Reynand, CEO dingin yang anti-cinta, terpaksa menikahi asisten pribadinya, Aira, demi meredam skandal kantor.
Bagi Reynand, pernikahan ini hanyalah kontrak sementara. Namun, keteguhan hati Aira perlahan meruntuhkan pertahanan sang CEO.
Saat intrik dan masa lalu mengancam, sanggupkah Reynand mengakui perasaannya sebelum kehilangan wanita yang telah menjerat hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20: Serangan di Balik Layar
Matahari baru saja terbit di ufuk timur kota Jakarta, memancarkan sinar keemasan yang menembus kaca-kaca tinggi Aristha Tower. Namun, suasana di dalam lantai eksekutif tidak sehangat pagi itu. Tepat pukul tujuh pagi, sebuah guncangan hebat menghantam bursa saham dan ruang publik.
Ancaman yang dilontarkan Clarissa Vance di jamuan makan malam bukan sekadar gertakan kosong.
Aira melangkah cepat menyusuri koridor menuju ruang kerja CEO, memegang tablet di tangannya yang menampilkan berita utama di berbagai portal media keuangan nasional dan internasional. Berita bohong (hoax) yang disusun sangat rapi telah disebarkan secara masif. Berita tersebut mengklaim bahwa Aristha Group berada di ambang kebangkrutan akibat adanya kebocoran dana internal dan krisis kepemimpinan yang dipicu oleh penunjukan Aira—wanita tanpa latar belakang konglomerat—sebagai pemegang akses dokumen strategis perusahaan.
Akibat dari isu manipulatif tersebut, harga saham Aristha Group merosot tajam sebesar tujuh persen hanya dalam kurun waktu satu jam setelah bursa dibuka.
Klek.
Aira membuka pintu ruang kerja CEO. Di dalam, Reynand berdiri di depan jendela kaca besar, menggenggam telepon selulernya dengan wajah dingin yang membeku bagaikan es batu. Di sekitarnya, beberapa manajer divisi keuangan dan tim kehumasan berdiri menunduk cemas.
"Saya tidak butuh alasan," suara bariton Reynand terdengar tajam dan mematikan. "Saya ingin laporan pelacakan server penyebar isu ini berada di meja saya dalam waktu tiga puluh menit. Batasi semua rumor dan lakukan konfirmasi pers segera."
Setelah mematikan telepon, Reynand berbalik. Begitu sepasang matanya menemukan sosok Aira, aura membunuh yang tadi menyelimuti wajah tampannya perlahan luntur, berganti menjadi sorot mata penuh kekhawatiran dan kelembutan.
Reynand mengibaskan tangannya, memberi isyarat agar seluruh tim manajemen keluar dari ruangan. Begitu pintu terkunci rapat, Reynand melangkah cepat menghampiri Aira, merengkuh kedua bahu gadis itu dengan erat.
"Kamu baik-baik saja, Aira?" tanya Reynand, menatap lekat-lekat raut wajah calon istrinya. "Maafkan aku... aku terlambat mencegah serangan rumor murahan dari Clarissa ini."
Aira menggeleng pelan, lalu menyandarkan tangannya di dada bidang Reynand. "Aku tidak apa-apa, Reynand. Jangan khawatirkan aku. Yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan reputasi perusahaan dan menenangkan para pemegang saham."
"Clarissa menggunakan media massa milik jaringan Vancorp di Singapura untuk menyebarkan berita bohong ini," tegas Reynand, matanya memancarkan kilat ketegasan. "Dia sengaja menyerang kredibilitasmu agar dewan komisaris terdesak dan memaksaku mencopot posisimu atau membatalkan pertunangan kita."
"Tapi dia tidak tahu siapa yang sedang dia hadapi," sahut Aira dengan senyuman tipis namun penuh tekad.
Aira menyodorkan tablet di tangannya kepada Reynand. "Sebelum rumor ini menyebar luas pagi ini, aku sudah meminta tim audit digital independen untuk memverifikasi ulang seluruh jejak transaksi keuangan kita dalam enam bulan terakhir. Tidak ada satu pun celah atau kebocoran dana seperti yang dituduhkan."
Reynand membaca lembar demi lembar laporan bersih di tablet tersebut, lalu menatap Aira dengan pendar kebanggaan yang mendalam. "Laporan audit bersih ini sudah ditandatangani oleh lembaga audit internasional nomor satu di Asia."
"Benar," lanjut Aira. "Jika kita menggelar konferensi pers darurat siang ini dan menyajikan bukti sah ini langsung di hadapan media nasional dan internasional, rumor yang disebarkan Clarissa tidak hanya akan patah, tetapi juga akan membalikkan tuduhan pencemaran nama baik langsung ke arah Vancorp Asia."
Reynand tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh pesona yang sanggup meluluhkan segala ketegangan. Ia memajukan wajahnya, mendaratkan ciuman hangat yang dalam di kening Aira.
"Kamu benar-benar permaisuri yang dikirimkan Tuhan untukku, Aira," bisik Reynand penuh rasa syukur. "Clarissa pikir dia bisa menghancurkan kita dengan intrik bisnis, tapi dia tidak menyadari bahwa bersamamu, Aristha Group tidak akan pernah bisa digoyahkan."
Siang itu juga, sebuah konferensi pers megah digelar di auditorium Aristha Tower. Di bawah kilatan ratusan kamera wartawan, Reynand berdiri berdampingan dengan Aira. Dengan ketegasan luar biasa, Reynand menyajikan bukti audit bersih dan mengumumkan langkah hukum tegas terhadap pihak Vancorp atas tuduhan sabotase bursa saham.
Di layar televisi di dalam kamar hotel mewahnya, Clarissa Vance menyaksikan konferensi pers tersebut dengan wajah merah padam oleh amarah. Rencana besarnya kembali hancur berkeping-keping di tangan Aira Anindita.