NovelToon NovelToon
Lily

Lily

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:574
Nilai: 5
Nama Author: Lili Pinarsih

Tuan!, kau masih saja ya setampan dulu, suara itu menyapa dengan senyum lembut .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Pinarsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Langit malam Jepang telah kembali kosong.

Jet pribadi yang membawa Lily dan Gento menghilang di balik awan, meninggalkan Satoshi berdiri di tengah halaman yang porak-poranda. Asap masih mengepul dari gerbang yang hancur. Suara tembakan perlahan mereda, digantikan oleh teriakan para penjaga yang mencari korban selamat dan langkah-langkah tergesa para petugas yang berusaha mengendalikan keadaan.

Namun, Satoshi tidak mendengar semua itu.

Tatapannya tetap tertuju ke langit, ke arah terakhir tempat ia melihat Lily menghilang.

Tangannya masih menggenggam pistol. Jari-jarinya terasa kaku, sementara dadanya sesak seolah-olah ada sesuatu yang menindihnya. Ia telah kehilangan terlalu banyak hal dalam satu malam. Kakeknya meninggal di hadapannya, rahasia tentang kedua orang tuanya terungkap dengan cara yang paling menyakitkan, dan Lily kembali dibawa pergi tanpa memberinya kesempatan untuk melakukan apa pun.

Perempuan yang selama bertahun-tahun ia perlakukan seolah-olah tidak berarti itu kini berada jauh darinya.

Dan ia sendiri tidak memiliki hak untuk menyalahkan siapa pun atas kepergiannya.

Satoshi menurunkan tangannya. Pistol itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai dengan suara beradu yang kecil.

“Kakek...” bisiknya.

Ia mencoba melangkah, tetapi lututnya kehilangan kekuatan. Tubuhnya jatuh berlutut di atas lantai yang kotor oleh debu dan darah.

Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya mengalir.

Satoshi menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar, dan suara tangisnya pecah di antara reruntuhan bangunan.

Ia menangis seperti anak kecil yang kehilangan tempat pulang.

Selama hidupnya, Mahito selalu menjadi orang yang berdiri di belakangnya. Kakeknya yang mengajarinya membaca laporan bisnis, mengenalkannya pada dunia perusahaan, dan membentuknya menjadi pewaris keluarga Katagiri. Bahkan ketika Satoshi bersikap keras kepala, Mahito tetap memberikan ruang baginya untuk belajar dari kesalahan.

Namun, lelaki itu juga menyimpan kebohongan besar.

Mahito telah membiarkannya percaya bahwa kedua orang tuanya masih hidup. Ia menyembunyikan kenyataan tentang kematian Shoto dan Luna, serta menutup-nutupi hubungan antara keluarganya dan penderitaan Lily.

Satoshi tidak tahu apakah ia harus membenci kakeknya atau merindukannya.

Ia hanya tahu bahwa ia tidak akan pernah bisa menanyakan alasan di balik semua itu secara langsung.

“Kenapa, Kakek?” ucapnya lirih di sela tangis. “Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?”

Tidak ada jawaban.

Yang tersisa hanyalah malam yang dingin dan dua tubuh yang tidak akan pernah bangkit kembali.

---

Beberapa saat kemudian, Tian Wu menemukan Satoshi masih berlutut di tempat yang sama.

Ia datang setelah menerima kabar tentang penyerangan terhadap kediaman Gento. Awalnya, ia mengira Satoshi hanya membutuhkan bantuan untuk menyelamatkan Lily. Namun, begitu tiba di lokasi, ia mendapati keadaan yang jauh lebih buruk daripada perkiraannya.

Mahito telah meninggal.

Suzuki Yahiko juga tewas.

Sementara Lily dibawa pergi oleh Gento menggunakan jet pribadi.

Tian Wu berjalan mendekati sahabatnya, lalu berhenti beberapa langkah di belakangnya.

“Satoshi.”

Tidak ada jawaban.

Tian Wu menunduk dan melihat pistol yang tergeletak di dekat kaki Satoshi. Ia mengambilnya, memastikan senjata itu aman, kemudian meletakkannya di tempat yang jauh dari jangkauan sahabatnya.

“Kita harus meninggalkan tempat ini. Petugas sedang menangani para korban.”

Satoshi mengangkat wajahnya.

Matanya merah, pipinya basah, dan ekspresinya begitu kosong hingga Tian Wu kesulitan menemukan kata-kata yang tepat.

“Lily pergi,” ucap Satoshi.

“Aku tahu.”

“Aku bahkan tidak bisa menghentikannya.”

Tian Wu menarik napas perlahan. Mengejarnya sekarang tidak akan menyelesaikan apa pun.”

Satoshi tertawa hambar.

“Selama ini aku selalu berpikir bahwa aku bisa mendapatkan apa pun yang kuinginkan. Uang, perusahaan, kekuasaan. Jika seseorang menentangku, aku hanya perlu menggunakan pengaruhku untuk membuatnya tunduk.”

Ia menatap kedua tangannya.

“Tetapi ketika Lily pergi, semua itu tidak berguna.”

Tian Wu tidak membantah.

Ia tahu apa yang telah dilakukan Satoshi kepada istrinya. Ia juga mengetahui bahwa penyesalan yang datang belakangan tidak dapat menghapus kekerasan yang pernah terjadi.

Karena itu, ia tidak mengatakan bahwa Lily pasti akan kembali. Ia tidak menjanjikan bahwa semuanya akan membaik. Ia hanya berdiri di samping sahabatnya, membiarkannya menghadapi kenyataan yang selama ini selalu ia hindari.

“Aku kehilangan orang tuaku tanpa pernah mengetahui kebenarannya,” lanjut Satoshi. “Lalu aku kehilangan kakekku. Sekarang Lily juga pergi. Apa yang sebenarnya tersisa untukku?”

“Kau masih hidup,” jawab Tian Wu. “Dan masih ada hal-hal yang harus kau selesaikan.”

Satoshi menggeleng.

“Aku tidak tahu harus mulai dari mana.”

“Kalau begitu, mulailah dari hal yang bisa kau lakukan sekarang.”

Tian Wu mengulurkan tangannya.

Setelah terdiam cukup lama, Satoshi akhirnya menerima bantuan itu dan berdiri.

Namun, begitu ia menatap kembali bangunan yang porak-poranda, air matanya kembali jatuh.

Tian Wu tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya menepuk bahu sahabatnya sebelum mengantarnya keluar dari halaman.

Malam itu, ia memutuskan untuk tidak meninggalkan Satoshi sendirian.

---

Keesokan harinya, berita tentang kematian Mahito Katagiri menyebar di kalangan bisnis dan keluarga berpengaruh di Jepang.

Pihak Katagiri mengumumkan bahwa Mahito meninggal akibat serangan bersenjata di kediaman pribadi. Mereka tidak mengungkapkan seluruh kejadian yang berlangsung malam itu, terutama mengenai Suzuki Yahiko dan rahasia lama yang baru diketahui Satoshi.

Satoshi sendiri mengambil alih seluruh urusan yang ditinggalkan kakeknya.

Ia memerintahkan tim keamanan mengamankan dokumen perusahaan, memeriksa jalur komunikasi yang diretas, dan mengumpulkan laporan tentang orang-orang yang terlibat dalam penyerangan. Ia juga memerintahkan agar semua bukti mengenai penyamaran orang tua palsunya diserahkan kepadanya.

Salah satu orang kepercayaannya datang membawa daftar nama.

“Semua orang yang selama ini bertugas sebagai orang tua Anda telah kami temukan, Tuan. Mereka mengakui bahwa mereka dibayar untuk mempertahankan penyamaran tersebut.”

Satoshi membaca dokumen itu tanpa menunjukkan reaksi.

“Berapa lama mereka menjalankan peran tersebut?”

“Sejak Anda masih muda. Mereka menerima instruksi melalui perantara yang ditunjuk oleh Tuan Mahito.”

“Apakah mereka mengetahui bahwa orang tua kandungku telah meninggal?”

“Sebagian mengetahui kebenarannya. Sebagian lainnya mengaku hanya diberi tahu bahwa mereka harus menjaga jarak dari Anda dan tidak membicarakan masa lalu.”

Satoshi menutup berkas itu.

“Putuskan seluruh hubungan kerja mereka dengan keluarga Katagiri. Bayar hak mereka sesuai perjanjian yang sah, tetapi pastikan mereka tidak lagi memiliki akses ke rumah, perusahaan, atau dokumen keluarga.”

“Baik, Tuan.”

“Dan jangan ada yang mengancam mereka. Aku ingin semua keterangan mereka tercatat dengan benar.”

Pria itu tampak terkejut mendengar instruksi terakhir, tetapi ia segera mengangguk.

Setelah orang itu pergi, Satoshi bersandar di kursinya.

Ia tidak bisa mengubah apa yang telah dilakukan Mahito. Ia juga tidak bisa mengembalikan kedua orang tuanya.

Namun, ia tidak ingin melanjutkan kebiasaan keluarganya dengan menutupi kesalahan menggunakan kekuasaan.

Untuk pertama kalinya, ia mulai menyadari bahwa membersihkan nama keluarga tidak berarti menghapus semua bukti yang memalukan. Terkadang, ia harus berani menghadapi kebenaran meskipun kebenaran itu membuatnya kehilangan kehormatan yang selama ini dijaga.

---

Tiga hari kemudian, pemakaman Mahito Katagiri dan Suzuki Yahiko dilaksanakan di pemakaman keluarga Katagiri di Jepang.

Langit mendung sejak pagi. Angin berembus pelan di antara pepohonan, menggoyangkan dedaunan yang mulai menguning.

Dua peti jenazah dibawa menuju area pemakaman dengan iringan keluarga, kerabat, dan sejumlah orang yang pernah bekerja bersama Mahito.

Satoshi berdiri paling depan dengan pakaian hitam. Wajahnya tampak lebih kurus daripada beberapa hari sebelumnya. Ia hampir tidak tidur, dan matanya masih menyimpan bekas kelelahan yang mendalam.

Di hadapannya terdapat dua liang makam yang berdampingan.

Satu untuk Mahito Katagiri.

Satu lagi untuk Suzuki Yahiko, ayah dari perempuan yang masih berstatus sebagai istrinya.

Keduanya akan dimakamkan di tempat yang sama dengan Shoto dan Luna Katagiri, serta nenek Satoshi yang telah meninggal bertahun-tahun lalu.

Ironisnya, Suzuki yang telah membunuh orang tua kandungnya kini dimakamkan tidak jauh dari mereka. Sementara Mahito, orang yang menyembunyikan kebenaran itu, akan beristirahat di sisi orang yang selama ini dianggapnya sebagai musuh.

Satoshi memandang kedua peti itu tanpa berkata-kata.

Ia tidak merasa berhak menghakimi Suzuki. Lelaki itu telah melakukan pembunuhan, tetapi ia juga bertindak setelah mengetahui bahwa putrinya yang belum lahir dijadikan objek eksperimen. Tidak ada jawaban sederhana untuk semua yang terjadi.

Namun, bagi Satoshi, kenyataan paling menyakitkan adalah bahwa Lily kehilangan ayahnya ketika ia bahkan belum sempat menjalani kehidupan baru bersama lelaki itu.

Saat pemakaman selesai, satu per satu pelayat mulai meninggalkan area tersebut.

Tian Wu masih berdiri di samping Satoshi.

“Kau tidak harus tinggal sampai sore,” katanya. “Kau belum beristirahat dengan baik.”

Satoshi tetap menatap nisan yang baru dipasang.

“Aku tidak tahu harus mengatakan apa kepada mereka.”

“Kepada siapa?”

“Kepada orang tuaku. Kepada kakekku. Kepada Suzuki. Kepada nenekku." Ia berhenti sebentar. “Aku bahkan tidak tahu apakah aku pantas berdiri di sini.”

Tian Wu menoleh kepadanya.

“Kesalahan orang lain bukan tanggung jawabmu. Tetapi setelah mengetahui kebenarannya, kau bertanggung jawab atas pilihanmu sendiri.”

Satoshi menunduk.

Ia teringat Lily yang selama tiga tahun tinggal di rumahnya, tidur di kamar kecil digudang, dan menjalani hari-hari yang tidak pernah ia tanyakan. Ia selalu menganggap Lily sebagai perempuan yang mengganggu kebebasannya, padahal perempuan itu hanya berusaha bertahan dalam pernikahan yang tidak pernah memberinya rasa aman.

Kini, setelah Lily pergi, barulah ia memahami betapa banyak hal yang tidak pernah ia ketahui tentang istrinya.

“Aku ingin meminta maaf kepadanya,” bisiknya.

Tian Wu menjawab dengan tenang, “Kau boleh meminta maaf. Tetapi dia tidak berkewajiban menerimanya.”

Satoshi memejamkan mata.

“Aku tahu.”

“Dan kalau suatu hari dia memilih untuk tidak kembali, kau harus menghormati keputusan itu.”

Kalimat tersebut terasa seperti pisau yang perlahan menekan dadanya. Namun, Satoshi tidak membantah.

Ia tidak bisa lagi menggunakan kata cinta untuk membenarkan keinginannya menguasai Lily.

Jika ia benar-benar menyesal, ia harus menerima bahwa perempuan itu memiliki hak untuk hidup tanpa dirinya.

---

Setelah beberapa hari menyelesaikan urusan di Jepang, Satoshi akhirnya bersiap kembali ke Amerika.

Tian Wu ikut menemaninya hingga keberangkatan. Selama berada di Jepang, ia menginap di kediaman Satoshi karena tidak tega meninggalkan sahabatnya sendirian dalam keadaan seperti itu.

Ia melihat sendiri bagaimana Satoshi hampir tidak pernah menyentuh makanan, bagaimana lelaki itu terbangun pada malam hari dan berjalan tanpa tujuan di lorong rumah, serta bagaimana tatapannya selalu berubah kosong setiap kali seseorang menyebut nama Lily.

Satoshi tidak lagi marah ketika mendengar nama istrinya.

Ia justru diam, seolah-olah nama itu menyimpan sesuatu yang terlalu menyakitkan untuk disentuh.

Sebelum berangkat, Tian Wu menemuinya di ruang kerja.

“Aku akan kembali ke Tiongkok setelah kau sampai di Amerika,” katanya. “Kalau kau membutuhkan bantuan untuk menyelidiki keberadaan Lily, hubungi aku.”

Satoshi mengangguk.

“Terima kasih sudah menemaniku.”

Tian Wu menepuk bahunya.

“Jangan berterima kasih kepadaku. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang sahabat.”

Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan, “Tetapi jangan biarkan rasa bersalah membuatmu melakukan hal bodoh. Menemukan Lily tidak berarti kau berhak membawanya pulang.”

“Aku tidak akan memaksanya kembali.”

“Pastikan tindakanmu sesuai dengan ucapanmu.”

Satoshi mengangguk sekali lagi.

Setelah Tian Wu meninggalkan ruangan, Satoshi berdiri cukup lama di dekat jendela.

Satoshi sampai diamerika, ia segera pergi kerumah utama Katagiri.

Rumah utama Katagiri yang dahulu dipenuhi para pelayan dan suara percakapan kini terasa asing. Tidak ada lagi Mahito yang memanggilnya untuk membicarakan perusahaan. Tidak ada orang tua yang menunggunya, meskipun selama ini mereka hanyalah orang-orang yang menjalankan peran berdasarkan perintah.

Setelah dari kediaman utama Katagiri ia bergegas pulang kerumahnya, rumahnya sepi.

Tidak ada Lily.

Satoshi mengembuskan napas, kemudian berjalan menuju kamar yang dahulu ditempati istrinya.

---

Kamar Lily berada di bagian rumah yang jarang digunakan, di gudang. Ruang itu jauh lebih kecil dibandingkan kamar-kamar lain di kediaman Satoshi.

Dahulu, Satoshi tidak pernah memikirkan apakah Lily senang berada disana atau tidak. Ia bahkan pernah melewatinya tanpa menoleh, seolah-olah keberadaan istrinya tidak lebih penting daripada barang-barang yang disimpan di sekitar ruangan tersebut.

Kini, setiap langkah menuju pintu itu terasa berat.

Satoshi membuka pintunya perlahan.

Ruangan itu masih sama.

Tempat tidur sederhana berada di sudut, di samping lemari kecil dan meja yang pernah digunakan Lily untuk menulis. Beberapa buku masih tersusun rapi. Sebuah pulpen tergeletak di dekat buku catatan, seolah-olah pemiliknya hanya keluar sebentar dan akan kembali untuk melanjutkan pekerjaannya.

Satoshi melangkah masuk.

Ia menyentuh tepi meja, kemudian memandang ranjang yang pernah menjadi tempat Lily beristirahat setelah melewati hari-hari panjang.

Aroma parfum Lily masih samar-samar tercium dari bantal dan seprai.

Aroma itu begitu lembut, tetapi cukup untuk membuat kenangan yang berusaha ia kubur kembali muncul satu per satu.

Ia teringat malam ketika Lily menangis di hadapannya dengan wajah ketakutan. Ia teringat bagaimana perempuan itu berusaha menolak, bagaimana air mata membasahi pipinya, dan bagaimana ia tetap memaksakan kehendaknya.

Satoshi menutup mata.

Satoshi duduk di tepi ranjang. Tangannya menyentuh seprai yang sedikit kusut, lalu ia membungkuk hingga dahinya menyentuh kedua telapak tangannya.

“Aku minta maaf, Li,” bisiknya.

Kata-kata itu terdengar begitu kecil di dalam ruangan yang sunyi.

Ia tahu Lily tidak berada di sana untuk mendengarnya. Bahkan jika perempuan itu berada di hadapannya, ia tidak berhak mengharapkan pengampunan hanya karena akhirnya menyadari kesalahannya.

Satoshi berbaring perlahan di atas ranjang itu, masih mengenakan pakaian yang dipakainya sejak pagi. Ia memiringkan tubuh, memandang sisi tempat tidur yang kosong.

Untuk pertama kalinya, ia mencoba membayangkan bagaimana rasanya menjadi Lily.

Tinggal di rumah besar yang tidak terasa seperti rumah. Menjalani pernikahan tanpa kasih sayang. Mendengar suami sendiri membawa perempuan lain masuk ke kediaman mereka. Berusaha mempertahankan harga diri ketika terus-menerus direndahkan.

Lalu, ketika akhirnya berusaha pergi, ia kembali dipaksa menghadapi kekerasan yang lebih menyakitkan.

Satoshi menggigit bibirnya, tetapi tangisnya tetap pecah.

Ia menarik bantal ke dadanya, mencoba mencari sisa aroma Lily yang masih tertinggal di sana.

Namun, semakin lama ia berada di kamar itu, semakin jelas ia memahami bahwa yang dirindukannya bukan hanya kehadiran seorang istri.

Ia merindukan seseorang yang selama ini selalu ada di rumahnya, tetapi tidak pernah benar-benar ia lihat sebagai manusia dengan perasaan, impian, dan hak atas hidupnya sendiri.

Kini, kamar itu menjadi satu-satunya tempat yang membuatnya merasa dekat dengan Lily, meskipun sebenarnya perempuan itu berada sangat jauh darinya.

Malam semakin larut.

Satoshi tetap berbaring di ranjang kecil tersebut, menangis dalam diam hingga tubuhnya kelelahan.

Tidak ada langkah Lily di lorong. Tidak ada suara lembutnya ketika ia menyapa para pelayan. Tidak ada lagi perempuan yang menunggu di rumah meskipun suaminya berkali-kali membuatnya merasa tidak diinginkan.

Satoshi akhirnya tertidur dengan wajah basah oleh air mata.

Namun, bahkan dalam tidurnya, ia tidak menemukan ketenangan.

Ia bermimpi melihat Lily berjalan menjauh di sepanjang jalan yang dipenuhi bunga sakura. Ia memanggil nama perempuan itu berulang kali, tetapi Lily tidak menoleh.

Ketika ia mencoba mengejarnya, jalan di antara mereka semakin panjang.

Dan tepat sebelum Lily menghilang di balik gerbang, perempuan itu menoleh untuk terakhir kalinya.

Tatapannya tidak menyimpan kebencian.

Hanya kesedihan dan kelelahan yang begitu dalam.

Lalu Lily berkata, “Kau terlambat, Satoshi.”

Satoshi terbangun dengan napas memburu.

Kamar itu masih gelap. Tidak ada Lily di hadapannya. Hanya bantal yang basah dan ruangan yang sunyi.

Ia duduk perlahan, menatap pintu yang tertutup.

Untuk pertama kalinya, ia memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan Mahito kepadanya.

Tidak semua kehilangan dapat diperbaiki dengan mencari kembali apa yang telah pergi.

Ada kehilangan yang merupakan akibat dari pilihan sendiri.

Dan jika suatu hari ia berhasil menemukan Lily, hal pertama yang harus ia lakukan bukanlah meminta perempuan itu kembali, melainkan memastikan bahwa ia tidak lagi menjadi alasan Lily merasa takut.

Satoshi mengusap wajahnya, kemudian bangkit dari ranjang.

Ia meninggalkan kamar itu tanpa membawa apa pun.

Namun, sebelum menutup pintu, ia menoleh sekali lagi ke arah meja tempat Lily dahulu menulis.

“Aku tidak tahu apakah kau akan memaafkanku,” ucapnya lirih. “Tetapi aku tidak akan lagi menggunakan kekuasaanku untuk memaksamu.”

Pintu pun tertutup perlahan.

Di dalam kamar kecil itu, aroma parfum Lily masih tertinggal, perlahan memudar seiring waktu.

1
⌓̈⃝𓆩ImAntifragile𓆪દᵕ̈૩
aku mampir, semangat upnya. tulisannya seruuu😍
mampir juga yuk kak ke new sc akuu😁
Lili Pinarsih: mkasih ya 🥰 aku jugaa udah mampir kok dicerita kamu😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!