NovelToon NovelToon
Hantu Tampan Si Mesum

Hantu Tampan Si Mesum

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Dunia Lain / Spiritual / Hantu / Suami Hantu
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Angin Siang Itu Berhembus Cukup Kencang, Memainkan Helai Rambut Panjang Milik Jelita Yang Sedang Duduk Santai Di Selasar Universitas. Bagi Jelita, Dunia Hanya Sebatas Apa Yang Bisa Dilihat Oleh Mata Dan Logika. Baginya, Cerita Hantu Hanyalah Dongeng Pengantar Tidur Untuk Orang-Orang Penakut.​"Hari Ini Kita Gak Ada Kelas! Gimana Kalau Kita Ke Gedung Kosong Sebelah," Ajak Salah Satu Teman Jelita Yang Bernama Dinda. Matanya Berkilat Penuh Rencana Tersembunyi.​Jelita Mengangkat Alisnya Sebelah, Menatap Dinda Dengan Tatapan Remeh. "Buat Apa Kita Kesana? Kamu Mau Ngajak Mojok Ya?" Selidik Jelita Sambil Tersenyum Tipis.​"Kamu Kan Gak Pernah Takut Dan Gak Pernah Percaya Hal Kaya Gitu. Kita Mau Tantang Kamu Kesana Untuk Uji Nyali," Kata Dinda Tegas.​"Bener Juga! Lumayan Hiburan Di Saat Lagi Kelas Kosong," Sambung Ira Yang Tiba-Tiba Bergabung, Memberikan Dorongan Ekstra Agar Jelita Terpojok.​Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan. "Oke, Siapa Takut? Ayok Kita Kesana."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Saat mereka sedang asyik makan, tiba-tiba seorang mahasiswa baru—seorang pria bertubuh tegap, berambut sedikit gondrong, dan memiliki tatapan mata yang sangat tajam—berjalan melewati meja mereka. Anehnya, ia mengenakan jaket kulit hitam di tengah cuaca panas, dan langkah kakinya sama sekali tidak terdengar.

​Pria itu berhenti sejenak di samping kursi Dinda. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menjatuhkan sebuah gantungan kunci berbentuk pedang kecil dari batu hitam tepat di atas meja Dinda, lalu terus berjalan tanpa menoleh lagi.

​"Eh... itu punya siapa?!" seru Dinda refleks, namun suaranya langsung mengecil begitu teringat pesan dari butiran es tadi.

​Ira mengambil gantungan kunci itu dan memeriksanya. "Jel... ini bukan barang sembarangan. Suhu batunya sama dinginnya dengan mawar kamu."

​Jelita tertegun. Ia melihat punggung pria itu yang perlahan menghilang di balik kerumunan, namun bayangan pria itu di lantai tampak mengenakan baju zirah kuno. "Dinda... sepertinya lamaranmu benar-benar diproses. Itu bukan mahasiswa biasa."

Dinda segera menyambar gantungan kunci pedang batu hitam itu dan mendekapnya di dada seolah-olah itu adalah harta karun paling berharga di dunia. Senyumnya melebar hingga telinga, matanya berbinar penuh kemenangan.

​"Wah, serius Jelita! Akhirnya aku punya pacar hantu! Hahahaha!" tawa Dinda meledak, membuat beberapa orang di kantin kembali menoleh, tapi kali ini Dinda tidak peduli. Ia merasa seperti baru saja memenangkan lotre beda dimensi.

​Jelita dan Ira hanya bisa terdiam membeku, alias cengo, melihat tingkah sahabat mereka yang satu ini. Di saat orang lain mungkin akan pingsan atau lari ke dukun karena didekati ksatria gaib, Dinda justru merayakannya seolah baru saja ditembak oleh idol K-Pop.

​"Yes! Aku tidak jomblo lagi!" seru Dinda penuh semangat. Ia kemudian menoleh ke arah Ira dengan tatapan mengejek yang jenaka. "Ira, apa kamu tidak ingin memiliki kekasih? Lihat nih, ksatria penjagaku gantengnya minta ampun, meski agak misterius dan dingin kayak es batu!"

Ira menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya. "Terima kasih, Dinda. Tapi aku masih sayang nyawa dan masih ingin punya pacar yang napasnya hangat, bukan yang kalau lewat bikin suhu ruangan jadi minus sepuluh derajat."

​"Ah, kamu mah payah, Ra! Ini namanya cinta anti-mainstream!" balas Dinda sambil memutar-mutar gantungan kunci pedang itu.

​Namun, saat Dinda tertawa, Jelita menyadari sesuatu. Di belakang kursi Dinda, udara tampak berdesir. Bayangan Gama, sang ksatria, tidak benar-benar pergi. Meskipun sosok manusianya menghilang, Jelita bisa melihat siluet samar seorang pria tegap yang berdiri bersedekap tepat di belakang Dinda, mengawasi gadis cerewet itu dengan tatapan yang sulit diartikan—antara terganggu tapi juga... tertarik.

​"Dinda," panggil Jelita dengan nada lebih serius, membuat tawa Dinda mereda sedikit. "Kamu harus ingat, Gama itu ksatria kepercayaan Arjuna. Dia ada di sini untuk menjagamu karena perintah, tapi juga karena dia 'memilihmu'. Jangan sampai kamu membuatnya kesal dengan kecerewetanmu, atau dia mungkin akan mengurungmu di dalam bayangan."

​Dinda langsung membekap mulutnya sendiri, teringat tulisan es di kelas tadi. "Eh, iya ya... ksatria biasanya suka yang kalem ya? Oke, oke, mulai sekarang aku akan jadi Dinda the Silent Queen."

​Ira mendengus. "Paling cuma tahan lima menit."

Setelah makan siang, Jelita memutuskan untuk pergi ke perpustakaan lantai atas yang sepi untuk mengerjakan tugas, sementara Ira dan Dinda ada urusan di sekretariat himpunan.

​Di antara rak-rak buku tua yang menjulang tinggi, Jelita merasakan kehadiran yang sangat ia kenali. Wangi cendana itu menyeruak, mengalahkan bau kertas lama. Saat ia menarik sebuah buku sejarah tentang Kerajaan yang Hilang, ia menemukan selembar kertas kuno terselip di sana.

​Tulisan di kertas itu adalah tulisan tangan yang sangat rapi dan gagah:

​"Belajarlah dengan tenang, Ratuku. Aku menjagamu dari setiap sudut ruangan ini. Jangan terlalu memikirkan temanmu itu, ksatria kepercayaanku, Gama, memang sedikit terlalu serius saat menjalankan tugasnya mengawasi sahabatmu."

​Jelita tersenyum lebar. Jadi nama ksatria itu adalah Gama. Ia merasa sangat terlindungi sekaligus geli membayangkan Dinda yang cerewet harus berhadapan dengan ksatria pendiam seperti Gama.

Namun, ketenangan itu terusik ketika seorang pustakawan tua mendekati Jelita dengan wajah pucat. "Mbak... Mbak Jelita, ya?"

​Jelita mengernyit. "Iya, Pak. Ada apa?"

​"Tadi ada bapak-bapak tua, pakai baju batik kumal, titip pesan buat Mbak. Katanya... 'Hati-hati dengan mahkota yang kau pakai, karena tidak semua penghuni kegelapan senang dengan kehadiran manusia di tahta mereka'. Lalu bapak itu hilang begitu saja di koridor buntu," cerita si pustakawan dengan suara gemetar.

​Jelita terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Ia menyentuh liontin birunya. Sepertinya, meski Arjuna sangat kuat, ada pihak lain di dunia gaib yang mulai merasa terancam dengan keberadaan Jelita sebagai Ratu baru.

Pukul 03:00 sore, matahari masih terasa terik saat Jelita, Ira, dan Dinda melangkah keluar dari gerbang kampus. Namun, bagi Jelita, udara di sekitarnya terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Peringatan dari pustakawan tua itu terus terngiang di kepalanya, seperti gema yang tak mau hilang.

​Begitu sampai di rumah, Jelita langsung menuju kamarnya, diikuti oleh Ira dan Dinda yang juga merasa ada atmosfer yang tidak beres. Belum sempat Jelita membuka mulut untuk menceritakan kejadian di perpustakaan, suasana kamar mendadak berubah.

Cahaya matahari yang masuk dari jendela tiba-tiba meredup, seolah tertutup oleh awan hitam yang pekat. Bayangan di sudut ruangan memanjang dan memadat, membentuk sosok Arjuna yang berdiri dengan gagah. Namun, kali ini wajahnya tidak menunjukkan kelembutan. Matanya memancarkan kilatan merah yang mengintimidasi, dan aura di sekelilingnya terasa mencekam.

​"Kau tidak perlu menceritakannya, Jelita," suara Arjuna menggema, berat dan dingin, membuat Dinda refleks bersembunyi di balik punggung Ira.

​"Arjuna... kau sudah tahu?" tanya Jelita pelan.

​"Aku tahu setiap hembusan napas yang mendekatimu," desis Arjuna. Ia melangkah mendekat, setiap pijakannya membuat lantai kayu kamar Jelita berderit halus. "Berani-beraninya mereka mengirim pesan lewat manusia fana untuk mengancam Ratuku. Mereka pikir aku akan diam saja melihat tikus-tikus pemberontak itu mulai menampakkan diri?"

Arjuna menangkup wajah Jelita dengan tangannya yang sedingin es, namun gerakannya tetap sangat posesif. "Siapa mereka, Arjuna? Pustakawan itu bilang tidak semua penghuni kegelapan senang aku berada di sana," tanya Jelita dengan suara bergetar.

​Arjuna mendengus sinis. "Hanya sisa-sisa pengikut lama yang masih memuja hukum kuno. Mereka merasa tahta Astina Maya ternoda karena kehadiran jantung manusia yang berdenyut di sampingku. Mereka lupa... bahwa aku adalah hukum itu sendiri."

​Dinda, yang meski takut tapi tetap penasaran, memberanikan diri mengintip. "Anu... Mas Arjuna, apakah mereka berbahaya? Maksudku, mereka nggak akan datang ke kampus dan bikin rusuh kan?"

​Arjuna melirik Dinda dengan tajam, membuat Dinda langsung bungkam. "Gama akan mengurus sisanya di sekitar kalian. Tapi untuk dalang di balik semua ini... aku sendiri yang akan mencabut keberadaan mereka dari keabadian."

Arjuna kembali menatap Jelita, tatapannya kini berubah menjadi penuh obsesi. Ia menarik Jelita ke dalam pelukannya di depan kedua sahabatnya, tidak peduli lagi dengan privasi.

​"Mulai malam ini, kau tidak akan kulepaskan sedetik pun. Penobatanmu telah memicu api, dan aku akan memastikan api itu hanya akan membakar mereka yang mencoba menyentuhmu," bisik Arjuna tepat di telinga Jelita.

Ira menarik napas panjang, ia bisa merasakan bahwa konflik ini bukan lagi sekadar urusan cinta beda dunia, melainkan perang perebutan kekuasaan di alam sana yang menyeret sahabatnya. "Jel... sepertinya hidupmu tidak akan pernah normal lagi."

​Jelita memejamkan mata, membiarkan aroma cendana Arjuna menenangkannya. Di satu sisi ia takut, namun di sisi lain, perlindungan Arjuna yang begitu luar biasa membuatnya merasa menjadi wanita paling berharga di dua dunia.

Sebelum Arjuna menghilang ia membisikan sesuatu pada Jelita.

​"Nikmatilah sisa harimu dengan teman-temanmu yang aneh itu, Jelita. Tapi saat malam tiba, bersiaplah. Ada tamu tak diundang yang mencoba menguji kekuatanku dengan mengincarmu." Bisik Arjuna namun masih bisa di dengar oleh Dinda dan Ira

1
Mingyu gf😘
Arjuna jahat
Mingyu gf😘
sadar jelita sadar
Stanalise (Deep)🖌️
Ya, kalau setannya kayak gini visualisasi nya siapa yang ga kepincut. Beneran 🐊 nih the mycth
Stanalise (Deep)🖌️
Tapi thor, sebenarnya nih si Jelita dia emang bisa nglihat atau ngga Thor? #Bertanya dengan nada lembut. 🥺
Greta Ela🦋🌺
Jangan woi. Hantu ini gak tahu tempat, dah tahu sekarang lagi jam kuliah malah diganggu
Greta Ela🦋🌺
Ya wajib lah dengerin dosen. Kocak amat lu
Greta Ela🦋🌺
Hantunya ganteng gini mah🤣
Greta Ela🦋🌺
Hantunya ini ngada2 ya🤣
Blueberry Solenne
Cape banget Ini yang Jadi temen-temennya, harus rebutan Jelita sama Hantu
Wida_Ast Jcy
tidak semudah itu juga kali. kalau teror berakhir otomatis ceritamu tamat donk. ya kan thor
Wida_Ast Jcy
Bukan masalah begitu jelita. namanya juga sahabat mungkin mereka ingin membantu. dan kesian harus membiarkan dirimu
studibivalvia
merinding tapi bikin terang-sang ya kan jel? 🤣
chemistrynana
ALAMAKK TAKUTNYA
arunika25
memangnya hantu tampan itu lebih menakutkan dari hantu biasa. suka posesif gitu padahal baru ketemu.😱
Ani Suryani
hantu cabul
CACASTAR
jujur cerita ini rada bikin merinding tapi campuran romantika saat penggambaran tokoh ya muncul..hantu kok tampan sih
CACASTAR
kenapa jadi gerah bacanya yaaa🤭
CACASTAR
kak Jing Jing ilustrasinya bikin salfok 😄
Blueberry Solenne
Leluhur si Jelitanya jahat banget, wajar lah si Arjuna nuntut haknya, eweh tapi serem ya bagaimana mungkin dua makhluk beda alam bersatu
Greta Ela🦋🌺
Apa2an sih ini hantu. Sadarlah woi kalian ini beda dunia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!