Anita dijual oleh kekasih juga sahabat baiknya pada seorang pria tua. Hingga suatu hari ia mendapati diri tengah berbadan dua dan terusir dari rumah. Hidup penuh derita dilalui Anita dengan tetap mempertahankan janin dalam rahimnya.
Sampai anak itu tumbuh besar dan menjadi seorang anak jenius yang mampu membawa Anita dalam kehidupan lebih baik. Anak yang dilahirkan itu pula, membawa Anita untuk bertemu lelaki yang sudah merenggut kesuciannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesal Tiada Guna
Menggerutu karena ditinggalkan, mengejar anak dan istrinya lalu merangkul keduanya bersamaan seperti tiga sahabat tengah berjalan-jalan. Di ujung eskalator sudah ada tiga orang menanti, siapa lagi jika bukan bodyguard dari Tuan muda yang bahkan tak akan pernah membuat tangannya keberatan karena barang belanjaan.
Lagi-lagi ibu dan anak itu menggelengkan kepala, mereka berjalan menuju butik yang ada di lantai atas dan langsung memasuki. Tak ada pelanggan lain, sepertinya tak perlu untuk dicurigai. Tiga bodyguard itu pasti sudah menjalankan tugasnya dengan baik, dan kini berdiri menjaga di pintu keluar siap melarang siapa pun untuk masuk ke dalam.
"Berikan semua pakaian anak muda padaku!asing-masing dua!" perintah lelaki sudah duduk menyilangkan kaki, tidak mau untuk berdiri dan memilah setiap pakaian yang ada.
"Begini caramu berbelanja?" tanya Anita, berdiri di depan suami sudah menarik Arga untuk duduk di sampingnya layaknya bos besar.
"Kenapa? Aku punya uang, dan aku tinggal memerintah saja. Lagi pula, tanganku diciptakan untuk tanda tangan, bukan memilih pakaian!" sahut Reno menaikkan kedua pundak bersamaan.
"Itu sebabnya kamu selalu meminta Lisa datang pagi-pagi ke rumah?" teringat Anita akan sekretaris yang keluar masuk kamar setiap hari.
"Kamu sudah tahu alasannya, kenapa bertanya? Sekarang ada kamu, jadi aku tidak membutuhkannya untuk itu." Reno menjawab sangat santai.
"Jadi menurutmu, aku sekretaris sekarang?" mengernyit kedua alis Anita.
"Partner, Sayang. Partner!" tekan Reno. "Kita adalah partner di atas ranjang dan di semua bidang, mengerti?"
Arga melirik papanya, menghembuskan napas panjang. Sementara Anita langsung membungkam mulut suaminya setelah perkataan itu terdengar. "Tanganmu bau! Apa kamu belum mencuci tangan setelah makan?!" protes Reno, seketika sang istri mencium tangannya.
"Ini tidak bau! Aku menutup mulutmu, dan napasmu tercium sendiri." Anita menyodorkan tangan, Arga tertawa dilirik papanya.
"Menurutmu, aku yang bau?!" protes Reno, hanya diberikan bahu terangkat oleh istrinya. "Jangan tertawa!" protesnya apada Arga.
"Aku menertawakan mama, bukan menertawakan papa sekarang ini." Arga membela diri.
"Mama mu menghinaku, dan kamu tertawa. Itu artinya kamu menertawakan ku!" melotot Reno.
Pelayan toko menghampiri dengan membawakan contoh pakaian untuk dipilih oleh lelaki tengah memajukan bibir kesal. Anita memilihkan seperti apa keinginan dari suaminya, menunjukkan dan menggunakan Arga sebagai contoh untuk pakaian yang akan dikenakan bersama. Reno hanya memilih dan berkata iya atau tidak saja.
Pelayan harus rela mondar-mandir untuk melayani, lelaki itu sama sekali tak beranjak. Bahkan sudah beberapa pakaian ditunjukkan, satu pun tidak ada yang cocok untuk dirinya dan memutuskan pergi. Anita meminta maaf pada pelayan karena barang berantakan, namun ditarik oleh suaminya.
Reno tak menyukai ketika Anita bersikap seperti itu, karena dia adalah istrinya. Namun, bagi Anita tak peduli seberapa banyak harta dan apa kedudukan dimiliki, menghormati orang lain adalah keharusan. Ia tetap meminta maag tanpa ingin menuruti suaminya.
Berpindah ke tempat lain, melihat adanya toko ponsel dan memutuskan untuk berhenti sejenak. Membeli tiga dengan model sama, dia ingin semua yang dimiliki juga dimiliki oleh istri dan anaknya. Setiap apa dilewati, terus saja sanggup menghentikan langkah Reno, bahkan ketika kedua mata melihat banyak pakaian tidur seksi terpampang.
Jelas saja Anita menolak untuk hal itu, ia tak ingin membelinya karena ada Arga. Berkata jika kapan pun bisa membeli barang bisa memanjakan kedua mata ketika malam, Anita menyeret lengan suaminya untuk pergi. Tak tanggung-tanggung menunjukkan sikap mesum, bahkan sesuka hati mencium di depan umum.
Arga tak pernah suka berbelanja, dia menunjukkan wajah lelah dan Reno memerintahkan bodyguard untuk menggendong putranya di belakang tubuh. Tentu Arga menolak, tapi dinaikkan langsung oleh lelaki yang merangkul istrinya sembari menyusuri mall.
Sedangkan di tempat lain, Rara dan Vano mencari kembali pria pernah bertransaksi dengannya. Mendatangi sebuah apartemen di mana pria itu tinggal, Vano menghapal sangat baik setiap pahatan wajah orang yang telah membeli Anita malam itu.
"Katakan padaku, apa Tuan muda Reno yang memerintah mu untuk membeli perempuan padaku dulu?!" tegas Vano tanpa basa-basi.
"Saya tidak tahu pastinya, tapi ada perempuan lain yang menjemputnya waktu itu. Ada urusan apa lagi? bukankah kalian juga sudah dibayar untuk perempuan itu?" sahut pria berkemeja putih.
"Perempuan?! siapa?!" tanya Vano.
Rara segera mengambil ponsel dalam tas nya, ia menyalakan dan membuka galeri foto. Menunjukkan foto Anita pada pria sudah ditumbuhi keriput pada wajah tengah duduk bersamanya di ruang tamu, Rara ingin meyakinkan jika itu benar Anita atau bukan—perempuan sama yang menjemputnya di lobi hotel waktu itu.
"Apa dia?" tanya Rara.
"Bukan, itu bukan dia. Saya masih ingat betul," sahut pria tersebut menggelengkan kepala.
"Jangan mempermainkan ku! kau akan tahu akibatnya jika sampai berbohong padaku, Tua Bangka!" ancam Vano menarik kerah kemeja.
"Saya berkata sejujurnya!" tegas pria langsung membebaskan kerahnya dengan sekuat tenaga. "Lebih baik kalian keluar dari sini, urusan kita sudah selesai! dan itu sudah sangat lama!"
Vano menunjukkan kekesalan, dia pergi dan menendang meja. Rara mengikuti dari belakang dengan snagat cepat, meninggalkan pria yang tetap berdiri di ruang tamu. Segera meraih ponsel untuk menghubungi seseorang begitu keduanya pergi, ia menghubungi nomor Anita.
"Maaf, Nona. Dua orang yang dulu menjual perempuan untuk Tuan muda, hari ini datang mengancam saya ke apartemen. Mereka menunjukkan foto Anda juga," ucap pria itu begitu panggilan terhubung.
"Baik, terima kasih banyak informasinya. Saya pastikan Anda akan baik-baik saja," jawab Anita dari ujung panggilan.
"Baik, Nona. Terima masih banyak," pungkasnya.
Anita segera mengatakan pada Reno untuk mendapatkan perintah selanjutnya, ia tak bisa mengambil keputusan sendiri dan melakukan apa diinginkan. Reno tidak mengatakan apa-apa, selain meminta sekretarisnya memerintahkan salah satu anak buah untuk mengawasi setiap gerak-gerik Vano dan Rara tanpa lengah.
Lelaki itu benar-benar murka sekarang, Vano bertekad untuk segera mencari tahu tentang kebenaran ucapan Reno tadi. "Kau benar-benar sangat bodoh! Bagaimana bisa kau menjualnya tanpa tahu siapa yang membelinya waktu itu! Kau tahu apa yang akan terjadi pada kita, kalau sampai orang itu adalah Reno?! Kau pernah berpikir tentang hal itu?!" tegas Vano memaki di dalam elevator.
"Kenapa sekarang kamu justru memarahiku? kita menjualnya bersama hari itu, dan kamu langsung setuju karena pria itu tua dan menurutmu pantas untuk Anita!" sahut Rara tak ingin dipersalahkan.
"Kalau saja aku tidak berhubungan denganku, semua ini tidak akan pernah terjadi! Dasar murahan!" geram Vano.
"Apa?! kamu bilang aku apa?!" tak terima perempuan bernada tinggi itu menoleh tajam.
"Murahan! Kalau kau bukan wanita murahan, lalu untuk apa kau menyodorkan tubuhmu padaku?! dan lihatlah dirimu sekarang, sudah berapa banyak orang menyentuhmu! itu sangat menjijikkan!" ucap Vano, tamparan keras mendarat pada wajah.
Kilatan amarah terlihat dari mata, Vano membalas tamparan dengan sangat keras juga menyakitkan. "Jangan berani bertingkah denganku, atau kau akan mati sekarang juga!" ancam Vano mencekik leher Rara, lalu meludahi wajahnya.
Elevator sudah terbuka, tubuh dilemparkan dan menghantam dinding elevator, menyakitkan punggung Rara. Leher dipegang olehnya, masih terasa sakit akan tekanan kuat diberikan. Rara terluka akan perkataan dilontarkan, bahkan ia merasa jika kini hanya dianggap sampah oleh lelaki telah dikorbankan banyak hal sampai tak lagi memiliki harga diri.
Harusnya ia berpikir sebelum melakukan apa pun, karena lelaki tak akan selalu menikahi. Jika sudah seperti ini, apa yang akan dia perbuat lagi? berkorban atas cinta sah-sah saja, namun logika juga harus ikut bermain di dalamnya. Jangan sampai membiarkan diri menjadi budak atas cinta dirasakan, menyusahkan diri sendiri dan terbelenggu dalam penyesalan.
Mau menangis hingga darah keluar pun, tak akan pernah bisa mengembalikan apa-apa. Dirinya memang sungguh bodoh, karena dengan mudah melakukan semua atas bukti cinta yang tak pernah benar-benar terbalas sama. Nyatanya, Vano masih menaruh hati pada Anita dan belum bisa untuk melupakan hingga detik ini.
Bertemu dengan Anita hari ini, membuatnya kembali bertekad untuk mendapatkan dengan cara apa pun. Hanya Anita yang dibiarkan untuk bertahta atas hati, memiliki sebagai dari jiwanya dan hanya Anita pula yang akan dijadikan sebagai permaisuri dalam kehidupan, bukan Rara yang bahkan sedikit saja ia tak memiliki niatan.
ap ms ad seosean 2 ny