Yang Qing Xia di bunuh secara kejam oleh ibu tiri dan kakak tirinya. Belum puas melihat kematian adiknya, sang kakak melempar tubuh Qing Xia ke sebuah hutan yang terkenal sebagai sarang serigala.
Sebuah jiwa dari alam lain tiba-tiba terbawa dan masuk ke dalam tubuh Qing Xia. Jiwa itu menyadari keberadaannya di dalam hutan dan saat ini dia di kelilingi oleh kawanan serigala yang sedang kelaparan.
"Haruskah ku bunuh kalian semua?"
"Wanita yang benar-benar menarik!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Win, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28. Su Xi Yan
Ketika bergerak turun, Qing Xia menghentikan gerakan tangannya. Waktu seakan berhenti, tangan Qing Xia masih memegang belati sambil membeku di udara.
"Aku, masih saja tidak bisa menyakiti wajah ini!" benak Qing Xia.
Qing Xia tidak tega membunuh Han Ze Xin, wajah laki-laki itu mengingatkannya kepada Han Ze Xin di kehidupan masa lalu. Qing Xia menyimpan kembali belatinya, dia lalu memakai pakaian dan keluar dari kamar.
Setelah pintu kamar ditutup, Han Ze Xin membuka matanya, dia bangkit lalu duduk di atas ranjang. "Yang Qing Xia, kau selalu membuatku hilang kendali!" benak Han Ze Xin.
Qing Xia kembali ke kediaman Su, dia melepaskan semua pakaian lalu membersihkan tubuhnya di dalam kolam mandi air hangat yang di buat khusus untuknya.
Tok Tok Tok!
Suara ketukan pintu membuat Qing Xia waspada, dia menatap ke arah pintu masuk sambil bertanya.
"Siapa?"
"Aku!" sebuah jawaban terdengar dari luar pintu.
Setelah mengenali suara itu, Qing Xia segera menarik kain hitam panjang untuk menutupi tubuhnya. Dia lalu duduk di atas sebuah batu yang terletak di dalam kolam.
"Aku akan masuk jika kau tidak keberatan." ucap laki-laki itu lagi dari depan pintu.
"Memangnya kau bisa di larang?" gumam Qing Xia sambil mendecak.
Pintu terbuka, seorang laki-laki masuk ke dalam. Dia berjalan hingga ke tepi kolam lalu tersenyum lebar sambil menatap Qing Xia.
"Hei adikku yang tercinta, kenapa kau mandi pagi-pagi begini?" tanya laki-laki itu dengan wajah sinis.
"Aku mau mandi kapan saja terserah aku, memang apa urusannya denganmu?" jawab Qing Xia dengan wajah yang tak kalah sinis.
Laki-laki itu menatap bagian pundak Qing Xia yang sedikit terbuka. Dia melihat bekas gigitan di kulitnya yang masih berdarah. Wajah sinisnya menjadi wajah yang marah, dia berjalan mendekati Qing Xia lalu menarik kain yang menutupi tubuh Qing Xia.
"Hei, apa yang kau lakukan?" hardik Qing Xia dengan wajah kesal sambil menahan kain yang di tarik oleh laki-laki tersebut.
"Su Qing Xia, kau ini sekarang bagian dari keluarga Su. Tidak bisakah kau menjaga kehormatanmu dan jangan membuat malu nama keluarga kita?" bentak laki-laki itu dengan wajah yang merah karena marah.
"Kenapa dengan laki-laki ini? Lupa minum obat atau salah minum obat?" tanya Qing Xia dalam pikirannya.
Melihat Qing Xia berusaha menahan kain hitam yang melilit di tubuhnya, laki-laki itu mengeluarkan tenaga yang lebih banyak. Dia kembali menarik kain hitam itu hingga sedikit menganga, memperlihatkan sebagian gundukan bukit kembar yang kini penuh dengan tanda-tanda cinta.
Wajah laki-laki itu semakin marah hingga memperlihatkan urat-urat di leher. Dia mengepal erat kedua telapak tangan lalu merobek kain di tubuh Qing Xia dalam sekali gerakan.
"Su Xi Yan!" bentak Qing Xia dengan suara keras. Dia begitu marah dan kesal karena laki-laki itu selalu saja mengganggu Qing Xia sejak pertama kali Qing Xia menjadi putri angkat di keluarga Su.
Qing Xia menarik kain lain untuk menutupi tubuhnya, kali ini sambil menyerang Su Xi Yan yang merupakan putra kandung dari Tuan dan Nyonya Su.
Su Xi Yan menghindar, dia mundur ke belakang sebelum tangan Qing Xia mengenai kepalanya. Laki-laki itu menatap Qing Xia dengan tatapan yang membuat Qing Xia sedikit keheranan.
"Kenapa dia? Wajahnya seperti akan menangis saja. Dasar laki-laki aneh!" benak Qing Xia.
Su Xi Yan berbalik badan, dia lalu berkata dengan nada dingin. "Pakai pakaianmu lalu temui aku di taman."
"Kenapa aku harus mendengar perintahmu?" sahut Qing Xia dengan alis yang berkerut.
"Karena saat ini aku adalah kakakmu!" ucap Su Xi Yan lalu berjalan keluar. Laki-laki itu menutup kembali pintu masuk ke dalam kolam.
"Hahhh.... Selalu saja membuat rusuh di tempatku! Dasar manusia aneh." omel Qing Xia dalam hati.
Karena tidak ingin mendapat masalah dari Su Xi Yan, Qing Xia segera memakai pakaian lalu berjalan ke taman. Dia melihat laki-laki itu sudah duduk di sana dengan seorang pengawal di sampingnya.
Qing Xia mendekat lalu duduk di depan Su Xi Yan. Dia lalu menatap laki-laki di depannya itu sambil bertanya kepadanya.
"Apa lagi sekarang?"
Su Xi Yan mengeluarkan sebotol obat, dia meletakkan obat itu di depan meja Qing Xia. "Minum ini!" ucapnya dengan nada memerintah.
"Obat apa ini?" tanya Qing Xia.
"Obat pencegah kehamilan!" jawab Su Xi Yan tanpa ragu-ragu.
Mendengar jawaban dari laki-laki di depannya, Qing Xia menjadi teringat dengan perbuatan Han Ze Xin yang sudah menodainya tadi malam. Wajah Qing Xia yang kesal kini semakin kesal lagi.
"Kenapa kau memberiku obat ini?" tanya Qing Xia dengan wajah dingin.
"Karena aku tidak ingin adikku hamil dan melahirkan anak haram yang entah siapa ayah kandungnya!" sindir Su Xi Yan.
"Sebaiknya kau urus saja urusanmu sendiri. Jangan berpura-pura menjadi kakak yang baik di depanku karena itu terlihat menjijikkan!" Qing Xia berdiri, dia lalu berjalan pergi.
Su Xi Yan ikut berdiri, dia menarik lengan Qing Xia dan menahannya agar tidak pergi dari sana. Qing Xia menghempas tangan Su Xi Yan, setelah tangannya terlepas, Su Xi Yan tiba-tiba saja membentaknya dengan suara yang keras.
"Su Qing Xia! Berhentilah menjadi gadis murahan, apa kau tidak punya rasa malu? Tidur dengan laki-laki di sana sini lalu melahirkan anak haram dari perbuatan tercelamu itu! Apakah kau begitu suka menjadi pelacur yang gratisan?"
Qing Xia mengepal erat kedua tangannya, dia merasa begitu marah dan tersinggung mendengar tuduhan dari Su Xi Yan. Walaupun benar dia hamil tanpa suami, dia tidak pernah menawarkan dirinya untuk tidur dengan laki-laki.
Dia bahkan tidak tau siapa laki-laki yang sudah memperkosa dirinya hingga hamil. Apalagi kejadian tadi malam sudah membuatnya begitu terhina dan sakit hati. Kini dia malah harus mendapatkan hinaan dari seorang laki-laki yang menyebut dirinya sebagai seorang kakak. Padahal yang dia lakukan selama ini hanya menghina dan mengganggu hidup Qing Xia.
"Jika kau tidak mengetahui apa-apa tentangku, tutup mulutmu itu!" jawab Qing Xia dengan mata yang memerah karena menahan tangisannya.
Qing Xia berjalan pergi, namun kali ini Su Xi Yan tidak lagi menahannya. Laki-laki itu tampak terkejut melihat raut wajah Qing Xia yang begitu sedih dan memperlihatkan luka yang mendalam di matanya. Baru kali ini dia melihat Qing Xia seperti ini, biasanya wanita itu hanya marah dan kesal jika diganggu oleh Su Xi Yan.
"Apakah aku sudah salah paham terhadapnya?" tanya Su Xi Yan dalam hati.
Su Xi Yan menatap botol obat di atas meja, "Shan, antarkan obat ini ke kamar Qing Xia!" perintah nya kepada pengawal di samping.
"Baik, Tuan Muda." jawab Shan.
Shan adalah seorang pengawal kepercayaan Su Xi Yan, dia ditemukan oleh Su Xi Yan ketika umurnya masih 5 tahun. Saat itu, Shan hanya seorang pengemis yang hampir mati kelaparan.
Su Xi Yan kebetulan lewat di samping Shan yang pingsan karena sudah berhari-hari tidak makan. Karena kasihan, Su Xi Yan membawa Shan pulang ke kediaman.
Sejak saat itu, Shan dan Su Xi Yan menjadi teman main dan belajar. Shan memutuskan untuk menjadi pengawal Su Xi Yan setelah dia dewasa. Dia berjanji akan melindungi nyawa Su Xi Yan meskipun harus mengorbankan nyawanya sendiri.
Shan berjalan ke kamar Qing Xia, dia meletakkan botol obat di depan pintu kemudian mengetuk pintu beberapa kali sebelum pergi dari sana.
Qing Xia membuka pintu, dia tidak melihat siapapun di sana. Ketika akan menutup kembali pintu kamar, Qing Xia melihat botol obat di atas tanah, dia menendang botol itu hingga terjatuh dan pecah.
"Brengsek!" makinya dengan wajah kesal.
Shan kembali dan melaporkan kepada Tuan Mudanya bahwa Qing Xia menghancurkan botol obat itu. Su Xi Yan malah tertawa dan tersenyum mendengar laporan dari pengawalnya itu.
"Dia selalu saja menggemaskan." benak Su Xi Yan.
"Tuan Muda, jika anda terus bersikap menyebalkan seperti ini, anda tidak akan pernah bisa mendapatkan hati Nona Qing Xia." benak Shan.
Su Xi Yan sudah lama membenci perempuan, tapi dia tidak pernah membenci Qing Xia. Sejak pertama kali dia bertemu dengan Qing Xia, jantung Su Xi Yan berdetak kencang. Dia merasa jatuh cinta pada pandangan pertama.
Namun ketika mengetahui kehamilan wanita itu, Su Xi Yan merasa kecewa dan sakit hati. Sejak saat itu, dia selalu mengganggu Qing Xia dan bersikap menyebalkan di depannya.
Ada saat di mana dia ingin meminta orang tuanya untuk menjadikan Qing Xia sebagai menantu saja dari pada menjadikannya anak angkat. Namun hati nya belum siap menerima anak di dalam rahim Qing Xia, dia merasa keberatan dengan masa lalu Qing Xia yang sudah ternoda.
Su Xi Yan pernah bertunangan dengan seorang wanita, dia mencoba mencintai wanita itu meskipun awalnya mereka hanya dijodohkan.
Namun ternyata wanita itu hamil sebelum mereka menikah, tunangannya selingkuh dengan laki-laki lain yang ternyata adalah teman baiknya sendiri. Sejak saat itu Su Xi Yan mulai membenci wanita, terutama wanita yang bersikap murahan dan tidak menjaga kehormatannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Han Ze Xin kembali ke kediaman Han. Dia mengajak orang tuanya berbincang karena ada hal penting yang ingin dia sampaikan.
"Xin, ada hal penting apa sampai kamu mengumpulkan kami di sini?" tanya Se Se kepada putra sulungnya.
"Ibu, aku ingin menikahi." ucap Han Ze Xin tanpa ragu-ragu.
"Anak ayah sudah dewasa rupanya, sudah saatnya mencarikan jodoh untuk Xin." sahut Han Ze Xuan sambil tersenyum.
Han Ze Xia saat itu juga berada di sana, dia segera bertanya wanita mana yang akan dinikahi oleh kakaknya itu.
"Aku ingin melamar putri dari kediaman Su." jawab Han Ze Xin.
"Bukankah putri kediaman Su itu sudah memiliki seorang anak?" tanya Han Ze Xia penasaran.
"Benar, aku akan menikahinya dan mengasuh anaknya bersama-sama." jawab Han Ze Xin dengan yakin.
"Hei kak, kau ini gila ya? Kenapa kau harus menikahi seorang wanita yang sudah memiliki anak? Masih banyak wanita lain di luar sana yang lebih baik dan masih perawan."
Ocehan dari Han Ze Xia tentu saja terdengar beralasan. Han Ze Xin adalah seorang pangeran dari kerajaan Han, dia bisa memiliki wanita manapun yang dia inginkan. Kenapa malah memilih seorang janda muda yang sudah melahirkan seorang anak.
"Xin, kamu yakin tidak akan menyesali keputusanmu ini?" tanya Han Ze Xuan.
"Aku yakin Ayah, tolong bantu aku untuk melamar gadis itu." jawabnya dengan mata yang berbinar.
"Tidak sekarang Xin, kamu harus mendapatkan hati dari wanita itu dulu." Se Se langsung mengajukan syarat agar mendapat izinnya untuk menikahi Qing Xia.
"Baik, aku akan melakukannya. Ibu dan Ayah tidak boleh menghalangi pernikahan kami jika aku berhasil mendapatkan hati dari wanita itu."
Han Ze Xin lebih dulu meminta persetujuan karena status Qing Xia yang sebagai janda biasanya sangat dipermasalahkan di kalangan para bangsawan. Dia tidak ingin hubungannya terhalang karena status Qing Xia, apalagi dia sudah melakukan perbuatan yang cukup menjadi alasan untuk membuatnya menikahi Qing Xia.
"Baiklah, kami berjanji akan merestui hubungan kalian." jawab Han Ze Xuan.
"Aku tidak setuju!" teriak Han Ze Xia dari samping.
"Xia, ini pernikahanku. Kau juga cepat menikah sana, umurmu kan sudah cukup tua!" sindir Han Ze Xin.
"Kakak!" bentak Han Ze Xia dengan wajah kesal.
Pada malam harinya, Han Ze Xin memakai topeng Tuan Tabib, dia menyusup ke kediaman Su.
Qing Xia sedang berlatih, dia dalam posisi berdiri terbalik. Han Ze Xin yang menyusup ke dalam membuat Qing Xia segera menurunkan kedua kakinya.
"Mau apa kau ke sini?" tanya Qing Xia dengan nada ketus.
"Duduk lah, aku akan mengobati matamu." jawab Han Ze Xin.
Qing Xia memang kesulitan karena matanya, dia lalu duduk menuruti perintah Han Ze Xin agar matanya kembali di rawat oleh laki-laki itu.
Han Ze Xin mengeluarkan kotak jarum, dia lalu mulai menusuk jarum itu ke wajah dan kepala Qing Xia.
"Sakit?" tanyanya ketika melihat ekspresi wajah Qing Xia yang terlihat kesakitan.
"Tidak, hanya sedikit nyeri."
Qing Xia memejamkan mata, dia terlalu lelah setelah di siksa oleh Han Ze Xin semalaman. Setelah selesai mengeluarkan semua jarum, Han Ze Xin bertanya lagi kepadanya.
"Sakit?"
Qing Xia tidak menjawab, ternyata dia sudah ketiduran. Mengetahui jika Qing Xia tertidur lelap, Han Ze Xin tersenyum nakal. Dia mengecup bibir Qing Xia beberapa kali, pipi dan kening Qing Xia juga tidak dilepaskan.
Melihat wanita itu masih terlelap, Han Ze Xin semakin nakal lagi. Dia mencium dan memasukkan lidahnya ke dalam bibir Qing Xia.
^^^BERSAMBUNG...^^^