NovelToon NovelToon
AMIRA MENANTU TERBUANG

AMIRA MENANTU TERBUANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh
Popularitas:35.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Dua tahun menikah
berpisah setelah akad bahkan belum pernah malam pertama
amira menunggu dengan sabar
mengabdi kepada keluarga suami
tapi setelah dua tahun berpisah
kata yang pertama dari suaminya adam "Amira aku akan menikah lagi"
bagaimana kelanjutannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34 penilaian alya

Alya melangkah satu tapak ke depan. Ia membusungkan dada dengan gestur percaya diri, yakin betul bahwa argumennya akan dipuji setinggi langit oleh Tuan Yamada.

“Menurut saya, AR tidak berusaha melaksanakan nilai integritas,” cercec Alya dengan nada menghakimi. “Saat kemarin saya katakan bahwa AR adalah UMKM, seharusnya pihak AR mengonfirmasi langsung saat itu juga bahwa mereka adalah perusahaan besar!”

Alya menatap Amira, menantikan raut wajah kecewa atau panik dari mantan istri Adam itu. Namun, Amira berdiri tegak dengan tatapan tenang tanpa emosi.

Alya berdecak, lalu melanjutkan dengan sengit, “Selanjutnya, AR mempekerjakan orang-orang yang sudah tidak produktif. Saya lihat banyak orang tua yang tidak layak kerja berada di sini. Dan yang paling parah, AR terkesan mengeksploitasi para disabilitas demi mendapatkan simpati dari Yamaichi! Saya kira AR sama sekali tidak layak bekerja sama dengan Yamaichi yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai profesionalisme!”

Alya merasa di atas angin. Lantaran sudah dua hari terserang flu, tiba-tiba rasa gatal menghampiri hidungnya. Ia secara refleks merogoh kantong, mengambil selembar tisu untuk menutup mulut saat bersin. Usai mengusap hidungnya, tisu bekas itu tak sengaja terlepas dari jemarinya dan jatuh tepat di dekat kakinya.

“Jadi menurut saya—” Kalimat Alya terhenti.

Tono, remaja penderita down syndrome, membungkuk dan menganggukkan kepalanya berkali-kali ke arah Alya. Tono bermaksud memberi isyarat ramah agar Alya bergeser sedikit. Namun, Alya justru mendelik jijik.

“Lihatlah! Bahkan saat saya sedang menjelaskan penilaian profesional, karyawan AR tidak punya kesopanan dan terus memperhatikan saya!” sungut Alya.

Tono kemudian melangkah cepat mendekati Alya. Wajah Alya seketika berubah panik dan takut. “Mau apa kamu?!”

Mata Alya membelalak saat Tono berjongkok di dekat kakinya, menjangkau tisu kotor yang terjatuh tadi untuk dibersihkan.

“Pergi kamu!” bentak Alya meluapkan rasa jijiknya. “Dasar orang cacat! Seharusnya kamu tidak usah bekerja! Tinggal saja di rumah, jangan membuat kekacauan di sini!”

BYURRR!

Cairan dingin mendadak menyiram tepat ke wajah dan tubuh Alya. Alya memekik kaget, pakaian kerjanya basah kuyup.

“AWWW! Apa-apaan ini?!” teriak Alya histeris, menyapu air dari wajahnya dengan jemari gemetar. “Kenapa kamu menyiram aku dengan air?! Bagaimana bisa kamu bersikap tidak profesional seperti ini?!” amuk Alya menunjuk wajah Amira.

Adam yang panik langsung pasang badan. Ia menarik Alya ke dalam rangkulannya dan menatap Amira tajam. “Amira! Apa-apaan kamu?! Kenapa kamu membawa urusan pribadi ke ranah perusahaan?! Kalau kamu mau marah, marah saja sama aku! Jangan ke Alya!”

Tuan Yamada hanya berdiri membisu, sementara Ibu Santi menatap Amira dengan pandangan amat tajam dan kecewa. Padahal, semalaman Tuan Yamada dan Ibu Santi berdiskusi panjang membahas potensi luar biasa AR. Namun di mata Ibu Santi, Amira baru saja merusak segalanya dengan tindakan emosional itu.

Di sudut lain, Tono dan Toni seolah tidak peduli dengan keributan orang-orang berjas di hadapan mereka. Mereka bertindak cekatan mengambil kain pel untuk membesihkan tumpahan air di lantai. Raut wajah kedua anak kembar itu sempat memuram ke arah Amira. Melihat hal itu, Amira mengacungkan dua jarinya sambil mengukir senyum hangat. Barulah Tono dan Toni kembali tersenyum lega, melanjutkan tugas mereka menyapu sisa air hingga mengering.

“Tuan Yamada... Anda lihat sendiri, ini benar-benar kacau!” aduh Alya dengan raut wajah paling nelangsa. “Bagaimana mungkin kita bisa bekerja sama dengan mitra seperti ini? Benar-benar tidak profesional!”

Amira melangkah maju satu tapak, matanya menyala dingin. “Persetan dengan profesionalisme versi kamu, Alya!”

Seluruh ruangan mendadak hening.

“Saya sudah menampilkan semua hal di dapur ini secara jujur,” tegas Amira dengan suara memotong udara. “Bisa saja kemarin saya menyewa jasa catering rumahan biasa untuk berpura-pura menjadi UMKM kecil sesuai prasangkamu, tapi tidak saya lakukan. Dan kesampingkan dulu anggapanmu soal karyawan saya yang tua dan disabilitas—apakah kamu sama sekali tidak menilai cara kerja kami?! Bagaimana tingkat kebersihan dapur ini, alur kerja yang rapi, dan sistem Quality Control yang sangat teliti?!”

Amira menatap Alya persis di manik matanya. “Satu hal lagi: jangan pernah menghina karyawan saya! Mereka adalah pekerja profesional! Kamu lihat kebersihan lantai dapur ini? Ini adalah hasil kerja keras Tono dan Toni! Kamu lihat staf QC yang memasak di sana? Dia memiliki kepekaan rasa luar biasa untuk mengoreksi takaran resep! Dan orang-orang tua yang kamu sebut tidak produktif itu—merekalah yang memastikan seluruh alur operasi berjalan presisi tanpa cacat sedikit pun!”

Amira menarik napas dalam-dalam, membusungkan dadanya dengan wibawa seorang pemimpin sejati. “Saya rasa kalian ini terlalu bertele-tele. Saya membangun usaha ini demi karyawan saya, dan saya akan selalu memilih berdiri membela mereka ketimbang membuang mereka hanya demi menjalin kerja sama dengan kalian! Jika kalian mau bekerja sama, ayo. Tapi jika tidak, cukup sampai di sini! Kami tidak pernah kekurangan pesanan!”

Pernyataan Amira bergaung keras. Itu bukan lagi penawaran bisnis, melainkan sebuah ultimatum dan tantangan terbuka bagi raksasa bisnis seperti PT Yamaichi.

Dasar wanita bodoh! Berani-beraninya menantang PT Yamaichi! batin Alya bersorak kegirangan. Kamu pikir kamu siapa? Cuma pemilik usaha kecil! Membuat usahamu bangkrut adalah hal sepele bagi Yamaichi!

Tuan Yamada bersiap membuka suara, namun Alya yang sudah tidak sabar langsung memotong cepat. “Tuan Yamada, ini sudah sangat jelas! Mereka secara terbuka menolak bekerja sama dengan kita. Kita ini perusahaan raksasa, Tuan, masih ada jutaan mitra lain yang mengantre untuk bekerja sama dengan kita!”

Alya menyunggingkan senyum lebar, menanti ujaran pujian dari Tuan Yamada atas loyalitasnya membela nama besar perusahaan.

Tuan Yamada mengalihkan pandangan dinginnya ke arah Alya, lalu menoleh pada sekretarisnya. “Santi... rupanya Yusuf benar-benar salah menilai orang.”

Alya yang salah menangkap maksud kalimat itu langsung menyahut jemawa, “Iya, Pak! Pak Yusuf memang salah! Seharusnya saya tidak layak mendapatkan SP1 yesterday!”

Ibu Santi menatap Alya dengan tatapan mengerikan. Adam, yang menangkap sinyal bahaya dari raut muka para pimpinan, segera menggenggam jemari Alya erat-erat—memberi isyarat agar istrinya itu menutup mulut.

“Yusuf benar-benar salah menilai...” ulang Tuan Yamada, suaranya berat dan penuh kekecewaan. “Orang ini sama sekali tidak kompeten! Beri tahu Yusuf untuk memberikan pembinaan ketat padanya. Kemarin Yusuf langsung membela Alya saat aku menyuruhnya melakukan evaluasi, tapi kinerjanya hari ini benar-benar memalukan!”

Alya tertegun membisu. Di sampingnya, dada Adam berdesir panas oleh ketakutan yang menjalar.

“A—apa... apa salah saya, Pak?” tanya Alya tak percaya, suaranya gemetar. “Dia baru saja menantang perusahaan Bapak! Apa Bapak tidak merasa terhina?!”

Ibu Santi memijat pelipisnya, benar-benar gusar mengingat betapa bodohnya keputusan Pak Yusuf yang sempat pasang badan membela Alya.

“Penilaianmu sama sekali tidak sesuai dengan SOP perusahaan, dan kamu sangat diskriminatif!” tegas Tuan Yamada, suaranya meninggi. “Di negara saya, orang tua masih tetap bekerja bukan karena kekurangan anak muda, melainkan karena bekerja adalah sebuah kehormatan! Hasil kerja mereka jauh lebih teliti dan tekun dibanding anak-anak muda zaman sekarang! Kami selalu menilai dari hasil akhir dan kinerja, bukan dari umur atau kondisi fisik! Masa hal mendasar seperti ini saja kamu tidak mengerti?!”

“Tapi, Pak—”

“Santi! Dia terus-terusan membantah. Tertibkan dia!” potong Tuan Yamada tidak ingin mendengar sepatah kata pun lagi.

“Baik, Pak,” sahut Ibu Santi dingin, memberikan tatapan membunuh ke arah Alya.

Alya bungkam seribu bahasa, wajahnya pucat pasi bagai mayat. Adam mengusap wajahnya yang terasa tebal, membatin penuh keputusasaan: Berakhirlah sudah karir kita...

Abaikan Alya dan Adam, Tuan Yamada melangkah mendekati Amira dengan raut wajah yang berubah total—penuh rasa hormat dan kekaguman.

“Amira-san...” panggil Tuan Yamada. “Kamu sungguh luar biasa. Visi kamu sangat besar dan kamu memiliki prinsip yang luar biasa kuat. Sangat disayangkan jika potensi sebesarmu hanya mengelola usaha dalam skala sebesar ini.”

Amira mengernyitkan dahi pelan. “Maksud Tuan?”

“Bagaimana jika kamu membuka cabang AR Restoran di negara saya, Jepang?” tawar Tuan Yamada dengan mata berbinar. “Jaringan bisnis saya tersebar luas di sana. Kamu bisa mengepakkan sayap dan membuka cabang di seluruh kota utama.”

Amira menatap mata eksekutif Jepang itu lekat-lekat. “Apakah Anda menawarkan ini karena merasa kasihan pada saya?”

Tuan Yamada terkeh pelan, menggeleng tegas. “Tentu saja tidak! Ini adalah rasa kagum, sekaligus keprihatinan saya melihat orang hebat sepertimu hanya memberdayakan orang dalam skala kecil. Di luar sana, ada begitu banyak ketidakadilan bagi para disabilitas. Kamu sudah membuktikan bahwa kamu mampu memberdayakan mereka dengan sangat bermartabat. Ini adalah visi bersama kita, Amira-san. Bukan karena rasa kasihan.”

Amira tersenyum tipis, mengangguk menghargai. “Terima kasih atas penawarannya, Tuan. Lalu... bagaimana dengan kerja sama pengadaan catering kita di Jakarta?”

Tuan Yamada mendecih pelan seraya melambaikan tangannya. “Ah, itu masalah kecil! Kamu bisa langsung mengamankan kontrak kerja sama dengan kantor pusat dan beberapa divisi produksi kami. Tapi kita lakukan bertahap, dimulai dari kantor pusat dulu. Bagaimana?”

“Dengan senang hati,” jawab Amira mantap.

Seketika, Rika, Bi Janah, dan para pekerja yang mengamati dari kejauhan menghembuskan napas lega dan saling berpelukan gembira.

Sementara itu, di sudut ruangan, Adam berdiri mematung dengan tubuh gemetar ketakutan. Di sebelahnya, Alya mengepalkan tangan erat-erat—dadanya hampir meledak dihantam perpaduan antara rasa takut, malu, dendam, dan kemarahan yang membakar jiwa.

1
YuWie
terharu rik..
YuWie
amira kie bahlul apa gimana sih... tolonggg kasih pencerahan sama almira. Banyak yg sayang dan mau berkorban ,, malah dia mau bunuh diri..malezzz bgt, protagisnya bikin kecewa
sunaryati jarum
Yamada menolong diambil darah untuk Amira, sekarang tes DNA
Suanti
semoga ada yg datang menolong amira dan aldi 🤣🤣🤣
YuWie
bebal tak ada malunya tipikal bu mirna... yg dipikirannya cmn keuntungan keluarganya...pd sekali anda buks
sunaryati jarum
Buka pakaian Alya, Adam, akan kau temukan jejak percintaan.Dan Bu Mirna sampai kapan.kau hanya menginginkan uay orang lain tanpa berusaha apapun
Nenk Shila: terkadang adam ada sisi baiknya yaa, masih bisa intropeksi diri tdk sperti ibu dan saudara2nya yg lain yg selalu serakah dan menyalahkan orang lain
total 1 replies
sunaryati jarum
Mirna ingin hidup enak dengan memaksa Amira balikan sama Adam.Yang suka sama nAmira sekelas milyuner,Adam mah lewat Wah ketemu nPak Diki ,langsung ditalak saja.
sunaryati jarum
Uang hasil hutangan yg nanti menjerat leher kalian.kok.dipsmerkan.Sunhguh penyelamatan aset dan diri yang tapi ,Amira serta terlindungi
sunaryati jarum
Lekas beraksi Yamamoto,itu mungkin awal kehancuran kamu dan ibumu Yuri Kuroda, dengan mengusik Amira.Kamu dan ibumu kali ini akan kena batunya.
sunaryati jarum
Akhirnya emak ikut lega, semua usaha Amira di bawah perusahaan internasional milik Ny Jasmine, Yamamoto dan Ibunya tidak bisa mengganggu, walau permintaan Alya.Ysmada dan Amira sepertinya yang saudara kandung,dari ibu yang sekarang mungkin ini Lisa.
Firasat Bu Mirna tentang kepergian Alya,perlu diberi /Good/
sunaryati jarum
Segera bilang ke Mas Aldi, semoga segera dapat mencari cara mengatasinya.Carilah di Sulawesi ,Ny Yuri
sunaryati jarum
Ternyata kamu cerdik juga Amira, tadinya emak deled novel ini, bilang sama Aldi, bagaimana mengelabuhi Yuri Si Pelakor tamak.Berarti kemungkinan Amira putri wanita yang jadi suami Pak Diki.
sunaryati jarum
Jangan sampai Alya berhasil mengacaukan atau menghancurkan usaha Amira.Jika itu terjadi aah emak malas melanjutkan mengikuti kisah ini
sunaryati jarum
Yamada harus bisa menggagalkan kelicikan Alya untuk menghancurkan Amira.Walau berurusan dengan Yamamoto.Atau Yamamoto malah melindungi Amira, karena ada getaran aneh hatinya
YuWie
merajalela si alya ini..almira aja gak pernah nyenggol kamu. situ yg pelakor ehh situ yg panas..waras buks
YuWie
makanya tho mbak mir..cerita gih sama mas aldhi
YuWie
syukurlah klo kamu pintar mir amir...sdh kau bohongi bang aldi aang intelejen
Suanti
amira segera hancur hp butut 🤭🤣🤣
YuWie
lha kok enakmen kok balik..rugi bandar amira buk buk
sunaryati jarum
O Bu Lisa sepertinya ibu kandung Yamada dan Amira Adik kandung Yamamoto, yang berarti adik tiri Yamada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!