Alur cerita maju mundur cantik, jadi perhatikan beberapa keterangan yang menyertai setiap bab.
***
Aku wanita biasa, yang tidak pernah puas dengan apa yang Aku miliki.
"Di rumah, Aku adalah seorang istri yang baik dan patuh. Tapi jika di luar rumah, Aku adalah Aku. Apa Aku tidak normal?" tanya Melinda dalam hati.
Melinda sadar, ada sesuatu yang tidak biasa yang dia rasakan sejak kecil.
Dan itu ada hubungannya, dengan kejadian yang dialami Linda, sewaktu masih kecil dulu.
***
Yuk lanjut baca.
Jangan lupa, fav and like ya gaess👍👍🙏🙏
Kasih giff and vote juga, biar TK tambah semangat ✍️✍️✍️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akur
Seminggu kemudian, Linda ikut pulang bersama dengan suaminya ke rumah. Dia akhirnya luluh juga, dengan usaha yang dilakukan oleh suaminya, selama dia berada di rumah ibunya.
Apalagi, Linda juga merasa tidak tenang, jika Erli terus menerus bertanya tentang papanya.
Setibanya Linda di rumah, dia melihat keadaan rumah, yang dia tinggalkan selama hampir sebulanan ini.
Semuanya masih tertata, sama seperti waktu dia tinggalkan kemarin. Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang dipindahkan dari tempatnya berada.
Polisi Ferry, yang sudah berada di belakangnya, dengan membawa barang-barang, berhenti, dan menunggu Linda.
Sedangkan Linda, mengendong Erli, masih berdiam diri begitu masuk ke rumah. Tapi, dia terdiam dan tidak melanjutkan langkahnya.
"Sayang. Rumah ini terasa sepi, tanpa adanya Kamu dan Erli. Tetap di sini ya. Temani Papa sampai kapanpun."
Polisi Ferry, meletakan barang bawaannya, dan melangkah ke depan istri dan anaknya, kemudian memeluk keduanya, dengan erat.
"Sayang. Maafkan Mas ya?"
Linda terdiam mendengar perkataan suaminya, yang saat ini memeluk dirinya dan juga anaknya, Erli.
Erli, tampak tersenyum senang, melihat papa dan mamanya saling berpelukan, bersama dengannya juga.
Linda pun akhirnya ikut tersenyum, melihat anaknya yang terlihat sangat bahagia, bisa kembali pulang ke rumah.
"Ayok Sayang!" ajak polisi Ferry, setelah melepaskan pelukannya pada istri dan anaknya.
Linda awalnya ragu, tapi akhirnya mengangguk dan tersenyum juga, setelah anaknya memenangi pipinya, dengan memanggil, "Mamaaa... Mamaaa..."
"Ya sayangnya Mama," ucap Linda, dengan mencium kening anaknya itu.
"Papaaa... papaaa..."
Erli juga memanggil-manggil papanya, agar kembali menoleh ke belakang, karena saat ini, polisi Ferry sudah melangkahkan kakinya, menuju ke dalam rumah.
"Ya Sayang. Sebentar ya, papa mau naruh barang-barang ini dulu," sahut polisi Ferry, dengan menolehkan kepalanya ke belakang.
Dia tersenyum, kemudian menunjukkan barang bawaannya pada Erli.
Meskipun tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh papanya, tapi pada akhirnya Erli terdiam dan tidak lagi memanggil-manggil papanya.
Sepertinya dia tahu, apa yang akan dikerjakan oleh papanya itu, dengan barang-barang yang tadi mereka bawa dari rumah neneknya.
Sekarang, Linda melanjutkan langkahnya, bersama dengan Erli yang masih berada di dalam gendongannya. Dia menuju ke tempat yang sama seperti yang dituju oleh suaminya.
Erli dia dudukkan di tempat tidur, kemudian dia membantu suaminya itu, untuk memasukkan baju-baju, yang tadi ikut dia bawa dari rumah ibunya, ke dalam almari pakaian.
"Kamu tiduran saja Sayang. Biar Aku yang kerjakan ini," ujar polisi Ferry, meminta pada Linda agar beristirahat saja.
"Gak apa-apa Mas. Linda sudah sehat kok," ucap Linda, dengan masih merapikan baju-baju tersebut.
"Maafkan Mas ya Sayang. Kemarin Mas khilaf."
Tiba-tiba, polisi Ferry meminta maaf lagi. Entah sudah yang ke berapa kalinya, suaminya itu meminta maaf padanya.
Linda tidak pernah menghitung ucapan maaf tersebut. Apalagi, selama dia dirawat di rumah sakit dan di rumah ibunya, suaminya itu, sering sekali mengucapkan kata maaf.
"Linda akan mencoba untuk memberikan kesempatan pada Mas, sekali lagi. Tapi, biarkan Linda kerja lagi ya Mas?"
Polisi Ferry menatap istrinya itu, dengan pandangan penuh tanda tanya. Dia tidak tahu, apa yang diinginkan oleh istrinya kali ini.
"Buat apa?" tanya polisi Ferry pada akhirnya.
"Linda ingin kerja Mas. Selain untuk tambahan uang untuk keluarga kita, Linda jadi tidak merasa bosan karena ada kesibukan," tutur Linda, memberikan alasan, kenapa dia ingin bekerja lagi.
Polisi Ferry menghela nafas panjang. Dia merasa jika, istrinya itu ingin mendapatkan suasana baru, di luar rumah.
"Lalu Erli bagaimana?" Polisi Ferry bertanya tentang apa yang akan terjadi pada Erli, jika mamanya bekerja di luar rumah.
Padahal, Erli masih ada pada masa tumbuh kembang batita.
"Erli kita titipkan ke penitipan anak, atau ambil pengasuh?" kata Linda, memberikan beberapa pilihan, yang bisa diambil untuk solusi anaknya, jika dia jadi bekerja di luar rumah.
"Tapi Sayang, Mas masih bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga kita," sanggah polisi Ferry, yang tidak setuju dengan usulan dan rencana istrinya.
"Tapi, Mas masih ada cicilan ke Bank. Belum lagi, Mas juga ada tanggungan dengan denda pada orang kemarin itu. Bagaimana jika Linda ikut bantu, selama Mas belum bisa lepas dari semua cicilan dan tanggungan itu?"
Sekarang, polisi Ferry tidak bisa lagi membantah ataupun melarang keinginan istrinya, yang ingin bekerja.
Meskipun sebenarnya, polisi Ferry juga akan merasa malu, jika sampai ketahuan oleh orang lain.
Tentunya, dia akan merasa malu, karena membiarkan istrinya itu bekerja di luar rumah. Bukannya hanya di rumah saja, menjaga dan merawat anaknya.
Tapi, dia juga tidak mau jika, Linda akan membangkang dan pergi dari sisinya. Dia merasa takut jika, istrinya itu, akan membuat kekacauan, jika keinginannya tidak bisa dia setujui.
Karena Linda juga mau pulang ke rumah, dengan syarat bahwa, apapun yang dilakukan dan dikerjakan oleh istrinya itu, tidak akan pernah dia larang. Yang penting, tidak merugikan dirinya sendiri, dan anaknya, Erli.
Akhirnya, polisi Ferry hanya bisa menyetujui keinginan Linda.
Tapi, dia juga tidak akan membiarkan Linda, untuk bekerja di luar rumah selamanya.
Dia akan melakukan apa saja, agar semua yang menjadi bebannya selama ini, segera selesai. Agar istrinya itu, tidak ada alasan lagi, untuk bisa tetap bekerja di luar rumah.
"Sudahlah. Kita bahas ini besok lagi ya. Sekarang, Kita makan dulu. Aku sudah persiapkan makanan untuk kita tadi," ajak polisi Ferry, pada saat mereka berdua sudah selesai membereskan barang-barang dan merapikan lemari pakaian.
Erli, yang tadi tampak bermain-main sendiri di tempat tidur, sekarang sudah tertidur.
Mungkin Erli kecapekan juga, meskipun tidak melakukan apa-apa.
"Erli tidur Mas."
Linda memberitahu pada suaminya, jika anak mereka sudah tertidur, dengan tanpa rewel terlebih dahulu, seperti biasanya.
"Syukurlah kalau dia tidak rewel," ucap polisi Ferry, dengan melangkah mendekati tempat tidur, di mana Linda duduk, menunggui Erli.
"Biarkan dia tidur. Ayok kita makan dulu!"
Polisi Ferry, kembali mengajak Linda, supaya makan terlebih dahulu, sebelum anaknya nanti terbangun dan membuatnya sibuk, dan lupa untuk makan.
Linda menurut. Dia menerima ajakan suaminya itu, pada saat tangannya di tarik oleh suaminya.
Tapi karena tidak siap, Linda jadi berdiri dengan terhuyung.
Dengan sigap, polisi Ferry merengkuh tubuh istrinya itu, dan memeluknya erat, agar tidak terjatuh.
Deg!
Linda merasakan getaran yang aneh, di dadanya. Hal yang sudah lama sekali, tidak dia rasakan.
Dengan mengigit bibirnya, Linda mendongak menatap wajah suaminya itu.
Sekarang, tentunya wajah keduanya juga sangat dekat. Bahkan, hembusan nafas keduanya juga sama-sama bersahutan.
Dengan pasti, polisi Ferry, mengecup bibir istrinya itu, untuk melampiaskan rasa rindunya, yang sudah hampir sebulan ini tidak tersampaikan.
Dan Linda, hanya bisa diam dalam keadaan seperti sekarang ini. Dia juga sudah lama tidak merasakan hal ini, bersama dengan suaminya itu.
Apalagi sejak menikah, Linda juga tidak pernah lagi melakukan apa yang biasa dilakukan dulu. Yaitu memuaskan dirinya sendiri, dengan caranya sendiri juga.
Semoga novelnya semakin banyak readersnya..😄
Semangat ya Kakak, siap meluncur ke novel lainnya Kak..🤩