Dilara di cerai oleh Kevin karena wanita yang di cintai Kevin kembali.
Setelahnya Dilara melamar menjadi seorang baby sitter, dan di terima pada salah satu keluarga kaya. Dilara memang seorang sarjana, namun dia butuh pergi cepat dari rumah Kevin dan juga butuh tempat tinggal baru. intinya dia ingin lepas dari Kevin dan memulai hidup barunya.
namun, ternyata di rumah itu ada seorang tuan muda bernama Elian yang selalu membuat Dilara kesal dengan sikap dinginnya. lalu apakah pada akhirnya mereka akan saling suka? apa keluarganya akan setuju dengan hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilara 16
TAK
Elian meletakkan sendoknya di atas piring porselen sedikit lebih keras dari yang berniat ia lakukan. Tatapannya pada Dilara yang menunduk makin intens. Pria itu sebenarnya tidak bermaksud sekasar itu, ia hanya jengkel melihat Dilara terus-terusan memposisikan dirinya sebagai 'orang luar' yang serba segan, padahal seluruh keluarganya sudah menyambut wanita itu dengan hangat.
"MBAK DILARA! DUDUK SINI!"
Rengekan Elang memecah adu pandang tegang itu. Tangan mungilnya menarik-narik ujung gamis Dilara semakin kuat, matanya mulai berkaca-kaca menatap piringnya yang belum habis.
Pak Adrian berdeham keras, mengalihkan perhatian seluruh meja makan.
"Dilara, jangan dimasukkan ke hati ya. Tolong maafkan sikap Elian yang kaku ini. Di rumah ini, kami tidak pernah menganggap orang yang tulus menjaga cucu kami sebagai sekadar 'pekerja'. Tolong, duduklah. Elang sangat membutuhkanmu malam ini."
"Iya, Dilara... Sini, Nak. Jangan takut," tambah Bu Melani lembut, menepuk kursi kosong di sebelah Elang.
Dilara menghembuskan napas pelan, menguasai rasa gugupnya. Ia sadar, menolak lagi hanya akan membuat situasi makin canggung dan merusak suasana makan malam keluarga ini.
"Baik, Pak Adrian, Bu Melani. Terima kasih banyak atas kebaikan Bapak dan Ibu," tutur Dilara santun dengan kepala yang terangguk pelan.
Ia mengambil piringnya, lalu melangkah pelan menuju kursi kosong di sebelah Elang, posisi yang tepat berhadapan lurus dengan Elian. Dilara mendaratkan tubuhnya dengan sangat hati-hati di kursi kayu jati itu, sebisa mungkin menghindari kontak mata langsung dengan pria tegap di depannya.
Seketika, rintihan Elang berganti menjadi senyuman lebar. Anak itu langsung memegang kain gamis Dilara dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya meraih sendok.
"Mbak Dilara di sini!"
Bu Melani tersenyum puas menatap pemandangan itu, sementara Pak Adrian terkekeh pelan.
Di sudut meja, Elian menyendok sup iganya dalam diam. Namun matanya, dari balik bulu matanya yang tebal, terus memperhatikan jemari Dilara yang sedikit gemetar namun tetap telaten menyuapi Elang. Ada rasa bersalah tipis yang menyelinap di dada Elian melihat kepatuhan dan kelembutan wanita berhijab krem itu yang tidak membalas ketajamannya sama sekali.
"Om Elian! Lihat! Elang makan wortel!" teriak Elang bangga, memamerkan mangkuknya yang hampir kosong.
Elian tersentak dari lamunannya. Wajah tegasnya melunak seketika saat menatap keponakannya.
"Bagus. Habiskan."
"Mbak Dilara yang bilang, kalau makan wortel matanya bisa cerah kayak mata Elang!" tambah balita itu polos.
Bu Melani terkekeh. "Elian saja waktu kecil susah sekali makan sayur, Dilara. Baru kali ini Ibu lihat Elang makan wortel tanpa perlu dipaksa."
"Dilara punya cara yang sangat lembut, Ma," puji Pak Adrian santai.
Elian berdeham, meraih gelas kristal berisi air putih lalu menyesapnya perlahan. "Bukan sihir... Hanya telaten," gumam Elian pelan, suaranya jauh lebih lembut dibanding sebelumnya.
Malam yang tenang itu mendadak terusik ketika ponsel di genggaman Dilara bergetar hebat. Layar ponselnya menyala, menampilkan sebuah nama pemanggil yang sempat membuat jantungnya berdesir pelan: Ibu Mertua.
Dilara menatap layar itu beberapa detik. Rasa hormat dan kehangatan yang pernah ia terima dari ibu Kevin membuat jari-jarinya tak tega untuk mengabaikan panggilan tersebut, meski status hukum dan agamanya dengan Kevin kini telah pupus.
Dengan helaan napas panjang yang amat teratur, Dilara menggeser ikon hijau di layarnya.
"Assalamu'alaikum, Ibu..." tutur Dilara pelan, suaranya tetap sehalus biasanya.
'Wa'alaikumsalam, Dilara...' Suara di ujung telepon sana terdengar serak, dipenuhi nada kecemasan dan tangis yang ditahan.
'Dilara, Nak... kamu di mana sekarang? Ibu baru saja dari rumah Kevin. Ibu cemas sekali sama kamu, Nak...'
Kalimat wanita paruh baya itu terhenti oleh isakan. Dilara mengepalkan jemarinya di atas paha, meraba kepedihan dari ibu mertua yang sangat menyayanginya selama ini.
"Ibu jangan menangis... Dilara baik-baik saja di sini, Bu," bisik Dilara berusaha menenangkan.
"Bagaimana Ibu tidak menangis, Dilara?! Kevin baru cerita semuanya! Ibu marah besar sama Kevin, Ibu sampai tampar dia!" tangis ibu Kevin akhirnya pecah di seberang sana. "
Dilara, besok Ibu mau ketemu sama kamu, ya? Tolong beri tahu Ibu kamu ada di mana sekarang. Kita ketemu sebentar saja, Nak. Ibu mohon..."
Mendengar permohonan tulus itu, Dilara memejamkan matanya sejenak. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi taman, menatap pendar lampu kolam renang yang memantul di permukaan air.
"Maafkan Dilara, Ibu... tapi Dilara tidak bisa bertemu," jawab Dilara dengan suara yang begitu lembut, namun tersurat ketegasan yang tak bisa digoyahkan.
"Kenapa, Nak? Cuma sebentar saja... Ibu cuma mau bicara dan memeluk kamu..." bisik ibu Kevin meratap.
"Maafkan Dilara, Bu. Saat ini Dilara sudah bekerja, Bu. Dilara punya tanggung jawab baru yang harus Dilara jaga di sini," jelas Dilara pelan dan santun.
"Lagipula... tidak ada lagi yang perlu kita temui atau bahas. Dilara sudah benar-benar ikhlas dengan semua takdir ini. Keputusan Mas Kevin untuk berpisah sudah Dilara terima dengan dada lapang. Dan status Dilara di mata agama juga sudah bukan istri Mas Kevin lagi, Bu... Mohon maaf kalau menyakiti hati ibu. Dilara hanya ingin di sini menengkan diri dan menata hati juga kehidupan Dilara sambil menunggu surat putusan cerai dari pengadilan agama,"
"Tapi Dilara... Kevin itu menyesal luar biasa. Dia berlutut di kaki Papa tadi malam..."
"Mas Kevin hanya menjalankan apa yang sudah jadi pilihannya, Bu. Dilara sudah memaafkan Mas Kevin dan tidak ada rasa benci sedikit pun di hati Dilara maupun Mbak Asha. Wanita yang selama ini ada di hati Mas Kevin dan menjadi pulihannya," potong Dilara sangat halus.
"Secara agama dan hukum kami sudah berpisah. Dilara mohon Ibu juga mau mengikhlaskan jalan hidup kami masing-masing. Ibu adalah orang tua yang sangat baik untuk Dilara selama ini, dan Dilara akan selalu mendoakan kesehatan Ibu serta Ayah. Mohon maaf kalau selama menjadi menantu kalian, Dilara sudah banyak melakukan kesalahan dan memiliki banyak kekurangan."
Keheningan melingkupi sambungan telepon itu selama beberapa saat. Isakan pelan dari ibu Kevin perlahan mereda, menyadari bahwa wanita berhati mulia di ujung telepon sana bukan lagi sosok yang bisa digoyahkan oleh bujukan masa lalu.
"Baiklah kalau itu keputusanmu, Nak..." pasrah ibu Kevin dengan suara amat berat.
"Jaga dirimu baik-baik di mana pun kamu berada ya, Dilara..."
"Iya, Bu. Terima kasih banyak. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam..."
Sambungan telepon terputus. Dilara menurunkan ponsel dari telinganya, menyandarkan kepala dan memejamkan mata sejenak. Ada rasa lega luar biasa yang mengalir di dadanya, sebuah benteng keteguhan yang berhasil ia pertahankan demi menghargai kehidupannya yang baru.
Tanpa Dilara sadari, tak jauh dari tempatnya duduk, sebuah bayangan tegap berdiri di balik kegelapan pintu kaca yang mengarah ke taman.
Elian berdiri mematung di sana. Pria itu baru saja hendak mengambil air minum ke dapur ketika mendengar percakapan samar di taman belakang. Mata tajam Elian menatap punggung Dilara yang dibalut hijab krem dalam keheningan malam. Setiap kata yang diucapkan Dilara di telepon tadi, tentang keikhlasannya, perpisahannya, dan penolakannya untuk kembali melihat ke belakang terdengar jelas di telinganya.
"Ternyata dia sengaja melamar jadi pengasuh dan tinggal di sini karena sedang bersembunyi?"
waras cobaa ,aneh si Kevin ini,di telan sma asha GK ada gebrakan nya sma skli