeng jeng jeng
total 1 replies
Zenun
Nah, coba saran Hana ini
nowitsrain: Oraitt
total 1 replies
Zenun
Mungkin sebenarnya Andy ngeh, tapi lagi mengingat-ingat kaya kenal muka tapi lupa nama😄
nowitsrain: Wkwk bisa juga
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!