NovelToon NovelToon
Kepentok Deadline Atasan

Kepentok Deadline Atasan

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Enemy to Lovers / Nikah Kontrak / Berondong / Kehidupan di Kantor / CEO
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rain (angg_rainy)

Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.

Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.

Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.

Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.

Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.

Cover Ilustrasi by ig rida_graphic

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

“Hufh.” Helaan napas panjang seorang petugas kebersihan kantor yang baru selesai membereskan ruang rapat Cyan. Seperti biasa rutinitas pagi itu, ia juga mengisi ulang air dispenser dan menyalakan beberapa mesin, termasuk fotokopi dan printer.

Cenderung sunyi dan stabil, sama seperti hati-hari sebelumnya. Udara dingin dari AC yang baru dinyalakan satu jam lalu itu terlalu akrab menyapa hidung. Dipadukan pewangi ruangan juga aroma kopi samar-samar.

Sekilas semuanya terlihat normal.

Cyan tiba tepat waktu, seperti biasa. Ia melepas tas, meletakkannya di sisi meja, lalu merapikan blazer sebelum duduk. Laptop dinyalakan, layar menyala, dan deretan email kerja menyambutnya tanpa basa-basi. Ia mulai meregangkan leher, memeriksa to do list yang harus selesai hari ini juga.

Email pertama dibaca dengan cermat, diberi tanda, lalu dipindahkan ke folder. Email berikutnya menyusul, tetapi tidak seribet email pertama karena dari orang yang sangat berpengaruh di perusahaan itu. Jarinya bergerak cepat, seolah di belakangnya dikejar zombie lift berwujud Magenta.

Oke, mungkin terlalu berlebihan karena seram juga jika zombie itu setiap hari mengeluarkan jokes spontan, tetapi dengan wujud mayat hidup.

Pandangan Cyan terangkat ke arah pintu ruang kerja.

Kosong. Ia menurunkannya lagi, mencoba mengabaikan refleks itu.

“Fokus Syan,” gumamnya pada diri sendiri.

Tidak ada alasan untuk menunggu siapa pun. Semua orang punya jadwalnya masing-masing. Magenta tidak pernah punya kebiasaan datang lebih pagi darinya dan itu tidak pernah menjadi masalah.

Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Magenta masuk dengan ransel yang disampirkan di satu bahu.

Ia menyapa beberapa rekan kerja dengan anggukan ringan dan senyum singkat, lalu berhenti sepersekian detik ketika melihat Cyan sudah duduk rapi di mejanya.

Tatapan mereka tak sengaja bertemu.

“Pagi, Bu Cyantik,” sapa Magenta biasa saja.

“Oh. Pagi Genta,” jawab Cyan singkat.

Tidak ada tambahan, juga komentar lanjutan.

Magenta mengangguk, lalu langsung menuju kursinya. Ia duduk, membuka laptop, menarik kursi mendekat ke meja, dan mulai bekerja.

Sunyi.

Biasanya, Magenta akan berkomentar tentang kopi Cyan yang dingin karena belum disentuh, menanyakan apakah jadwal hari ini akan sepadat kemarin, atau sekadar melempar satu kalimat aneh yang tidak penting.

Hari ini, tidak ada. Sedikit berbeda dan aneh rasanya.

Cyan mengetik satu kalimat, lalu berhenti. Kursor berkedip di layar, seolah menunggu perintah yang tidak kunjung datang. Ia menghapus kalimat itu, menarik napas pelan, lalu memulai lagi.

“Ayo, fokus, jangan mudah terdistraksi.”

***

Rapat pagi dimulai tepat waktu. Cyan berdiri di depan layar presentasi dengan posturnya tegap dan suara lantang stabil. Ia memaparkan agenda hari ini tanpa berputar-putar, langsung ke inti.

“Target minggu ini tidak berubah. Koordinasi lintas divisi harus lebih rapi. Saya tidak ingin ada laporan terlambat.”

“Siap,” jawab beberapa anggota tim hampir bersamaan.

Magenta duduk di kursinya, mencatat dengan rapi. Tidak ada interupsi atau bantahan. Itu seharusnya membuat rapat berjalan sempurna.

Namun, entah mengapa, Cyan justru merasa ada bagian yang hilang. Mungkin tertinggal di suatu tempat, tapi apa?

Saat rapat selesai, Cyan menutup laptop. “Pastikan semua catatan dikirim sebelum siang.”

“Baik Bu,” jawab Magenta.

Cyan kembali ke mejanya. Ia mengambil botol minum, lalu berjalan ke pantry. Beberapa detik kemudian, Magenta menghampiri.

Mereka berdiri berdampingan, jaraknya cukup dekat untuk menyadari gerak napas masing-masing.

“Genta jadi terlalu banyak diam,” kata Cyan tiba-tiba tanpa menoleh.

“Anda yang jarang memulai percakapan terlebih dahulu, Bu.”

Cyan menuang air ke gelasnya, memperhatikan aliran bening itu seolah ada sesuatu yang penting di sana.

“Lagi ada masalah yah?”

“Sedikit,” jawab Magenta jujur, mencondongkan tubuh sedikit ke arah Cyan tapi tetap menjaga jarak

“Hanya ada beberapa hal yang saya lagi pikirin aja.”

“Kalau gitu, jangan sungkan cerita, Genta. Saya bisa kok, jadi pendengar yang baik.”

Magenta menatapnya sekilas, menghargai tawaran itu, lalu tersenyum kecut.

“Terima kasih, Bu, tapi nggak apa, saya bisa menyelesaikannya sendiri.”

Cyan manggut-manggut, lalu menatap Magenta sebentar sebelum berjalan kembali menuju mejanya. Langkahnya pelan, tapi matanya masih menoleh sesekali, seolah memastikan Magenta tidak terlalu terbebani.

***

Sore datang lebih cepat dari yang disadari Cyan. Di lobi kantor, Magenta berdiri sambil memeriksa ponsel. Ia menoleh ketika melihat Cyan mendekat.

“Mau pulang bareng?” tanyanya.

Cyan mengangguk.

Mereka berjalan berdampingan menuju parkiran. Langkah mereka seirama, tanpa usaha. Tidak ada sentuhan, juga percakapan panjang. Namun, mereka menikmati keheningan panjang itu tanpa protes dan bantahan.

Di depan mobil masing-masing, Cyan berhenti.

“Genta.”

“Ya?”

“Kamu ... besok boleh ribut lagi kok.”

“Itu… sejenis permintaan atau perintah?”

Cyan berpikir sepersekian detik. “Perintah.”

“Siap laksanakan Bu Bos.” Ia mengangguk.

***

Malam itu, Cyan menatap jendela, memandangi hujan tipis yang jatuh di kota. Suara rintik yang lambat laun familiar di telinga, semua terasa sempurna. Namun, sebuah perasaan aneh menghampiri, ia yang tidak tahu bagaimana cara menjelaskan.

Rindu.

Tanpa sadar, tangannya meraih ponsel. Layar menyala, menampilkan deretan pesan masuk dan notifikasi. Cyan menatap nama-nama di daftar kontak, kemudian berhenti di satu nama.

Magenta. Ia menghela napas pelan.

“Dia udah nyampe rumah belum, ya? Lagi ngapain, ya?”

Jari Cyan menggulir layar, menatap foto profil Magenta yang selalu menyungging senyum tipis, tetapi kedua matanya tenggelam. Detak jantungnya sedikit meningkat. Ia menahan napas, lalu tanpa sadar, jarinya menyentuh tombol telepon.

Suara nada sambung terdengar di ujung sana. Beberapa detik kemudian, suara Magenta terdengar. Seketika rasanya Jantung Cyan melompat keluar.

“Halo, Syan? Malam-malam begini? Ada apa?”

“Eh? Nggak, aku cuma ma-mau tanya. Gak ada apa-apa, sih,” jawabnya terbata.

“Kamu kayak lagi bingung. Malam-malam begini nelpon, yang bener aja?”

Cyan menatap langit-langit kamar tidur, mencari alasan. “Iya, aku cuma mau ngobrol sebentar aja sih. Gak usah lama-lama.”

“Hmm, oke. Aku baru aja duduk. Sekarang lagi nyeduh teh. Kamu lagi apa?” Jawab Magenta santai.

“Aku lagi tiduran. Yaudah deh, kalau gitu aku matiin teleponnya ya? Maaf ganggu,” katanya ragu.

“Tunggu, eh, gak apa kok, baru juga telpon, Syan. Ayo kita ngobrol dulu lah,” sahut Magenta cepat.

Cyan menahan senyum. Ia menurunkan ponsel, jari-jarinya menggantung di tombol mati, tapi memilih untuk menunggu.

“Mau ngobrolin apa?” tanya Cyan agak tidak masuk akal karena dia yang menelepon lebih dulu.

“Terserah, apa juga boleh. Biasanya kita ngobrolin apa sih, Syan?”

Tidak pandai mencari topik pembicaraan, akhirnya Magenta yang turun tangan. Ia membahas kejadian konyol di kantor ketika Raka tidak sengaja menabrak bos mereka. Atau ketika Alya menumpahkan es kopi di meja Ratna hingga wanita itu mengamuk histeris seperti satwa liar kehabisan makanan.

“Hahaha, okay-okay. Tarik napas dulu say,” kata Magenta memberi jeda.

“Hahaha… kamu lucu.” Cyan menggumam, mengatur napas agar tidak sesak karena kebanyakan tertawa.

“Syan, coba pegang keningmu deh,” ucap Magenta tiba-tiba mengubah nada suara.

“Lho, kenapa emangnya?”

“Kamu lagi beda soalnya, tumben banget ngajak teleponan tanpa ngomongin kerjaan,” pungkas Magenta membuat Cyan membeku seketika.

1
Anisa Saja
ngeri emang kalau sampai kejadian kayak gitu
Anisa Saja
bener banget itu, Raka.
Anisa Saja
jangan-jangan apa? hayooo
Anisa Saja
memang agak aneh kalau orang yang biasanya banyak omong tiba-tiba diem aja
Anisa Saja
padahal udah sama-sama dewasa.
Anisa Saja
kayaknya si genta ada sesuatu sama cyan nih
Aruna02
kok balas budi sih
Aruna02
dih pede 🤣
Anisa Saja
air ngamuk nggak tuh? ada-ada aja bahasanya. hihi
Anisa Saja
emangnya kenapa kalau dikasih tahu ke orang lain?
Alessandro
adududu.... melting meleyot dlm 1 waktu 😍
Anisa Saja
capek emang ya kalau udah bahas "kapan nikah".
Anisa Saja
salut salut salut. percaya dirinya itu, lo, patut ditiru.
Alessandro
jomblo dari bayi 🤣
Shofiyya Nissa
gimana gimana? uninstall punggung? astaga. baru kerja gitu udh pgen uninstall punggung aja.
jadi senyum" sendiri kan keinget ciuman di bandung🤣
Heni sarasvati
Seruu banget, romansanya dapet, komedinya juga, kocak kocak banget karakternya jadi bisa menikmati baca cerita ini
Heni sarasvati
heh ciuman tuh enggak masuk ke kategori 'doang' woy, ngadi ngadi lu😭
Heni sarasvati
Genta ini kalo gak jail ya modus mulu, tapi dia kalo lagi mode serius gitu keren juga ya
Heni sarasvati
ternyata pernah di tinggal nikah, kasian amat genta nasib lu😭
Heni sarasvati
kata gue lu berdua beneran pada confess dah cepetan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!