NovelToon NovelToon
Sebel Tapi Demen

Sebel Tapi Demen

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:971
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~

" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~


Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan pergi lagi..jangan menghilang lagi..

Hamka membeku di tempat.

Matanya terpaku pada sosok perempuan yang berdiri membelakanginya. Postur itu. Rambut itu. Cara ia berdiri. Dadanya seolah diremas keras.

Kakinya terasa kaku, lidahnya kelu. Tak ada lagi ruang untuk menyangkal. Ia yakin,perempuan itu adalah Si Tetangga Tantrum yang selama ini menghilang dari hidupnya.

Dengan langkah pelan, Hamka mendekat, tanpa disadari oleh Naura. Jarak di antara mereka menyempit, sementara udara di ruangan itu seolah berhenti bergerak, menunggu detik ketika masa lalu akhirnya bertabrakan dengan kenyataan.

" Naw…”

Suara itu terdengar pelan, namun cukup untuk memecah keheningan.

Naura tersentak. Tubuhnya menegang seketika, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat sebelum kembali berlari tak beraturan. Ia perlahan berbalik, wajahnya pucat, matanya membesar saat sosok di hadapannya kini terlihat jelas.

Hamka berdiri hanya beberapa langkah darinya. Tatapannya dalam, rahangnya mengeras, namun di balik itu ada gejolak yang sulit ia sembunyikan. Nama itu keluar dari bibirnya dengan nada yang tak asing..nada yang dulu sering memanggilnya pulang, memancing amarah sekaligus tawa.

Untuk beberapa detik, tak ada satu pun kata yang terucap. Waktu seolah berhenti, membiarkan kenangan lima tahun lalu menyeruak tanpa permisi.

“Gue…” Hamka menarik napas, suaranya serak. “Ternyata… benar lo.”

Naura menelan ludah. Bibirnya bergetar, namun ia memaksa diri bersuara.

“Hamka?”

Satu nama. Satu pengakuan.

Tak ada lagi keraguan. Di ruangan itu, dua orang yang pernah saling mengenal terlalu dekat kini berdiri saling berhadapan dengan jarak yang dekat, namun perasaan yang masih sama rumitnya seperti dulu.

Naura tersadar lebih dulu. Napasnya tersengal halus, matanya berkaca, dan tanpa berkata apa-apa ia berbalik hendak pergi. Namun langkahnya terhenti ketika Hamka dengan cepat mencekal lengannya.

“Jangan pergi lagi… jangan menghilang lagi,” ucap Hamka pelan, suaranya bergetar meski tatapannya lekat menahan perempuan di depannya.

Naura menunduk sesaat. Ada ribuan kata yang ingin ia keluarkan, namun semuanya tertahan di tenggorokan. Ia menghela napas, lalu dengan gerakan halus namun tegas melepaskan cekalan tangan Hamka.

“Maaf… aku harus kerja,” ucapnya singkat.

Tanpa menoleh lagi, Naura melangkah cepat menuju pintu.

Hamka masih membeku di tempatnya, terjebak di antara percaya dan tidak percaya. Pertemuan itu terlalu nyata untuk disebut mimpi, namun terlalu singkat untuk ia pahami.

Beberapa detik kemudian, kesadarannya kembali. Hamka tersentak, berlari mengejar. Pintu apartemen sudah terbuka, lorong kosong, hanya gema langkah yang tertinggal.

Terlambat.

Perempuan itu sudah pergi..lagi

VOP Naura

Langkahku terasa lebih cepat dari biasanya saat pintu apartemen itu tertutup di belakangku. Dadaku sesak, napasku tak beraturan. Aku tak berani menoleh, takut jika sedikit saja aku ragu, kakiku akan berhenti.

Kenapa harus sekarang? Kenapa harus di tempat seperti ini?

Wajahnya… suaranya… semuanya masih sama, seolah lima tahun itu tak pernah ada. Tapi aku tahu, aku tak bisa kembali. Bukan karena aku tak mau..melainkan karena ada terlalu banyak hal yang tak sanggup aku jelaskan.

Maaf, Ham…

Bukan aku ingin menghilang lagi. Aku hanya belum cukup kuat untuk menjelaskan kenapa dulu aku pergi, dan kenapa sampai sekarang aku masih memilih berjalan sendiri.

***

Naura tiba kembali di kafe dengan langkah yang sedikit tergesa. Helm masih ia jinjing saat ia masuk, napasnya belum sepenuhnya teratur. Aroma kopi dan suara mesin kembali menyambutnya, seolah menariknya paksa kembali ke realitas yang tadi sempat runtuh.

“Ra, lama banget. Aman?” tanya salah satu rekannya sambil melirik heran.

Naura tersenyum tipis, terlalu tipis untuk disebut senyum. “Aman,” jawabnya singkat.

Ia segera menuju bar, meletakkan helm, lalu kembali mengenakan apron. Tangannya bergerak membantu menata gelas dan pesanan, mencoba menyibukkan diri agar pikirannya tak kembali ke lantai lima belas apartemen itu. Namun sesekali, jemarinya berhenti tanpa sadar, dadanya kembali terasa sesak.

Wajah Hamka, suaranya saat menyebut namanya, tatapan yang penuh tanya..semuanya masih jelas terpatri. Naura menelan ludah, memaksa fokus pada pesanan yang datang silih berganti.

Di tengah hiruk-pikuk kafe, Naura berdiri di balik senyum profesionalnya. Tak satu pun pengunjung tahu, bahwa di balik apron dan sapaan ramah itu, hatinya sedang berantakan..

karena baru saja berhadapan dengan masa lalu yang ia kira telah lama selesai.

Mobil Hamka terparkir tak jauh dari kafe JINGGA. Lampu kota memantul di kaca mobilnya, sementara ia duduk diam di balik kemudi, sengaja menunggu. Ia tahu Naura belum pulang. Malam itu hari libur, dan kafe penuh sesak oleh pengunjung. Naura terpaksa lembur.

Jam di dashboard menunjukkan tepat pukul sepuluh malam. Hamka melirik arlojinya, lalu kembali menatap pintu kafe yang tak henti terbuka-tutup. Ada rasa sabar yang tak pernah ia miliki sebelumnya, namun malam itu ia memilih bertahan.

Hingga akhirnya, sosok itu muncul.

Hamka tersenyum tipis saat melihat Naura melangkah keluar dari kafe, melepas apron, menggantungkan tas di bahu. Lima tahun berlalu, namun wajah itu tak berubah..

bahkan terlihat lebih cantik dengan riasan tipis yang natural. Rambutnya kini lebih panjang, tergerai lembut di punggungnya, membuat dada Hamka kembali menghangat sekaligus perih.

Ia masih mengamatinya dari kejauhan. Perempuan yang pernah pergi begitu saja darinya, kini berdiri di depan matanya..

nyata, hidup, dan masih mampu membuat dunianya berhenti berputar hanya dengan satu tatapan.

Hamka tak menghampiri Naura.Meski batinnya sangat ingin berlari ke arahnya ,namun Ia berusaha menahan diri, memilih tetap di balik kemudi, hanya ingin memastikan satu hal..melihat wajah itu baik-baik, tanpa kata, tanpa luka baru.

Dari kejauhan, ia melihat Naura menaiki ojek online. Tanpa ragu, Hamka menyalakan mesin mobil dan mengikuti dari jarak aman. Bukan untuk mengganggu, hanya untuk memastikan.

Perjalanan itu tak lama. Hingga akhirnya motor berhenti di depan sebuah kos sederhana dengan papan kecil bertuliskan Khusus Putri. Hamka memperlambat laju mobil, menepi tak jauh dari sana. Ia melihat Naura turun, membayar, lalu melangkah masuk ke halaman kos tanpa menoleh ke belakang.

Hamka mematikan mesin. Dadanya terasa berat.

Ia tahu, lima tahun itu bukan waktu yang singkat untuk sekadar “pergi”. Sesuatu pasti telah terjadi..sesuatu yang memaksa Naura menghilang, memulai hidup baru, dan menata dirinya sejauh ini.

Hamka bersandar di kursi, menatap bangunan sederhana itu lama.

Dan dalam diamnya, ia berjanji pada diri sendiri: ia akan mencari tahu.

Hamka akhirnya menyalakan kembali mesin mobilnya. Perlahan, ia meninggalkan tempat itu, menjauh dari kos sederhana yang baru saja memberinya terlalu banyak jawaban sekaligus terlalu banyak pertanyaan.

Di sepanjang jalan, batinnya berkecamuk. Ada rindu yang kembali menemukan bentuk, ada marah yang belum sempat reda, dan ada penyesalan yang diam-diam menyelinap. Lima tahun terasa runtuh hanya dalam satu malam, menyisakan perasaan yang tak lagi bisa ia tata dengan logika.

Hamka menggenggam kemudi lebih erat, menatap lurus ke depan. Ia tahu, setelah ini tak ada lagi hari yang benar-benar tenang. Karena begitu ia menemukan Naura kembali, hatinya tak lagi mau melepaskan.

1
Lani Triani
Lanjuut thoorrr😍
Azumi Senja
Ceritanya ringan ..manis ..bikin salting guling -guling... seruuu..rekomend deh pokoknya ❤️
Sybilla Naura
nah loo...😄
Sybilla Naura
jadi ikutan sediihh
Sybilla Naura
ngakakk 🤣🤣
Sybilla Naura
Baru baca baca aja udah seruuuu...
Sybilla Naura
Seruuuu 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!