Untuk mengungkap penyebab adiknya bunuh diri, Vera menyamar menjadi siswi SMA. Dia mendekati pacar adiknya yang seorang bad boy tapi ternyata ada bad boy lain yang juga mengincar adiknya. Siapakah pelakunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Vera tidak pernah menyangka kehidupannya akan kembali bersinggungan dengan Dwiki dan Sagara.
Dia menatap ponselnya, membaca artikel yang ditunjukkan Dwiki. Judulnya begitu mencolok, penuh dengan tuduhan tajam terhadap Sagara dan keluarganya.
"Sagara: Direktur Baru Perusahaan ATKPro yang Dihantui Skandal Keuangan di Yayasan Pendidikan."
Vera menghela napas panjang. Sagara baru menjabat sebagai direktur selama setahun, tapi kini namanya sudah terseret dalam skandal yang dia sendiri mungkin tidak pahami. Benarkah Dwiki hanya ingin mengungkap kebenaran? Atau ada sesuatu yang lebih dari sekadar berita?
Tatapannya kembali ke Dwiki yang duduk di hadapannya, menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Kamu yang menulis artikel ini? Kamu seperti ada dendam pribadi sama Saga. Tuduhan kamu tajam sekali."
Dwiki tersenyum miring, lalu menatapnya lekat. "Tidak ada dendam. Aku hanya mengungkap kebenaran." Dia menghela napas kecil, lalu mengalihkan pembicaraan mereka, "Enam tahun tidak bertemu, kamu banyak berubah."
Vera tersenyum tipis. "Kamu juga banyak berubah."
"Tidak," sahut Dwiki cepat. "Aku masih menunggu kamu. Aku sudah menepati janjiku untuk tidak mencari kamu, tapi ternyata kamu sendiri yang akhirnya kembali ke kota ini."
Vera terdiam sesaat. Dulu, sebelum dia pergi, dia memang meminta Dwiki berjanji untuk tidak mencarinya.
"Hanya sementara," ucap Vera akhirnya. "Setelah masalah ini selesai, aku akan pergi lagi."
Dwiki menatapnya seolah mencoba membaca pikirannya. "Semoga saja kamu dipindah tugaskan di kota ini."
Vera hanya mengangkat bahu, enggan menanggapi lebih jauh. Dia menyandarkan tubuhnya ke sofa, mencoba meredakan ketegangan yang perlahan menyusup ke dalam dadanya. "Sebenarnya aku lelah sekali," gumamnya. "Tapi mau bagaimana lagi? Aku butuh uang. Gajiku lumayan besar. Aku tidak punya siapa-siapa lagi yang bisa menopang hidupku. Kalau terjadi apa-apa sama aku juga tidak akan ada yang menangisiku."
"Kata siapa? Aku siap menopang hidup kamu dan aku yang akan menangisi kamu jika terjadi apa-apa sama kamu."
Vera tertawa sambil memukul lengan Dwiki. "Dasar, buaya!"
Beberapa saat kemudian, suara ponsel Dwiki berdering. Dengan cepat, dia mengangkat panggilan itu.
"Iya, aku kembali sekarang," ucapnya singkat.
Dwiki berdiri dan bersiap pergi. Namun, sebelum pergi, dia menatap Vera sekali lagi. "Berapa nomor HP kamu?"
Vera tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Dwiki tanpa ekspresi.
Dwiki tersenyum kecil, lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya. "Oke, kalau kamu tidak mau memberitahu, hubungi aku saja." Ia menyerahkan kartu namanya pada Vera, lalu berbalik dan melangkah pergi.
Vera menatap kartu nama itu lama, "Syukurlah kamu jadi orang benar." Sebuah senyum kecil terbit di sudut bibirnya.
Beberapa saat kemudian ada pesan masuk di ponselnya. Wajah Vera berubah menjadi serius. "Masuk ke ruang kepala sekolah malam ini."
***
Vera menatap jam di pergelangan tangannya dan sudah pukul 11 malam. Langit di luar gelap pekat, hanya ditemani lampu jalan yang berpendar temaram. Sekolah sudah sepi, hanya ada satpam yang berjaga di pos depan, sama seperti tadi siang saat dia keluar.
Dengan hati-hati, dia menyelinap melewati pagar samping yang sudah dia pelajari jalur aksesnya. Malam itu, dia ditugaskan masuk ke ruang kepala sekolah untuk mencari berkas yang tersembunyi. Berkas itu mungkin menjadi kunci untuk mengungkap penggelapan dana yang terjadi di sekolah ini.
Setelah memastikan tak ada yang melihatnya, Vera berjalan cepat melewati koridor sekolah yang terasa dingin. Langkahnya pelan, hampir tanpa suara. Dengan keterampilan yang sudah dilatih selama ini, dia berhasil membuka pintu ruang kepala sekolah menggunakan alat khusus yang selalu dia bawa.
Begitu masuk, dia menyalakan senter kecil, sinarnya menerangi ruangan yang penuh dengan lemari dokumen dan meja kerja yang tampak rapi.
Dia mulai menggeledah. Membuka laci-laci meja dengan hati-hati, mengamati setiap map yang tertata di rak. Sebagian besar hanya laporan biasa, dokumen keuangan tahunan yang tampak bersih dari kejanggalan.
"Tidak mungkin. Pasti ada sesuatu."
Dia berjongkok, membuka laci paling bawah yang terkunci. Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya kunci berhasil dibuka. Matanya membelalak saat melihat isinya.
Di dalamnya ada beberapa amplop cokelat tebal dengan segel pemerintahan dan nama perusahaan lain yang turut melakukan donasi, dan juga ATKPro yang seharusnya bertanggung jawab atas dana yayasan. Vera menarik salah satu amplop, membukanya dengan hati-hati, dan mendapati beberapa lembar laporan keuangan yang mencurigakan. Angka-angka di sana tidak sesuai dengan data yang seharusnya.
Sebelum sempat membaca lebih lanjut, suara langkah kaki terdengar dari luar ruangan. Jantung Vera berdegup kencang. Seseorang mendekat.
Dengan cepat, dia mematikan senter dan merapat ke sudut ruangan. Pintu mulai terbuka perlahan.
"Siapa yang datang malam-malam begini?" pikirnya panik.
Tangannya menggenggam amplop-amplop itu erat dan bersiap melarikan diri jika keadaan semakin gawat.
Vera menahan napas saat pria itu masuk ke dalam ruangan kepala sekolah. Langkahnya pelan, nyaris tanpa suara, tapi ketegangan yang dia rasakan begitu nyata. Dalam cahaya redup senter yang dipegang pria itu, Vera bisa melihat sekilas wajahnya. "Siapa dia?"
Jantung Vera berdetak cepat saat melihat pria itu mulai membuka laci-laci meja kepala sekolah, sama seperti yang dia lakukan beberapa saat lalu. Namun, berbeda dengannya yang sudah lebih dulu menemukan dokumen penting, pria itu tampak frustrasi.
Apa dia mencari hal yang sama?
Vera semakin menekan tubuhnya ke dinding, berharap bayangannya menyatu dengan kegelapan. Namun, harapannya buyar saat senter pria itu bergerak, mengarah ke sudut tempatnya bersembunyi.
Cahaya terang menyorot wajahnya dan mata mereka bertemu.
Vera langsung melebarkan matanya dan tanpa pikir panjang, dia berbalik dan melesat keluar dari ruangan itu secepat mungkin. Dokumen yang dia dapatkan tergenggam erat di tangannya.
"Hei, tunggu!"
Ayooo semangat Dwiki cari dalangnya😥