Saat Sora membuka mata, dia terkejut. Dia terbangun di sebuah hutan rindang dan gelap. Ia berjalan berusaha mencari jalan keluar, tapi dia malah melihat sebuah mata berwarna merah di kegelapan. Sora pun berlari menghindarinya.
Disaat Sora sudah mulai kelelahan, dia melihat sesosok pria yang berdiri membelakanginya. "Tolong aku!" tanpa sadar Sora meminta bantuannya.
Pria itu membalikkan badannya, membuat Sora lebih terkejut. Pria itu juga memiliki mata berwarna merah.
Sora mendorongnya menjauh, tapi Pria itu menarik tangannya membuat Sora tidak bisa kabur.
"Lepaskan aku." Sora terus memberontak, tapi pegangan pria itu sangat erat.
"Kau adalah milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bbyys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Anggota Baru
Musim gugur akan segera berakhir, musim dingin mulai datang. Sora melihat hewan-hewan kecil seperti tupai mencari bahan makanan untuk disimpan di musim dingin. Mereka bolak-balik dari pepohonan menuju sarangnya.
Hari ini di depan camp tampak ramai. Para prajurit berkumpul. Akan ada anggota baru yang masuk hari ini.
Orang-orang penasaran dengan anggota baru itu. Apalagi ia masuk tanpa tes yang biasanya diselenggarakan tiap tahunnya. la pasti memiliki keistimewaan sehingga bisa masuk tanpa tes.
"Mari nona, kita ke depan." ajak Javier. Sora mengikuti Ashley yang sudah berjalan duluan di depannya. Diikuti Javier disampingnya.
"Sora!" Tiba-tiba seorang pria berambut oranye turun dari kereta dan langsung memeluknya.
"Aster!" Sora menyambut pelukannya. Tapi tiba-tiba tubuhnya di tarik dari belakang. Ashley menarik kerah bajunya, melepaskannya dari pelukan. la menyipitkan matanya sambil menyilangkan tangannya.
"Kalian saling kenal?" Lontar Ashley dengan emosi di nada bicaranya.
"Umm ... itu ...."
Sora dan Aster saling beradu pandang. Berusaha mencari jawaban yang sama agar tidak dicurigai.
"Kami bertemu di acara perburuan kemarin. Aku membantunya saat ia terjatuh." ucap Aster santai.
"Itu benar." sambung Sora cepat.
Ashley masih menyipitkan matanya, ia terlihat tidak percaya dengan jawabannya. "Kalian terlihat sangat dekat untuk orang yang baru kenal."
Ashley terus mengetuk jarinya di lengannya, ia terus memandangi Aster dengan tatapan tajam.
Suasananya menjadi hening.
"Itu karena kami seumuran." timpal Aster.
Entah Aster yang tidak peka atau apa, ia terlihat cuek dengan ekspresi wajah Ashley yang menakutkan. Sejak tadi ia terus tersenyum lebar. Padahal saat pertama kali bertemu, ia terlihat seperti bocah penakut.
"Berapa umur?" tanya Ashley.
"16 tahun."
Ternyata memang benar Aster seumuran dengannya. Sora kira, ia mengatakan itu hanya untuk sebuah alasan.
Semuanya kembali terdiam, Ashley tidak berkata apa-apa pandangan tajamnya ia lontarkan ke arah Aster seperti ingin membunuhnya.
"Maaf, saya lupa memperkenalkan diri." ujar Aster memecah keheningan. "Nama saya Aster marlenta, anak kedua dari count marlenta. Aster yang berarti bintang yang memberi harapan. Mulai hari ini saya akan bergabung dengan pasukan ini. Mohon bantuannya." ujarnya memperkenalkan diri, wajah ceria tidak sinar juga dari wajahnya.
"Selamat datang di camp pasukan pemburu monster." sambut Ashley. "Disampingku adalah wakil jendral pasukan ini. Namanya javier, ia akan menunjukkan kamarmu." tunjuk Ashley.
"Mari, kita pergi." ajak Javier.
"Sora, ayahku punya perkebunan apel, lain kali datanglah ke rumahku akan kutunjukan perkebunannya." tawar Aster kepada Sora.
"Iya. Tentu saja." sahut Sora tersenyum ramah.
"Hore! Janji ya." ucap Aster bahagia. Sora menganggukkan kepalanya mengiyakan. la pun pergi membawa barang bawaannya mengikuti Javier tepat dibelakangnya.
la terus melambaikan tangannya, hingga sosoknya hilang ditengah keramaian.
Sora merasakan punggungnya terasa panas, sejak tadi Ashley menatapnya dengan tajam. la berjalan mendekat.
"Ikut denganku." Ashley menarik tangan Sora dengan kasar, berjalan dengan cepat hingga membuat Sora kesulitan untuk mengikutinya.
Ashley terus menarik Sora masuk ke dalam ruangannya lalu melempar tubuhnya ke atas kasur.
"Apa yang kau lakukan?" ucap Sora dengan nafasnya yang terengah-engah karena lelah mengikuti langkah kakinya yang panjang.
"Katakan yang sebenarnya, bagaimana kalian bertemu?"
"Apa yang dikatakan Aster benar. Aku bertemu dengannya saat acara berburu kemarin." jelas Sora.
"Aku tidak percaya." tukas Ashley. "Mana bisa kalian terlihat begitu dekat padahal baru kenal."
"Itu benar. Kenapa kau keras kepala." geram Sora karena Ashley tidak mau mempercayainya.
"Itu karena aku tidak suka kau dekat-dekat dengannya. Jika tau dia adalah bocah kurang ajar, aku tidak akan memasukkannya ke sini." ucap Ashley dengan kesal.
"Lagi-lagi kamu seperti ini. Bukankah kita sudah pernah membicarakannya. Tolong beri batasan atas hubungan kita. Hubungan kita hanya antara majikan dan pelayan. Kamu tidak bisa mencampuri urusan pribadiku."
Ashley terdiam, wajahnya semakin kesal ketika mendengar jawaban Sora.
"Aku bisa berteman dengan siapapun itu. Kamu tidak boleh melarang hak ku."
Seperti kata Soren, dia harus membuat batasan yang benar. Dia menarik garis agar ia tidak melewati batas.
"Aku tetap tidak suka." Ashley langsung menerjangnya, membuat Sora jatuh di atas tempat tidur. kemudian Ashley memegangi kedua tangan Sora dengan tangan besarnya. Sekarang ia berada diatas tubuhnya. Wajahnya mendekati Sora dan mengendusnya.
"Aku tidak suka ada bau pria lain yang menempel di tubuhmu." ucap Ashley serius. "Berhentilah berteman dengan siapapun yang tertarik padamu." Tatapan matanya berkilat marah.
"Ummmh" Ashley mencium bibir Sora dengan ganas. Lalu dia mencium tangan yang tadi dipegang bocah itu.
"Aku tidak suka kau di sentuh pria lain. Bahkan aku juga tidak tahan jika kau menyentuh mereka." Ashley menciumnya lagi, menyentuh setiap bagian tubuhnya.
"Kau itu adalah milikku!"
Kata-kata itu membuat jantung Sora berdebar kencang. la menciumnya dalam-dalam seolah berusaha melampiaskan amarahnya.
"Ingat! Jangan dekat-dekat dengan bocah itu lagi. Aku tidak mau baunya menempel lagi."
Sora keluar ruangan dengan tatapan linglung. "Kau adalah milikku." Kata-kata itu terus terngiang dikepalanya. Suaranya yang berat membuat jantungnya berdebar. Sora tidak tahu ekspresi apa yang harus dia tunjukkan sekarang.
Sikap Ashley selalu membuatnya salah paham. Jantungnya selalu berdebar saat ia menunjukan perhatiannya padanya, wajah Sora memerah seperti tomat saat ia mengatakan kata-kata manis yang bisa membuatnya salah paham. Dia tidak tahu harus menanggapi seperti apa atas sikapnya itu.
Sora merasakan kenyamanan saat berada di dekatnya. Tapi dia harus menghentikan perasaan ini. Karena Ashley sudah punya tunangan. Meskipun itu adalah pertunangan politik. Tapi tetap saja di masa depan, mereka akan menjalani hidup bersama.
Sora berjalan menuju kamarnya sambil melamun. Jantungnya masih tidak mau tenang.
"Sora!" Langkah kakinya berhenti, ada seseorang yang memanggilnya.
"Sora!" Panggilnya lagi. Seorang bertubuh pendek serta berambut oranye. Ternyata itu Aster.
"Aster. Bagaimana harimu?"
tanya Sora.
"Sangat hebat."
Wajah bahagia tampak di wajahnya. Sepertinya ia sangat suka di sini. la pernah mengatakan kalau ia sangat ingin bergabung dengan pasukan ini dan akhirnya keinginannya terwujud.
"Apa kau ingin melihat-lihat perpustakaan?" tawar Sora.
"Tentu." Aster mengikutinya pergi ke perpustakaan.
Seperti biasa, perpustakaan selalu sepi tak ada yang mau kesana karena mereka tidak punya waktu.
"Akan aku tunjukkan bukunya." Sora menelusuri rak-rak buku. Menuju rak paling belakang. Mengambil buku kecil yang terlihat tua. Buku yang berjudul buku setan.
"Ini bukunya." Sora mengambil buku itu dari rak. Lalu dia membuka halaman buku itu. "Lihat monster ini. Monster yang ada di acara berburu kemarin." Sora menunjukkan tentang monster beruang itu.
Aster mengambil buku itu, dibukanya halaman demi halaman. la terlihat sangat fokus dan terus membaca apa yang tertulis di dalam buku itu.
"Apa kau pernah menunjukkannya kepada yang lain?" tanya Aster.
Sora menggelengkan kepalanya. "Tidak pernah. Tapi, nanti aku berencana akan memberitahu jendral."
"Jangan!" Potong Aster. "Ma-maksudku buku ini belum sepenuhnya terbukti benar. Aku akan periksa dulu isi bukunya. Bagaimana jika ternyata isinya tidak akurat, kau bisa disalahkan nantinya jika terjadi masalah."
"Kau benar." Sora mendengarkan Aster. Akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk memberitahukan keberadaan buku itu.
Sudah beberapa hari berlalu, Sora selalu bertemu Aster di perpustakaan. Aster mempelajari bukunya dengan sangat serius. Semangatnya membara, ia hampir bisa mengingat semua isi buku itu.