Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.
Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.
"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."
Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Fakta Mengerikan
Harry tidak memedulikannya. Ia terus menarik Kayra hingga mereka mencapai atap yang berangin kencang. Sebuah helikopter dengan logo Marcello sudah menunggu dengan baling-baling yang berputar cepat.
"Naik, Kayra! Sekarang!" teriak Harry di tengah kebisingan.
Harry membantu Kayra naik lebih dulu, lalu ia melompat masuk tepat saat pintu helikopter ditutup. Helikopter itu melesat naik, meninggalkan hotel mewah yang kini dipenuhi oleh pasukan polisi dan orang-orang Luca.
Di dalam kabin helikopter yang sempit, Kayra segera memeriksa luka Harry dengan cemas. "Aku sudah bilang jangan terlalu banyak bergerak!"
Harry hanya tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di dinding helikopter sambil menggenggam tangan Kayra erat. "Setidaknya kita mendapatkan apa yang kita mau, kan?"
Kayra menatap wadah pendingin di pangkuannya, lalu menatap Harry. "Kau gila, Harry Marcello. Benar-benar gila."
Harry menarik wajah Kayra mendekat, menatapnya dengan pandangan yang penuh kemenangan sekaligus rasa syukur. "Gila karenamu, Dokter. Gila karena ingin melihatmu mendapatkan keadilanmu kembali."
Kayra terdiam, ia menyandarkan kepalanya di bahu Harry sementara helikopter membawa mereka menjauh dari kota, menuju tempat persembunyian baru yang lebih aman. Ia tahu perang ini masih panjang, tapi malam ini, mereka telah mencuri lebih dari sekadar serum, mereka telah mencuri waktu untuk bersama.
"Harry," panggil Kayra pelan di tengah suara mesin helikopter.
"Ya, Alana?"
"Jangan pernah berani melakukan hal sebodoh itu lagi tanpaku," bisik Kayra, meremas tangan Harry.
Harry tersenyum, menutup matanya dengan letih namun puas. "Apapun perintahmu, Istriku."
Suasana di dalam helikopter itu sunyi, hanya menyisakan deru baling-baling yang membelah kegelapan malam. Kota di bawah mereka tampak seperti hamparan sirkuit listrik yang mulai menjauh, digantikan oleh siluet pegunungan yang menjulang tinggi.
Kayra masih bisa merasakan detak jantungnya yang berpacu kencang, bukan hanya karena aksi penyusupan tadi, tapi karena tangan Harry yang masih menggenggam jemarinya dengan posesif.
"Kita akan menuju Villa de Nebbia," suara Harry memecah kesunyian.
Ia sudah membuka kancing kerah kemejanya, mencoba mengatur napas agar tidak menekan luka di perutnya. "Itu properti pribadi ibuku di pegunungan Alpen. Tempat itu tidak ada dalam catatan resmi Marcello mana pun. Kita aman di sana untuk sementara."
"Kau memiliki banyak properti," ujar Kayra pelan, suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin helikopter, namun tetap sampai ke telinga Harry. Ia menatap ke luar jendela, memandangi kegelapan yang menyelimuti pegunungan Alpen yang mulai terlihat di bawah mereka.
Harry menoleh sedikit, menyandarkan kepalanya yang terasa berat ke dinding kabin. "Duniaku menuntutku untuk memiliki banyak tempat bersembunyi, Kayra. Setiap rumah adalah perlindungan, setiap alamat adalah rahasia. Tapi Villa de Nebbia berbeda. Ibuku membangunnya sebagai tempat untuk melarikan diri dari kebisingan nama Marcello. Bagiku, itu bukan sekadar properti. Itu adalah satu-satunya tempat yang terasa ... netral."
Kayra terdiam, ia bisa merasakan nada melankolis dalam suara Harry. Pria ini memiliki segalanya, namun sepertinya ia tidak benar-benar memiliki sebuah "rumah".
Selama ini, bangunan-bangunan mewah itu hanyalah benteng, tempat pengisian peluru, atau sekadar persinggahan untuk mengatur strategi pembunuhan berikutnya.
Setelah hening beberapa saat, hanya ditemani deru mesin helikopter yang stabil, Kayra kembali bertanya dengan suara yang sedikit bergetar. "Lalu ... apakah setelah ini, jika musuh tahu keberadaan kita di sana, kita harus lari lagi?"
Ia menatap Harry, mencari kepastian di balik wajah yang biasanya tak terbaca itu. "Jujur saja, sebenarnya aku … aku sudah lelah berlari, Harry. Dari kota ke Elara, dari Elara ke pulau, dan sekarang ke pegunungan. Sampai kapan pengejaran ini berakhir?"
Harry tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Kayra dengan sorot mata yang dalam, seolah sedang merekam setiap ketakutan yang terpancar dari wajah wanita itu. Ia meraih tangan Kayra, menggenggamnya dengan kekuatan yang tidak menyakitkan, melainkan memberikan tumpuan yang kokoh.
"Aku tidak bisa menjanjikan dunia ini akan menjadi tenang dalam semalam, Kayra," ujar Harry akhirnya, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Tapi aku menjanjikanmu satu hal, apa pun yang terjadi, aku akan melindungimu. Jika kita harus lari, aku akan menjadi perisaimu. Jika kita harus berdiri dan melawan, aku akan menjadi pedangmu. Kau tidak akan pernah menghadapi mereka sendirian lagi."
Harry menarik tangan Kayra lebih dekat, meletakkannya tepat di atas detak jantungnya sendiri yang kini berdegup lebih kencang. "Selama jantung ini masih berdetak, tidak akan ada satu peluru pun yang menyentuhmu tanpa melewati tubuhku terlebih dahulu."
Setelah beberap jam mengudara, akhirnya vila itu tampak berdiri kokoh di puncak tebing yang dikelilingi kabut tebal. Sesuai dengan namanya, Villa de Nebbia.
Bangunan itu terbuat dari batu alam dan kaca, memberikan kesan dingin namun sangat privat. Begitu helikopter mendarat, Enzo dan beberapa pengawal sudah bersiap di landasan kecil yang tersembunyi di balik barisan pohon pinus yang menjulang.
"Tuan Harry, Dokter, silakan masuk. Segalanya sudah disiapkan," ujar Enzo singkat sambil membantu mereka turun.
Setelah memastikan Harry berbaring di sofa besar di ruang tengah yang hangat oleh perapian yang menyala terang, Kayra segera mengambil tas medisnya. Udara dingin pegunungan membuat luka Harry terasa lebih perih dan kaku. Dengan telaten, ia membuka kemeja putih pria itu yang kini sudah mengeras oleh noda darah.
"Diamlah, jangan bicara dulu. Simpan tenagamu!" perintah Kayra saat Harry hendak membuka mulut untuk memberikan instruksi taktis pada Enzo.
Harry menurut. Ia menyandarkan kepalanya, memperhatikan bagaimana Kayra bekerja dengan tangan yang sangat stabil di bawah cahaya lampu temaram.
Ada sesuatu yang sangat menenangkan dari cara Kayra merawatnya. Bagi Harry, Kayra bukan sekadar dokter, wanita ini adalah satu-satunya kejujuran yang tersisa di tengah dunia penuh topeng yang ia jalani selama ini.
Selesai mengobati Harry, Kayra tidak langsung beristirahat. Ia membawa wadah pendingin berisi serum biru itu menuju sebuah ruangan kecil yang sudah diubah oleh Enzo menjadi laboratorium darurat di sudut vila. Ruangan itu dilengkapi dengan peralatan canggih yang entah bagaimana bisa didatangkan Harry dalam waktu singkat.
"Apa yang kau temukan?" Harry muncul di ambang pintu laboratorium beberapa jam kemudian. Ia mengenakan jubah mandi hitam sutra, wajahnya masih sedikit pucat namun ia tetap memaksa untuk berjalan mendekati Kayra.
Kayra mendongak dari balik mikroskop elektron. Wajahnya tampak bingung sekaligus ketakutan. "Harry, serum ini ... ini mengerikan. Aris dan Luca tidak hanya ingin menyembuhkan kelumpuhan. Mereka memodifikasi struktur neurotransmiter untuk menekan lobus frontal, pusat kontrol emosi dan moral pada manusia."
Kayra menarik sebuah folder digital dari data yang sempat ia unduh saat penyusupan tadi. "Dan ada sesuatu yang lebih buruk. Aku menemukan catatan riset tambahan yang disembunyikan dalam sub-folder terenkripsi. Ayahmu, Marcello Senior, ternyata tidak dibunuh karena persaingan jalur distribusi, Harry."