Tasya Prameswari hanya ingin Dicky, putranya bisa kembali ceria seperti dulu, namun sebuah kecelakaan merenggut kesehatan anak itu dan menghancurkan keharmonisan rumah tangganya bersama Setyo Wirayudha.
Sang mertua hanya mau membiayai pengobatan Setyo, namun tidak dengan Dicky. Tak ada yang mau menolong Tasya namun di tengah keputusasaan, Radit Kusumadewa datang membawa solusi. Pria kaya dan berkuasa itu menuntut imbalan: Tasya harus mau melayaninya.
Pilihan yang sulit, Tasya harus melacurkan diri dan mengkhianati janji sucinya demi nyawa seorang anak.
Bagaimana jika hubungan yang dimulai dari transaksi kotor itu berubah menjadi candu? Bagaimana jika Tasya merasakan kenyamanan dari hubungan terlarangnya?
Note: tidak untuk bocil ya. Baca sampai habis untuk mendukung author ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raditya Apes Kusumadewa
Radit terbatuk mendengar ucapan Dina. Kalimat Dina seolah menghantam ulu hatinya, meruntuhkan pertahanan yang sejak tadi ia bangun. "Uhuk... uhuk..."
Dina terus menatap Radit dengan lekat. Ia tak memberikan air untuk meredakan batuk Radit. Ia malah sibuk membaca strategi yang akan Radit pakai.
"Ma-maksud kamu apa, Din? Selingkuh? Siapa yang selingkuh?" Radit pura-pura tertawa dan menganggap pertanyaan Dina hanya lelucon namun gagal karena tawanya terdengar hambar.
"Kamu tahu persis apa maksudku, Dit. Aku ini anggota The Buntungers. Kakakku si casanova Richard Kusumadewa dan Papaku Dibyo Kusumadewa yang hidupnya penuh taktik. Aku bisa membaca ada yang tak beres denganmu. Kamu tak bisa menyembunyikannya dariku. Kamu pikir aku bodoh? Kamu tak akan bertanya dengan wajah sekusut itu, jika perempuan itu tidak ada hubungan denganmu." Dina tersenyum tipis. "Kamu tak akan semarah ini karena perempuan itu mau menutup aib suaminya, kalau bukan karena kamu cemburu. Cemburu buta. Cih, seorang Radit Kusumadewa akhirnya bisa jatuh hati pada seorang wanita."
Radit terdiam. Bingung mau menjawab apa. Dina Kusumadewa memang cerdas. Ia bisa mengaitkan sesuatu meski sejak tadi terkesan acuh namun ia pendengar dan pengamat sejati.
"Jadi... kamu mencintai istri orang? Sejak kapan?" Dina kembali bertanya karena Radit hanya diam saja.
"Tidak, aku-"
"Aku tak punya waktu mendengar kebohonganmu. Kalau kamu mau mengarang kebohongan, jangan datang ke tempat ini. Ceritakan saja pada anak buahmu yang akan percaya kalau pimpinan mereka itu sangat hebat tapi bukan aku orangnya." Dina lagi-lagi memotong ucapan Radit sebelum ia menyelesaikannya.
Radit pun menghela nafas dalam. Ia tak bisa berkutik. Membohongi Dina bukan hal yang mudah. Tantenya itu mudah membaca pikiran orang. Di mata Dina, Radit bagai sehelai kertas kosong yang setiap ada tinta di atasnya, Dina bisa tahu apa yang sedang ditulis.
"Oke, aku mengaku. Iya... aku memang mencintai istri orang." Radit pasrah. Ia siap dengan konsekuensinya saat mengaku, apapun yang akan terjadi nanti.
"Tidak biasanya kamu pacaran sama istri orang? Sudah bosan pacaran dengan cewek-cewek seksi yang otaknya kosong itu?" Reaksi Dina ternyata tidak sesuai yang ditakutkan Radit. Dina nampak santai, seolah apa yang Radit lakukan bukanlah dosa besar.
"Kamu tidak kaget, Din?" tanya Radit penasaran.
Dina mengangkat kedua bahunya. "Melihat rekam jejak keluarga kita... aku tidak terlalu terkejut. Kamu biasanya suka gonta-ganti pacar. Kebanyakan diantaranya, hanya modal seksi saja namun tidak ada otaknya. Aku tidak kaget kalau kamu akhirnya jatuh hati pada perempuan biasa. Yah... harus aku akui kalau aku sedikit terkejut karena kamu berhubungan dengan istri orang. Agak nekat sih. Kalau kakakku tahu, siap-siap deh kamu digantung di bawah pohon jengkol."
"Kamu jangan bilang-bilang sama Papi, janji loh!" ancam Radit.
Dina tersenyum tipis. "Walaupun aku tidak bilang, Mami dan Papi-mu pasti lambat laun akan tahu. Melihat bagaimana kamu sekacau ini, aku bisa menebak kalau kamu begitu mencintai wanita itu. Sehebat apa sih dia? Cantik banget? Seksi banget? Tobruut banget? Bohay? Apa? Apa keistimewaan gadis itu?"
"Dia... dia biasa saja. Bukan yang cantik dan seksi banget. Bukan juga yang Tobruut, tapi dia perempuan yang sangat baik dan tulus. Kamu ingat tidak waktu aku kecil, aku pernah cerita kalau aku mencium pipi teman sekelasku. Ya, dia adalah Tasya. Cinta pertamaku." Radit tersipu malu.
Mata Dina membola mendengar cerita Radit. "Serius? Ih... alay banget sih kamu, Dit! Segala pakai alasan cinta pertama lagi. Wahai keponakan edan, anak TK yang pipisnya belum lurus, ngerti apa tentang cinta pertama? Kamu tuh memang pada dasarnya sudah kegatelan dari masih kecil. Kamu tuh sebenarnya bukan jatuh hati karena dia cinta pertamamu, tapi karena dia memang seleramu."
Radit garuk-garuk kepala mendengar ocehan Dina. "Iya sih. Aku suka dengan perempuan sederhana seperti Tasya. Dia cantik... sangat cantik malah. Di mataku, dia wanita yang amat baik. Tasya adalah seorang tante yang begitu sayang dengan keponakannya dengan tulus. Ia akan melakukan apa aja agar pengobatan keponakannya yang sedang terbaring di NICU bisa terus dilanjutkan, tidak seperti tanteku yang kerjaannya hanya menghina, melempar pensil dan super bawel ini."
"Dasar anak kurang ajar! Walau aku kamu hina begini, kamu selalu datang ke sini untuk curhat." Dina menjewer telinga Radit sampai ia mengadu kesakitan. Telinga Radit sampai merah dibuatnya.
"Aduh... sakit ah! Aku tuh bukan anak TK lagi, main jewer aja!" protes Radit.
"Kamu tuh memang harus dijewer, biar sadar. Kalau sampai kakakku tahu kamu berhubungan dengan istri orang, bagaimana?" Dina melepaskan tangannya. Tak tega juga dia melihat keponakannya kesakitan.
"Ya... kamu jangan bilang sama Papi," balas Radit.
"Aku tak akan bilang. Tapi kamu harus akhiri hubunganmu dengannya. Kamu harus jaga jarak, sampai statusnya benar-benar jelas, kalau dia sudah bukan lagi istri orang. Buat tembok pembatas di antara kalian. Jangan sampai namamu terseret dalam masalah rumah tangga mereka. Ingat, jika ada anggota keluarga Kusumadewa yang membuatku ulah, awak media akan mendapat santapan lezat. Mereka akan menggoreng berita sesuka hati dan menjatuhkan keluarga kita sampai ke dasar. Kamu sekarang sudah dewasa, sudah mengerti apa itu cinta, kalau kamu mau melindungi wanitamu, lakukan dengan profesional, jangan terus bersikap kekanakan," nasehat Dina.
Radit kembali terdiam. Lagi-lagi, apa yang Dina katakan masuk akal, benar adanya. Posisi Radit kini sebagai pemimpin perusahaan. Ia bertanggung jawab atas nama baik perusahaan yang ia pimpin dan nama besar keluarga Kusumadewa.
"Kenapa diam saja? Sadar?" Dina bangkit dari duduknya dan kembali ke meja kerjanya. Ia meraut pensil baru lalu mulai berkutat dengan pekerjaannya kembali.
"Bagaimana kalau ternyata dia masih cinta pada suaminya dan mereka tak jadi bercerai? Bagaimana dengan cintaku?" tanya Radit lagi.
"Ya... kalau begitu... kamu apes namanya. Akan aku ganti namamu jadi Raditya Apes Kusumadewa." Dina tergelak dengan ucapannya sendiri. "Ha... ha... ha... akhirnya anak sang casanova menderita karena cinta. Cinta... oh... deritanya tiada akhir."
Radit memanyunkan bibirnya. Tante gilanya sudah kembali menjadi dirinya sendiri dan Radit juga harus kembali ke kantornya.
Radit berjalan melewati Tasya yang langsung berdiri saat melihatnya datang. Tanpa menyapa ataupun melempar senyum, Radit terus berjalan masuk ke dalam ruangannya.
Hati Tasya sedih melihat Radit mengacuhkannya. Baru saja Tasya hendak masuk ke dalam ruangan Radit untuk minta maaf, ponsel miliknya berdering. Rupanya telepon masuk dari rumah sakit.
"Selamat sore, dengan Ibu Tasya, wali dari pasien Dicky?" tanya sang penelepon.
"Benar. Aku Mamanya Dicky. Ada... apa ya?" Jantung Tasya berdegup cepat. Setiap kali ada telepon masuk dari rumah sakit, ia selalu tak tenang. Takut terjadi sesuatu pada keponakannya tersayang.
"Kami ingin mengabarkan kalau Dicky sudah sadar. Dicky terus memanggil Ibu Tasya dan menangis. Bisa Ibu Tasya datang?"
****
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
ehhhh siapa tuh cewek ujug2 minta transferan
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
apakah itu Radit yg datang yaaa uhhhh.makin panas dong
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
dicky tentu kau sangat menyayangi papamu...
Sisca kesempatan terus ngompor2in Setyo
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️