NovelToon NovelToon
Blood Of Sin - Tsumi No Chi

Blood Of Sin - Tsumi No Chi

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action
Popularitas:668
Nilai: 5
Nama Author: samSara

罪から生まれ、 遺産を求める血に追われる。 Tsumi kara umare, isan o motomeru chi ni owareru. (Born from sin. Hunted by blood that demands legacy) Nakamura Noa, gadis miskin yang bekerja serabutan sekaligus merawat ibunya yang sakit parah. Noa dan ibunya yang sedang dalam persembunyian, tidak sadar bahwa klan besar Yamaguchi-gumi telah mengawasi mereka sejak lama. Mereka beranggapan bahwa Noa adalah pewaris roh leluhur Yamaguchi: 'Kuraokami' yang bangkit saat berada diambang batas. Sampai akhirnya Noa dijemput paksa dan dibawa kembali ke dunia kelam para algojo. Ia harus memilih: tunduk pada mereka atau hancurkan warisan yang telah merenggut hidupnya. ⛔️"DILARANG KERAS menyalin atau mengambil ide, alur, plot twist, tokoh, dialog, maupun bagian cerita, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa izin penulis."⛔️ Copyright© 12/07/2025 - SAMSARA. Technical Advisor : Aimarstories Cover : pinterest Dark psychological thriller Dengan gaya sinematic noir - slow burn

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samSara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13 - Sakazukigoto part I

...**...

...強制された名前...

...-Kyōsei sareta namae-...

...'Nama yang dipaksakan'...

...⛩️🏮⛩️...

Hari ke-27. Petang.

Cahaya senja masih menyala temaram di langit Tokyo, saat dua anggota Gokaishu membopong Noa kembali dari pelatihan. Tubuhnya nyaris lumpuh: bahu terkilir, tulang kering memar, darah mengering di sudut bibir.

Langkah mereka menggema di lorong menuju asrama bawah, ketika sesosok berdiri menghadang di tengah jalan.

Akiro Yamaguchi.

Anak sulung Oyabun.

Ia berdiri tenang, mengenakan haori gelap dengan simbol keluarga di punggung, mata setajam tombak yang tak tertarik menebas... kecuali perlu.

Dua Gokaishu berhenti, kaku. Noa mendongak samar dari posisi tergantung di antara mereka.

Akiro menatap Noa seperti menatap seekor binatang yang masih hidup, tapi sudah ditimbang nasibnya.

Lalu ia berkata tenang, nyaris seperti gumaman:

"Naga dibentuk untuk terbang...

...atau dijagal sebelum sempat tumbuh taring."

Hening.

Ia melangkah ke samping, memberi jalan.

Para Gokaishu menganggukkan kepala mendalam, lalu berjalan lewat.

Satu hal yang Noa tahu dengan pasti:

Para pewaris.

Mereka memperhatikan.

Mereka tidak suka naga liar hadir di tanah yang sama.

...⛩️🏮⛩️...

Biasanya, mereka bersumpah dulu.

Setetes darah, satu cawan, satu ikatan.

Baru kemudian luka, tinta, dan latihan dimulai.

Tapi Noa bukan datang sebagai calon.

Ia datang sebagai konsekuensi.

Segel dalam darahnya berbicara lebih cepat dari sumpah.

Maka urutannya dibalik: tinta dulu, pelatihan paksa, pemulihan, baru pintu dibuka.

Keesokan harinya.

7 hari setelah pelatihan paksa berakhir.

Hari ini, pintu itu terbuka.

Di dalam aula utama, lantai tatami diganti permadani merah tua.

Di ujung ruangan: altar kotak kayu, cawan sakazuki, sebilah tanto, dan sebotol minuman sake.

Lonceng kecil berdentang.

Dan udara mulai berubah.

Noa berjalan pelan, diapit dua anggota klan berseragam hitam, dengan kepala tertunduk.

Tidak karena hormat. Tapi meremehkan.

Tubuhnya masih sakit hampir sekujur tubuh selain karena latihan fisik juga tato irezumi yang belum kering seluruhnya. Gambar naga air itu—Kuraokami—masih terasa seperti hidup di bawah kulitnya. Berdenyut, menggeliat, kadang panas, kadang dingin.

Ia tetap berusaha berdiri dan berjalan tegak.

Dan kini mereka ingin menyambutnya sebagai 'keluarga'?

Noa ingin tertawa. Atau muntah.

Tapi halaman itu terlalu sunyi. Terlalu banyak mata mengawasinya.

Di barisan depan berdiri Kaede, Reiji, dan Akiro. Bukan pakaian tempur malam ini, hanya jas hitam dengan lambang Yamaguchi di dada. Tegak, diam, seperti penjaga tahta.

Noa bukan saudara. Ia hanya duri dari pohon yang sama.

Oyabun berdiri di kursi kehormatan, montsuki hitam membungkus tubuhnya seperti batu kuil. Di sisi kanannya: Sakaki, tegap seperti gerbang. Di sisi lain, Kuroda duduk tenang, mata tajam, senyum tipis yang membuat dada Noa panas.

Torao berdiri di dekat para pewaris, tubuhnya diam seperti granit, tatapan mata menyorot seluruh bagian diri Noa.

Pendeta Shinto berdiri di altar dengan kotak kayu Di belakang, Hane nyaris tidak terlihat tapi auranya mencengkeram ruangan.

Gokaishu hadir tanpa topeng. Lima wajah asing yang selama ini tersembunyi kini menatap Noa seperti peringatan hidup. Di depan mereka berdiri satu sosok bertubuh ramping, tatonya menyembul hingga dagu, sorot matanya yang tajam berada di balik kacamata hitam bulat.

Tak jauh posisi di belakang, tiga sosok yang jarang terlihat sedang berdiri sejajar:

Kurosawa Tadashi, tenang dan penuh kalkulasi.

Daigo Kagemaru, berdiri santai, senyum separuh sinis. Sedangkan Arakawa Kaito, diam dalam mantel hitam.

Dan di sisi timur, Oba Haruka berdiri. Tegak. Seorang wanita tua. Tapi sorot matanya bukan membenci, tapi penuh penilaian.

Di tengah ruangan... berdiri Noa. Sendirian. Memakai pakaian kemeja putih polos kebesaran, dimasukkan di celana hitam panjang, rambutnya tergerai acak. Luka-luka bekas latihan fisik masih segar di lengan dan bahunya. Ia tak bicara, tak memohon. Hanya berdiri.

Pendeta mulai berbicara dalam bahasa formal kuno. Irama doanya berat, memanggil para leluhur klan Yamaguchi, meminta restu atas penerimaan darah tersembunyi yang kini kembali ke tubuh asal.

Raizen berdiri dan mengangguk kecil.

"Hari ini... keluarga kita tidak bertambah satu orang," katanya, datar. "Tapi darah yang hilang telah kembali ke nadi kita. Meskipun caramu datang tidak dengan sukarela."

Semua diam. Noa menatapnya. Mata mereka bertemu dan tatapan Noa terasa lebih dingin dari malam musim dingin Tokyo.

Pendeta membawa cawan upacara berisi sake suci. Lalu memegang pisau ritual kecil yang biasa dipakai untuk keiyaku no chi (ikatan darah).

"Sebagai tanda penerimaanmu, darahmu akan dicampur dalam sake. Dan semua tetua akan minum untuk menerima jiwamu."

Pendeta mendekat.

"Nakamura-san... silakan."

Noa mematung.

Wajahnya kosong, tapi matanya berkaca-kaca. Bukan karena takut. Tapi karena muak. Ia menggeleng pelan. "Aku tidak akan mengiris diriku untuk kalian," katanya pelan, tajam.

Sunyi.

Senyap. Beberapa tetua saling pandang. Kaede mendecak kecil. Reiji tertawa singkat. Akiro hanya berkedip.

Jin hendak maju, tapi Oyabun hanya mengangkat satu tangan.

Torao yang posisi paling dekat dengan Noa menunduk sopan, tapi tajam.

"Kalau kau tidak ingin melukai dirimu sendiri... tangan 'hitam' ini yang akan melakukannya."

Tanpa aba-aba, Torao dan satu anggota Gokaishu bergerak cepat. Pasukan elit itu memegang bahu Noa, menekannya sedikit. Dalam satu gerakan cepat, Torao menarik telapak tangan kirinya dan menggores dengan pisau ritual perlahan. Darah menetes, menetes, cawan di bawahnya menangkap tetesan itu seperti menerima roh purba.

Torao dan satu Gokaishu yang menahan bahu Noa, kembali ke posisi awal.

Pendeta menuangkan sake itu ke dalam sakazuki ukuran medium dan memberikannya kepada para tetua klan. Satu per satu, mereka meminumnya.

Termasuk Tadashi, Kagemaru, Kaito dan sosok di depan para Gokaishu. Beberapa dengan hormat, menyesap perlahan, mata tak lepas dari Noa. Beberapa dengan jijik yang disembunyikan.

Kaede, Reiji, dan Akiro tidak meminumnya. Mereka hanya berdiri diam, menatap Noa seperti bayangan masa depan yang mereka benci.

Terakhir, pendeta menunduk dalam-dalam di hadapan Noa, lalu berkata keras:

"Nakamura Noa. Dengan darahmu, engkau diterima. Dengan luka ini, engkau terikat. Dengan jiwa ini, engkau bagian dari klan."

Ia membalik badan. Semua yang hadir—para tetua, penjaga, bahkan pelayan—berlutut dan menundukkan kepala ke lantai.

Semua... kecuali Oyabun.

Oyabun tetap berdiri, tangan di belakang punggung, seperti dewa yang tak butuh menyembah siapa pun.

Ia melangkah maju, berdiri tepat di depan Noa.

"Kau bukan lagi tamu, Nakamura."

"Mulai malam ini, kau adalah darah yang kami akui."

"Tapi jangan salah paham... darah yang kami akui bukan darah yang kami percayai."

Noa berdiri sendirian di tengah ruangan penuh kepala yang tertunduk.

Darah masih menetes dari telapak tangannya.

Ia tak bicara. Tak menjawab.

Hanya menatap sekeliling, lalu berbisik di dalam hatinya:

'Kalian bukan menerimaku. Kalian mengurungku.'

...⛩️🏮⛩️...

Kamar barunya menghadap taman dalam yang dijaga senyap oleh batu-batu besar dan kolam koi tua. Jauh lebih layak dari sel karantina sebelumnya, ada ranjang empuk, rak buku, bahkan meja teh dengan peralatan lengkap. Tapi tiap sudut ruangan mengingatkan Noa bahwa ini tetap sangkar. Hanya saja... lebih halus bentuknya.

Dua penjaga berganti jaga di depan pintu, wajah sangar, pandangan kosong, tak pernah bicara.

Setidaknya, sekarang ia bisa menerima tamu.

...⛩️🏮⛩️...

Oba Haruka.

Wanita itu datang tanpa suara.

Ketika pintu terbuka, Noa hampir tak sadar kehadirannya sampai aroma ringan cendana memenuhi udara. Oba Haruka masuk dengan langkah mantap dan membawa set pakaian yang dilipat rapi, serta sebuah kotak kecil dari kayu ceri tua. Ia tidak banyak bicara.

Tanpa bertanya, ia meletakkan pakaian di lemari dan membuka kotak kayunya: isinya sabun batangan beraroma lembut, sampo dalam wadah kaca, sisir kayu, handuk kecil yang terlipat rapi, sikat dan pasta gigi, serta minyak wangi sederhana.

Lalu matanya menatap sekeliling kamar.

"Tidak ada bunga," gumamnya. "Selalu begitu di ruangan pertama."

Noa hanya menoleh tanpa berkata apapun. Bingung harus merespon seperti apa.

Oba Haruka menatapnya sejenak, kemudian menyusun ulang letak cangkir di atas meja teh. Gerakannya presisi. Seolah segalanya harus ada dalam keseimbangan.

"Kau boleh tidak menyukai tempat ini," katanya, lembut namun dingin. "Tapi kalau kau benar-benar benci... jangan hanya mengeluh. Guncangkan fondasinya."

Sebelum Noa bisa bertanya lebih jauh, wanita itu tersenyum. Senyum yang terasa... terlalu manusiawi untuk tempat seperti ini.

Lalu pergi. Begitu saja.

...—つづく—...

1
Dylla
jadi sekalian belajar bahasa jepang kan kwkw emosional banget alurnya mak
Dylla
ga bisa berkata-kata lagi. suka banget detail nya
Faeyza Al-Farizi
bagian ini penuh teka-teki, yang paling bikin penasaran sih... siapa bapaknya si bayi. apakah oyabun? atau.... ah mari kita cari petunjuknya di bab berikutnya 👍
Faeyza Al-Farizi
Noa, mati waktu lahir. Tapi keknya bakalan mati lagi di depan. walau secara kertas lagi🥲
Faeyza Al-Farizi
walau kebenaran dikubur sekalipun, suatu saat akan bangkit 🥴
Hasif Akbar
Kasihan ya ... Misao, pasti menanggung klan Yamaguchi dan pasti menjadi buronan, sudah dipisahkan sama ibunya, ngeness gak bisa menikmati sisi cahaya dunia 🙏
Chuen lie Liem
serpihan puzzle yang ditemukan Tadashi saling melengkapi. dia yakin ini semua bukan kebetulan, RIN DAN ANAKNYA MASIH HIDUP HANYA GANTI IDENTITAS, pen. di satu tempat terpencil. Bagaimana keadaan Rin dan anaknya ? apa yang akan dilakukan Tadashi? Kita lihat saja episode berikutnya, alur ini semakin menarik, penasaran dengan plot twistnya...
Diaz Ardi
pada akhirnya tetap dipenggal, meski gen membuka mulutnya, sedari awal tadashi tidak memberikan pilihan untuk hidup.
​disisi lain, noa bener² berjuang bertahan hidup bersama bibi yang memang sebenarnya ibu kandungnya. kondisi yang cukup memprihatinkan untuk mereka berdua yang sebatang kara
Happy Netta
Ceritanya terenyuh banget, apalagi sosok bayi tak berdosa harus tumbuh didalam rahim namun keluar sudah tak bernyawa dan ngerinya berstatus cacat.. tapi salut dengan perempuan itu yg melahirkannya, ia tetap merawatnya didalam kandungan sampe di hari persalinan yg walaupun tidak akan pernah ia bisa rawat seperti saat didalam kandungannya.🥹
Happy Netta
Di awal udah negthink, tp ternyata bikin nyesek.. author bisa aja ngasih settingannya se real itu. Omg.. wajib masuk list bacaan nih!!!
Dylla
patriaki garis keras ini. apalagi latar waktunya zaman baheula
Chuen lie Liem
Hidup Rin se-derita itu, seorang gadis penghibur yang pasti cantik, mempunyai anak dari bangsawan Jepang. Bayi itu tak diakui, ibunya iusir dan didengungkan berulang anak yang lahir itu cacat dan mati. Setelah ini Rin hidup tanpa identitas, dengan anak yang tumbuh bersamanya di suatu tempat yang tersembunyi. Diksi cerita ini kuat, penjabaran membawa kita masuk ke dalam cerita tanpa dapat ditolak. padahal ini baru prolog udh sebagus ini. sangat bikin penasaran.
Zainab Firman
Langkah atau tindakan apakah yang akan dilakukan Tadashi terhadap Misao yang tak lain adalah Rin?
sungguh alur cerita ini membuat penasaran untuk terus membacanya
Zainab Firman
Karya yang sangat interest untuk dibaca, seperti mudah ditebak alur ceritanya, padahal tidak, alur ceritanya sangat kompleks dan penuh intrik
Faeyza Al-Farizi
Sumpah, ini baru prolog loh. catat, prolog.
kuat banget udahan, pengambilan konfliknya juga menarik. Geisha, si penghibur yang dihargai di Jepang. pasti si Rin ini cantik banget sampai kayaknya jadi pusat. Btw kakak Author kamu risetnya jalur film apa pernah kesana, bisa buat setting yang jepang banget 👍
Diaz Ardi
Apakah Rin ini seorang yamato nadeshiko? Tetapi menjalin hubungan dengan orang yang tak seharusnya ia bersamanya? Sehingga saat memiliki buah hati bersama sang Oya-bun. Keberadaannya harus dihapuskan bersama jejak kelahiran anak tersebut.
Faeyza Al-Farizi
kalau gitu kenapa disentuh dan dibuat ada si bayi 😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!