Sejak ibunya meninggal, hidup Bima berubah menjadi neraka setelah ayahnya membawa istri baru dan anak tirinya yang egois, membuatnya diperlakukan seperti pesuruh dan orang asing di rumahnya sendiri.
Puncaknya, ia difitnah mencuri barang berharga dan diusir begitu saja tanpa ampun, membawa luka hati yang mendalam serta sebuah kotak peninggalan misterius dari mendiang ibunya.
Tak disangka, kotak rahasia itu menjadi kunci bagi Bima untuk bangkit dari titik terendah, bermetamorfosis menjadi sosok sukses dan berpengaruh besar yang siap membuat keluarga pembuangnya bertekuk lutut memohon pengampunan.
Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Matahari pagi menyinari gedung pencakar langit PT Cipta Sentosa dengan hangat. Bima berdiri di dekat jendela kaca besar sambil merapikan jas kerjanya.
Tok, tok, tok.
Suara ketukan pintu terdengar pelan dari arah luar ruangan.
"Masuk," seru Bima dengan suara tenang.
Rian melangkah masuk membawa setumpuk dokumen penting di tangannya.
"Selamat pagi, Tuan Bima," sapa Rian sambil membungkuk hormat.
"Pagi, Rian, bagaimana persiapan peresmian yayasan amal kita?" tanya Bima langsung pada intinya.
"Semua sudah beres, Tuan, tinggal menunggu waktu peluncuran resminya besok pagi," jawab Rian antusias.
Bima mengangguk pelan mendengar laporan yang sangat memuaskan itu.
"Yayasan ini kubuat atas nama mendiang ibuku untuk membantu anak-anak yatim piatu," ucap Bima lirih.
"Langkah yang sangat mulia, Tuan Bima, publik pasti akan semakin menghormati kepemimpinan Anda," puji Rian tulus.
"Kita bukan mencari pujian, Rian, tapi memastikan tidak ada anak yang bernasib sepertiku dulu," balas Bima dingin.
Rian terdiam sejenak merasakan ketulusan sekaligus luka lama di balik keputusan bos mudanya itu.
"Baiklah, saya akan pastikan seluruh undangan dari pejabat penting dan tokoh masyarakat hadir besok," kata Rian profesional.
"Bagus, pastikan juga pengamanan di lokasi acara berjalan sangat ketat," pesan Bima tegas.
"Siap, Tuan, tim keamanan sudah disiagakan penuh," jawab Rian sebelum berbalik melangkah keluar.
Krek...
Suara pintu tertutup rapat menandakan Rian telah meninggalkan ruangan.
Bima kembali duduk di kursi kulit empuk di balik meja kerja mahoni miliknya.
Ia membuka laci meja dan menatap sekilas kotak kayu peninggalan mendiang ibunya.
"Semuanya perlahan berjalan sesuai dengan jalur yang kuinginkan," batin Bima tenang.
Bip...
Ponsel di atas meja tiba-tiba berdering nyaring memecah keheningan ruangan.
Bima segera mengangkat panggilan dari nomor asing yang tertera di layar ponsel.
"Halo, dengan siapa ini?" tanya Bima datar.
"Selamat pagi, Direktur Bima, senang akhirnya bisa langsung berbicara dengan Anda," jawab suara pria asing beraksen asing di ujung sana.
Kening Bima langsung berkerut dalam mendengar nada bicara pria tak dikenal itu.
"Langsung saja sebutkan keperluanmu, aku tidak punya waktu untuk basa-basi," balas Bima dingin.
"Wah, luar biasa sekali sikap dingin dari penguasa muda kota ini," puji suara di seberang sana meremehkan.
"Aku adalah perwakilan dari konsorsium investasi global yang tertarik membeli sebagian saham perusahaanmu," jelas pria itu.
Bima mendengus kecil mendengar tawaran pembelian saham secara mendadak tersebut.
"Perusahaanku tidak untuk dijual kepada pihak asing mana pun," tolak Bima tegas tanpa ragu.
"Jangan terburu-buru menolak tawaran kami, Tuan Bima, angka yang kami tawarkan sangat fantastis," bujuk pria asing itu licik.
"Berapa pun uang yang kalian tawarkan, jawabanku tetap sama: tidak," tegas Bima mutlak.
"Pikirkan baik-baik risikonya jika Anda menolak kerja sama dengan kelompok kami," ancam pria itu di ujung telepon.
Pip...
Sambungan telepon diputus secara sepihak oleh penelepon misterius tersebut.
Bima menatap layar ponselnya dengan tatapan mata yang semakin tajam dan penuh curiga.
"Sepertinya ada faksi baru dari luar negeri yang mulai mengincar perusahaan ini," batin Bima serius.
Ia tahu betul bahwa kemenangan atas keluarga Hendra dan Reynard hanyalah babak awal dari dunia bisnis yang lebih keras.
Dunia korporasi global penuh dengan hiu-hiu lapar yang siap menerkam siapa saja yang lengah.
Bima kembali meletakkan ponselnya di atas meja dengan gerakan perlahan.
"Rian, masuklah ke ruanganku sekarang," perintah Bima lewat intercom meja kerja.
Tidak lama kemudian, pintu ruang kerja terbuka dan Rian masuk dengan napas sedikit terengah.
"Ada apa lagi, Tuan Bima? Apakah ada masalah baru?" tanya Rian cemas.
"Lacak pemilik nomor telepon yang baru saja menghubungiku ini," perintah Bima menyerahkan catatan kecil.
Rian menerima kertas kecil itu dengan ekspresi wajah yang langsung berubah serius.
"Baik, Tuan, saya akan minta tim IT melacak lokasi penelepon ini sekarang juga," jawab Rian cepat.
"Pastikan kita tahu siapa dalang di balik konsorsium asing yang mulai mencampuri urusan kita," pesan Bima tajam.
"Siap, Tuan Bima, saya laksanakan perintahnya," kata Rian lalu bergegas keluar ruangan.
Suasana di dalam ruangan kembali sunyi senyap menyisakan Bima yang tenggelam dalam pikirannya.
Ia merangkai berbagai kemungkinan ancaman baru yang akan datang menguji kekaisaran bisnisnya.
"Siapa pun kalian yang mencoba bermain api, bersiaplah terbakar habis," batin Bima penuh percaya diri.
Menjelang sore hari, laporan awal dari tim IT sudah mendarat di meja kerja Bima.
Rian masuk kembali ke ruangan membawa selembar laporan cetak digital.
"Tuan Bima, pelacakan nomor telepon tadi mengarah ke sebuah perusahaan cangkang di luar negeri," lapor Rian.
"Perusahaan cangkang milik siapa?" selidik Bima dingin.
"Berasal dari sindikat investasi gelap yang dipimpin oleh seorang pengusaha kejam bernama Victor," jelas Rian.
Bima membaca lembaran profil singkat tentang Victor yang dikenal sebagai pemburu perusahaan bermasalah.
"Victor, ya... sepertinya dia mengira perusahaanku bisa direbut dengan cara kotor," ucap Bima tersenyum sinis.
"Apa langkah kita selanjutnya untuk menghadapi sindikat internasional ini, Tuan?" tanya Rian meminta instruksi.
"Kita biarkan mereka membuat langkah pertama, lalu kita hancur leburkan basis keuangan mereka," jawab Bima tenang.
Strategi bertahan sekaligus menyerang selalu menjadi keunggulan utama dalam setiap langkah bisnis Bima.
Ia tidak pernah menunggu musuh menyerang lebih dulu jika ia sudah mengetahui niat buruk mereka.
Keesokan paginya, acara peresmian yayasan amal mendiang ibu Bima diliput besar-besaran oleh media nasional.
Ratusan anak yatim piatu dan tamu undangan penting memadati aula hotel tempat acara digelar.
Bima berdiri di atas panggung memberikan pidato pembukaan yang sangat menyentuh hati banyak orang.
Tidak ada kesombongan dalam setiap kalimat yang ia ucapkan, yang ada hanyalah ketulusan mendalam.
"Yayasan ini kubangun untuk memastikan kasih sayang seorang ibu tetap hidup di tengah kita semua," kata Bima di depan mikrofon.
Gemuruh tepuk tangan meriah langsung bergemuruh menyambut pidato inspiratif dari direktur utama muda tersebut.
Di barisan belakang penonton, beberapa orang asing berjas hitam tampak mengamati gerak-gerik Bima dengan tatapan tajam.
Salah satu dari mereka adalah utusan langsung dari Victor yang diam-diam menyusup masuk ke dalam ruangan.
"Direktur Bima ini ternyata jauh lebih berbahaya dari perkiraan kita," bisik pria berjas hitam itu pada rekannya.
"Laporkan pada Tuan Victor bahwa kita harus menggunakan cara yang lebih keras untuk menundukkannya," balas rekannya dingin.
Tanpa mereka sadari, Bima yang berdiri di atas panggung sudah menyadari kehadiran orang-orang mencurigakan tersebut.
Bima menatap sekilas ke arah barisan belakang dengan senyuman tipis penuh arti.
"Tikus-tikus asing sudah mulai masuk perangkap," batin Bima mengejek dalam hati.
Peresmian yayasan berjalan dengan sangat lancar dan sukses besar tanpa ada hambatan berarti.
Namun Bima tahu betul bahwa pertempuran yang sebenarnya melawan sindikat global baru saja akan dimulai.
Dan ia sudah menyiapkan penyambutan paling mengerikan bagi siapa saja yang berani mengusik ketenangannya.