"Aku akan selalu mencintaimu, tapi ketika kau mengkhianati aku, di saat itulah aku akan pergi." Yasmin
"Aku hanya sekali melakukan kesalahan, tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan." Jacob
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak ada yang cocok
Dokter Jacob mengemudi dengan tangan yang kaku, matanya terus melirik spion kiri dan kanan secara bergantian, mencari rumah yang mungkin cocok untuk jadi tempat tinggal Ara. Wanita yang tengah mengandung itu duduk bersandar di kursi penumpang, sesekali tangannya mengelus perutnya yang terasa sakit karena epek kelelahan.
Sudah seharian Dokter Jacob dan Ara mengitari seisi Jakarta, mulai dari kawasan Menteng yang terlalu tenang dan terpencil, sampai ke daerah Tanah Abang yang bisingnya membuat kepala pusing. Namun tak ada satupun dari rumah-rumah yang telah mereka singgahi yang dirasa cocok untuk dijadikan tempat tinggal yang nyaman bagi seorang wanita hamil.
"Ada tetangga wanita tua yang selalu mengintip dari jendela, ada yang kamarnya terlalu sempit, ada yang airnya sering mati. Apa kota ini kehabisan stok tempat tinggal yang nyaman." Gerutu Dokter Jacob seraya memukul-mukul stir kemudi.
"Aku sama sekali tidak masalah tinggal di manapun, Dokter." ujar Ara dengan suara lemah, nafasnya sedikit tersengal karena kelelahan.
"Seperti apa pun tempatnya, asal aku bisa tidur dengan nyenyak, itu sudah cukup bagiku. Badanku gampang merasa lelah belakangan ini, aku tidak sanggup mencari lagi." Keluh Ara dengan wajah yang kusut.
"Tidak bisa! Calon anakku tidak akan tumbuh di tempat yang tidak nyaman. Kita cari sebentar lagi ya." Jacob menggeleng cepat, matanya tetap fokus pada jalan raya yang mulai dipenuhi lampu malam.
Saat matahari mulai tenggelam sepenuhnya dan langit berubah jadi berwarna ungu kebiruan. Jalanan Ibu Kota malah menjadi semakin ramai dengan kendaraan para karyawan kantor yang baru pulang kerja.
Dirasa tidak akan berhasil, Dokter Jacob terpaksa memutar kemudi menuju arah rumahnya sendiri.
Ara yang sudah merasa sangat kekelahan, sama sekali tak punya keinginan untuk bertanya ke mana tujuan Dokter Jacob selanjutnya.
***
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 20 menit, akhirnya mobil Dokter Jacob tiba di rumahnya yang ada di kawasan Kuningan.
Pintu rumah besar tersebut terbuka oleh Yasmin, sang istri yang selalu menyambut kedatangan Jacob dengan wajah ceria. Senyum Yasmin mengembang kala melihat sang suami turun dari mobil mewahnya, namun senyum di wajah cantik Yasmin meremang kala seorang wanita ikut turun dari mobil tersebut.
"Hai, sayang. Kamu pulang terlambat hari ini. Dan siapa wanita ini?" tanya Yasmin tanpa ada rasa curiga sedikitpun.
Jacob mendekat ke arah Yasmin, lalu mencium kedua pipinya dengan lembut.
"Dia Ara, putri dari pasienku yang baru keluar dari rumah sakit." Jacob menunjuk ke arah Ara, Ara hanya melemparkan senyuman pada dokter Yasmin, sedangkan bibirnya bungkam, tak punya keberanian untuk berbicara pada wanita cantik di hadapannya.
"Oh iya aku ingat, aku pernah melihat Ara beberapa kali saat di rumah sakit. Tapi kenapa dia ikut pulang bersamamu?" tanya Yasmin dengan bingung.
"Ibu Ara sudah pulang kampung tadi siang, Ara tidak ikut karena mulai besok ia akan bekerja di kota ini. Tapi sampai sekarang Ara belum juga menemukan tempat tinggal. Aku merasa iba, jadi aku ajak dia untuk tinggal satu malam saja di rumah kita. Boleh kan, sayang?" Ujar Jacob seraya menggenggam tangan sang istri erat.
Yasmin langsung melepaskan genggaman tangannya dari tangan Jacob, kemudian berjalan cepat ke arah Ara. Jantung Ara serasa mau copot kala Dokter Yasmin menatapnya dengan begitu intens.
"Tentu saja! Aku malah senang kalau Ara mau menginap di rumah kita. Sejujurnya rumah ini terlalu sepi karena yang tinggal di rumah ini hanya kita berdua saja." Ujar Yasmin dengan senyumnya yang ramah.
"Ayo Ara, aku tunjukkan kamar tamu untukmu." Yasmin membimbing Ara ke kamar tamu yang ada di lantai dua, kamar tersebut cukup luas tapi terasa pengap karena lama tidak digunakan. Yasmin mengambil botol pengharum ruangan dari lemari, menyemprotkan sekejap ke udara. Wangi bunga melayang di udara, seharusnya terasa menyegarkan.
Tetapi tiba-tiba Ara menahan mulutnya dengan kedua telapak tangan, wajahnya juga sudah memerah. Ara berjalan cepat menuju ke kamar mandi, kemudian suara muntahan terdengar dari dalam sana.
"Ara, apa kau baik-baik saja?" Tanya Yasmin dengan cemas.
"Aku baik-baik saja Dokter Yasmin, sepertinya aku masuk angin." Balas Ara dari dalam kamar mandi.
"Kalau begitu aku akan membuatkan minuman hangat untukmu ya." Ucap Yasmin, namun tak ada jawaban dari Ara lagi karena sepertinya Ia sibuk muntah.
"Apa yang terjadi ya? Apa Ara tidak suka aroma pengharum ruangan ini? Padahal wanginya kan enak?" Yasmin menggelengkan kepalanya seraya berjalan menuju pintu keluar.
"Ada apa sayang? Apa Ara tidak menyukai kamarnya?" Jacob berjalan mendekat ke arah sang istri yang baru saja keluar dari kamar Ara dengan wajah heran.
"Karena udara kamar tamu terasa pengap, aku menyemprotkan pengharum ruangan supaya udaranya jadi lebih segar, tapi Ara malah muntah-muntah. Aneh sekali bukan?" Jawab Yasmin.
Tangan Jacob mengepal erat saat mendengar ucapan Yasmin. Jacob tahu pasti alasan dari reaksi Ara yang tiba-tiba itu karena epek dari kehamilannya.
"Mungkin Ara lelah, sayang. Biarkan dia istirahat saja dulu." Jacob tersenyum lemah. Jangan sampai Yasmin curiga kalau Ara sedang hamil. Jacob belum mempersiapkan cukup jawaban andai Yasmin bertanya tentang siapa ayah dari bayi dalam kandungan Ara.
"Ya, mungkin saja." Balas Yasmin. Kemudian sepasang suami istri itu berjalan beriringan menuju meja makan karena waktu makan malam sudah lewat.
***
Di dalam kamar mandi, Ara menyiram wajahnya dengan air dingin. Menangkap pantulan dirinya sendiri di depan cermin. Wajahnya terlihat lusuh karena debu jalanan dan juga sinar matahari.
"Dokter Yasmin sangat cantik, aku tidak akan menang jika harus bersaing dengannya." Gumam Ara dengan wajah sedihnya.
Bersambung...