Franceska wanita cerdas berpendidikan tinggi, berparas cantik dan berprofesi sebagai guru matematika. Suatu kombinasi yang melengkapi penampilannya yang good looking, cemerlang dan bersinar dari keluarga sederhana.
Prestasi akademik, serta kecerdasannya mengola waktu dan kesempatan, menghentarkan dia pada kesuksesan di usia muda.
Suatu hari dia mengalami kecelakaan mobil, hingga membuatnya koma. Namun hidupnya tidak berakhir di ruang ICU. Dia menjalani penglihatan dan petualangan dengan identitas baru, yang menghatarkan dia pada arti kehidupan sesungguhnya.
》Apa yang terjadi dengan Franceska di dunia petualangannya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Petualangan Wanita Berduri."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. PWB
...~•Happy Reading•~...
Lenox dan Juke yang tidak menyadari, terus mengerjakan soal dan menekan bel. Ketika lampu tetap berwarna merah, mereka panik. Mama mereka, juga ikut panik melihat sisa waktu.
Lenox dan Juke bingung melihat soal yang dikerjakan sama dengan yang mereka kerjakan di rumah. "Apa ada yang salah?" Tanya Juke. Lenox menggeleng tidak mengerti.
Rasa panik dan bingung membuat Lenox dan Juke tidak melihat ada sedikit perubahan pada tanda. Sehingga berdampak pada hasil akhir. Waktu yang makin menipis dan belum menemukan Jawaban membuat mereka panik.
Angin ledekan di dunia maya mulai berbalik, ketika Jefase menekan bel dan lampu berwarna hijau. Terdengar sorakan di aula SMA Harapan, karena teamnya lolos ke babak selanjutnya.
Sedangkan siswa SMA Pelita terdiam saat melihat teamnya belum menyelesaikan soal hingga waktu berakhir dan dinyatakan gugur.
Mama Lenox dan Mama Juke mematung mendengar pengumuman penyelenggara. Team dari SMA Pelita tereliminasi.
SMA Harapan terus melaju ke babak terakhir untuk menentukan juara 1, 2 dan 3. Semua yang ada dalam ruangan kompetisi dan di ke tiga sekolah jadi tegang.
Ketika soal muncul di layar monitor, semua orang menahan nafas melihat Hernita dan Jefase mengerjakan soal dengan cepat. Tiba-tiba Jefase dan Hernita berdiri dan menekan bel bersamaan. Melihat lampu berwarna hijau, tanpa sadar kepala sekolah dan ketua yayasan berdiri dan mengepalkan tangan.
Begitu juga sorak sorai di aula SMA Harapan yang teamnya keluar sebagai pemenang pertama. Jefase menepuk pundak Hernita yang melompat sambil air mata bergulir.
Papah Hernita melihat putrinya dengan rasa bangga yang meluap. "Sudah selesai, Pak? Tanyanya kepada guru yang ada di sampingnya.
"Belum, Pak. Mereka mungkin istirahat sebentar, sebelum babak berikutnya untuk perorangan.
Ibu Sance memegang kepala melihat kondisi utusan mereka. "Pak, bagaimana ini? Sepertinya Lenox dan Juke sudah down. Apa mereka terus maju untuk perorangan?" Tanya Ibu Sance kepada ketua yayasan.
"Terus maju. Tidak bisa mundur lagi." Ucap ketua yayasan sambil matanya tidak beranjak dari Hernita yang sedang menangis terharu dan ditenangkan Jefase.
"Nita, perorangan nanti, jangan tahan atau kasih jeda waktu padaku. Kau harus keluar sebagai juara. Bukan untuk peroleh hadiah, tapi untuk memberikan pelajaran kepada pelita dan supaya diterima harapan."
"Ini kesempatanmu untuk membuktikan diri. Ngga usah pikirkan aku. Karna aku juara juga ngga ada pengaruhnya bagi siapa pun. Kau berbeda." Bisik Jefase sebelum mereka berpisah tempat.
Hernita hanya bisa mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Dia sangat berterima kasih atas pengertian Jefase yang memberikan kesempatan padanya.
Situasi Lenox dan Juke sangat berbeda. Mereka seperti petinju yang telah dipukul babak belur pada lomba beregu. Sehingga saat lomba perorangan, semua yang dipelajari atau dihapal, menguap.
"Lenox lebih baik kita mundur. Aku tidak ingat apa pun." Bisik Juke sebelum pindah tempat.
"Sudah tidak bisa mundur. Ikut saja. Kalau gugur, ya gugur." Ucap Lenox pasrah. Apa lagi dari jauh dia melihat Hernita dan Jefase saling memberi semangat.
Sedangkan Mama mereka seperti orang gila, karena anak mereka tidak bisa kerjakan soal yang sudah mereka tahu. Mama mereka juga tidak menyadari, ada perubahan pada soal.
Seperti yang dikatakan Juke. Ketika perlombaan dimulai, mereka tidak bisa mengerjakan soal yang diberikan. Sehingga gugur pada babak awal. Ketika tersingkir, mereka langsung keluar dan pulang.
Begitu juga dengan ketua yayasan dan lainnya mereka langsung meninggalkan tempat karena malu. Sehingga tidak melihat peserta yang keluar sebagai pemenang secara langsung.
Seperti yang diperkirakan, Hernita dan Jefase masuk sampai babak akhir bersama utusan dari SMA negeri dari Jakarta.
Ketika Hernita dan Jefase berdiri untuk menekan bel, lampu bernyala hijau, Hernita keluar sebagai juara 1 dengan selisih sepersekian detik dari Jefase. Maka sorak sorai kembali bergema di aula SMA Harapan.
Begitu juga dengan ketua yayasan, kepala sekolah dan guru pendamping, juga Papah Hernita tanpa sadar berdiri dan bertepuk tangan. Bangga mendengar nama Hernita diumumkan sebagai pemenang pertama dan Jefase kedua.
Tiba-tiba Ceska merasa telapak tangannya panas. 'Selamat, Nak. Teruslah menjadi kebanggaan Papahmu. Jika tidak bisa bicara dengan Mamah lagi, jangan berkecil hati dan merasa sendiri. Selain ada Papah, ada Tuhan bersamamu.'
'Makasih, Mah. Makasih.' Pipi Hernita sudah basah oleh air mata bahagia melihat Papahnya terus berdiri sambil bertepuk tangan dengan mata berkaca-kaca.
Ceska sudah tidak bisa berkata-kata, karena telapak tangannya yang panas makin panas dan tiba-tiba berubah dingin seperti menggenggam es batu.
~▪︎▪︎~
Di rumah sakit tempat Ceska di rawat, Mamahnya setia menunggu. "Bu, siapa yang sakit?" Tanya seorang dokter muda yang mendekatinya. Karena sudah hampir satu bulan melihat Mamah Ceska berada di ruang tunggu keluarga pasien rumah sakit.
"Putri saya, dokter." Jawab Mamah Ceska pelan dan sedih.
"Sakit apa, Bu?" Dokter merasa prihatin, hingga duduk di samping Mamah Ceska.
"Dia alami kecelakaan hampir sebulan lalu..." Mama Ceska menceritakan peristiwa kecelakaan yang dialami putrinya.
Walau biaya perawatan ditanggung oleh perusahaan mobil box yang menabrak, tapi hati Mamah Ceska seperti berada di lautan luas. Kadang mual, kadang sedih memikirkan nasib putrinya.
"Oh, apa kata dokter yang merawatnya?"
"Hanya mujizat, karna kondisinya terus koma, tidak berubah. Saya tidak bersedia mencabut alat-alat dari tubuhnya." Mamah Ceska mulai menangis ingat kondisi putrinya.
"Baik. Ibu harus kuat, jangan sampai sakit. Siapa nama putri, Bu?"
"Franceska, dokter. Putri saya ada di ICU." Mamah Ceska hendak berdiri.
"Tidak usah berdiri, Bu. Istirahat di sini. Saya mau melihatnya sebentar." Dokter muda berjalan menuju ICU.
Ketika berada di ruang ICU, dia berbicara serius dengan suster dan dokter jaga tentang kondisi Ceska. "Saya permisi mau lihat pasien sebentar."
"Silahkan dokter, Robert." Suster mengantar ke tempat Ceska.
"Pasien seperti sedang tidur." Ucap dokter, saat melihat Ceska.
"Eh, iya, ya, dokter. Saya baru perhatikan. Semua luka luarnya sudah sembuh." Suster terkejut melihat perubahan fisik Ceska.
"Hai Franceska. Mengapa betah seperti ini? Berdoa dan mintalah..." Bisik dokter, karena melihat pasien masih muda dan sangat cantik.
Tanpa disadari, dokter mengusap kepalanya dan kembali berkata pelan. "Ayo, Franceska. Mamahmu tidak sabar menunggumu. Berdoa dan mintalah pada-Nya..." Bisik dokter lagi, karena sudah tahu dari dokter yang merawat, hanya mujizat yang bisa menyembuhkan Ceska.
Ketika mengangkat tangan dari kepala Ceska, dokter Robert terkejut melihat Ceska membuka mata perlahan. "Suster, lihat. Apa saya sedang berhalusinasi?" Dokter Robert terkejut.
"Permisi dokter." Suster ikut terkejut dan memanggil dokter jaga untuk melihat kondisi Ceska.
"Oh, ternyata mujizat itu ada dan ini sangat menakjubkan." Ucap Dokter jaga yang melihat kondisi Ceska. Mereka langsung memeriksa kondisi Ceska menyeluruh untuk memastikan.
Para petugas medis dan dokter makin takjub mengetahui semua luka dalam telah sembuh dan tidak ada tulang yang retak atau patah. Mereka segera melaporkan kabar gembira itu untuk keluarga.
Mamah Ceska yang mendengar kondisi putrinya, langsung memegang dada dan syukur. 'Terima kasih Tuhan. Engkau telah menjawab doaku.' Mamah Ceska membatin sambil menangis, lalu berjalan cepat ke ruang ICU bersama suster.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~•○¤○•~...
...The End...
...~•○¤○•~...
...~▪︎▪︎▪︎~...
...Terima kasih Readers yang selalu mendukungku dengan membaca dan tidak lupa meninggalkan jejak, sehingga aku tahu kehadiranmu. Semoga selalu sehat dan bahagia di mana pun berada. Kita bertemu lagi di karya berikutnya. Salam Lope² yang MantuLL. 🙏🏻❤️😍🤗...
...~▪︎○♡○▪︎~...
yey akhirnya Hernita jd pemenangnya,,akhirnya kisah petualangan Ceska berakhir sudah😧alhamdulillah Ceska akhriny Juga sadar dan lekaS sembuh
Di tunggu ya dek karya selanjutnya 🙏❣️