Pria Terbuang, Topeng Hitam, dan Kekuatan Kuno yang Mengguncang Alam Kultivasi!
Dibuang oleh keluarga sendiri karena dianggap sampah tanpa masa depan, Lu Mingseng bangkit bersama warisan tiga pembimbing kuno. Dengan topeng hitam separuh wajah dan anomali struktur energi di tubuhnya, ia siap menuntaskan dendam masa lalu dan membakar jalurnya menuju puncak keabadian!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lompatan Menuju Puncak Pengumpulan Qi
Malam di Gunung Awan terasa sangat tenang.
Di dalam kamar sederhana, Lu Mingseng duduk bersila di atas tempat tidur kayu. Tablet hitam dari Balai Penempaan Darah terletak di hadapannya, sementara keringat masih membasahi pakaiannya setelah berjam-jam menempa fisik melalui latihan Tubuh Naga Darah.
Otot-ototnya terasa panas, tulangnya seolah bergetar, dan napasnya sesekali menjadi berat. Namun, dibandingkan hari-hari sebelumnya, pemulihannya kini jauh lebih cepat.
Lu Mingseng menutup mata, mengatur ritme pernapasannya.
Energi spiritual di sekeliling kamarnya perlahan mulai merespons. Dahulu, ia harus memeras seluruh fokus hanya untuk menarik sebutir zarah energi. Sekarang, zarah-zarah itu mengalir mendekat dengan sendirinya, meresap masuk ke pori-pori kulit secara alami.
Semuanya tampak normal.
Sampai tiba-tiba—
DUM!
Sebuah denyutan masif meledak dari dalam pusat tubuhnya.
Lu Mingseng tersentak membuka mata. "Apa itu?"
DUM! Denyutan kedua menyusul seketika.
Partikel energi spiritual yang telah terkumpul mendadak berputar kencang, berubah menjadi pusaran angin kecil di sekeliling tubuhnya.
Ia langsung teringat peringatan keras Kaisar Abadi: Jangan pernah memaksakan sirkulasi, jangan biarkan kendali lepas.
Mingseng kembali memejamkan mata, berupaya menyeimbangkan napasnya. Namun anehnya, energi itu tidak mengamuk liar. Sebaliknya, energi tersebut seolah menemukan jalurnya sendiri yang terarah, berpusat di inti tubuh, lalu menghantam salah satu jalur nadinya.
Meridian itu berdenyut semakin bertenaga. Tubuhnya bergetar hebat.
KRAK!
Lantai kayu di bawah tumpuannya mengeluarkan bunyi retakan kecil akibat tekanan yang merambat keluar.
Pada saat yang sama, lempengan tablet hitam di hadapannya memancarkan pendar merah keunguan yang terang.
Sebuah tulisan timbul di permukaannya:
Fondasi mulai menetap.
Lalu tulisan itu bergeser:
Jangan hentikan aliran.
Sebelum Mingseng sempat memahami kalimat itu seluruhnya, suara Kaisar Abadi menggema tegang di dalam kesadarannya.
'Mingseng! Pertahankan napasmu! Jangan coba-coba menguasai seluruh energi sekaligus. Ikuti saja sirkulasi yang terbuka secara alami!'
Mingseng menurut tanpa membantah. Ia menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan sesuai panduan sang Kaisar. Pusaran energi di kamarnya kian memadat.
Kemudian—
BOOM!
Gelombang energi tipis menyapu ke segala penjuru kamar.
Tahap Pengumpulan Qi Tahap Awal yang baru saja ia kuasai mendadak hancur menembus batasan baru! Pengumpulan Qi Tahap Menengah!
Namun, ledakan itu bukanlah akhir dari malam yang gila ini. Aliran energi di sekitarnya terus menghujam masuk tanpa henti.
Mingseng merasakan tekanan masif, lebih berat dari sebelumnya, tetapi wadah tulangnya yang telah ditempa Tubuh Naga Darah sanggup menanggungnya. Ia tetap fokus menjaga kestabilan napasnya.
Beberapa detik berselang, denyutan ketiga kembali menghantam.
DUM!
Tubuhnya kembali bergetar keras. Gelombang energi kedua meledak memenuhi ruangan. Pengumpulan Qi Tahap Akhir!
Kebingungan Tanpa Batas dari Tiga Guru Kuno
Di dalam dimensi batin Mingseng, ketiga entitas agung itu terdiam serentak dalam keheningan yang mencekam.
Kaisar Abadi menatap badai energi tersebut dengan mata terbelalak tak percaya. "Bagaimana mungkin...?"
Sang penjaga Balai Penempaan Darah menyahut panik, "Apa yang terjadi?!"
'Dia baru saja menembus tahap menengah, dan sekarang energinya melompat naik lagi!' seru Kaisar Abadi takjub.
Sang penjaga segera memusatkan batinnya, memeriksa struktur otot, kepadatan tulang, dan jalur energi Mingseng. Wajah tua itu berubah murka sekaligus ngeri. "Ini bukan sekadar efek dari Teknik Tubuh Naga Darah!"
'Benar,' Kaisar Abadi menyetujui. 'Teknik itu memang menguatkan wadahnya, tapi sama sekali tidak masuk akal jika dipakai untuk melompati tiga tahap kultivasi sekaligus dalam satu malam!'
Wanita misterius yang bersemayam dalam jiwanya perlahan memunculkan siluet anggunnya. Ia berdiri di tengah kabut batin, menatap pusaran energi itu dalam diam.
"Aneh sekali..." bisik sang wanita lembut.
Sang penjaga menoleh. "Kau juga tidak tahu apa penyebabnya?"
"Aku bisa melihat perubahan fisiknya," jawab wanita itu tenang. "Tapi aku sama sekali tidak bisa melacak dari mana dorongan mutlak ini berasal."
Kaisar Abadi kembali mencoba memindai struktur dalam Mingseng. Seperti biasa, ia hanya bisa mendeteksi satu meridian yang terbuka, sementara sisa jalurnya tertutup tabir kabut tak tertembus.
Kaisar Abadi menarik kesadarannya dengan napas berat. "Ini pertama kalinya aku menghadapi seorang murid yang pertumbuhannya melampaui nalar logikaku sendiri."
Sang penjaga mendengus dingin, meski ada nada gentar di balik suaranya. "Jangan gegabah. Kita harus pastikan tubuhnya tidak hancur lebur di tahap akhir."
Puncak Pengumpulan Qi!
Di dalam kamarnya, Mingseng merasakan pusaran itu mulai melambat. Ia tahu ia telah melewati tahap awal, menengah, dan akhir. Namun instingnya mengatakan proses ini belum tuntas.
Ia tidak memaksakan diri; ia hanya menjaga ketenangan jiwanya, membiarkan sirkulasi itu meresap sempurna ke setiap sel darahnya.
Hingga pada puncaknya, denyutan terakhir yang paling dahsyat menghantam batinnya.
DUM!
Mingseng membuka matanya lebar-lebar. Aliran Qi di dalam tubuhnya kini terasa begitu padat, pekat, dan terkendali sempurna di bawah kehendaknya.
Pengumpulan Qi Tahap Puncak!
Empat tahap terlewati sekaligus hanya dalam satu malam—dari tahap awal, menembus menengah, melesat ke akhir, hingga tiba di singgasana puncak Pengumpulan Qi!
Mingseng menatap kedua tangannya sendiri dengan napas terengah-engah. "Aku... sudah mencapai puncak Pengumpulan Qi?"
Ia belum merasa dirinya menjadi makhluk terkuat di dunia; ia tahu teori dan pengalaman bertarung butuh jam terbang. Namun lompatan kultivasi semacam ini adalah hal yang mustahil bagi ukuran murid sekte manapun.
'Senior?' panggil Mingseng di dalam batin.
Beberapa detik berlalu dalam sunyi, hingga akhirnya suara sang penjaga balai terdengar lirih: '...Anak muda.'
"Ada apa, Senior?"
'Kau baru saja membuat tiga orang tua yang hidup ribuan tahun terdiam seribu bahasa.'
Kaisar Abadi menghela napas panjang. 'Aku sudah melihat banyak jenius melintasi sejarah. Tapi melompati sekian tingkat dalam satu malam tanpa memuntahkan darah... ini di luar hukum alam.'
Wanita misterius itu menimpali lembut, "Ingat, Mingseng, Puncak Pengumpulan Qi bukanlah akhir dari segalanya. Fondasimu harus benar-benar padat sebelum kau melangkah ke ranah Pembukaan Meridian berikutnya."
Mingseng mengangguk patuh. Ia tidak ingin menjadi sombong dan kehilangan nyawa karena kecerobohan.
Gempar di Lapangan Latihan
Keesokan paginya, Mingseng datang ke lapangan latihan seperti biasa. Tidak ada pendar cahaya aneh atau aura menakutkan yang menyelimutinya; ia tetap mengenakan jubah sederhana dengan bekas luka yang menghiasi wajahnya.
Namun ketika ia melangkah mendekati batu penguji kekuatan untuk pemanasan, Instruktur Ma Zhen yang kebetulan lewat langsung menghentikan langkahnya.
"Mingseng, letakkan tanganmu di batu itu," perintah Ma Zhen serius.
Mingseng menurut. Ma Zhen menyalurkan sedikit alat deteksi energi sederhana ke pergelangan Mingseng.
Syuuung...
Mata Ma Zhen membelalak selebar-lebarnya hingga hampir keluar dari soketnya.
"Pengumpulan Qi... Tahap Puncak?!" pekik Ma Zhen keras, memancing perhatian seluruh murid di sekitar lapangan.
Seketika, lapangan latihan mendadak riuh rendah.
"Apa?!"
"Puncak Pengumpulan Qi? Bukankah beberapa hari lalu dia baru masuk tahap awal?!"
"Monster! Anak itu benar-benar monster!"
Ma Zhen memeriksa alat itu sekali lagi, memastikan tidak ada kerusakan. Hasilnya tetap sama mutlak. Ia menatap Mingseng lekat-lekat dengan napas tertahan. "Bagaimana mungkin kau menaikkan kultivasimu secepat ini?!"
Mingseng menjawab dengan tenang dan jujur secukupnya, "Saya berlatih seperti biasa, Instruktur. Tadi malam, energi di kamar saya tiba-tiba bergejolak dan menstabilkan diri."
Ma Zhen mengamati wajah Mingseng. Ia tidak menemukan tanda-tanda kebohongan. Meski tak masuk akal, ia tahu dunia kultivasi menyimpan banyak rahasia besar.
"Dengar," kata Ma Zhen tegas pada akhirnya. "Jangan sombongkan pencapaian ini untuk meremehkan orang lain. Puncak Pengumpulan Qi tetap butuh fondasi teknik yang kokoh. Kembalilah latihan!"
"Baik, Instruktur."
Pengawasan Tetua Agung
Berita mengenai lonceng mistis dan lonjakan kultivasi Mingseng akhirnya sampai ke telinga petinggi sekte. Di ruang kerjanya, Tetua Agung Mo Canglan memegang laporan harian dari Ma Zhen.
Mo Canglan mengetukkan jarinya di meja batu giok, menatap keluar jendela ke arah kabut Gunung Awan.
"Pengumpulan Qi Tahap Puncak..." gumam Mo Canglan pelan. "Anak ini benar-benar di luar dugaan."
Meski pemeriksaan awalnya hanya mendapati satu meridian terbuka, Mo Canglan tahu ada rahasia mengerikan yang disimpan pemuda berwajah buruk itu. Namun ia tetap pada pendiriannya: selama Mingseng tidak merugikan sekte, ia tidak akan menindasnya.
Mo Canglan menuliskan sebuah instruksi pendek pada gulungan kertas dan menyerahkannya pada pengawas luar. "Pastikan Lu Mingseng mendapat pasokan pil latihan yang cukup. Jangan ganggu dia, dan laporkan jika ada anomali lain."
Malam Berikutnya — Menatap Langit Malam
Malam kembali tiba. Di dalam kamarnya, Mingseng mengakhiri sesi latihannya dengan perasaan puas. Tenaga fisiknya kini jauh lebih matang, dan puncak Pengumpulan Qi memberinya cadangan energi spiritual yang masif.
Kaisar Abadi berpesan, 'Kau sudah punya kekuatan dasarnya. Tugasmu berikutnya adalah menguasai ketenangan batin sebelum membuka pintu gerbang meridian yang sebenarnya.'
Mingseng mengangguk dalam diam. Ia melangkah ke dekat jendela, menatap rembulan yang bersinar terang membelah malam.
Dahulu, ia adalah sampah yang bahkan tidak diizinkan masuk ke gerbang keluarga sendiri. Sekarang, ia berdiri di puncak Pengumpulan Qi dengan tiga guru legendaris di dalam jiwanya.
Jalan di depannya masih sangat panjang, penuh intrik, dendam pada Fang Rui, dan rahasia reruntuhan kuno. Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Lu Mingseng tahu pasti: takdir tidak lagi berhak mendikte masa depannya.
Jan lupa vote nya 🥳🥳🥳