Apakah masih ada cinta sejati di dunia ini?
Mengingat hidup itu tak cuma butuh modal cinta saja. Tapi juga butuh harta.
Lalu apa jadinya, jika ternyata harta justru mengalahkan rasa cinta yang telah dibangun cukup lama?
Memilih bertahan atau berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Office boy
Ketika taksi hampir sampai di hotel, Siska kembali merapikan dandanannya. Memoles wajahnya dengan bedak, menebalkan bibirnya dengan lipstik, dan menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya.
Sopir yang tanpa sengaja melihat tingkah Siska tersenyum aneh sambil geleng-geleng kepala.
Taksi akhirnya sampai di hotel yang di maksud. Dan Siska melenggang masuk ke hotel itu dengan penuh percaya diri.
Semua orang yang tak sengaja berpapasan dengannya memandang aneh sambil tersenyum tipis, dan mulai berbisik.
Ketika di lift, semua orang juga melakukan hal yang sama seperti tadi.
'Semua orang memandang ku, pasti karena aku cantik dan begitu menarik.' batin Siska dengan penuh percaya diri.
Saat pintu lift terbuka, Siska menjadi yang pertama keluar. Lalu berjalan menuju kamar yang di maksud.
Menekan tombol, lalu pintu kamar pun terbuka. Terlihat seorang laki-laki setengah baya dengan senyum lebar menyambut kedatangannya.
Siska berjalan terlebih dulu, karena laki-laki itu tengah mengunci pintunya. Dan ketika berbalik arah, ia membulatkan matanya ketika melihat baju bagian belakang Siska terdapat noda.
"Siska, kamu menstruasi?"
"Apa! Menstruasi?" Siska membulatkan matanya, dan tangannya refleks menutup aset berharganya di bagian belakang.
Dengan cepat ia berjalan menuju kamar mandi untuk mengecek. Dan apesnya ia memang tengah mendapati tamu bulanan. Ia memang tidak pernah merasakan sakit saat tamu bulanannya datang.
"Gagal dong aku dapat uang." gumam Siska dengan wajah lesu. Apalagi sekarang roknya yang berwarna putih terkena noda merah yang sangat kontras.
"Hah, apakah tadi mereka melihat ku karena noda merah ini? Bukan karena kecantikan wajahku? Ya ampun, apes banget sih aku." gumam Siska sambil menoyor kepalanya sendiri.
Terdengar suara ketukan pintu yang semakin lama semakin keras.
"Huh, pria tua itu juga sudah tidak sabar. Lalu apakah aku harus tetap melayaninya?" Siska menjambak rambutnya frustasi.
Setelah menghirup nafas panjang berulang kali, akhirnya ia keluar untuk menemui pelanggannya.
"Maaf ya om, Siska tidak tahu jika ternyata haid nya datang lebih cepat, melebihi kereta api." ucap Siska sambil meringis.
"Kami harus tetap melayani ku bagaimana pun caranya."
"Beres deh om."
Siska bergelayut manja di lengan pria setengah baya itu.
**
Sementara itu Doni yang baru saja sampai di perusahaan, merasa canggung. Karena tiap pasang mata melihatnya dengan penuh keterkejutan.
Saat memasuki lobby, matanya membulat melihat seorang laki-laki yang mengaku menjadi asisten istrinya tengah berbicara dengan seorang office boy.
Senyum sinis Doni sunggingkan. Lalu berjalan mendekati laki-laki tersebut.
"Woi." Doni menepuk bahu Mahes dengan keras. Membuat laki-laki mengenakan celana pendek warna cream, kaos putih dan topi menoleh ke arahnya.
Sementara seorang office boy yang masih berdiri di situ, karena pembicaraannya dengan Mahes belum selesai, tersentak kaget.
"OB baru ya? Memang sudah ngga kerja ikut Mala? Apa kamu ngga kuat kerja dengan wanita cacat seperti dia?" tanya Doni dengan santai.
"Hem, dulu membelanya, sekarang justru pergi. Pasti gaji yang ditawarkan Mala kecil. Pantes saja dia bisa sekaya itu. Tapi sayangnya keluarganya pelit, makanya sukurin tuh, akhirnya kecelakaan dan koit sama cacat." imbuhnya lagi.
"Sudah, ngga usah malu mengakui Kalau dirimu hanya seorang OB disini. Sekarang cepat buatkan aku kopi moccachino. Aku tunggu di tempat kerja ku. Tenang, nanti aku kasih tips tambahan." ucap Doni dengan nada mengejek.
Dalam hati office boy itu mengutuk perbuatan yang dilakukan Doni. Karena tidak sopan. Tapi untuk mengatakan hal yang sebenarnya, Mahes justru mengedipkan sebelah matanya pada tidak banyak bicara.
Mahes sengaja menahan amarahnya, karena ingin melihat sesombong apa laki-laki yang ada dihadapannya.
Dalam hati sungguh ia tak rela jika ada yang menjelek-jelekkan Mala dihadapannya. Terlebih lagi yang melakukannya adalah suaminya sendiri.
Sedangkan Doni setelah berkata seperti itu melenggang pergi dengan santainya. Tapi baru selangkah, ia sudah berhenti dan kembali memutar badannya.
"Ngga pakai lama, segera kerjaan tugas mu, sebelum aku memecat mu." Doni sengaja menakut-nakuti Mahes. Lalu ia pun kembali berjalan dengan angkuhnya.
"Tuan, kenapa anda diam saja diperlakukan seperti itu?" tanya office boy.
"Tidak apa-apa. Saya memang sengaja ingin melihat sesombong apa laki-laki itu. Jika sudah saatnya, pasti dia akan menuai hasil dari perbuatannya tadi. Sekarang lanjutkan saja pekerjaan mu. Aku akan membuatkan dia moccachino."
"Tidak tuan, jangan pergi ke pantry. Biar saya saja yang melakukannya." Mahes tersenyum pada laki-laki berseragam orange dihadapannya.
"Tidak perlu, kamu lanjutkan saja pekerjaan mu. Lagian membuat kopi hanyalah hal yang mudah bagi ku." Mahes menjentikkan ujung jarinya, lalu melenggang pergi menuju pantry.
. y.. benar si kata Mahes klo pun hamidun lg kan ada suami yg tanggung jawab,... 😀😀😀
alhmdulilah akhirnya, Doni dan Siska bisa bersatu, nie berkat mbak ipah jg Doni dan Siska menyatu... d tunggu hari bahagianya... 🥰🥰🥰👍👍👍
tebar terus kebaikanmu... Siska, bu Mirna dan Doni syng padamu, apalagi Allah yg menyukai hambanya selalu bersyukur... 😘😘😘😘
nie yg akhirnya d tunggu, masya Allah kamu benar 2 sudah beetaubat nasuha, dan kini kamu bahkan membiayai perobatan bu Mirna dan jg menjaganya... tetaplah istiqomah Siska... 👍👍👍😘😘😘