"Kamu akan Ayah jodohkan dengan Bian menggantikan Salsa. Daripada kamu di rumah cuma coret-coret kertas nggak jelas, mending ngurusin anaknya tukang kebun itu." ucap Ayah dari seorang gadis yang tengah melukis di sebuah art paper.
"Baik," jawab gadis bernama Aluna Savira Velove itu tanpa perlawanan.
Aluna harus menikah dengan kekasih dari anak tiri Ayah kandungnya. Status calon suami Salsa yang hanya bekerja di kebun buah dan sayuran terbesar di desa itu, membuat perempuan itu menolak saat diajak menikah. Apalagi laki-laki itu juga seorang duda dengan dua anak yang sangat nakal.
Bisa kah Aluna menaklukkan dua anak dari sang duda? Mampu kah dia menjalani pernikahan tanpa cinta dengan sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Baik
"Hari ini Bu Aluna sudah diperbolehkan untuk pulang. Untuk luka pada jahitannya, sudah kami ganti dengan perban waterproof. Jadi bisa membersihkan diri seperti biasa. Tinggal nanti sering diganti saja perbannya, Bu." ucap Dokter yang menangani Aluna.
"Untuk obat minum dan salep olesnya, nanti bisa langsung ditebus di bagian farmasi." lanjutnya menjelaskan.
"Terimakasih banyak, Dok." ucap Aluna sambil tersenyum.
Setelah pemeriksaan cukup panjang hari ini, Aluna sudah diperbolehkan untuk pulang. Sebenarnya hanya pemeriksaan luka saja, tapi Dokter menambahkan periksa matanya. Bian sangat bersyukur karena Dokter Yudi yang merupakan Dokter spesialis mata berhasil mengorek beberapa informasi dari Aluna tanpa membuat perempuan itu curiga.
"Ada tambahan kabar baik juga, Pak Bian. Tadi Dokter Yudi mengatakan kalau ada harapan untuk Ibu Aluna bisa kembali melihat. Walaupun harapan itu hanya 30 persen, tapi sangat besar." ucap Dokter itu pada Bian dan didengar langsung oleh Aluna. Jika saja itu berita buruk, mungkin Dokter tersebut tidak mau mengatakan di depan Aluna.
"Untuk lebih jelasnya, Pak Bian dan keluarga pasien bisa menemui Dokter Yudi." lanjutnya.
"Terimakasih, Dokter. Besok pagi saya akan menemui Dokter Yudi untuk konsultasi dan penanganan lebih lanjut," ucap Bian dengan mata berkaca-kaca.
"Sama-sama. Cepat sembuh dan sehat selalu, Ibu Aluna dan keluarga. Saya permisi," ucap Dokter itu yang kemudian pergi dari ruang rawat inap Aluna.
"Apa maksudnya dengan mataku yang masih bisa diselamatkan, Mas? Pemeriksaan apa?" tanya Aluna yang sedari tadi diam.
Aluna shock karena tiba-tiba seorang Dokter mengatakan tentang kemungkinan matanya bisa sembuh. Padahal yang lainnya tampak bahagia terutama Bian, Mama Mila, Papa Kio, dan Bibi Tari. Mereka tengah menahan tangisnya karena ada kemungkinan Aluna bisa melihat lagi. Sedangkan Reyhan dan Elova seperti biasa, mereka seperti orang linglung. Namun satu hal yang bisa mereka simpulkan, Ibu keduanya dapat melihat lagi.
"Maafkan aku yang tidak minta ijin dulu denganmu, Aluna. Mas hanya ingin mengetahui apakah mata kamu masih ada harapan untuk melihat lagi. Setelah hasil pemeriksaan keluar, ternyata kamu masih ada harapan untuk melihat kembali. Walaupun hanya 30 persen, tapi itu sangat besar." ucap Bian sambil menggenggam tangan Aluna.
"Aku sudah bilang pada Dokter, jika memang tidak ada harapan ya sudah tak perlu diberitahu di depanmu. Namun malah diberitahu langsung karena ada harapan," lanjutnya.
"Jadi benar aku masih bisa melihat, Mas? Kenapa kamu melakukan sesuatu sampai sejauh ini, Mas? Padahal aku cuma istri pengganti saudara tiriku. Bahkan mungkin kamu juga bel..."
"Soal perasaan, itu pikir nanti. Apa yang aku lakukan ini tidak sebanding dengan nyawamu yang sudah dipertaruhkan untuk menjaga Reyhan dan Lova. Apalagi kamu juga tulus merawat mereka. Tapi aku bukan menganggapmu sebagai pengasuh lho," sela Bian yang kemudian melabuhkan ciuman pada punggung tangan Aluna.
"Kamu bukan istri pengganti. Kamu adalah istri dari seorang Bian dan Ibu anak-anakku. Aku sudah memutuskan untuk mencoba mencintaimu. Aku harap kamu juga mau mulai membuka hati untukku. Satu hal lagi, aku sudah tidak ada perasaan apapun pada Salsa." lanjutnya.
Mata Aluna terlihat berkaca-kaca mendengar ucapan Bian. Niatnya menerima pernikahan yang diajukan oleh Ayahnya itu agar bisa keluar dari rumahnya. Malah sekarang Bian meminta dia untuk mulai membuka hati. Aluna menganggukkan kepalanya. Walaupun tidak bisa melihat bagaimana ekspresi dan tatapan dari Bian, tapi Aluna merasa bahwa ucapan suaminya itu benar-benar tulus.
"Kasih aku waktu untuk mencintaimu, Mas." ucap Aluna dengan lirih.
"Sama. Kasih aku waktu untuk menerima dan mencintaimu sepenuh hatiku," ucap Bian yang langsung memeluk Aluna.
Hueeeeee...
"Papa kok peluk-peluk Ibu habis buat nangis anak olang. Minggil sana, Papa." seru Elova dengan rengekannya.
"Apa sih, Lova? Ini Papa lagi peluk Ibu lho. Jangan ganggu kamu," seru Bian sambil sebelah tangannya mendorong lengan Elova agar tak mengganggunya.
"Nanaknya ndak pelnah dipeluk lho. Kok Papa bisa peluk Ibu," protes Elova sambil mengerucutkan bibirnya sebal.
"Lepas sih, Papa. Pelukan Papa biar Reyhan wakilkan saja,"
Kali ini Reyhan yang langsung menarik kaos bagian belakang Bian agar melepaskan pelukannya dari Aluna. Benar saja, Bian langsung melepas pelukannya dari Aluna karena risih diganggu Reyhan dan Elova. Mama Mila memeluk Bibi Tari dari samping. Adegan di atas ranjang rumah sakit itu benar-benar membuatnya terharu. Dua perempuan itu sampai menitikan air mata karena terharu. Begitu juga dengan Papa Kio, tapi laki-laki itu bisa menyembunyikannya dan mencoba menahan tangisnya.
"Astaga... Mana bisa pelukan diwakilkan? Rasanya kan beda peluk sendiri sama lewat oranglain," sindir Bian pada anaknya itu.
"Sana Papa peluk Ibu sendili. Oma kan Ibunya Papa itu. Peluk Oma saja. Bial Ibu sama Abang leyhan dan Lopa," ucap Elova yang ikut memeluk Aluna dari samping.
"Ibu jadi terharu karena diperebutkan sama kalian," ucap Aluna sambil terkekeh pelan untuk menahan tangisnya.
"Jangan nangis, Ibu. Nanti kamalnya banjil lho," ucap Elova dengan asal.
"Itu mah kalau kamu yang menangis, baru banjir. Nggak asyik kalian itu, memonopoli Ibu. Padahal Ibu itu istrinya Papa lho," ucap Bian yang kemudian pergi untuk menebus obat.
Papa ngambekan, kaya olang ndak dapat jatah.
Eh...
Jatah apa?
Jatah makan,
Papa Kio dan Mama Mila sampai menepuk dahinya pelan mendengar ucapan Elova. Mereka terkejut dengan kata ajaib yang keluar dari bibir Elova. Elova yang sering nonton sinetron sama Mbak Ambar dan Bibi Sita, tentu banyak kosa kata ditirunya. Apalagi tidak ada orangtua yang mengarahkan. Terutama Bian yang jarang menemani anak-anak. Pasalnya kata-kata ajaib itu hanya keluar di saat tertentu saja. Bahkan Mbak Ambar dan ART lainnya tidak tahu jika Elova sering menirukan kalimat ajaib dari sinetron.
"Abang Reyhan dan Lova peluknya jangan kencang-kencang. Nanti kena lukanya Ibu lho," peringat Mama Mila pada keduanya.
"Ndak kencang dan elat kok ini, Oma. Pikilannya negatif ting-ting telus ini Oma tuh," ucap Elova membuat Mama Mila sangat geregetan.
"Pintar sekali ini bocah ngelesnya," Mama Mila langsung meraup bibir Elova agar berhenti berbicara.
"Kuncir saja itu bibirnya Lova pakai jepit jemuran, Oma." ucap Reyhan membuat Elova mendelikkan matanya.
"Ma, Pa, Bibi Tari... Terimakasih ya sudah menerima Aluna. Rasanya Aluna tidak menyangka bisa berada di titik ini. Setelah kemarin penuh air mata kesakitan, malah sekarang datang kebahagiaan. Terimakasih atas bantuannya yang tak pernah Aluna minta," ucap Aluna sambil tersenyum.
Cetoppp...
Oma, Opa, dan Bibi tali lafia sedali tadi buat Ibu mewek telus. Kalian duljana,
Heh...
Hahaha...
coba klau anaknya Pak Dayat digituin, emang mau nerima? yang ada Pak Dayat juga bakalan emosi sama seperti Bian.
klau ngomong tuh disaring dulu Pak, jangan asal ceplos aja, emang semua orang bisa nerima apa yang bapak ucapkan?! /Panic//Drowsy/
..