Dua bulan lalu, Luella Brynn dipaksa menikah dengan seseorang Bernama Edric Alton yang tidak ia inginkan dan tidak ia kenal. Hanya untuk mengikuti permintaan mendiang orangtua Edric. Pernikahan hanya sebatas formalitas di hadapan orangtua Edric, dan begitu orangtua Edric meninggal. Luella di ceraikan begitu saja oleh Edric. Tidak ada kata perpisahan, hanya ada selembar cek dengan nominal fantastis sebagai rasa terimakasih karena Luella bersedia membantu Edric. Lalu bagaimana dengan kehidupan Luella dan Edric pasca bercerai? Dengan status baru yang akan mereka bawa satu sama lain, sedangkan usia Luella terbilang masih sangat muda bahkan usianya terpaut 15 tahun dengan Edric.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayalifeupdate, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Pagi ini Luella menuju sebuah hotel, dimana dia dan manager marketing membuat janji bertemu dengan klien dari perusahaan manufaktur.
Luella duduk dengan tenang, sedangkan manager marketing terlihat tengah sibuk menelfon. Entah dengan siapa, Luella tidak begitu mendengarkan pembicaraan tersebut.
“Luella, kamu pesan minum dulu. Saya harus vidio call sebentar” ucap Willy.
“Baik Pak” Jawab Luella dengan sopan.
Setelah memesan minuman, tidak lama klien Willy datang. Dia langsung menuju meja dimana Luella berada.
“Luella, design interior Pak Willy?” tanya Pria tersebut.
“Oh benar Pak, saya Luella” jawabnya sopan.
“Saya, Alex” Ucapnya sambil mengulurkan tangan.
Luella menerima uluran tangan tersebut, lalu mereka berkenalan secara langsung.
Keduanya duduk di meja yang sama, Alex terlihat sangat ramah dan bahkan mereka berbicara tanpa rasa canggung.
Tidak lama kemudian, Willy datang dan menyapa Alex. Keduanya terlihat seperti sudah saling mengenal. Luella tidak ingin membuang waktunya, dia membuka laptopnya lalu menunjukan beberapa desain kepada Alex.
“Silahkan Pak, ini ada beberapa design. Mungkin Bapak bisa cek terlebih dahulu” ucap Luella.
Alex meraih laptop tersebut, jarinya menyentuh jari Luella. Sentuhan tersebut segera Luella hindari karenadia tidak ingin Alex berpikir berlebihan.
Sementara Willy, dia hanay sibuk dengan ponselnya dan menerima telefon dari banyak orang.
“Luella sudah lama menekui bidang ini?” tanya Alex.
“Baru 3 tahun Pak”
“Wah sudah cukup lama. Saya suka design kamu yang ini”
“Oh, baik Pak. Bapak bisa cek untuk beberapa ruangan lainnya, mungkin Pak Alex ingin merubah beberapa design lainnya?”
“Tidak. Saya percaya kamu”
“Baik Pak”
Alex menyesap kopinya, matanya tidak berhenti menatap Luella. Mata Alex menelusuri setiap inci wajah Luella dengan seksama. Seperti tidak asing, tapi Alex tidak yakin dimana dia bertemu Luella sebelumnya.
“Luella tinggal dimana?” tanya Alex basa-basi.
“Saya tinggal di komplek belakang crown plaza Pak”
“Oh, cukup jauh untuk sampai disini. Kenapa tidak bertemu Horizon Luxe. Setidaknya tempat itu cukup baik”
“Saya hanya mengikuti permintaan Pak Willy saja Pak”
“Sorry Luella, karena kamu harus jauh-jauh kesini. Lain kali saya yang akan menentukan tempatnya”
“Tidak masalah Pak, menurut saya tidak jauh Pak”
“Tidak, kamu wanita. Mungkin pertemuan berikutnya akan memakan waktu cukup lama, dan saat malam itu tidak bagus kalau kamu pulang sendirian”
“Terimakasih Pak Alex, tapi saya sudah terbiasa dengan hal seperti ini. Saya tidak mau merepotkan Bapak” ucap Luella dengan bingung.
“No, kamu tidak merepotkan. Dan kitab isa bertemu after office hour. Bukan saat weekend begini, kamu juga perlu waktu untuk istirahat” jawab Alex.
Jawaban Alex mengingatkan Luella dengan pernyataan Henry. Senyum Luella terukir tulus merespon pernyataan Alex.
“Terimakasih banyak Pak Alex” ucap Luella.
“Ini kartu nama saya, hubungi saya supaya saya bisa menyimpan nomor kamu. Dan kalau saya perlu apa-apa, saya bisa direct ke kamu tanpa perantara. Itu akan mempercepat pekerjaan kita berjalan dengan lancar” jelas Alex.
“Baik Pak” jawab Luella.
Luella mengambil ponselnya, lalu menekan nomor yang tertera pada kartu nama yang diberikan oleh Alex, kemudian Luella mengirimkan pesan singkat kepada Alex.
Ting! Ponsel Alex berdering.
“Ok good. Thank you Luella” ucap Alex dengan ramah lalu jarinya mulai menyimpan nomor ponsel wanita cantik di hadapannya tersebut.
“Pak Alex, saya minta maaf. Saya banyak telefon dari klien” ucap Willy yang baru saja kembali bergabung dengan Luella dan Alex.
“Tidak apa-apa Pak Willy, marketik memang sangat sibuk”
“pak Alex bagaiman dengan design Luella? Kalau Pak Alex kurang suka kitab isa design ulang”
“Tidak, saya sudah menentukan pilihan. Dan saya tinggal menunggu dari Luella saja untuk proses selanjutnya”
“Oh, begitu. Wah ternyata Pak Alex sangat coock dengan design Luella. Jadi kami tidak membuang-buang wakt Pak Alex begitu saja”
Alex hanya tersenyum, kemudian ia kembali menyesap kopinya. Sementara Luella masih membaca poin-poin yang diajukan oleh Alex, Luella akan segera menyelesaikan supaya pertemuan selanjutnya bisa langsung dikerjakan.
Tatapan Alex tidak lepas dari wajah cantik Luella. Dan Willy mengetahui hal itu.
“Luella memang selain cantik juga dia berbakar dengan ini” batin Willy.
Setelah membaca beberapa permintaan Alex, dan dengan ukuran ruangan yang ada. Luella segera mengirimkan dokumen tersebut kepada Alex.
Alex terlihat membaca dengan detail,dan sambil menunggu jawaban dari Alex. Luella juga terlihat menikmati minumannya.
Sementara Willy sejak tadi hanya fokus engan Luella dan Alex secara bergantian. Seolah Willy penasaran, apakah keduanya saling mengenal. Atau Alex hanya terpukau dengan kecantikan Luella saja.
Tatapan aneh Willy disadari oleh Luella, kemudian Willy memberikan kode ibu jari kepada Luella yang membuat Luella semakin tidak mengerti.