Demi menjalankan sebuah misi penting, Dinda rela melakukan apa saja untuk mendekati tetangga barunya yang super cuek dan dingin.
Tapi setelah dia mendapatkan yang ia inginkan dan berhenti mengejar lelaki itu, lelaki itulah yang berbalik mendekatinya.
Dan ternyata ada rahasia besar di antara keduanya.
jangan lupa like dan komen 💛
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinta Kuning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Limabelas
Sebagai mantan pengangguran yang biasanya lebih banyak leha-leha dari pada sibuk dan produktif, pinggang imutku rasanya seolah berteriak ingin segera direbahkan.
Dari pulang kerja Aku langsung membantu ibu membuat kue untuk menyambut kedatangan mantan lurah yang katanya mau melamarku untuk anaknya, si Bagas. Sampai saat ini pun Aku masih berkutat di dapur. Hanya mandi dan shalat waktuku beristirahat.
“Bu, kue sebanyak ini kalau Pak Handoko nggak jadi datang gimana?” tanyaku saat menyusun kue di piring cantik.
“Nggak mungkin nggak datang, Pak Handoko itu sangat nurut dengan istrinya. Kalau istrinya bilang A, ya harus A. Meskipun salah akan tetap dibenarkan.” jawab ibu.
Bukan itu masalahnya!
“Tapi, Bu. Masalahnya tadi si Bagas jemput Dinda di rumah sakit, terus ternyata ban motornya bocor. Maksud Dinda, kalau Bagas sampai sekarang masih terjebak di sana, mungkin aja mereka membatalkan rencananya ‘kan? Kan nggak ada Bagas-nya.”
”Kalau itu masalahnya, ya bukan masalah, Dinda.” jawab ibu enteng.
Ish!
“Lagipula sekarang kan masih hujan walaupun cuma gerimis, ada kemungkinan mereka nggak jadi ‘kan datang, Bu?” Aku tetap kekeuh dengan harapanku.
Ibu yang sedari tadi sibuk menata pempek yang rencananya akan dibawakan sebagai hadiah kunjungan, menoleh ke arahku, “Din, kalau lamaran, meski laki-lakinya nggak ada itu nggak jadi masalah, beda lagi kalau akad. Walaupun Bagas nggak datang, dan dia hanya mengutus orangtuanya kemari, orangtuanya tetap bisa melamarkan untuk dia,”
“Terus soal hujan, mereka itu naik mobil bukan bergelinding di tanah yang pasti akan basah. Udah kamu nggak usah mikirin yang aneh-aneh,”
“Kalau kamu khawatir tentang kue yang banyak, kamu nggak usah khawatir. Besok kamu bisa bawa ke rumah sakit.” kata ibu.
Lah iya!
“Dibagi-bagiin ya, Bu?”
“Nggak dong, dijual!”
Iya lagi, jadi Aku bisa dapat duit tambahan dengan jualan kue.
“Duitnya jangan lupa setor ke ibu,” kata ibu sangat tahu isi hati anaknya. “Kamu serius amat sih, ya nggak dong disedekahin aja kuenya.”
“Nggak papa, Bu. Dijualin aja, kalau ibu nggak mau duitnya nanti ibu sedekahin aja ke Dinda.” Aku meladeni candaan ibu.
“Mau jadi mantu lurah kok masih mau duit receh.” balas Ibu bercanda.
Senyumku seketika luntur, Aku melemaskan bahu. Jadi menantu lurah? Ah kenapa terdengar mengerikan sekali...
“Bu?”
“Hm?” jawab ibu tanpa menoleh.
“Lamaran itu nggak bisa ditolak ya?”
Atensi ibu sepenuhnya kepadaku, “Kalau yang melamar lelaki baik-baik katanya nggak boleh ditolak Din. Kata pak ustadz; Jika seorang laki-laki datang kepada kalian (para wali) yang laki-laki itu kalian ridhoi akhlak dan agamanya maka nikahkanlah ia, kalau tidak maka akan dapat menimbulkan fitnah di muka bumi dan juga kerusakan. Kurang lebih begitu, selebihnya kamu tanya aja sama ustadzah Laila, ibu nggak terlalu ngerti.” jawab ibu tapi tetap membuat Aku terperangah.
Ibu keren!
Aku menggelengkan kepala menyadarkan diri, “Jadi, nanti lamarannya diterima—”
Pertanyaanku terpotong dan tak terjawab karena Ayah datang ke dapur.
“Bu, Pak Handoko sudah datang.” beritahu Ayah.
“Oh, iya Yah. Ayah sambut dulu tamunya, ibu sama Dinda siap-siap dulu.” jawab ibu.
Ayah mengangguk dan langsung ke depan, terdengar suara Ayah dan Pak Lurah yang tengah berbasa-basi.
“Ayo Din kita keluar dulu, nanti baru kita keluarkan makanannya.”
Aku pasrah, Aku serahkan takdirku padaMu. Ah Kim Taehyung suamiku, kenapa kamu terlambat melamarku?
Aku menarik napas dalam-dalam, rasanya langkah kakiku terasa begitu berat, Aku berjalan di belakang ibu menuju ruang tamu.
“Dinda!?” Bagas langsung memanggilku heboh.
Aku cukup terkejut anak kecil itu ternyata datang, Aku kira dia masih terjebak di rumah sakit, dia bahkan terlihat seperti tidak terjadi apapun padahal tadi menangis karena ditinggalkan.
Menanggapinya Aku hanya menarik kedua sudut bibirku, namun tidak sampai ke mata.
“Dinda, kenapa kamu nggak dandan yang cantik?” tanya mamanya Bagas saat kami selesai bersalaman.
Aku memindai penampilanku, Abaya coklat dan pashmina berwarna cream, baju lebaran idul fitri tahun kemarin. Menurutku sudah cukup manis dan layak.
“Mama, Dinda tu selalu cantik, walaupun nggak dandan tetap cantik.” protes Bagas.
Aku lihat mamanya Bagas memutar bola matanya dan mencibir sekilas.
“Oh iya, ada sedikit buah tangan dari kami,” ucap mamanya Bagas meng-kode rombongan mereka. Ada beberapa rombongan yang mantan lurah itu bawa untuk membawa beberapa bingkisan khas lamaran.
Kami yang memang tidak mengundang siapapun, kami bertiga jugalah yang menerima bingkisan-bingkisan itu.
“Terima kasih, bu Ajeng. Silahkan duduk,” kata ibu. “Sebentar ya, saya dan Dinda ambilkan dulu hidangannya.”
Aku pun mengikuti ibu masuk ke dapur mengambil makanan yang sudah kami siapkan. Ternyata makanan yang begitu banyak tadi tidak akan berlebih, sepertinya ibu sudah tahu mantan lurah itu akan membawa rombongan.
Setelah makanan sudah siap, Aku dan ibu duduk di sebelah Ayah yang sedari tadi ngobrol dengan pak lurah.
“Silahkan dinikmati ibu bapak.” kata ibu kepada tamu-tamu rombongan Bagas.
“Di mana Milka?” tanya mamanya Bagas.
“Milka ada bu Ajeng, di rumahnya.” jawab ibu.
“Kenapa tidak kemari? Apa tidak kalian undang? Keluarga macam apa kalian? Acara sepenting ini tidak saling perduli?” memang mamanya Bagas manusia yang julidnya sudah setingkat kabupaten.
Ayah dan ibu saling pandang.
“Milka sedang ada pekerjaan, bu Ajeng.” Ayahku menjawab.
“Memangnya nggak bisa ditinggalkan barang sebentar?” jawab wanita itu lagi.
Ya Allah, gedeg banget liatnya. Rasanya ingin kujambak sanggulnya.
“Sudah, Ma. Cukup ya.” kata pak lurah lembut. “Kita mulai acara kita malam ini, tujuan kita datang ke kediaman nak Dinda.”
Semua yang ada dalam ruangan terdiam. Yang sedang makan pun, makan dalam diam.
Pak lurah menyampaikan kata sambutan terlebih dahulu, kemudian menyampaikan niatnya yang tidak ingin kudengar.
Ya Allah... Dinda pengen pingsan aja, sekalian kejang-kejang kalau bisa.
“Pak Danu, kedatangan kami adalah ingin menyambung silaturahmi. Kami ingin melamar atau meminang putri bapak Dinda Dahayu untuk putra kami Bagaskara Akbar Handoko,”
“Putra kami Bagas telah menyatakan niat tulusnya untuk menikahi Dinda dan kami datang untuk memohon restu serta ridho Bapak juga Ibu sebagai orang tua Dinda,”
“Besar harapan kami, Bapak dan ibu berkenan menerima pinangan ini dan memberikan restu serta doa agar niat suci ini dapat terwujud dalam ikatan pernikahan yang halal dan diberkahi,”
“Kami yakin Bagas dan Dinda dapat membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah.”
Suasana seketika menegang, hanya Bagas saja yang tidak berhenti tersenyum.
Dih! Dasar bocil!
Ayah menghembuskan napas pelan sebelum menjawab. “Terima kasih atas niat baik pak Handoko dan keluarga, saya selaku ayah kandung Dinda Dahayu tersanjung karena orang terhormat dan terpandang seperti Pak lurah mau memiliki hubungan dengan kami yang hanya orang biasa,” Ayah menjeda ucapannya, “Tapi maaf—”
Aku langsung menoleh Ayah yang menatap pak lurah tanpa takut. Lalu aku melihat kedua orang tua Bagas bergantian, mereka terlihat menahan napas dan mamanya Bagas siap menyemburkan lava super panasnya.
“Kami mohon maaf sebesar-besarnya, tapi putri kami Dinda Dahayu sudah ada yang melamarnya, kami tidak bisa menerima lamaran pak Handoko.” kata Ayah tegas.
Aku tertegun, pikiranku tiba-tiba kosong. Siapa yang sudah melamarku? Kenapa Ayah bohong? Tapi Aku mendukung kebohongan Ayah.
Tiba-tiba Aku jadi ingin bernyanyi; Aku hanya memanggilmuuu... Ayah!
\*\*\*
kim dinda minggu depan akan ada resepsi ngak ada bantahan kah, jadi sudah sangat legowo
double up dong😍