⚠️ [ JANGAN COPY PASTE WOI! KREATIF DIKIT DONG YAHH 😍 ]
– Mengandung kata-kata kasar 🙏🏼
__________________________
Pertemuan antara empat gadis, yang memiliki jiwa kesengklekan yang luar biasa. Berawal dari kegabutan yang mendalam. Dan bertemu karena rindu yang membesar.
Inilah kisah kami :v
"Kenapa jadi kayak Indos*ar geblek?!" tanya Alika kesal.
"Hah, masa iya?" sahut Nara.
"Lah, kata siapa?" tanya Yesha ikutan.
"Kalau pada nanya mulu siapa yang jawab egee?!!" protes Diva.
"Tapi lo juga nanya, Dipp," balas Yesha santai dengan watados.
"Tau ah, bodo amat!"
"Sengklek kan?! Emang iya."
"Au ah," sambung Nara.
"Udah diem deh."
"Mending promosi."
"Oke guys, jadi ini novel baru author. Maap kalau gak jelas, karena authornya juga gak jelas," cibir Yesha.
"Jangan lupa vote ya?" sahut Alika.
"Likenya saudara-saudari," dilanjut Diva.
"Oh iya, komen and share, hehehe."
"Yaudah gitu aja, selamat membacaaa semuaaaa!" --Alika, Nara, Diva, Yesha.
– Adapun kesalahan, kesamaan, atau apapun dari novel ini, saya mon maap. Karena novel ini dibuat murni dari pemikiran dan hasil kegabutan saya, tanpa meniru pihak manapun 🙏🏼
Happy reading guisss>>>
📍200521-210806
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Aulia Agustin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Focragi • 35 Kegoblokkan Echa
"Ini bukan pertama kalinya kita ketemu"
Bukan pertama kali? Dia siapa sebenarnya?
"Kita pernah ketemu? Dimana?"
"Saya pemilik kafe, yang sering kamu dan teman teman kamu datangi" jawabnya.
Hah? Demi apa? Yang bener aja?? Gue terkejoed guys.
"Saya suka kamu dari dulu. Tapi saya baru memberanikan diri sekarang" lanjtnya.
Gue alihin pandangan gue, gue liat kedepan dan ternyata, Echa lagi ngeliatin gue. Gue kode in dua buat gak samperin gue. Dia pun pergi cari tempat lain.
"Kamu liatin apa?" tanya Renald.
"Bukan apa apa"
"Pelanggan di kafe kamu banyak, kenapa harus saya?"
"Karena kamu istimewa dimata saya"
Ngena lagi! Gue gak bisa berkata-kata woi ah.
Kalau gini gue jadi bingung, terima atau batalin perjodohan ini.
—Crazy Bacot <3—
Dipha; @Echacuu cak, lu bisa temuin gue? Bicara 4 mata?
Nadede; kalian satu tempat? Wah? Double date.
Ikaciaa; gimana dip?
Dipha; ancur! Feeling gue bener.
Nadede; maksud lu?? Beneran om om?
Ikaciaa; anjil? Yang benell??
Nadede; serius dip?!
Bodo amat, serah lu pada, gue read aja tuh pesan.
"Lu umur berapa?" Anjr kan keceplosan lagi. Pake lu gue pulaa jadinya:)
"Eh maksudnya kamu umur berapa?"
"Dua puluh tujuh tahun" jawabnya santai.
Gilaaaa!! Beda sebelas tahun hanjil.
"Maaf sebelumnya, saya belum tentu bisa menerima kamu. Saya.. saya takut nikah muda" balas gue, gue mo pergi. Tapi tangan gue ditahan.
"Aku tau, aku tau kamu pasti gak siap. Kita punya waktu untuk pendekatan 2 Minggu. Kalau kamu gak mau, kamu bisa tolak" jawabnya sambil tersenyum.
Manis kali senyumnya anjr, diabetes gua:))
"Kita balik ya, udah ditunggu" ajaknya. Dia tarik tangan gue. Gue ikutin dia.
Dia bukain gue pintu sama kayak tadi, gue masuk. Abistu dia ngelajuin mobilnya. Hening banget di mobil, canggung gua:(
"Emmm.. kamu pasti berfikiran aku om om yang penyakitan?" tanya dia.
Lah, bisa baca pikiran orang ni om om!
Dia liatin gue, gue diem.
"Aku nggak penyakitan kok. Aku gak datang di schedule pertama. Karena aku tau kamu lagi punya masalah." lanjutnya.
Pengertian banget ya allah. Beneran gue bingung banget sekarang. Huaaa.. manteman tolong aku!! :)
★★
Author POV
Pagi hari dikediaman Yesha.
"Wahhh ada yang segar bugar habis ditembak sama cowok yang duluuu paling dibenci. Emang bener ya, benci itu bisa jadi cinta" ledek Danial.
"Diem atau gue tabok?" tanya Yesha. Danial tertawa terbahak-bahak.
"Bang, mama papa kapan pulang? Udah seminggu?" tanya Yesha.
"Besok" jawab Danial.
"Kata siapa?" tanya Yesha.
"Kan tadi gue ngomong, gak denger" jawab Danial lagi.
"Gak tau ah, ngomong sama orang dablek susah" Yesha pergi menuju pintu utama, lalu pergi ke sekolah dengan mobilnya.
"Lu mau kemane goblk?" teriak Danial.
"Sekolah!!!" jawab Yesha.
"HARI MINGGU WOI!" teriak Danial lagi lalu tertawa ngakak.
'oh iya Minggu, kok gue to*lol banget sih? Kenapa juga gue pake baju putih abu abu? Ah gblok gblok gblok' batin Yesha. Yesha berbalik menuju kamarnya, sedangkan Danial tetap dengan tawanya yang ngakak.
·
Gak lama kemudian, Yesha keluar lagi. Dengan celana jeans dan baju kaos berwarna abu abu favoritnya, dia juga memakai sepatu berwarna putih.
"Mo kemana lu?" tanya Danial.
"Main sama crazy bicit" jawab Yesha.
"Sama crazy bicit atau sama david?" goda Danial.
"Diem gak lu? Gue tabok nih" balas Yesha. Danial tertawa lalu masuk ke kamarnya.
"Ya Allah, ampunilah dosa bang kuda... Amin" Yesha pun pergi menuju tempat perkumpulannya.
∆∆
"Eyyo wasap geng!" Alika datang dengan senyum merekah. Mereka berempat bertemu di kafe yang tidak biasa mereka datangi.
"Cerah amat lu, wah jangan jangan" sahut Nara.
"Jangan bilang gue gila" balas Alika. Mereka tertawa.
"Minum apa lu pada?" tanya Alika.
"Macchiato" jawab Diva dan Nara bersamaan.
"Lu ca?" tanya Alika.
"Bingung gue ah. Wine aja boleh gak?" tanya Yesha.
"Masih pagi, jangan bikin darah tinggi" sahut Nara. Yesha tertawa.
"Lo apa ci?" tanya Yesha.
"Vanilla Latte" jawab Alika.
"Choco Latte aja dah" balas Yesha. Alika pun memanggil pelayan dan memesan minuman mereka.
"Gue gblok banget tadi nj*r astaga" keluh Yesha.
"Kenapa?" tanya mereka.
"Gue tadi pake baju putih abu abu waktu mau pergi" jawab Yesha. Mereka tertawa.
"Gblok akut lo emang" balas Diva lalu tertawa.
"Abis jadian sama ayang beb, jadi gak sabar gitu buat ketemu" ledek Nara.
"Bacut lu na" balas Yesha, mereka tertawa lagi.
"Eh lo abis jadian kan ya? Lo dong yang bandarin kita. Iye gak?" sahut Alika.
"Dih dihh, kan lo yang mau bayar" balas Yesha.
"Oiya, oke next time lo pokoknya!" kata Alika. Gak lama kemudian, pesanan mereka datang.
"Eh iya, dip lu punya utang penjelasan" ujar Nara.
"Nah iya" sahut Alika.
"Dua puluh tujuh tahun gila, beda sebelas tahun sama gue. Apa tidak om om julukannya?" tanya Diva.
"Mami papi lo gila?" tanya Alika.
"Nah iya kan? Yang bener aja. Masa iya gue harus nikah sama om om" keluh Diva.
"Jadi rencana lo mau diterima kagak?" tanya Yesha.
"Tunggu dulu, orangnya siapa?" tanya Nara.
"Pemilik kafe biasa tempat kita nongkrong. Makanya si diva ajakin kita kemari" jawab Yesha.
"Hah serius? Abang itu?" tanya Alika.
"Om om dikata abang, cia katarak!" Ledek diva.
"Ganteng loh dip, terima aja deh" suruh Nara.
"Gue bingung demi apaaa?" diva memegang mukanya dengan kedua tangan.
"Bingung kenapa pula?" tanya Yesha.
"Dia perhatian ca. Alasan yang kemaren dia sakit, itu bukan karena sakit. Tapi karena dia tau gue lagi punya masalah. Dan dia juga bilang, dia udah lama suka sama gue tapi baru berani sekarang" jelas diva.
"Noh kan, ah sikat mamang" sahut Alika.
"Sebenarnya gue gak kaget sih. Gue sering mergokin itu orang lagi mandangin lu dip. Tapi gue diem aja, gak mau lu jadi baper. Lu juga kagak peka jadi manusia" ledek Yesha.
"Kepekaan gue memudar karena mas taehyung" jawab Diva.
"Bacot!" balas mereka bertiga.
"Gue bingung, terima atau tolak?" tanya Diva.
"Serah lu eddah. Yang nikah lu" jawab Alika.
"Ah gatau ah, gatau" balas diva.
"Eh iya lu pada gimana ngedate tadi malam?" tanya Diva mengalihkan pembicaraan.
"Biasa aja, gak ada yang waw" jawab Nara.
"Lo sama Frans kemana?" tanya Yesha.
"Dia ajak gue makan, abistu kita keliling keliling. Dia cari tempat yang enak, kita liat bintang bintang dilangit dari atas mobil" jawab Alika.
"Bisa romantis juga tuh anak kalem" balas Nara.
"Bisalah" jawab Alika.
"Wop wop" Diva bereaksi. Mereka tertawa. Hening, mereka asik dengan ponsel masing-masing.
"Eh ke mall kuy, main game aja atau nonton horor gak usah belanja." ajak Diva.
"Tuman, skuylah" ajak Yesha.
"Jadi yang bayar siapa?" tanya Alika.
"Frans" jawab Nara simple.
"Jancok kamu" balas Alika. Nara dan yang lain tertawa.
Alika membayar minumannya, mereka pun pergi ke mall yang super lengkap.
"Kalian masuk duluan, ntar gue susul. Gue ada panggilan alam. Lantai tiga kan?" tanya Yesha. Mereka mengangguk.
"Ya udah jangan lama lama" balas Nara.
"Ocee bos" balas Yesha. Mereka bertiga pergi ke arah kanan, sedangkan Yesha kiri.
15 menit lamanya Yesha ditoilet. Karena tidak sabar, Alika menelponnya.
—Ciaobungbung—
📞 Cia; lama!
Yesha; sabar bos lagi dijalan.
Panggilan mereka masih berlangsung. Namun sekarang Yesha diam, kaku, dan tidak bisa berkutik. Dia mendengar sesuatu yang sangat menyakiti hatinya.
Suara ponsel jatuh milik Yesha mengagetkan orang didepannya.
"E- Echa" katanya. Yesha yang tidak biasanya menangis karena hal sepele. Ntah mengapa dia menangis, dia pun berlari tak menentu, dan membiarkan ponselnya yang jatuh.
Dari telepon, Alika mendengarnya. Dia yakin, hp Yesha jatuh karena kaget. Dia memilih mematikan teleponnya lalu mengajak Diva dan Nara pergi menemui Yesha.