NovelToon NovelToon
Suami Rahasiaku Cowok Tengil

Suami Rahasiaku Cowok Tengil

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / BTS / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

Langit Sterling, remaja Jakarta yang bermasalah akibat balap liar, dikirim ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum Yogyakarta untuk dibina. Usaha kaburnya justru berujung petaka ketika ia tertangkap di asrama putri bersama Senja Ardhani, putri Kyai Danardi, hingga dipaksa menikah demi menjaga kehormatan pesantren.
Pernikahan itu harus dirahasiakan karena mereka masih bersekolah di SMA yang sama. Di sekolah, Langit dan Senja berpura-pura menjadi musuh, sementara di pesantren Langit berjuang hidup sebagai santri di bawah pengawasan mertuanya, sambil menjaga rapat identitasnya sebagai suami rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senja sakit, Langit kangen

Malam yang sangat indah namun mengharukan. Apakah kamu ingin lanjut ke adegan esok pagi di Bandara Adi Sutjipto, saat Langit harus melepaskan genggaman tangan Senja untuk masuk ke ruang tunggu keberangkatan, sementara Senja hanya bisa melambai dengan air mata yang mengalir?

Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti area pesantren, seolah turut merasakan suasana sendu yang menyelimuti gerbang utama. Mobil mewah keluarga Surya Agung sudah terparkir rapi, siap membawa Langit menuju Jakarta sebelum ia terbang ke Australia.

Di depan teras Ndalem, keluarga besar berkumpul. Papa Alistair dan Mami Retno tampak bercengkerama dengan Abah Danardi dan Ummi Siti Aminah, mengucapkan terima kasih atas bimbingan mereka terhadap Langit. Namun, di sudut lain, dunia seolah berhenti berputar bagi Langit dan Senja.

Langit memeluk Senja begitu erat, seolah-olah jika ia melonggarkan pelukannya sedikit saja, waktu akan menariknya pergi lebih cepat. Senja membenamkan wajahnya di dada Langit, membasahi kemeja suaminya dengan air mata yang tak terbendung. Dua minggu tanpa sentuhan kemarin terasa berat, namun perpisahan melintasi benua ini terasa berkali-kali lipat lebih menyesakkan.

"Mas... jaga diri baik-baik di sana ya," isak Senja pelan di balik dekapan Langit.

"Kamu juga, Ja. Tunggu saya pulang. Jangan pernah ragukan saya," bisik Langit dengan suara serak, menahan sesak di dadanya sendiri.

Papa Alistair kemudian memberikan kode, mengetuk jam tangannya sebagai tanda bahwa mereka harus segera mengejar jadwal penerbangan.

"Langit, ayo. Kita harus berangkat sekarang."

Mendengar itu, Langit seolah kehilangan akal sehatnya sejenak karena rasa cinta yang membuncah. Ia melepaskan pelukannya hanya untuk menangkup wajah Senja dengan kedua tangannya. Tanpa mempedulikan tatapan orang tua mereka atau santri yang lewat, Langit menghujani wajah Senja dengan ciuman—mulai dari kening, kedua pipi, hidung, hingga berakhir dengan ciuman dalam yang lama di bibir istrinya. Sebuah ciuman perpisahan yang membawa seluruh janji setianya.

"Saya sayang kamu, selamanya," bisik Langit terakhir kalinya tepat di telinga Senja.

Dengan berat hati, Langit melepaskan jemari Senja yang sempat menahan ujung kemejanya. Ia berbalik dan melangkah cepat menuju mobil, takut jika ia menoleh lagi, ia tidak akan sanggup untuk pergi.

Begitu pintu mobil tertutup dan mesin menderu, Langit langsung menempelkan wajahnya di kaca mobil yang gelap. Dari balik kaca, ia menatap sosok Senja yang berdiri mematung di samping Ummi, tampak begitu kecil dan rapuh dengan air mata yang terus mengalir.

Mobil mulai bergerak pelan, keluar melewati gerbang besar pesantren. Langit terus memutar tubuhnya, menatap ke kaca belakang, memandangi sosok istrinya yang terus melambai hingga akhirnya bayangan Senja, gerbang pesantren, dan segala kenangan di dalamnya menghilang ditelan tikungan jalan.

Di dalam mobil yang sunyi, Langit bersandar pada kursi, memejamkan mata sambil menghirup sisa aroma parfum Senja yang masih tertinggal di bajunya.

Seminggu telah berlalu sejak kepergian Langit. Di Pesantren Mambaul Ulum, Senja menjalani harinya dengan raga yang ada di kelas, namun jiwa yang melanglang buana ke benua seberang. Statusnya sebagai istri seorang Langit Sterling kini menjadi rahasia paling manis sekaligus paling menyiksa yang ia simpan rapat-rapat di balik seragam sekolahnya.

Malam itu, jam sudah menunjukkan pukul sebelas. Di asrama kelas sepuluh, semua santriwati sudah terlelap. Senja meringkuk di balik selimut tebalnya, namun matanya terjaga.

Tiba-tiba, getaran halus terasa di balik bantalnya. Sebuah ponsel rahasia yang diberikan Langit sebelum berangkat menyala, menampilkan nama yang membuat jantungnya berdegup kencang: "Imamku Langit".

Dengan gerakan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara, Senja menutupi seluruh kepalanya dengan selimut, menciptakan tenda kecil yang gelap namun aman. Ia menggeser tombol hijau.

Seketika, layar ponsel menampilkan wajah tampan Langit. Ia mengenakan jaket tebal karena Melbourne sedang memasuki musim dingin. Latar belakangnya adalah balkon apartemen dengan lampu-lampu kota yang gemerlap di kejauhan.

"Hai, Sayang..." suara Langit terdengar berat dan sangat lembut, menggema di dalam selimut Senja.

"Mas Langit..." bisik Senja. Air matanya langsung menetes tanpa diminta saat melihat wajah yang sangat ia rindukan itu. "Kamu dingin ya di sana?"

Langit tersenyum tipis, matanya menatap Senja dengan binar yang tak berubah. "Dingin, Ja. Tapi lebih dingin lagi hati saya karena nggak ada yang meluk dari samping. Kamu lagi apa? Kok gelap-gelapan?"

"Aku lagi di bawah selimut, Mas. Takut ketahuan pengurus asrama. Nanti kalau ponsel ini disita, aku nggak bisa lihat kamu lagi," jawab Senja sambil menghapus air matanya.

Langit terkekeh pelan, hatinya menghangat melihat perjuangan istrinya.

"Sabar ya, Jendelanya Mas Langit. Saya di sini belajar mati-matian. Tadi habis kelas, saya langsung pulang karena pengen cepat-cepat lihat wajah kamu. Kamu cantik banget meskipun habis nangis begitu."

"Mas, jangan lama-lama ya di sana..." gumam Senja, ia menyentuh layar ponsel tepat di bagian pipi Langit, seolah-olah ia bisa merasakan kulit suaminya.

"Dua tahun, Ja. Hanya dua tahun. Setelah itu, saya jemput kamu. Kamu selesaikan sekolahmu dengan baik, saya selesaikan kuliah saya di sini dengan cepat,"

janji Langit dengan nada tegas.

"Oh iya, saya sudah kirim paket lewat ekspedisi. Isinya jaket hoodie saya yang sering saya pakai. Sengaja nggak saya cuci biar kamu bisa cium bau saya kalau lagi kangen."

Senja tertawa kecil di tengah isaknya. "Kamu nakal banget sih, Mas."

"Nakal cuma sama kamu," balas Langit sambil memberikan ciuman jarak jauh ke arah kamera. "Sudah malam, kamu tidur ya. Besok harus bangun subuh buat sekolah. Saya temani lewat telepon sampai kamu terlelap, mau?"

Senja mengangguk pelan. Ia meletakkan ponsel itu di samping bantalnya, membiarkan suara napas Langit dan cerita-cerita pendek suaminya tentang Melbourne menjadi pengantar tidur yang paling indah. Di bawah selimut asrama yang sempit, jarak ribuan kilometer itu seolah terkikis oleh cinta yang tetap menyala kuat.

Tiga bulan berlalu. Tekanan sebagai santri kelas sepuluh sekaligus istri jarak jauh mulai menguras energi Senja. Ia terlalu memaksakan diri belajar hingga larut malam demi mengejar prestasi agar setara dengan kecerdasan Langit, hingga akhirnya pertahanan tubuhnya tumbang. Senja jatuh sakit; demam tinggi membuatnya hanya bisa terbaring lemas di kamar asrama putri.

Kabar sakitnya Senja sampai ke Melbourne melalui pesan singkat yang penuh nada lemas. Di seberang benua, Langit nyaris gila karena khawatir. Ia mondar-mandir di apartemennya, merasa tidak berguna karena tidak bisa berada di samping istrinya untuk sekadar mengompres dahinya.

"Sial, kenapa jarak ini jauh banget!" umpat Langit sambil terus menatap layar ponselnya.

Namun, Langit bukan tipe pria yang menyerah pada keadaan. Otak cerdiknya segera bekerja. Ia menggunakan aplikasi pemesanan daring di ponselnya, mengatur koordinasi yang cukup rumit untuk menembus ketatnya gerbang pesantren.

Sore harinya, seorang kurir ojek online berhenti di depan pos keamanan santri putri. Ia membawa sebuah tas besar berisi bubur ayam premium yang masih hangat, buah-buahan segar, dan yang paling mencolok: seikat besar bunga mawar putih yang indah. Di atasnya terselip kartu ucapan berwarna biru tua.

Kang Santri yang berjaga sempat bingung, namun setelah melihat nama penerimanya adalah "Senja Danardi", ia segera mengantarkannya ke asrama.

Teman-teman sekamar Senja heboh saat kiriman itu sampai. Mereka membukakan tas tersebut di samping tempat tidur Senja. Begitu Senja melihat mawar itu, ia tahu persis siapa pengirimnya. Dengan tangan gemetar, ia membuka kartu ucapan itu:

> "Jendela hatiku, jangan sakit ya. Aku nggak tenang di sini kalau tahu kamu lemas di sana. Makan buburnya, minum obatnya. Mawar itu untuk mewakili kehadiranku yang belum bisa memelukmu. Kamu harus kuat, karena aku sedang berjuang menjemput masa depan kita. I Love You, My Senja. — L."

Senja memeluk kartu itu erat-erat di dadanya. Aroma bunga mawar dan hangatnya bubur itu seolah-olah membawa separuh nyawa Langit kembali ke sisinya. Ajaibnya, semangatnya perlahan tumbuh kembali.

Malamnya, Langit kembali melakukan video call. Begitu layar menyala, ia langsung melihat Senja yang sudah bisa duduk meski wajahnya masih agak pucat.

"Gimana? Buburnya enak?" tanya Langit langsung, wajahnya tampak sangat lega.

"Enak banget, Mas... tapi yang bikin sembuh itu mawarnya, sama tulisan di kartunya," jawab Senja sambil tersenyum manis, menunjukkan mawar yang ia letakkan di samping bantalnya.

Langit mengusap layar ponsel, seolah membelai pipi Senja. "Maafin saya ya, cuma bisa kirim itu. Sabar ya, Ja. Masih ada satu setengah tahun lagi. Saya janji, nanti kalau pulang, saya sendiri yang bakal suapin kamu dan jagain kamu 24 jam."

"Iya, Mas. Aku bakal cepat sembuh biar kamu nggak khawatir lagi di sana," balas Senja.

Di tengah kesunyian malam asrama, mereka kembali berbagi tawa dan rindu. Jarak ribuan kilometer memang memisahkan raga, tapi perhatian-perhatian kecil Langit selalu berhasil membuat Senja merasa bahwa suaminya tidak pernah benar-benar pergi.

1
kalea rizuky
senja np di buat bloon bgt sih heran
kalea rizuky
senja aja goblok
Siti Amyati
lanjut kak
Siti Amyati
kasihan ujian nya kok senja di lecehin gitu smoga langit ngga lansung ambil keputusan yg bikin berpisah tpi bisa buktiin siapa dalang semuanya
Kurman
👍👍👍
Julidarwati
BHSnya baku x dan g eris sebut nm thor
yuningsih titin: makasih koreksinya dan komentar nya
total 1 replies
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
yuningsih titin: siap👍
total 1 replies
yuningsih titin
makasih masukannya kak
ndah_rmdhani0510
Senja yng di gombalin, kok aku yang meleleh🤭
Bulan Benderang
bahasanya masih sedikit kaku kak,🙏🙏
Ai Nurlaela Jm
Karyamu luar biasa kereen Thor, lanjutkan💪
rinn
semangat thor
yuningsih titin: makasih kak
total 1 replies
Dri Andri
lanjut kan berkarya tetap semangat
Dri Andri
lanjutkan thour
Dri Andri
awwsshh ceritanya bikin.... 😁😁😁😁
yuningsih titin
ngga kuat deh langit sama senja romantis banget
ndah_rmdhani0510
Benci apa benci Langit? Ntar kamu bucin lho ama Senja🤭
yuningsih titin
cie.. malam pertama senja dan langit😍
yuningsih titin
duh bahagianya yang mau bulan madu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!