NovelToon NovelToon
Mahar Dendam Sang Ceo

Mahar Dendam Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Aliansi Pernikahan / Penyesalan Suami
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

"Aku tak akan pernah menganggap mu istri apalagi menyentuh mu, karena ikatan ini ada semata- mata untuk menyelamatkan pernikahan kakak ku!"

Bagaimana rasanya harus menikah dengan seseorang yang tidak pernah kita duga sebelumnya? Itulah yang terjadi pada Indira zaraa Husain, laki-laki yang terlihat soleh dan mapan yang menjadi pilihan orang tuanya ternyata tidak sebaik kenyataan nya. Kebenaran yang baru terungkap ketika akad di langsung kan membuat nya mau tak mau harus terlibat pernikahan palsu dengan laki-laki berdarah dingin bernama Senopati trian Barata.

Seno memiliki dendam dan menjadikan Indira istrinya adalah rencana dari dendam nya itu.

Bagaimana pernikahan mereka yang didasarkan atas dendam dan benci itu? ikuti kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MDSC : 13

"Siallan! ternyata perempuan ini tangguh juga! "

Windya mengepalkan tangannya, mendengus kesal. Dari sekian banyak perempuan yang berada di sekitar Seno, sepertinya hanya Indira yang cukup sulit untuk ia singkirkan.

Tatapan Indira yang tenang bahkan nyaris bosan, benar- benar di luar ekspetasi nya. Ia datang dengan niat memprovokasi, mengorek luka, membuat perempuan itu meledak dan kehilangan kendali. Namun yang ia dapatkan justru ketenangan yang terasa seperti tamparan yang tak kasatmata, apalagi ternyata Indira bisa membalikkan ucapannya dengan kata-kata yang tak kalah tajam.

Membuatnya merasa dongkol saja. Padahal sebelum ini ia selalu bisa dengan mudah menyingkirkan parasit- parasit kecil yang mengganggu hubungannya dengan Seno. Hanya wanita ini saja yang membuat nya seperti pihak yang kalah.

Tapi bukan berarti ia tidak bisa, masih ada kesempatan lainnya.

"Cih, " gumamnya pelan, lalu bangkit dari duduk. "membosankan."

Indira bergeming menatap punggung gadis itu yang pergi meninggalkan nya, ia hanya kembali menyusun bunga di Vas,seolah kehadiran Windya barusan tak lebih penting dari debu yang berterbangan di udara.

Ketika matanya fokus pada tangkai- tangkai bunga thumbelina yang segar, di saatitulah Rania muncul di hadapan nya.

Dilihat dari wajah Rania seolah menunjukkan kalau ia mengamati semuanya dan Indira menatap nya dengan ekspresi penuh pertanyaan.

Rania menghela napas. "Sepertinya kau memang harus tahu siapa itu Windya. "

Dan Indira merasa ini adalah cerita yang panjang.

**

Sementara Windya, dengan langkah cepat dan wajah masam beranjak ke arah dapur. Begitu melihat nyonya Athaya tengah mengawasi dua pelayan menyiapkan makan siang, ekspresi nya seketika berubah-- dari kesal menjadi manis dan dari tajam menjadi lembut.

"Oma Athaya. " sapanya ceria. "Windya bantu ya. " kemudian ia langsung mengambil celemek kecil yang tergantung di dekat lemari.

Nyonya Athaya menoleh, sedikit terkejut. "Ah, Windya. Tidak usah repot- repot nak. "

"Tidak apa- apa oma, aku senang kok membantu,lagipula aku sudah biasa di dapur, " katanya ringan sambil meraih tempat lauk untuk di tata di atas meja.

Kalimat itu bukan tanpa maksud. Windya memang pandai memilih kata yang membuat nya terdengar rendah hati, lemah lembut dan seolah berbeda dari wanita kebanyakan, hal itu tentu saja ia lakukan untuk mengambil hati orang-orang di rumah ini.

Sambil membantu memotong buah untuk makanan penutup, Windya mulai melontarkan pertanyaan- pertanyaan kecil, seolah sekedar basa- basi.

"Oma, " katanya pelan. "aku masih agak kaget dengan pernikahan kak Seno yang mendadak ini."

Nyonya Athaya menghela napas, "ya, semuanya sudah terjadi dan meskipun terlalu cepat. Mau bagaimana lagi sayang? ini keputusan Seno dan oma harap kamu pun mengerti. "

Windya mengangguk. "Aku mengerti oma, kak Seno melakukan ini demi kak Rania. "

"Indira kelihatannya baik, " lanjut nya hati- hati. "Tapi aku hanya khawatir kak Seno memikul banyak beban. Dia kan selalu merasa bertanggungjawab pada keluarga. "

Nada suaranya terdengar penuh kepedulian, padahal otaknya bekerja cepat, menyusun potongan informasi, mencari celah dari cerita yang mungkin tidak pernah Seno bagikan sepenuhnya.

Belum sempat nyonya Athaya menjawab, langkah kaki terdengar memasuki dapur.

Rania muncul di ambang pintu.

Oh, Kak Rania!” seru Windya seolah terkejut, lalu segera menghampiri. “Huhuhu kita baru bertemu lagi kak, aku sudah mengetahui semuanya dari kak Seno, aku ikut prihatin."

Setelah memeluk nya, ia menggenggam tangan Rania dengan ekspresi penuh empati. “Pasti berat sekali untuk kakak.”

Rania tersenyum tipis, sopan, meski ada jarak di matanya. “Terima kasih.”

Di dalam hati, Windya justru bersorak. Ia memang membenci Rania sejak lama--bukan karena kesalahan apa pun, melainkan karena Rania adalah kakak dari lelaki yang ia cintai, dan kasih sayang yang terlampau dari Seno untuk kakaknya inilah yang membuat Windya cemburu kemudian menaruh kebencian padanya, buktinya demi menyelamatkan pernikahan kakaknya saja,Seno sampai hati melukai perasaan nya dan kini melihat Rania jatuh, rumah tangganya retak, Windya merasakan kepuasan tersendiri.

Dan kebetulan setelah Rania, Indira juga muncul. Melihat sandiwara yang dilakukan Windya, ia menggeleng pelan.

Dari apa yang ia dengar melalui cerita Rania-- Windya memang seperti itu.

Sejak kecil, ia tinggal di panti asuhan yang berada di bawah yayasan milik keluarga Barata. Sejak kecil pula ia sudah akrab dengan rumah besar ini. Kakek Seno--kepala keluarga Barata di masa lalu--menyukai Windya dan segalanya menjadi terbiasa, Windya menjadi kesayangan keluarga ini tanpa disengaja. kakek Seno melihat gadis kecil itu sebagai calon menantu, bahkan pernah melontarkan candaan serius tentang menjodohkannya dengan Seno.

Ketika sang kakek meninggal, candaan itu berubah menjadi wasiat tak tertulis.

Itulah sebabnya Seno tidak pernah benar-benar bisa melepaskan Windya.

Dan meski Windya miskin, yatim piatu, tanpa darah bangsawan apa pun, ia tumbuh dengan arogansi yang tidak kalah dari siapa pun. Karena di kepalanya, ia sudah menempatkan diri sebagai calon Nyonya Barata. Sekarang, ia kuliah di universitas ternama--semua biayanya ditanggung Seno. Itu saja sudah cukup membuatnya merasa berhak atas segalanya.

"Kak Ryan belum masuk kerja, ya?” tanya Windya tiba-tiba, memotong keheningan.

Seolah dipanggil namanya, Ryan muncul dari arah ruang keluarga. Wajahnya masih menyimpan bekas luka, meski sudah samar. Langkahnya sedikit kaku.

“Aku masih pemulihan,” jawab Ryan singkat.

“Oh,” Windya tersenyum. “Pantas.”

Nada suaranya terdengar ringan, tapi ada sesuatu yang menusuk di baliknya.

Mereka kemudian berkumpul di meja makan untuk makan siang. Indira duduk dengan postur tegak, ekspresinya netral. Rania di sampingnya. Ryan berhadapan dengan Indira. Dan Windya--dengan sengaja--duduk di posisi yang memungkinkan ia melihat semuanya.

Makan belum benar-benar dimulai ketika Windya kembali membuka suara.

“Aku selalu penasaran,” katanya sambil memainkan sendok. “Bagaimana rasanya menikah dengan orang yang awalnya mencintai orang lain?”

Udara di meja makan langsung menegang.

Rania terdiam kikuk, seolah belum lepas penderitanya karena sindiran Seno kemarin dan kini dari Windya. Sementara Ryan mengeraskan rahang, tapi Indira tetap tenang.

Nyonya Athaya sendiri melihat ketegangan atas celetukan Windya tapi ia memilih untuk tetap mengamati.

"Pertanyaannya cukup… spesifik,” jawab Indira akhirnya.

Windya tersenyum polos. “Maaf, aku hanya penasaran. Soalnya ceritanya cukup unik, kan? Dari hubungan kak Ryan dengan Indira, lalu pernikahan yang gagal, sampai akhirnya kak Seno yang menggantikan.”

Kata menggantikan itu diucapkannya dengan penuh penekanan.

“Semua demi menyelamatkan pernikahan kak Rania,” lanjut Windya. “Heroik sekali ya, " katanya sambil memiringkan kepala.

Ryan mengepalkan tangan. “Jaga ucapanmu, Windya.”

Windya memasang wajah terkejut. “Aku hanya menyampaikan fakta.”

Indira meletakkan sendoknya perlahan. “Fakta versi siapa?”

Windya menoleh. “Versi yang diceritakan kak Seno.”

Indira mengangguk pelan. “Kalau begitu, mungkin kau hanya mendengar sebagian kecil cerita.”

“Ah ya?” Windya pura-pura penasaran. “Jadi tidak benar kalau kalian berselingkuh?”

Hening.

Indira menatap Windya lurus. “Tidak benar.”

“Menarik,” Windya tersenyum. “Karena dari ceritanya, kau terlihat sangat… oportunis.”

Kalimat itu disengaja., Indira tahu gadis ini ingin memojokkan nya di depan anggota keluarga.

Dan meja itu terasa lebih dingin.

Indira meletakkan sendoknya perlahan. “ bukankah kata itu lebih cocok untuk mu? dan kau tampaknya sangat menikmati menceritakan ulang sesuatu yang bukan urusanmu.”

Windya pura-pura terkejut. “Aku hanya jujur. Bukankah lebih baik semuanya terbuka?”

“Tidak,” jawab Indira tenang. “Yang lebih baik adalah tahu kapan harus diam.”

Pada saat itulah langkah kaki berat terdengar mendekat.

Seno muncul.

“Ada apa ini?” tanyanya, nada suaranya dingin.

Windya bergerak cepat. Matanya langsung berkaca-kaca. “Kak Seno."

"Kenapa kau menangis? "

Windya langsung memasang wajah bersalah. " T-tidak apa- apa kak, tadi aku hanya bertanya… tapi kak Indira sepertinya salah paham padaku.”

Tatapannya beralih pada Indira, penuh tuduhan dan tanpa kata.

Seno langsung menoleh ke arah Indira. “Apa lagi yang kau katakan?”

Indira berdiri, tidak tergesa-gesa. "Aku hanya menanggapi perkataan nya yang bisa saja menimbulkan fitnah. "

Seno menatap tajam. "kau selalu saja begitu. "

"Tidak bisa diam. " imbuhnya.

Indira tersenyum, sarkastis. "Lucu sekali. Harusnya kalau ingin menyalahkan ku, kau datang dari awal percakapan bukan dari bagian dramatis nya saja. "

"Dan tanyakan pada tunangan mu itu, kenapa harus mengungkit sesuatu di atas meja makan, harusnya dia tahu tata krama dan sopan santun, atau kau tidak mengajarkan itu padanya? "

Skakmat! Seno terdiam.

Dan senyum puas Windya dibalik punggung Seno pun langsung memudar digantikan dengan rasa kesal.

Indira kemudian mengambil tasnya. “Selamat makan.”

Tanpa menunggu izin siapa pun, ia melangkah pergi, dengan punggung yang tegak dan langkah mantap.

Tidak. Bukan karena ia kalah. Tapi hanya memilih untuk tidak tinggal di tempat yang tidak memberinya harga diri dan itu, jauh lebih menyakitkan bagi mereka yang ingin menjatuhkannya.

******

1
partini
kalau dia ga tepati potong atau siram burung nya beres kan
Ariany Sudjana
seno Seno kenapa kamu harus marah lihat postingan Adrian di medsos? kenapa juga Indira harus lapor sama kamu kalau mau kerja? emang kamu siapanya Indira? kamu bilang kamu suaminya Indira, apa benar seperti itu? bukannya kamu itu hanya suami di atas kertas, lagipula kamu kan sudah ada si pelacur murahan, yang kamu cintai dan kamu banggakan, sampai kamu ga tahu kamu sudah dibodohi sama si pelacur murahan 🤭🤭🤣🤣
Helen@Ellen@Len'z: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Ayesha Almira
puas bgt indira bkn wanita yg lemah..
partini
jijik sehhh punya mu aja udah longgar kaya terowongan juga, nanti tekdung cari kambing hitam sihhh
partini
nanti tekdung bilang anaknya Seno aihhh ,, OMG seno seno CEO ledhoooooooooo 🤣🤣🤣🤣
Ariany Sudjana
hahaha windya memang pelacur murahan, pantas saja berambisi ingin jadi istrinya Seno, dan Seno bodohnya percaya dengan pelacur murahan seperti windya 🤭🤭🤣🤣
Aiyaa writer
bagus
Ariany Sudjana
hah Seno kamu bodoh, kamu ga suka Indira dekat dengan Adrian, sedangkan jalang peliharaan kamu itu nempel terus kaya perangko dan terus jadi kompor buat kamu, tapi kamu diam saja
partini
hemmm aihh seno seno bisa ga sih kamu berbeda dari laki laki lain yg melohoyyy 🤦🤦
ga tegas ulet bulu nempel pun diem" Bae rasa"kamu kurang 12/ons
azzura faradiva
dasar pria rakus,plin plan sana sini mauuuuu🙄
partini
seno lelaki menyek" ga ada tegas sedikit pun aduhhh 🤦🤦🤦
Ariany Sudjana
windya kamu ini pelacur murahan, udah tahu seni itu suami Indira, tapi kamu ga tahu diri nempel terus kaya perangko, benar-benar pelacur murahan kamu
Helen@Ellen@Len'z: 🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦windya windya 🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦
total 1 replies
Dian Pravita Sari
ini pun gak tamat??? bener bener kecewa gak da satupun yg tamat cerita di novel. tooo
tinggalkan aja gak ada tanggung jawabnya buat pembaca
Dancingpoem: sabar ka, ini baru 21 bab dan masih bersambung/Sweat/
total 1 replies
partini
luka tusuk lama ehhhh apa seno seorang mafia
aduh ran ran laki laki kaya gitu di pertahankan cinta buta kamu
sen kamu ga tau kelakuan iparmu bantai lah dari pada nyakitin istri
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan gila kamu windya, kalau seno sudah tidak mau sama kamu ya sudah, dasar gila dan serakah kamu yah
Helen@Ellen@Len'z: windya🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦
total 1 replies
partini
memang sudah gila tuh anak asuh mu
partini
Widya kaya jelangkung deh
aduh situ lagi apa di dada remas" ga yah
Ariany Sudjana
dasar jalang murahan kamu windya, sampai segitunya kamu ngejar Seno, semoga setelah ini Seno bisa membuka hatinya untuk Indira, kalau tetap ga bisa juga, sudahlah Indira tinggalkan saja Seno, lebih baik kamu dengan Adrian
Ariany Sudjana
bodoh kamu Seno, Indira kamu biarkan sendiri di halte bus, dan kamu lebih membela menjemput jalang murahan itu di kampus, suami macam apa kamu? lebih baik Indira dengan Adrian saja, Adrian lebih bisa menghargai perempuan
Helen@Ellen@Len'z: setuju bgt andai lndra sm adrian aja drpd bersuami seno bangsat🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬jd lepaskan lndira biar lndira bahagia bersama org lain aja drpd berumahtangga sm seno🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬
total 1 replies
partini
Indira generasi sandwich
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!