NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Disembunyikan Suamiku

Rahasia Yang Disembunyikan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Beda Usia / Selingkuh / Cintamanis / Cinta Terlarang
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Lima tahun sudah Nadira menjalani sebuah pernikahan. Lima tahun pula rahimnya dijadikan bahan cibiran, saat setiap kali mertuanya melontarkan kata-kata tajam. Mandul. Wanita bermasalah.

"Mas, aku sudah lelah menghadapi ibumu yang selalu menuduhku mandul. Padahal kenyataannya kamu jarang menyentuhku. Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" (Nadira)

Namun respon Ardian membuat Nadira terdiam.

"Sudahlah Nadira, gak usah di dengarkan ucapan Ibu. Jadi sabar saja. Lagian aku gak pernah menyembunyikan apapun darimu." (Ardian)

Bersabar, katanya.
Tapi sampai kapan kesabaran itu bisa bertahan?

Apakah dibalik ucapannya, Ardian menyembunyikan sebuah rahasia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hanya Seorang Istri.

Setelah makan siang selesai, suasana rumah tak lagi seramai tadi. Ardian bersandar di kursinya, napasnya terasa berat. Di saat itulah suara ibunya memanggil.

“Ardian, Ibu mau ngomong sama kamu.”

Ardian menoleh. Keningnya berkerut tipis. “Ngomong apa, Bu?”

“Jangan di sini.” Bu Wani sudah berbalik lebih dulu.

Ardian menatap punggung ibunya yang menjauh. Bahunya turun perlahan saat ia menghela napas.

Di dalam kamar, ibunya berdiri membelakanginya.

“Ada apa, Bu?” tanya Ardian pelan.

Bu Wani berbalik cepat. Tatapan matanya tajam. “Lihat istri kamu itu. Sudah berani mempermalukan Ibu.”

Ardian terdiam.

“Dia sengaja cari muka, ke Tante kamu, ke Ayah kamu. Pesan makanan dari rumah makannya sendiri. Buat apa coba? Biar orang-orang muji dia. Ibu nggak habis pikir sama istrimu," lanjut Bu Wani.

Ardian mengusap tengkuknya. Kepalanya berdenyut. “Tapi pembantu kan libur, Bu. Ibu juga nyuruh Nadira mendadak. Jadi ya—”

“Oh, ini dia!” potong Bu Wani. “Kamu sekarang sudah dipengaruhi Nadira, ya? Sampai berani melawan Ibu?”

Bu Wani menengadah, menatap langit-langit seolah mencari simpati. “Ya Gusti, kenapa nasib hamba begini. Sudah membesarkan anak dengan jiwa dan raga, sekarang malah dibalas seperti ini.”

Ardian menghela napas panjang. “Ya sudah,” ucapnya akhirnya. “Nanti aku bilang sama Nadira.”

Kalimat itu meluncur begitu saja. Bukan karena ia yakin, tapi karena ia lelah dengan drama ibunya.

Bu Wani menatap Ardian. “Sekarang.”

Tanpa menjawab, Ardian berbalik dan pergi dari kamar.

Bu Wani menatap pintu kamar yang baru saja tertutup. Sudut bibirnya terangkat perlahan.

Sejak tadi, ia menahan kesal. Duduk di meja makan, melihat Nadira dipuji, diperhatikan, bahkan ditawari kerja sama. Semua itu terasa seperti tamparan. Menantu perempuannya, Nadira. Ia berdiri terlalu tegak dan terlalu percaya diri.

Bu Wani mengepalkan jemarinya. Ia melangkah ke depan cermin. Menatap pantulan dirinya sendiri. Harga dirinya tak boleh diinjak oleh gadis desa yang hanya bermodal wajah dan usaha kecil.

“Nadira,” gumamnya pelan, suaranya rendah tapi penuh racun. “Aku akan memutus kesombonganmu. Dasar gadis kampung.”

...

Di dapur, tawa Nadira sempat pecah. Untuk sesaat. Gama memang punya cara aneh untuk membuat suasana tak terlalu berat.

“Lalu apa yang terjadi?” tanya Nadira sambil tersenyum. “Kamu pikun setelah nabrak tiang PLN?”

Gama mendengus. “Malah ketawa. Nggak lucu.”

“Lucu,” balas Nadira cepat. “Ceritamu kayak pelawak gagal.”

Ia tertawa lagi, lalu mendadak terdiam. Tatapan Gama tertahan padanya, terlalu lama. Nadira merasakan ada jeda aneh di udara. Senyumnya perlahan memudar.

“Nadira.”

Suara itu membuatnya tersentak.

“Aku mau bicara sama kamu. Berdua.”

Nadira segera mengalihkan pandangan, berusaha kembali tenang. “Mas Ardian, mau bicara apa, Mas?”

Gama berdeham. “Kalau begitu aku pergi dulu, Mbak. Mas Ardian.” Ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Dapur mendadak terasa sempit.

Ardian menatap Nadira lurus. “Bukankah aku sudah bilang, jangan membuat masalah."

Kening Nadira mengernyit. “Membuat masalah apa?”

“Soal di meja makan tadi. Kamu nggak sadar kalau kamu bikin Ibu kelihatan buruk?”

Oh. Jadi ini.

Nadira menghela napas. ‘Ternyata setelah apa yang terjadi di depan matanya, tetap saja gak berubah.’ Ucapnya dalam hati.

“Kamu dengar nggak, Nadira?”

Brak.

Apron itu dilepas dan diletakkan kasar di atas meja. Nadira menatap Ardian lagi, matanya tak lagi hangat.

“Terus saja bela Ibumu, Mas,” ucapnya datar. “Padahal kamu lihat sendiri apa yang terjadi.”

Ardian terdiam.

“Ibumu menyuruhku bikin minuman, masak untuk banyak orang, sementara yang lain hanya duduk, tertawa, menikmati,” lanjut Nadira. Suaranya bergetar tipis, tapi tetap terjaga. “Aku nurut. Aku diam. Apa aku melawan?”

Ia melangkah setengah langkah mendekat. “Karena waktunya mepet, akhirnya aku pesan pesan makanan dari rumah makanku, itupun aku pakai uangku sendiri.”

“Kenapa kamu perhitungan sih?”

Nadira menatap tak percaya, perhitungan katanya?

“Perhitungan mana aku sama ibumu, Mas? Iya kalau ibumu kasih uang sedikit, aku gak akan mempermasalahkannya.” Telunjuknya mengetuk pelipis. “Pakai logika, Mas. Kamu pasti sudah disuruh Ibumu, kan? Datang ke sini buat menegurku?”

Nadira terkekeh pendek. Tak ada tawa di sana. “Berbakti itu boleh. Aku nggak pernah melarang,” ucapnya pelan tapi tajam. “Tapi jangan buta.”

Tanpa menunggu jawaban, Nadira berbalik. Langkahnya cepat, tegas. Ia meninggalkan dapur.

...

Di luar rumah, Nadira melangkah cepat. Di sudut halaman, Gama terlihat bersiul ringan, seolah tak terjadi apa-apa. Nadira melirik sekilas, lalu memalingkan wajah. Tak ada tenaga untuk basa-basi.

“Nadira, kamu mau ke mana?” Suara Ardian terdengar di belakangnya.

Belum sempat ia menjawab, tangannya sudah ditarik. Tubuhnya terhuyung, dadanya membentur dada Ardian yang keras.

“Lepas,” ucapnya singkat.

“Mau ke mana?” tanya Ardian lagi.

Nadira mendongak. Tatapannya dingin. “Aku mau pulang.”

“Ayo pulang bareng.”

Ia tak menolak, tak juga menyetujui. Tangannya kembali ditarik, kali ini menuju mobil. Nadira masuk tanpa suara, duduk menatap lurus ke depan.

Mesin dinyalakan. Mobil perlahan meninggalkan halaman rumah itu.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan.

“Mau ke mana dulu?” tanya Ardian akhirnya. “Biar suasana hatimu mendingan.”

Nadira menoleh ke jendela. Pepohonan bergeser cepat. “Ke kebun binatang saja.”

Ardian tak bertanya lagi. Setir dibelokkan, mobil melaju semakin jauh dari rumah orang tuanya.

Di dalam mobil, Nadira melirik sekilas. Ardian menyetir, tapi jemarinya bergerak di layar ponsel.

“Fokus, Mas,” ucap Nadira. “Kalau kecelakaan bagaimana?”

Ardian terdiam. Ponsel itu diletakkan kembali. Kedua tangannya menggenggam setir.

Nadira kembali menatap ke luar.

...

Tak lama kemudian, mobil berhenti di area parkir. Begitu mesin dimatikan, Nadira sudah lebih Dulu membuka pintu. Ia melangkah cepat.

Langkahnya menyusuri pintu masuk kebun binatang, bercampur dengan suara anak-anak dan bau khas rerumputan. Perlahan, bahunya yang sejak tadi tegang mulai turun.

Tatapannya bergerak dari satu kandang ke kandang lain. Bibirnya terangkat, senyum yang tadi tertahan akhirnya muncul. Ada sesuatu yang menenangkan melihat hewan-hewan itu hidup di dunianya sendiri.

Langkah Nadira terhenti di depan kandang burung kakak tua. Ia mendongak, menatap bulu-bulu cerah yang bertengger anggun.

“Indah sekali warna bulunya,” gumamnya pelan.

“Iya, sangat indah.”

Nadira menoleh. Alisnya berkerut tipis. Suara itu terlalu familiar. “Wisnu?”

Pria itu tersenyum. “Iya.”

“Kamu di sini juga?”

“Iya. Kan lagi libur kerja.”

Nadira mengangguk, lalu kembali menatap burung-burung itu, seolah tak ingin obrolan melebar.

Tak lama, suara lain menyusul.

“Wisnu, kamu di sini juga?”

Ardian berdiri beberapa langkah dari mereka.

“Iya, Pak Ardian,” jawab Wisnu santai. “Sekalian menenangkan pikiran. Biar nggak capek mikirin kerjaan.”

Ardian mengangguk. “Mau lihat pertunjukan lumba-lumba?”

“Mau, Pak,” sahut Wisnu cepat. “Kebetulan saya juga pengin lihat.”

Belum sempat Nadira bereaksi, kedua pria itu sudah melangkah lebih dulu.

Nadira tersentak. Ia menatap punggung mereka yang menjauh.

“Padahal aku yang ngajak ke sini,” gumamnya kesal. “Tapi aku juga yang ditinggal.” Ia mendecak pelan, lalu menyusul.

...

Beberapa waktu berlalu. Keramaian mulai terurai. Penonton berdiri, bangku-bangku berderit saat ditinggalkan.

“Seru sekali ya tadi?” suara Ardian terdengar ringan.

“Iya, Pak,” jawab Wisnu.

“Besok ada yang ingin kamu lihat lagi, Wisnu?” tanya Ardian.

“Ada sih, Pak. Tapi nanti-nanti saja. Fokus kerja besok,” sahut Wisnu.

Nadira berjalan di belakang mereka. Langkahnya sedikit tertinggal. Obrolan kedua pria itu sampai ke telinganya terputus-putus.

Di depan mobil, Nadira hendak membuka pintu. Tangannya sudah terangkat ketika sebuah tangan menahannya.

Ia menoleh.

Tatapan Ardian dingin.

“Biar Wisnu duduk di depan,” ucapnya singkat.

Nadira melirik Wisnu sekilas. “Tapi—”

“Wisnu, duduk di depan.”

“Tapi Pak—”

“Sudah. Keburu malam,” potong Ardian.

Nadira tak berkata lagi. Ia masuk ke dalam mobil, duduk di belakang. Tak lama, Wisnu menyusul dan mengambil kursi depan.

Mesin dinyalakan. Mobil melaju meninggalkan parkiran.

Di dalam mobil, suasana berubah riuh. Obrolan ringan mengalir, tawa sesekali pecah. Ia melihat Ardian. Tatapannya hangat. Senyumnya lepas. Sikapnya santai, berbeda dari yang biasa ia terima.

Nadira menarik napas panjang. Jemarinya meraih ponsel, menyalakan layarnya.

...

Setelah Wisnu turun dan mengucap salam perpisahan, mobil kembali melaju. Tak lama, kendaraan itu berhenti di halaman rumah mereka.

Nadira turun lebih dulu. Langkahnya terasa berat. Tubuhnya lelah setelah seharian beraktivitas.

Di kamar, Nadira merebahkan diri di atas kasur. Punggungnya baru menyentuh sprei ketika Ardian ikut masuk.

“Mandi dulu, Nadira,” ucap Ardian.

Nadira menoleh sekilas. “Aku capek. Nanti saja.”

“Ya sudah,” jawab Ardian singkat, lalu melangkah ke kamar mandi.

Suara pintu tertutup pelan.

Tatapan Nadira tertahan di sana beberapa detik, sebelum akhirnya beralih ke jendela. Di luar, langit meredup. Cahaya terakhir hari itu perlahan tenggelam.

Nadira menarik napas pelan. “Semoga besok adalah hari yang baik.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!